Nia mulai membantu istri Deden melahirkan. Peralatan sangat terbatas. Namun dengan usaha keras akhirnya perempuan itu bisa melahirkan dengan selamat. Semua orang senang mendengar, termasuk Imam Benua. Nia menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, kemudian membawa dalam dekapan ibunya. Deden berkali-kali mengucapkan syukur dan berterimakasih pada Hadi dan Nia.
Mereka memberikan beberapa potong pakaian buat mengganti baju Nia yang kotor dan memberinya makanan sederhana berupa singkong dan ubi rebus. Beberapa perempuan yang ikut hadir dan membantu persalinan, kini telah pulang setelah istri Deden tertidur. Ruangan itu sangat kecil dengan penerangan lampu lima watt. Hampir semua rumah di sini hanya diterangi lampu yang sama. Nia telah selesai menyantap makanan dan mengganti bajunya. Dia duduk bersama Hadi.
"Maaf, Bu. Saya merasa sangat bersalah pada ibu karena telah berprasangka buruk. Tapi berkat pertolongan Ibu, anak dan istri saya selamat. Terimakasih Bu Nia."
"Oh, gak apa-apa Pak. Iya sama-sama. Tolong selalu dijaga anak dan ibunya ya Pak."
"Baik Bu." Sejurus kemudian Deden menoleh ke arah Hadi. "Pak Hadi, andainya saja, bapak tidak membawa Bu Nia ke sini mungkin nasib istri saya akan sama dengan istri anggota yang lain." Deden sangat berhutang budi dengan Nia dan Hadi. Kematian anggota mereka karena kelahiran, cukup tinggi. Jarak yang jauh dari kota dan fasilitas yang tidak memadai adalah penyebabnya.
"Sama-sama Den." Hadi tampak berpikir keras. Ada banyak rencana yang telah disusun untuk membawa Nia pergi dari tempat Imam Benua. Seorang diri sepertinya dia akan kesulitan. Karena di beberapa titik, ada anggota yang berjaga. Khususnya di jalan utama yang terletak di dekat sungai dan jalan yang menghubungkan dengan jalan raya. Mungkinkah Deden mau menolong dalam pelariannya bersama Nia? Pertanyaan itu terus mengusik hatinya.
"Maaf, Pak Hadi. Kalau boleh tahu. Apa yang sedang bapak pikirkan? Kelihatannnya seperti ada masalah." Deden memberanikan diri bertanya. Karena sejak tadi wajah Hadi tampak keruh.
"Oh, tidak ada Deden." Hadi melirik Nia yang tampak kelelahan.
"Ya sudah Deden, kami pamit dulu."
"Apakah tidak sebaiknya tidur di rumah saya Pak Hadi?" tawar Deden. Tapi ditolak Hadi. Dia akan menggunakan pendopo untuk menginap. Karena di sana ada satu kamar yang kosong.
Hadi dan Nia menyusuri jalan setapak, hingga sampai pada pendopo yang mirip dengan rumah joglo. Hadi membuka kamar yang terletak di belakang pendopo dan masuk. Nia masih ragu untuk ikut masuk, karena masih trauma mempercayai laki-laki itu.
"Ayo, masuklah. Kamu pasti lelah. Tempat ini cukup nyaman untuk istirahat." tawar Hadi.
Nia masih membeku si tempat. Sekelebat bayangan Toni datang membuatnya menggigil Ketakutan. Tangannya terkepal kuat dan keringat dingin mulai berjatuhan di pelipisnya. Melihat reaksi Nia, makin memicu rasa bersalah Hadi. Pasti perempuan itu merasa sangat ketakutan. Segera Hadi mendekat.
"Nia ...."
"Kenapa kamu tega padaku Mas. Kamu mengajakku untuk berlibur dan menikmati indahnya kota Jogja, ternyata semua itu hanya dusta, untuk menjebakku ke dalam tempat menyeramkan seperti ini! Apa sebenarnya maumu?" tanya Nia tertahan. Emosi dan juga sedih memenuhi hatinya.
"Nia, a-aku mengaku salah. Aku benar-benar menyesal. Kupikir dengan mengajakmu ke sini, membuatmu mau menerima kebenaran yang selama ini kuyakini ... A-aku ...."
"Dengan menyekapku dan membuatku hampir diganggu oleh temanmu yang bernama Toni. Apakah ini sebuah ancaman murahan, agar aku mau mengikuti pemahamanmu, begitukah?" Nia memotong ucapan Hadi. Mata laki-laki itu langsung membulat.
"Apa yang ingin dilakukan Toni padamu?" Segera dia mendekati Nia dan memegang bahu itu. Ada banyak luka yang tampak di sorot mata Nia.
"Dia hampir merenggut kehormatanku! Apakah kamu senang sekarang? Itukah yang kamu inginkan, ketika membawaku ke sini?"
Wajah Hadi menegang dan tengannya langsung terkepal.
"Apakah benar dia ingin menodaimu? Benar-benar j*****m. Akan kuhajar dia sampai mati." Amarah laki-laki bertubuh tegap itu, membakar hingga ubun-ubun. Semua sikap dan ucapan Toni sejak tadi memancing emosi, masih bisa dimaafkan walau amat menyebalkan. Tapi untuk kali ini dia sudah tak bisa mentolerir lagi.
"Mas, kelompok apakah yang kamu ikuti ini? Kenapa semua terasa menakutkan?" Suara Nia serak, menahan sedih sekaligus kecewa.
"Aku berjanji akan membawamu keluar dari sini." Hadi memegang tangan Nia. berharap perempuan itu memahami keadaan yang sedang terjadi pada mereka sekarang. "Nia, sejujurnya, nyawamu sedang terancam sekarang. Bersyukur istri Deden melahirkan di saat yang tepat. Bila tidak Imam Benua akan mengeksekusimu. Tapi dengan keahlianmu bisa membantu persalinan anggotanya, mengurungkan niatnya itu. Untuk memudahkan rencanaku, bisakah kamu berpura-pura bersikap baik dengan mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan. Aku tahu, kamu akan menolaknya. Tapi yang perlu kamu ketahui, Iman Benua telah memperketat penjagaan di lokasinya. Semua ini karena kesalahanku."
Nia menatap laki-laki yang terlihat murung dengan wajah menunduk itu. Perlahan Nia menyeret kakinya masuk ke kamar, sembari mengembuskan napas panjang untuk mengurangi sesak yang menggumpal di d**a. Sekarang, bukan waktunya menyalahkan laki-laki itu. Mereka harus bisa berkerjasama agar berhasil keluar dari tempat Imam Benua.
"Apa yang harus aku lakukan, Mas. Bisakah kamu jelaskan?" tanya Nia mulai tenang. lengkungan bulan sabit pun terbit di wajah laki-laki itu.
"Kamu kuminta untuk menjadi bidan di sini. untuk sementara, hingga kita punya peluang melarikan diri," ucap Hadi cepat, menatap Nia dengan sejuta harapan.
"Apakah mereka mau menerimaku sebagai bidan?" Nia masih ragu.
"Mereka sangat membutuhkan tenaga itu. Bila kamu bisa berbaur dengan mereka, akan mudah bagimu diterima. Apalagi kamu adalah istriku."
"Emang kenapa kalau aku istrimu?" Nia balik bertanya. Ada banyak rahasia dari Hadi yang belum terkuak. Dan itu membuat Nia bergidik.
"Hmm ... Aku ... Sudah mereka anggap senior mereka," Hadi tidak bisa berterus terang statusnya di tengah kelompok mereka. Ada baiknya perempuan itu tidak tahu.
"Baiklah. Aku akan berusaha bersikap baik." Akhirnya Nia pasrah.
***
Nining masih belum beranjak dari tempat tidur. Anak-anak kosan mulai rame mengantri kamar mandi. Matanya terus mengarah pada langit-langit kamar ada banyak kata 'kenapa' yang terlintas di benak terhadap Trysna. Padahal selama ini Nining tak pernah punya masalah dengan Trysna, bahkan nyaris sempurna persahabatan itu. Trysna yang selalu ada saat dibutuhkan, baik dan tulus. Tapi kini semua yang tampak pada dirinya begitu sulit dipercaya. Bagai dua kepribadian yang berbeda antara langit dan bumi.
Denting jam delapan kali menyentak Nining. Ada jadwal praktikum hari ini. Mengingat lapangan dan Trysna, membuat Nining kembali merasa berat untuk menuju kampus. Dia tidak ingin berhadapan dengan Trysna. Ada banyak dugaan dalam pikirannya yang menyemak liar. Nining khawatir tak bisa mengendalikan emosinya saat berhadapan dengan gadis itu dan tak ingin dugaan yang belum terbukti itu merusak persahabatannya dengan Trysna.
Walau berat, akhirnya Nining memutuskan masuk kuliah. Saat hendak mendekati pot praktikum di kebun, tak sengaja matanya menangkap bayangan Syaiful yang berada di sisi sebelah kanan. Tempat okulasi tanaman mawar dengan beraneka warna dalam satu pohon. Bunga itu telah mekar semua, hati Nining sedikit terhibur menikmati pemandangan indah itu. Tiba-tiba tepukan agak keras mendarat di bahunya, mengejutkan Nining.
"Eh, Ning. Kamu lagi melamun ya?" Ternyata Trysna telah berdiri di belakangnya. Matanya ikut terarah pada titik yang sama.
"Ehm ... Kamu lagi lihat apa Ning? Serius amat." Suara Trysna membuat Syaiful menoleh ke arah mereka. Nining gelagapan saat matanya berserobok dengan Syaiful. Dengan cepat menarik tangan Trysna menjauh menuju praktikum millik mereka di sebelah kiri dan berkumpul bersama teman-teman yang mulai berdatangan.
"Ih, ada apa sih, kok kayak orang ketakutan habis lihat setan ya ...," gerutu Trysna. Nining hanya tersenyum tipis membalas.
"Eh, Ning. Praktikummu yang rusak sudah dibuatkan yang baru belum?" Ida menghampiri mereka berdua.
"Sudah dong. Beruntung aku dibantu kakak tingkat yang baik hati."
Nining melirik diam-diam ke arah gadis di sampingnya. Wajah Trysna seketika berubah masam. Kecurigaan Nining makin bertambah.