Tante Monica menghembuskan napas pelan. “Maafkan Tante ya, Alex memang sedang mengalami masa amnesia untuk beberapa waktu ini. Dan kamu harus tau Leona, semenjak dia tidak sama kamu Alex benar-benar hancur.”
Leona terdiam, dia terus mencerna ucapan tante Monica barusan. Padahal dulu yang menyakitinya adalah Alex sendiri, kenapa Alex hancur? Apa itu cerita palsu dari Alex supaya tante Monica bisa percaya pada pria itu. Dia meringis kecil dan terus menatap tante Monica yang kini menatapnya.
“Tante tau kalau kamu kecewa dengan anak Tante waktu itu. Memang anak Tante salah, tapi beberapa waktu setelah kejadian anak Tante sudah tidak berhubungan sama perempuan itu lagi. Dan kata Alex perempuan itu hanya mempermainkan dia saja, ah––maksudnya perempuan itu ingin merusak hubungan kalian,” jelas tante Monica.
Leona masih diam, mencerna ucapan Tante Monica barusan. Dia menghela napas pelan. “Sudahlah Tante, sekarang juga Alex sudah tidak ingat sama Leona. Lupain saja ya?” Dirinya mencoba tersenyum di hadapan Tante Monica.
“Tante berharap kamu kembali lagi dengan Alex. Tante tidak pernah merestui hubungan Alex dengan perempuan lain selain kamu Leona.”
“Sampai sekarangpun Alex masih bermain dengan perempuan Tante, Tante harus sadar,” batin Leona, sekilas dia menghela napas pelan.
“Kalau memang jodoh, mungkin kita akan kembali Tante. Lebih baik Tante tidak usah memikirkan itu semua. Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya ya Tante?” kata Leona sembari mengulas senyuman dibibirnya dan menepuk tangan Tante Monica lembut.
Tante Monica menghembuskan napas pelan. “Semoga. Oh ya? Mau minum? Tante pesankan dulu ya. Mbak!” Tante Monica mengangkat tangannya untuk memanggil karyawan yang berada di sana.
“Mau pesan apa ya?” tanya karyawan yang sudah di hadapan mereka dengan membawa sebuah catatan kertas.
Leona nampak tidak enak dengan Tante Leona. “Jus leci saja.”
“Jus leci sama jus jeruk saja ya Mbak.”
Karyawan itu mengangguk kecil, kemudian pergi dari hadapan mereka.
“Jadi? Apa yang mau kamu katakan?” tanya tante Monica menatapnya dengan serius. Leona menatap wanita tua itu, dia sangat gugup.
“Jadi ... Leona disuruh untuk bertanya pada Tante untuk memberikan waktu buat Alex. Dia mau mengadakan acara keluarga, apa Tante mau?”
Tante Monica nampak memikirkan ucapan Leona barusan. “Memangnya kapan?”
“Kita ikut dengan waktu senggang Tante dan juga keluarga Tante. Sekalian tempat yang kalian mau, apa ada saran dari Tante?”
“Kalau hari-hari ini saya sepertinya tidak bisa. Bagaimana kalau besok saja? Saya akan memberikan waktu buat kalian,” kata tante Monica.
“Boleh, tempatnya bagaimana Tante?”
“Kalau tempat biasanya Alex yang pintar mencari. Kamu serahkan pada Alex saja ya?”
Leona terdiam, bodohnya dia disuruh Alex untuk bertanya pada orangtua pria itu. Padahal Alex lebih tau tempat yang paling direkomendasikan untuk orang.
“Jus leci dan jus jeruk ya Nyonya? Silakan diminum,” ucap karyawan tersebut meletakkan minuman di mejanya. Sehingga membuat Leona tersadar. “Terimakasih Mbak,” kata Leona lembut.
“Yasudah Tant, kalau begitu. Saya akan berdiskusi dengan Alex nanti.”
Tante Monica tersenyum lembut. “Di minum dulu, nanti saya bayar.”
Leona mengangguk pelan, dia sangat tidak enak karena sudah merepotkan tante Monica.
Perempuan itu mengambil minuman yang sudah di pesan dan di minum pelan.
“Oh ya? Apa kamu sudah mempunyai kekasih? Atau masih single?” tanya tante Monica tiba-tiba setelah minum minuman di sana.
Leona sempat mengumpat, kemudian menoleh ke arah tante Monica, dia tersenyum masam. “Saya tidak mau mencari pasangan dulu Tant, ujung-ujungnya juga akan menyakiti lagi. Kalau ada yang serius, ya Leona terima.”
“Kalau Alex mau serius sama kamu bagaimana? Apa kamu akan menerimanya?” gurau Tante Monica di sela-sela minum.
Leona sempat kikuk mendengarkan perkataan Tante Monica barusan. Jujur saja dia tidak tau harus menjawabnya apa. Tidak enak juga kalau dia menjawab tidak?
“Engh–– kalau itu Leona tidak tau Tante. Leona–– juga tidak ingin kalau dia akan melukai saya lagi,” kata Leona jujur.
Tante Monica nampak menghembuskan napas pelan. “Maafkan anak Tante Leona. Tante benar-benar tidak tahu kalau anak Tante seperti itu. Bukan kamu saja nak, tapi Tante juga hancur saat itu.” Tante Monica nampak menggenggam tangannya lembut. “Kalau kamu memberikan kesempatan untuk Alex, Tante akan berterimakasih sama kamu.”
Leona terdiam, melihat tangan yang digenggam. Dia menghembuskan napas berat. “Ba–– bagaimana ya Tant? Kita lihat nanti ya? Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya,” kata Leona lembut.
Tante Monica mengangguk kecil. “Tante benar-benar banyak berharap sama kamu dan seperti Alex akan berpikiran sama dengan Tante. Semoga kamu membuka hati buat anak Tante lagi ya?”
Leona hanya tersenyum simpul. Dia tidak bisa menjawabnya, takut kalau tante Monica salah paham dengan ucapannya nanti.
***
Leona membaringkan tubuhnya ke kasur untuk merenggangkan otot-ototnya. Tas selempangnya dilemparkan ke sampingnya, matanya dipejamkan. Jujur saja dia sangat lelah, meskipun hanya bertemu dengan tante Monica tadi.
“Padahal cuma ketemu sama Tante Monica saja, rasanya capek sekali,” gumamnya. Kemudian dia menatap ke langit-langit kamarnya itu. Dirinya memikirkan apa yang dikatakan oleh tante Monica tadi. Apa Alex benar-benar mengharapkannya lagi? Ah-- sudahlah kenapa dia malah memikirkan ucapan mamanya Alex?
Leona menggelengkan kepala pelan, tak mau memikirkan hal itu dirinya langsung beranjak dan menarik handuk, kemudian ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi.
Setelah beberapa menit kemudian, Leona berganti pakaian dengan pakaian tidurnya.
“Leona! Cepat turun! Mama sudah masakin buat kalian!” teriak sang mamanya itu terdengar sangat menggelegar.
Leona menghembuskan napas pelan, dia meletakkan sisir rambut di lacinya sebelum menjawab. “Iya Ma! Sebentar! Leona lagi sisiran!” teriaknya dari dalam.
“Jangan lama! Nanti kehabisan lauk baru tau rasa!”
Leona memutarkan bola matanya sekilas, lalu dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dia melihat papanya yang kini sedang ikut makan malam hari ini. “Tumben sekali, papa ikut makan? Tidak kerja memangnya?” tanya Leona, kemudian duduk di salah satu kursi disana.
Semua pandangan menuju ke arah Leona tanpa cela. “Kenapa pada lihatin Leona?” tanyanya dengan memasang wajah tak berdosa.
Mamanya itu menatap tajam. “Bukannya kamu senang kalau papa ikut makan bersama kita, malah kamu bertanya seperti itu sama papa kamu?”
Leona menghela napas pelan. “Terus kenapa?”
“Kakak memang sedikit aneh Ma, jangan bicara sama dia.” Ara angkat bicara di sela-sela makannya.
Leona mendesis kecil, dia mengambil porsi makanan untuk dirinya sendiri.
“Oh ya? Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Ah--maksudnya kerja pertama kamu?” tanya papanya itu.
Leona melirik kearah papanya sekilas. “Baik kok Pa, kenapa tanya seperti itu?”
Papanya itu menggelengkan kepala pelan. “Tidak, papa hanya bertanya saja. Katanya kamu keterima jadi leader di grup ya? Terus apa kamu menikmati pekerjaan kamu itu?” tanya papanya lagi.
Lagi-lagi ia menghembuskan napasnya kembali. “Pa? Jangan bilang papa meremehkan pekerjaan Leona?”
“Bukannya seperti itu Leona. Dari awal papa sudah menyuruhmu untuk menghandle kantor papa saja tidak mau kan? Di sana cukup santai untuk bekerja, tidak seperti pekerjaan kamu sekarang,” jelas papanya.
Leona berdecak pelan. “Semua pekerjaan mesti susah Pa, tidak mungkin mudah! Kalaupun Leona menghandle di sana pasti lebih banyak pekerjaan yang harus Leona kerjakan kan?”
“Yakan ada sekretaris kamu dan juga bawahan kamu nantinya?”
Wanita memutarkan bola mata jengah. “Lebih baik Leona bekerja di tempat mantan dari pada di papa, dikira juga Leona tidak mau mandiri,” kata Leona to the point.
“Wait? Mantan kamu yang mana ini?” Mamanya itu sontak shock mendengarkan ucapan Leona barusan.
Leona sempat terdiam, bisa-bisanya dia membicarakan mantan di depan keluarganya? Dia menutup wajahnya sekilas. “Astaga, kenapa keceplosan sih?” batin Leona.
“Leona? Kenapa diam?”
“Alex, dia menjadi CEO di sana,” jawab papanya itu spontan. Sontak membuat matanya melirik ke arah papanya itu. Bagaimana papanya itu tau kalau Alex disana?
Mamanya itu nampak menatap papanya tidak percaya. “Alex? Yang biasanya sering dibawa Leona ke sini itu?” tanya mamanya seperti memastikan. Sudut mata mama beralih menatapnya. “Apa benar Leona?”
Leona menghela napasnya pelan, dia mengambil gelas yang berisi jus jeruk untuk diminum, lalu mengangguk kecil. “Iya, dia sudah menjadi CEO di sana.”
“Wah keren juga itu Alex, padahal dulu cuma jadi anak papa doang kan ya?”
Leona meringis kecil, dia tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Mamanya barusan. “Leona ke kamar dulu, mau istirahat,” katanya beranjak dari tempat duduk dan pergi dari hadapan mereka.
“Eh Kak! Ara ikut!” Ara mengikutinya dari belakang.
Setelah masuk ke dalam kamar, dia mendengarkan suara bunyi ponsel di meja sana. Dia langsung mengambil ponsel itu dan mengecek siapa yang menelponnya malam-malam begini.
“Alex? Ada apa dia menelpon malam-malam?”