“Saya harus menyiapkan semuanya buat meeting nanti. Saya harap kamu bisa bekerja sama ketika nanti di ruangan,” jelas Alex. Dia memberikan beberapa berkas di meja. “Ambillah.”
Leona masih bingung. Tak mau kalau Alex memarahinya lagi. Akhirnya dia langsung mengambil semua berkas itu. “Terus, saya harus bagaimana Mr?”
“Kamu cukup membantuku saja di dalam sana. Maksudku, kamu harus mengambilkan minuman untukku, mungkin dengan rekan kerjaku juga, selain itu kamu bisa mengambilkan apa yang aku butuhkan,” jelas Alex kemudian.
Kening Leona mengkerut. “Memang asisten itu berperan sebagai pembantu atau bagaimana sih? Sinting ya dia?” batin Leona.
“Untuk kali ini kamu cukup bekerja seperti itu saja. Tapi mulai besok, kamu harus mengatur jadwalku, mengatur waktu dengan rekan kerjaku, sampai mengurus acara keluarga. Saya akan menggaji lebih dari gaji sekretarisku,” kata Alex dengan serius.
“Di dalam berkas yang itu ada beberapa waktu kerjaku yang harus kamu bisa revisi lagi. Ayo ikut saya sekarang juga,” lanjut pria itu, kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
Leona hanya mengangguk pelan. Dia mengikuti Alex dari belakang. “Boleh tanya Mr?”
“Tanya saja, saya akan menjawabnya,” kata Alex yang masih berjalan santai. Leona masih berjalan di belakang pria itu.
“Kalau memang benar sekretaris Mr keluar karena menikah? Kenapa Mr tidak akan mencari sekretaris baru? Takutnya nanti kenapa-kenapa kalau tidak ada sekretaris,” kata Leona dengan wajah khawatir akan dirinya melaksanakan tugas itu juga.
Alex menoleh ke belakang sekilas. “Kamu tidak perlu khawatir. Ada temanku yang akan membantu kamu,” kata pria itu santai.
Leona menggerutu pelan.
Alex menatapnya sewaktu dia menggerutu. Spontan dia langsung membungkam, jantungnya berdetak kencang. “Astaga, Alex lihat aku tidak ya?” batinnya. Dia menegukkan ludahnya susah payah.
Alex yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. “Kenapa? Keberatan? Kenapa melamar kerja disini hah?” ringis pria itu, kemudian masuk ke ruangan untuk bertemu dengan rekan kerjanya.
Leona mengerjapkan matanya kikuk. Dia melihat ke sekitar ruangan tersebut. Sangatlah luas dan juga masih sepi.
“Nanti Mr akan bertemu rekan kerja Mr di sini?” tanya Leona dengan polosnya.
Pria itu menatap dirinya seakan tidak percaya. “Iya, masih ada waktu untuk menunggu ... Kalau belum tau tugasmu, lebih baik kau duduk manis di sini dan baca tugasmu nanti bagaimana,” pinta Alex yang sudah terduduk manis di kursinya sendiri.
Leona mengangguk patuh, dia menarik kursi yang tak jauh dari Alex. “Memang nanti ada siapa saja Mr?” tanya wanita itu sekali lagi.
Alex menatap heran. “Apa saja yang kamu tanyakan sedari tadi? Saya sangat lelah untuk menjawab semua pertanyaanmu itu,” kata pria itu dengan nada datar.
“Apa aku salah?” tanya Leona sembari menerjapkan matanya kikuk.
Alex menghembuskan napas kasar.
Leona meringis pelan. Dia membuka berkas di sana dan membacanya.
“Apa Mr setiap hari bekerja seperti ini? Mr tidak lelah dengan semua ini?” Leona menoleh ke Alex di sela-sela membaca.
Alex menggelengkan kepalanya sekilas. “Justru saya sangat bangga karena sudah bisa membangun kantor sebesar ini,” jawab pria itu spontan.
Leona tercengang. Tapi benar juga sih, dulu pria ini tidak berarti apa-apa oleh orang lain. Bahkan semua orang sering meremehkan Alex.
“Apa dia seorang Alex? Memang tidak berubah sifatnya, tapi dia lebih dewasa dari sebelumnya,” batin Leona meringis pelan.
***
Setelah meeting, rekan kerja yang berada di sana keluar dari ruangannya. Leona menghembuskan napasnya lega, dia beranjak dan membantu untuk membenarkan beberapa kertas di sana.
“Kenapa tadi wajahmu sangat tegang?” tanya Alex seperti meledek.
Leona melirik tajam Alex di sana. “Bagaimana tidak tegang? Orang mereka tamu terhormat Mr,” desisnya.
Pria itu terkekeh pelan di sana tanpa sepengetahuan Leona.
“Oh ya? Terus ... Apa saya tidak terhormat buat kamu?” Alex mendekat kearah Leona. Sontak membuat mata Leona membulat saat dia membalikkan padanya.
“Mr?!” Leona spontan berteriak. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. “Astaga, apa-apaan ini?! Jangan bilang semua ini hanya permainan Alex? Br*ngsek! Awas saja kamu Alex?!”
Leona mengundurkan tubuhnya ke belakang karena pria itu mengarah ke arahnya. Sehingga membuat punggung wanita itu terbentur meja.
“Aish sialan! Kenapa ada meja sih?! Alex benar-benar mau bikin masalah!” batin Leona. Dia menundukkan kepalanya untuk menahan rasa malu dan kekesalannya.
Alex tersenyum miring di sana. Tangan pria itu menarik dagu Leona. “Kenapa? takut?”
Tak lama, Alex langsung tertawa terbahak. “Astaga, kamu sangat lucu kalau seperti ini. Kamu tidak perlu khawatir, baby. Saya tidak akan bermain-main denganmu,” kata pria itu dengan wajah santainya.
Wanita itu memejamkan matanya kesal. “Bener, bos tidak tau malu! Aku kira dia sudah berubah saat otaknya geser,” batinnya.
Dengan cepat dia segera menepis tangan Alex yang berada di dagu. “Mr! Lebih baik kamu lebih sopan sedikit dengan asisten pribadimu ini!” ucap wanita itu tegas.
Alex menyunggingkan senyuman miringnya disana. “Tau tidak? Sebenarnya saya menyuruhmu bekerja di sini bukan karena keterampilanmu. Tapi ... Karena kamu sangat cantik. Dan kamu tau? Keterampilanmu di bawah rata-rata, tapi kemungkinan saya membutuhkanmu. Maka dari itu aku menerimamu dan menggantikan Agnes sebagai asisten pribadiku,” kata Alex dengan santai. Mata Leona spontan membulat, seperti tidak percaya dengan ucapan pria ini barusan.
“Br*ngsek kamu Alex! Jangan bilang kamu juga cuma pura-pura bodoh di depanku soal tidak ingat aku kemarin!” batin Leona kesal.
Wajahnya memerah karena saking marahnya. Tak lama dia memalingkan wajahnya dan mendorong d**a Alex untuk memberi jalan untuk keluar dari ruangan tersebut.
“H--hei! Nona Leona!” Alex terdengar memanggilnya, namun Leona tidak memperdulikannya.
“Awas saja kamu Alex, abis kamu kalau sudah terbongkar semuanya,” gerutunya. Dia melangkah ke koridor untuk melihat pemandangan beberapa karyawan disana. Dirinya menghela napasnya pelan.
“Seharusnya aku diposisi mereka. Tidak peduli bayarannya lebih sedikit, setidaknya dibayar pun,” gumam Leona.
“Sepertinya ada yang mendekati Mr Alex supaya bisa dibesarkan kan gajinya?” sindir salah satu karyawan yang tak lain itu adalah Crystal.
Leona segera menoleh. Keningnya mengkerut seketika. “Maksudmu apa hah?” kata wanita itu tidak terima.
Crystal mendesis kecil. “Jangan berpura-pura tidak tahu ya Leona. Saya melihat semuanya.” Crystal mendesis pelan sembari bersedekap d**a.
Leona terdiam sejenak. “Lagipula, kalau tidak tahu apa-apa lebih baik kamu diam ya?” Dia memberanikan diri untuk bicara.
Crystal nampak tidak suka. “Berani ya sama orang sudah bekerja lama disini? Lebih baik kamu membelikan makanan buat kita, daripada sibuk berKENCAN dengan Mr Alex!” kata Crystal dengan menekankan kata 'kencan'.
Leona tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Crystal. Bahkan dia sangat jijik dengan wanita yang sok cuek ini. “Memang kamu siapa, Nona? Kamu hanya karyawan disini ya. Tau tidak? Tugasku hanya ikut kemauan Mr Alex, bukan kamu mengerti?” jelas Leona sebelum pergi dari tempat itu.
Crystal nampak kesal di sana, tak mau kalah wanita itu langsung terduduk untuk berpura-pura sakit. “Argh! Leona! Kamu apa-apaan sih hah!” ringis Crystal.
“Astaga, itu asisten baru Mr Alex sadis banget ya! Lebih baik Agnes saja yang bekerja sebagai sekretaris?!” kata salah satu karyawan yang melihat kejadian itu.
Suara itu sontak membuat Leona menoleh ke sumber suara dan kesalnya banyak orang yang membicarakan yang tidak-tidak. “Dia kenapa sih?” batinnya dengan kesal.
“Crystal? Ada apa ini?” tanya seorang yang baru saja datang, siapa lagi bukan Alex.
Leona menoleh ke Alex, dia menggelengkan kepalanya cepat. “B--bukan saya, Mr!” ucap wanita itu dengan cepat.
Crystal dibantu oleh Alex disana. Sungguh dirinya sangat muak melihat pemandangan ini. “Pintar drama ternyata dia?” batin Leona sembari menyunggingkan senyuman mirisnya.
Alex menatap ke arahnya. “Kalau kamu marah sama saya, lebih baik jangan melampiaskan itu semua ke orang lain, Leona!” tegas Alex.
Mata Leona membulat. “Bukan saya Mr! Saya tidak melakukan itu semua!” Dia mencoba untuk mempercayakan Alex.
“Astaga, dia berani sekali dengan Mr Alex?” bisik-bisik beberapa karyawan di sana.
“Leona? Saya tunggu di ruangan saya,” kata Alex, sebelum pergi dari hadapan mereka.