Leona terdiam, sekilas melirik Crystal yang nampak tersenyum kemenangan. “Awas saja nanti, Crystal!” batinnya menatap Crystal dengan wajah datar. Kemudian dia mengikuti Alex dari belakang.
Sesampai di ruangan. Leona menduduki kursi yang sudah disiapkan di depan meja Alex. Dia terus menatap Alex tanpa berekspresi.
“Ini baru pertama kali kerja Leona. Jangan pernah bikin masalah lagi?!” ucap Alex.
Leona membulatkan matanya. Bisa-bisanya Alex menyalahkannya? Apa karena dirinya baru kerja disini, makanya pria itu membela yang lama?
“Mr? Tadi saya tidak ngapa-ngapain dia, coba saja tanya sama orang yang lihat di sana!?” ucap Leona sedikit menekan.
“Leona! Saya tidak mau mendengarkan penjelasan dari kamu. Entah kamu salah atau tidak, lebih baik kamu meminta maaf terlebih dahulu!” ucap Alex dengan tegas.
"Astaga, ternyata saingan di sini lebih licik," batin Leona frustasi.
Leona menghela napasnya pelan, sekilas dia memejamkan matanya. “Baik Mr, saya akan meminta maaf sama Crystal,” katanya dengan nada pasrah.
“Bagus. Kalau begitu saya ingin kamu membuat acara buat keluargaku nanti dan kamu harus ikut dengan aku,” ucap Alex sembari mengambil kertas yang sudah di print tadi. “Saya sudah merancangnya, kalau ada jadwal yang bentrok. Kamu bisa mengganti jadwalnya dan juga kalau punya saran tempat yang bagus, kamu tulis saja di sana. Nanti kita diskusikan.” Alex menyerahkan kertas itu ke Leona.
Leona mengambil dari tangan Alex. Dia membaca beberapa tulisan di sana. “Acara keluarga Mr?” Wanita itu tidak percaya, kemudian dia menoleh ke arah Alex.
Alex mengangguk kecil. “Iya, kalau bisa kamu harus diskusi dengan keluargaku. Kalau kamu tidak mau, cukup kita saja yang diskusikan semua ini,” jelas Alex.
Leona hanya diam. Dia masih menatap kertas yang berada ditangannya. Bukannya gimana, dirinya takut kalau keluarganya itu mengenali dia.
“Jadi, bagaimana denganmu Leona? Apa kamu siap untuk menyiapkan acara itu?” tanya Alex.
Leona menyadarkan lamunannya. “S--siap Mr. Kalau begitu saya cocokkan dulu dengan jadwal yang Mr beri tadi,” katanya, lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Oh ya? Saya belum bilang padamu. Kalau ruanganmu ada di sana.” Alex menunjuk meja kerjanya yang tak jauh dari meja kerjanya.
Leona melihat meja kerjanya. Matanya membulat seketika, sesekali melirik Alex dengan wajah tidak percaya. Apa semua ini sudah direncanakan?
Wanita itu menghembuskan napasnya pasrah. Dia langsung duduk di tempat kerjanya itu dan lebih kesalnya lagi ternyata Alex sedang menertawakannya di sana.
“Sial, apa dia sedang mempermainkanku?” batin Leona. Dia membuka laptopnya sesekali mencoret-coret kertas di sana.
Setelah siap, dia langsung mencetak di mesin print di sana, kemudian memberikan pada Alex di meja. “Lihat dulu Mr, kalau mau revisi. Saya akan revisi,” kata Leona.
Alex melihat kertas tersebut. “Bisa revisi sedikit? Saya tidak bisa di hari ini.” Pria itu memberikan kembali ke Leona.
Leona tentunya merasa kesal. Dia kembali ke tempatnya, sudah beberapa kali dia revisi tapi Alex tidak pernah mengiyakan.
“Kenapa berat sekali kerja di sini, astaga?!” batinnya dia melangkah kembali ke mejanya sembari menghentakkan kakinya kesal, tiba-tiba saja dia terjatuh di lantai karena kecerobohannya sendiri sehingga membuat wanita itu meringis kecil.
“Aw--aws ... Apes banget aku di sini,” gerutunya.
Ternyata di sana Alex menahan tertawanya. Dia melirik ke pria itu tajam dan membuat Alex langsung berhenti tertawa.
“Menyebalkan memang si Alex,” gumamnya. Dia beranjak dari lantai sembari memegang mejanya. “Ternyata sakit juga,” kata Leona dengan pelan.
Melihat itu, Alex langsung mendekat kearah Leona. “Kakimu terkilir? Biar saya lihat,” ucap pria itu nampak cemas.
Leona menoleh ke samping. “Tidak! Terimakasih,” kata wanita itu cetus.
Alex tidak memperdulikannya, pria itu berjongkok dan menarik kakinya ke paha Alex.
“Lain kali tidak usah seperti itu lagi, imbasnya di kamu kan? Sampe biru begitu, tunggu sebentar aku akan mengurut kakimu,” kata Alex langsung beranjak untuk mengambil salep di lacinya.
Leona terdiam, menatap punggung pria itu lekat. “Apa dia Alex? Kenapa aku seperti melihat Alex yang dulu?” batin Leona tidak percaya.
Leona berjalan keluar dari ruangan dengan kaki pincang sembari membawa berkas yang berada ditangannya. Semua melihatnya seperti shock.
Wanita itu melirik ke orang-orang yang berbisik-bisik di sana. “Dasar, memang mereka tidak ada kerjaan selain membicarakan orang,” gerutunya.
Setelah keluar dari gedung itu, Leona mengambil ponselnya untuk memesan grab. Dia menghembuskan napas pelan, sesekali melihat ke sekitar halaman kantornya.
Cukup panas, sehingga membuat matanya disipitkan. “Harusnya Alex ikut denganku sekarang. Masa iya aku harus bertemu orangtua Alex sendiri?”
Leona menghembuskan napasnya kembali. Tak lama grab yang di pesan datang, segera dia masuk ke dalam mobil tersebut.
Selama di perjalanan, Leona terus menatap layar ponselnya untuk memberi pesan untuk orang tua Alex. Takutnya kalau mereka sibuk kalau mendadak bertemu seperti ini.
Tiba-tiba saja ada telepon masuk di ponselnya, tak mau lama dia langsung mengangkat telepon dari mama Alex.
“Hallo Tante?”
‘Maaf ini siapa ya?’ tanya mama Alex dari sana.
Sepertinya mamanya Alex lupa suaranya. “Saya asisten Alex Tante, saya disuruh untuk menemui Tante. Apa Tante tidak sibuk?”
‘Oh ... Kebetulan saya diluar. Kalau mau kamu kesini saja. Saya di cafe Dream, saya tunggu disini,’ kata mamanya itu dengan sopan.
“Baiklah Tante, saya akan kesana. Terimakasih,” kata Leona sebelum mematikan ponselnya.
Dia menghembuskan napasnya pelan. Jujur saja ini baru pertama kali bertemu dengan orang tua Alex setelah lama dia tidak bertemu. Dia sangat gugup kali ini.
“Pak ganti lokasi ke cafe Dream ya? Nanti saya tambahin ongkosnya,” kata Leona.
Supir taxinya hanya mengiyakan saja.
Setelah lama kemudian, akhirnya Leona sampai di tempat yang dimaksud oleh mama Alex. Dia langsung memasuki cafe tersebut sembari mengedarkan pandangannya dari sudut ke- sudut cafe itu.
“Tante Monica di mana ya?” gumamnya. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menabraknya sehingga membuat dia terhempas ke lantai.
“Aish! A––awsh! Siapa sih yang buru-buru keluar, mana tidak meminta maaf lagi,” gerutunya mencoba untuk berdiri tegak. Padahal sudah diurut tadi, tapi rasa nyeri masih ada di kakinya.
“Apa kamu tidak apa?” tanya seorang berparu baya menghampirinya dengan memegang lengannya.
Leona sontak diam, dia pernah mendengarkan suara ini. Dirinya mendongakkan kepalanya seketika. Ternyata benar, Tante Monica yang berada di hadapannya.
“T––tante?”
“Leona?”
Kata mereka berbarengan dengan wajah tidak percaya.
“Astaga, Tante kira Tante tidak bisa bertemu kamu lagi loh. Ayo duduk dulu.” Tante Monica langsung memapah dirinya ke arah kursi untuk duduk.
“Sebentar? Kaki kamu kenapa memar? Kamu habis jatuh?” tanya Tante Monica khawatir setelah melihat kakinya yang mulai membiru.
Leona meringis kecil. “Tadi Leona sempat jatuh Tant. Jadi seperti ini, tapi sudah saya pijit kok tenang saja,” katanya sembari menjejerkan gigi putihnya.
“Kenapa kamu tidak hati-hati sih? Nanti jangan lupa minta pijit lagi ya? Kalau pijit sekali tidak memungkinkan untuk sembuh cepat,” kata Tante Monica duduk di hadapannya.
“I––iya Tante, makasih ya sudah peduli sama Leona,” ucap Leona diselingi dengan senyuman.
“Oh ya? Kamu ngapain di sini? Mau ketemu siapa?”
Leona merasa kikuk, dia mengusap tengkuknya yang tak gatal. “Maaf sebelumnya Tant, yang tadi menelpon Tante itu Leona,” katanya sembari meringis pelan.
Tante Monica nampak tidak yakin. “Kamu? Apa kamu serius? Berarti kamu sekarang menjadi asisten Alex?”
Leona mengulum bibirnya gugup. "I––iya ... Itu Leona Tante. Leona tidak tau kalau Alex bekerja disitu.”
“Astaga, harusnya Alex memberitahu Tante dari kemarin. Jujur saja Tante sangat merindukan kamu Leona.”
Leona nampak mengulas senyuman di sana.
“Oh ya? Alex ingat kamu tidak?” tanya Tante Leona tiba-tiba.
“Wait? Kenapa Tante Monica bicara seperti itu? Apa benar Alex hilang ingatan?” batin Leona.
“Leona? Are you okay?” Tante Monica nampak melambaikan tangan di depan wajahnya sehingga membuat lamunannya buyar.
“Engh ... L––Leona tidak apa-apa kok.”
“Tante cuma tanya seperti itu saja padahal. Tapi Tante mau tanya serius, apa Alex mengenalimu?” tanya Tante Monica kembali untuk menunggu jawaban dari Leona.
Leona tersenyum kikuk dan menggelengkan kepala pelan. “T––tidak Tant. Jujur saja Alex tidak mengenali Leona dari awal dan itu membuat Leona kaget,” katanya.