Memikirkan Alex

1227 Words
Jujur saja Leona sangat kesal jika diganggu pas mau istirahat. Bukannya dia tau kalau ini sudah malam dan semua orang juga tau sekarang adalah waktu yang cocok untuk istirahat? Tak mau lama mendengar suara ponsel itu, Leona langsung mengangkat telepon dari Alex. "Ya, Hallo Mr?" 'Leona? Apa kamu sudah sampai di rumah?' Kening Leona mengkerut, apa benar ini Mr Alex yang dia kenal di kantor? Dia melihat layar ponsel yang tertera nama Alex disana. "Iya Mr, saya sudah sampai di rumah. Kenapa ya?" 'Baguslah, saya cuma ingin bertanya seperti itu saja. Kata mama, kamu sangat ramah, apa kamu juga merasakan kalau mama sangat baik?' Leona terdiam, dia menghela napas pelan. "Iya Mr, dia sangat ramah sekali. Saya disambut sama orang tua Mr dengan baik," jawab Leona spontan. 'Hmm ... Syukurlah kalau jawabanmu seperti itu. Besok aku akan menunggumu di kantor. Kamu jangan datang terlambat lagi, karena aku akan meeting pagi besok.' "Baiklah Mr, Mr sudah balik dari kantor?" tanya Leona tiba-tiba. 'Saya masih ada kerjaan, nanti kalau selesai saya akan kembali,' jawab Alex dari sana. Leona berdehem pelan. Dia tidak percaya kalau Alex bekerja disana? Atau mungkin kencan sama wanita kemarin? Kalau di pikir-pikir wanita kemarin sangatlah menggelikan, apalagi wanita itu seperti wanita malam yang ingin dibelai oleh Alex? Astaga apa yang telah dia pikirkan. 'Hallo? Kamu masih di sana?' Leona tersadar dari lamunannya. "O--oh, saya masih disini Mr. Besok saya serahkan ketikan saya jika sudah selesai. Mr istirahat saja habis ini, selamat malam Mr." Dia mematikan ponselnya kemudian menghembuskan napas pelan dan meletakkan ponsel di lacinya. "Sepertinya Alex berkencan dengan wanita kemarin. Kenapa harus wanita itu sih? Kan masih ada wanita baik diluar sana?" gerutu Leona tidak suka. "Aish! Apa yang aku pikirkan? Itu kan sudah urusan dia?" Leona mendesis kecil, dia membaringkan tubuh di kasur dan menarik selimut. Wanita itu menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya menuju ke Alex dan juga seorang wanita kemarin. "Apa dia sekarang sedang?" Ucapan Leona tergantung, membayangkan apa yang terjadi kemarin sewaktu di kantor. Dia memejamkan mata sekilas untuk menepis pikiran buruknya. "Astaga-- apa yang aku pikirkan? Itu sudah urusan Alex, Leona! Kenapa kamu tetap memikirkannya?!" Leona mencoba berganti posisi untuk mencari posisi yang paling nyaman. Meskipun begitu, dia masih saja tetap memikirkan Alex. "Alex lagi apa ya sekarang? Apa dia benar-benar bekerja sekarang?" gumamnya sembari menatap tembok di atas sana. *** Leona bergegas untuk masuk ke dalam koridor kantor. Dia melihat jam tangannya untuk memastikan dirinya tidak telat untuk kali ini. Leona memencet tombol lift disana, namun lift itu belum terbuka. Kemungkinan ada orang didalamnya atau tidak masih dalam perjalanan. Leona menghela napas pelan. "Mampus kalau aku telat lagi," gumamnya sembari melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Jamnya sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. "Ehm! Telat ya? Kasihan nanti dimarahin. Oh ya? Kalau boleh tau? Kamu menggoda Mr Alex atau mencari jalur dalam supaya bisa menjadi asisten pribadi Mr Alex?" Suara itu tidak asing olehnya, dia menatap sumber suara dan ternyata itu Crystal. Keningnya mengkerut seperti ingin mendengarkan ucapan wanita itu kembali. Bibir Crystal tersungging miris disana. "Tidak usah sok polos deh kamu, mending kamu bilang padaku kalau kamu telah menyogok supaya tingkat kamu lebih tinggi dari aku kan?" "Maksudmu apa sih hah? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," kata Leona. Crystal berdecak pelan. Tak lama lift terbuka, mereka berbarengan masuk ke dalam lift tersebut dan di dalam sana tidak ada suara apapun kecuali hembusan napas mereka. "Aku bertanya serius, kenapa jabatanmu bisa naik drastis? Padahal kamu baru saja dikenalkan oleh sekretaris Mr Alex sebelum kamu bekerja disini?" tanya Crystal tanpa menatap Leona. Leona spontan menoleh ke sambil, dia menghembuskan napas pelan. "Mungkin kemampuanku lebih baik dari kamu, jadi Mr Alex percaya sama aku," jawab Leona tanpa memikirkan perasaan Crystal. Crystal nampak geram karena ucapannya barusan. Dia tidak peduli dan mencoba untuk mengalihkan dengan memainkan ponselnya. Tak butuh beberapa lama, lift terbuka dan dirinya langsung berjalan keluar dari lift tersebut. "Aku duluan," ucapnya. Setelah masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursinya itu. Dia menghembuskan napas pelan untuk mengeluarkan sebuah emosi yang terpendam karena Crystal. "Bisa-bisanya aku emosi dengan karyawan Alex!" gumamnya. Dia memijat kening yang terasa pening. "Tumben sekali kamu datang pagi?" tiba-tiba saja terdengar suara pria yang tak asing buatnya. Dia menoleh ke sumber suara. Dirinya menghembuskan napas pelan, kemudian beranjak dari duduknya. "Selamat pagi Mr?" Leona menundukkan kepalanya sopan. "Apa tugasmu sudah selesai? Saya ingin melihatnya," kata Alex yang kini sedang berjalan ke tempat duduknya. Leona mengambil berkas yang sudah dikerjakan semalam, kemudian berjalan mendekati meja Alex dan menyerahkan di meja. "Ini Mr, saya sudah mengetik semuanya. Silakan dilihat dulu Mr." Alex melihat berkas yang sudah ada disana, tak lama pria itu mengambilnya dan membacanya. Leona sangat gugup kali ini. Semoga saja tulisannya diterima kali ini. "Apa kamu yakin orang tuaku bisa bertemu nantinya?" tanya Alex sambil memandangi dirinya. Leona menerjapkan mata pelan, dia mengangguk spontan. "Saya sudah berbicara dengan orangtua Mr, dia menyetujuinya kok," jawabnya. "Baiklah, kalau begitu. Kita akan menghadiri acara. Kamu harus ikut dengan saya, kamu tidak keberatan kan?" "O--oeuhh-- t--tidak kok Mr, lagipula saya sudah menjadi asisten pribadi Mr kan?" Alex nampak tersenyum lebar disana dan bisa diartikan semuanya. "Yasudah, semua sudah fix. Untuk nanti kita akan bertemu dengan klien, kamu bersiap-siaplah." Leona mengangguk kecil. "Permisi, Mr?" Mereka menoleh ke sumber suara, ternyata ada karyawan di sana yang ingin menyerahkan berkas laporan untuk Alex. "Silakan masuk, Leona tolong buatkan coffe untuk saya," suruh Alex sebelum mengambil berkas yang diberikan oleh karyawan pria itu. Leona mengangguk kecil dan tersenyum ramah, kemudian dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. *** "Mau kemana kita Mr?" tanya Leona spontan sembari menatap luar mobil. Ya, mereka kini berada di dalam mobil dan ingin menuju ke suatu tempat. Alex nampak menatapnya dari spion. "Ada seseorang yang ingin bertemu saya. Kemungkinan ada orang tua saya juga," jawab pria itu. Leona terdiam, lagi-lagi dia menggerutu pelan ketika mendengarkan ucapan Alex barusan. Dirinya menghembuskan napas, bagaimana kalau papa Alex bertanya macam-macam padanya? Leona memalingkan wajahnya, dia menggigit bibirnya untuk menahan rasa gugup. "Kenapa? Apa kamu tidak siap bertemu sama mereka?" "O--ouh? T--tidak kok Mr," alibinya sembari menyunggingkan senyuman paksanya. "Kalau kamu keberatan bilang saja padaku, nanti saya akan membatalkan pertemuannya." "E--eh? J--jangan Mr, saya tidak keberatan kok. Lagipula ... Ini sudah pekerjaan saya," kata Leona tidak enak. "Baguslah kalau begitu. Sebentar lagi kita akan sampai, jangan sampai kamu mempermalukan saya di depan mereka apalagi sama papa saya." Leona tersenyum kikuk, dia menggerutu di dalam benaknya. "Kalau bukan karena pekerjaanku mungkin aku tidak akan mengikuti Alex terus," batin Leona jengkel. Setelah beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di lokasi. Dimana lokasinya ada di cafe tak jauh dari tempat kantornya. Leona mengikuti Alex dari belakang seperti apa yang dilakukan oleh asisten pribadi. Melindungi atasannya dan bersiap untuk disuruh oleh bosnya itu. Dirinya hanya diam dan tersenyum lembut kepada rekan kerja Alex itu. Kalau dilihat-lihat ternyata rekan kerja Alex sangatlah tampan. "Itu kekasihmu, Alex?" tanya pria itu sembari menata Leona dengan tatapan lembut. Alex nampak menoleh ke Leona sebelum duduk di kursi itu. "Tidak, dia asisten pribadi saya. Sekretarisku kemungkinan resign karena dia akan menikah." Pria itu mengangguk kecil, kemudian mengulurkan tangan di depan Leona. "Leo, siapa namamu?" tanya Leo dengan nada sopan. Tentunya Leona membalas uluran Leo disana. "Leona." "Cantik nama kamu, ah ya? Bahkan nama kita hampir sama? Apa kamu punya kekasih?" tanya Leo sebelum melepaskan tangan Leona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD