Pelangi 5

1170 Words
"Kita harus berjaga-jaga sekarang. Ada seseorang yang dibawa Hadi ke markas kita. Dia menolak membai'at padaku. Aku khawatir suatu saat dia akan mengacaukan semua rencana yang telah kita susun." Imam Benua berkata dengan nada tinggi. Dia sangat menyesalkan keputusan Hadi. "Siapa dia Imam?" tanya salah seorang dari anggota. Mereka saling melempar pandangan tak mengerti arah pembicaraan laki-laki tua itu. "Kalian tahu kalau Hadi menikah dengan perempuan di luar jama'ah kita. Dia dengan cerobohnya membawa perempuan itu ke sini dan menolak bergabung dengan kelompok kita, hingga aku terpaksa menyekapnya. Aku tak ingin dia melarikan diri dan membongkar agenda rahasia kita kepada para thoghut itu." Semua mata berpindah ke arah Hadi yang sejak kedatangannya tak berani mengangkat kepala. Matanya terus tertuju pada lantai kayu pendopo. Beberapa orang ada yang berbisik, saling bertanya. Namun semua menggeleng. Toni terus melesatkan tatapan sinis ke arah Hadi. Sejak awal, dia sangat menentang pernikahan dengan perempuan di luar jaringan mereka. Begitupun dengan Imam Benua. Tapi keras kepala laki-laki itu membuat Imam Benua terpaksa menyetujui. Kini masalah baru timbul oleh ulahnya. Mata Imam Benua kemudian beralih ke Toni dan Angga. "Aku harap kalian bisa membereskan semua ini." Toni mengangguk cepat. Tugas itu terasa mudah bagi Toni. Angga terlihat sedang berpikir. "Apakah kita harus mengeksekusinya? Tidakkah kita membiarkan saja dia pergi. Toh peluang hidup pun akan sangat sulit bila dia melarikan diri. Kita tak perlu mengotorinya tangan kita untuk melakukan hal itu." Angga mengajukan keberatannya. "Apakah kamu lupa bila ada anggota yang membelot dan berhasil meloloskan diri dari tempat kita. Bahkan dia hampir melaporkan ke pihak yang berwajib. Nasib baik Toni bisa dengan cepat membungkamnya." Imam Benua tidak setuju dengan usulan Angga. Kejadian tiga bulan yang lalu membuat mereka makin memperketat penjagaan. "Tenang, Imam. Bila Angga tak mampu melakukan, biarkan aku saja yang melakukannya. Jangankan menyingkirkan satu orang, banyak orang dalam sekali ledakan saja, aku sanggup walaupun harus mengorbankan diri sendiri." Toni antusias mengatakannya. Tidak ada yang susah selama yang dilakukan adalah sebuah kebenaran yang diyakininya. Hidup itu pilihan, sering orang memilih sesuatu yang salah bahkan disesali seumur hidup. Itulah yang dirasakan Hadi. Dia terus menyesali keputusannya. "Mungkin ada pesan terakhir buat istrimu, Hadi?" tanya Toni dengan nada mengejek. Darah Hadi makin menggelegak mendengar. Dia sudah berusaha bersabar, tapi ulah laki-laki itu memantik amarah yang sejak tadi ingin menyala. "Sebaiknya kamu memikirkan pesan terakhir untuk keluargamu sendiri Toni!. Bukankah sebentar lagi kamu akan mengeksekusi tempat wisata di Jogja? Apakah kamu sudah buat pesan dan wasiat buat mereka?" Hadi membalas dengan ketus. Tangannya mulai terkepal dan rahangnya mengeras. Beberapa anggota berusaha menahan kedua belah pihak agar emosi tidak makin meluap. Toni mengeraskan tangannya, sengaja memamerkan otot pada lengan dan juga d**a yang terbalut kaos coklat muda yang tidak terlalu tebal. Hadi mendengus melihat kelakuan Toni. "Semua anggota harus siaga. Pikirkan Keselamatan dan keberlangsungan anggota kita bila dihadapkan pada kemungkinan terburuk." Imam Benua menutup pertemuan sekaligus mengakhiri perdebatan di antara Hadi dan Toni. Semua anggota keluar tanpa kata-kata. Mereka masih belum percaya orang yang mereka anggap senior dan yang akan menjadi pemimpin menggantikan Imam Benua, melakukan kesalahan. Hadi membuntuti Imam Benua yang berjalan perlahan menuju tempat tinggal istri ke tiga. Saat hendak masuk, Hadi menghadangnya di depan pagar. "Maaf Imam. Aku ingin bicara." "Hmm, ada apa lagi? Bukankah semua sudah jelas. Sebelum fajar menyingsing kita harus menyingkirkannnya. Mengerti?" Imam Benua segera membuka pagar kayu itu dan melangkah masuk. Lagi-lagi Hadi mencegahnya. "Imam kumohon apapun yang engkau minta akan aku sanggupi yang penting engkau memaafkan Nia dan membiarkan dia pergi. Aku akan memintanya untuk merahasiakan semua tentang kelompok kita." Segera Hadi bersimpuh memegang kaki Imam Benua. Laki-laki tua itu seger menepis dengan menendang tangan yang memegang betisnya. Hadi tersungkur. Menunduk dengan sedih. "Inilah akibatnya bila kamu tidak mendengarkan nasehatku sejak awal." "Imam, aku telah melakukan banyak hal untuk kelompok kita dan aku sangat loyal padamu. Bahkan apa pun yang kamu minta, selalu kupenuhi." Laki-laki tua itu terdiam. Mata yang sejak tadi dibuang ke arah lain, kini berpindah ke Hadi yang sedang bersimpuh. Antara iba dan marah menyatu mengaduk hatinya. Imam Benua mengembuskan napas kasar. kemudian meraih tangan Hadi hingga berdiri sejajar dengannya. "Apakah permintaanmu, akan berbuah manis atau tidak? Apakah kamu ingin aku membebaskannya dan taruhannya adalah kelompok kita ?" Hadi membeku. Jama'ah baginya adalah hal yang paling penting dalam hidup. Tujuan akhir yang ingin didapat ketika bergabung bersama Imam Benua adalah meraih surga. Tapi, Nia adalah orang yang dicintainya. Hal indah saat bisa memiliki dan menikahi seorang gadis yang sejak dulu disukainya. Tangan Hadi terus mengepal, menahan gemuruh di dalam d**a. "Jawab! Jangan diam saja!" bentak Imam Benua, marah. Beberapa kenangan mulai berputar kembali dalam benaknya. Zulaikha istri keempat, yang amat dicintainya lebih memilih pergi saat dia sangat membutuhkan dorongan dan semangat darinya. Perempuan itu lebih memilih hidup di kota dengan orangtuanya dibandingkan bersamanya dalam perjuangan. Kini laki-laki muda itu menunjukkan keraguan padanya, membuat hatinya kian meradang. "Imam, kumohon. Biarkan dia hidup. Dia bisa diperkerjakannya di tempat kita sebagai bidan. Kita bisa memanfaatkan tenaganya untuk membantu persalinan istri anggota kita yang melahirkan. Banyak kejadian istri-istri teman-teman yang di bawa ke kota, belum sampai ke tempat tujuan, mereka mengalami pendarahan dan akhirnya meninggal." Usulan Hadi menarik perhatian Imam Benua. Matanya seketika berbinar, tapi meredup lagi. "Apakah kamu yakin dia tidak akan melarikan diri?" Imam Benua masih ragu. Tangannya terus mengelus jenggot yang memutih. "Berilah dia kesempatan untuk itu. Apalagi tenaga sangat dibutuhkan di sini." Hadi berkata penuh harap. Tangannya ditangkupkan ke d**a. Memohon Imam Benua membatalkan keputusannya. Tiba-tiba dari arah belakang seorang anggota Imam Benua datang. napasnya tersengal dengan wajah pucat pasi. "Imam ... Istri saya mau melahirkan." Dia berucap setelah mengatur napas lebih tenang. "Sekarang, di mana istrimu?" "Sedang berkemas mau di bawa ke bidan Imam." Hadi kemudian menarik tangan laki-laki itu. "Ayo aku akan membantumu, Deden." saat hendak pergi Imam Benua menahan mereka. "Hadi, ini kuncinya. Bawa istrimu ke tempat pemukiman untuk membantu persalinan anggota kita." Hadi segera mengambil kunci itu, setengah berlari dia mendatangi tempat Nia ditahan. Dengan cepat Hadi membuka pintu itu dan melihat Nia sedang duduk di pojok, menggigil ketakutan. Ruangan yang hanya diterangi lampu lima watt tak menghalangi pandangan Hadi. "Nia ... ini aku. Hadi." Hadi mendekati Nia yang sedang membenamkan kepala di antara tangan yang bertumpu di lutut. Saat mendengar suara Hadi, Perempuan itu langsung mendongak. Matanya yang sembab, menangkap bayangan suaminya. "Mas Hadi ...! A-aku ta-takut ... Mas. Aku mau pulang, kumohon antar aku pulang. Aku tak akan menceritakan pada siapapun, Mas." Dengan bergetar Nia memohon. Tangannya mencengkeram kuat lengan Hadi. keringat dingin terus berjatuhan di pelipisnya. air mata kini hanya titik-titik kecil. "Maafkan aku, Nia. Aku berjanji akan membawamu pulang." Setengah berbisik dia berkata sambil memeluk istrinya erat. Rasa bersalah memilin hatinya. "Ayo, Mas. istriku mau melahirkan." ucapan Deden mengejutkan mereka. Nia menoleh dengan penuh khawatir. . "Siapa yang melahirkan? Aku punya keahlian membantu persalinan istri bapak." "Maaf, ibu ..." "Dia istriku, dia seorang bidan." Hadi mempekenalkan Nia kepada Deden. Laki-laki itu tampak terkejut campur senang. "Oh, Bu Bidan. tolong istri saya, Bu." Dengan bantuan senter, setengah berlari mereka menuju sebuah pemukiman warga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD