Pelangi 4

1076 Words
Hawa dingin di sekitar, membangunkan Nia, Tampak matahari makin berwarna keemasan, menerobos celah jendela yang terletak di dekat atap. Tak berapa lama terdengar derap kaki bergemuruh. Darah Nia terkesiap dan segera mengintip dari balik celah dinding kayu. Ada beberapa orang berseragam hitam dengan muka di tutup kain berwarna senada. Membawa beberapa alat yang diyakininya sebuah panci. Mereka berbaris tak jauh dari tempatnya berada. Perempuan itu makin bergidik. "Apakah kamu sudah bisa membuat bom?" tanya seorang laki-laki yang menutup wajahnya dengan kain meraih. Dia adalah salah seorang pemimpin kelompok yang sedang berbaris. Tak tampak wajahnya sehingga menyulitkan Nia mengetahui. "Siap, belum." "Apa yang sudah kamu pelajari selama ini?" "Siap, maaf Pak. Saya masih belum sepenuhnya mengusai. bahannya belum ada. Masih belum punya uang untuk membeli," jawab laki-laki yang bersuara agak ngebas. "Apa? Kenapa tidak melapor ke jama'ah yang lain? Bukankah sudah kubilang, kalau kekurangan dana, ajukan saja. Kalau sudah begini, program kita bisa molor!" bentak laki-laki yang bertubuh tinggi. "Maaf, Pak. Tidak akan saya ulangi." "Ya sudah latihan kita sekarang memanah saja. Untuk membuat bom kita tunda, sampai kalian sudah siap." Laki-laki tua itu berkata. Nia dapat mengenali siapa dia. "Siiiap Imam!" Semua orang menjawab serentak. Badan Nia makin gemetar saat kembali mendengar suara gemuruh kaki, menuju sebuah rumah yang tak jauh dari tempatnya berada. Jumlah anggota itu ada 10 orang. Setelah mengambil panah, mereka kembali berbaris di hadapan Imam Benua. "Askan." Panggil Imam Benua. "Siap Iman." Laki-laki itu maju dengan mata terpusat pada sasaran anak panah. Tangannya terangkat naik dan mulai membidik sasaran. "Wuuuuzs." Lesatan itu terdengar sangat kencang dan menancap tepat di tengah. Sorak-sorai anggota lain antusias merasa takjub. laki-laki itu mengangkat panah, menunjukkan kepuasannya mencapai target. "Hebat, Askan. Semoga aku bisa sepertimu." Seorang laki-laki bertubuh agak pendek mendekatinya. "Kamu pasti bisa, Hendra." tangan Askan menepuk pundaknya. Memberi semangat. Hendra tertunduk lemah. Dia sangat kurang pada ketrampilan memanah. Padahal sudah hampir setengah tahun dia bergabung bersama Imam Benua. "Anwar." "Siap Imam." "Hendra." "Siap Imam." Satu persatu maju dan menunjukkan hasil latihan mereka selama ini. Dan hampir semua anggota mampu memanah dengan baik, walau masih ada beberapa anggota yang belum tepat sasaran. Hendra masih merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Duduk menyendiri di atas bebatuan besar sambil menatap kejauhan pokok pohon yang berjejer rimbun di depannya. Dia masih enggan untuk kembali ke markas Imam Benua. Rasa malu cukup menghambat kakinya. Semua telah berkumpul di sana. Untuk mendapatkan beberapa petuah dan suntikkan semangat dari Imam Benua. Tapi untuk kali ini dia ingin menyendiri. laki-laki itu menarik napas berat. Berkali-kali dia telah mencoba konsentrasi, tapi anak panah menyasar jauh dari yang diharapkan. "Mungkin gara-gara tanganku pernah cidera, membuatku kesulitan untuk memanah?" gumamnya sambil mengingat kejadian dulu. Beberapa kenangan mulai tergambar dalam slide memori. Saat ingin menerjunkan diri ke dalam sebuah jurang yang dalam. Dia pikir tubuh itu telah hancur di antara bebatuan cadas di dalam sana. Tapi ternyata tangannya tersangkut sesuatu. Beruntung ada beberapa anggota entah dari mana datangnya, yang menarik tangan hingga Hendra selamat. "Bunuh diri dengan cara seperti ini bukan solusinya. Benar-benar bodoh!" Salah seorang membentaknya. Hendra masih linglung, kemudian tak sadarkan diri. Laki-laki itu terbangun dan mulai sadar, saat merasakan tangannya diurut oleh seseorang. "Kamu sudah sadar? Tanganmu berubah posisinya, ada beberapa yang retak di dekat telapak tangan. Butuh waktu lama untuk sembuh. Kalaupun sembuh mungkin tidak akan sesempurna seperti sebelumnya." perkataan itu tak terlalu dianggap olehnya. Mau sembuh atau tidak, bukan lagi hal yang penting. Karena hancur di dalam jurang adalah keinginannya untuk lepas dari masalah hidup. "Kalau kamu ingin bunuh diri, apakah kamu cukup amal? Mati bunuh diri dengan cara seperti ini gak ada untungnya. Malah kamu akan mendapatkan siksa." "Biarkan saja aku disiksa, Aku sudah bosan hidup seperti ini." "Kalau kamu bosan hidup seperti ini bergabunglah dengan anggota kami. Di sana kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kematian itu akan lebih bermakna bila kamu mengorbankan dirimu dalam sebuah pergerakan meraih syahid. Ganjarannya tidak hanya surga, tapi semua dosa diampuni, baik dosamu dan dosa keluargamu. bukankah itu menyenangkan? Daripada kamu mati bunuh diri, mending kamu mati syahid dalam perjuangan." Askan berbicara penuh semangat. Matanya menyala menggambarkan keadaan yang sangat dia impikan. Hendra yang awalnya berontak ingin pergi, terdiam. Tawaran itu menarik perhatiannya. Kematian yang indah dan cepat? Hatinya terus bertanya-tanya. Sesaat dia memberanikan diri menatap laki-laki itu. Tampak beberapa kalung salib yang dikenakan. Hendra bergidik. Menyadari tatapan penuh ketakutan dari laki-laki pendek itu. Pemilik kalung pun melepaskannnya. "Oh ini, hanya aksesoris untuk penyamaran. Tenang saja aku muslim kok. Oh ya kenalkan, aku Askan "Pe-penyamaran apa maksudmu?" tanya Hendra terbata-bata. "Dalam sebuah siasat, kita harus melakukan penyamaran. Kalau berada bersama non muslim, bila mereka menggunakan salib, kita harus bisa menyamarkan diri, agar serupa dengan mereka, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan." Askan selalu menggebu-gebu dalam berkata membuat semangat itu pun menular ke Hendra. laki-laki itu pun bersedia bergabung dengan Askan. Sebelum bergabung ,Askan membawa Hendra bertemu Iman Benua untuk membai'at terlebih dahulu kepada Imam Benua agar menjadi bagian dari kelompok mereka. "Hendra, ternyata kamu masih di sini. Ayo segera kembali ke markas." Askan mengejutkan Hendra yang sedang melamun. "Kamu pergilah dulu. Aku masih mau di sini." Askan mengerti kemurungan yang sedang dipikirkan laki-laki itu. "Tenang Hendra. Masih banyak kesempatan untuk belajar. Gak perlu pesimis. Kalau kamu tak bisa memanah, kamu mungkin Ahli dalam merakit bom. Kamu belajarlah ke Toni. Dia sangat mahir dalam hal itu." "tapi belajar itu, butuh dana yang tidak sedikit, tapi ... aku akan mencobanya." "Ayo segera ke tempat Imam Benua. Ada informasi penting yang ingin disampaikan beliau." Mereka berdua kemudian berlari menuju sebuah pendopo kayu yang ada di tengah pemukiman warga. Semua kegiatan anggota itu terekam mata Nia yang mengintip dari balik dinding kayu. Napasnya tersengal, antara takut dan terkejut. ternyata mereka tidak hanya beberapa orang saja seperti yang ditemui saat itu, tapi cukup banyak. Nia menduga pasti masih ada lagi anggota Imam Benua yang tinggal di pemukiman yang tersembunyi. Nia terduduk lemas. mengetahui hal-hal yang bersifat rahasia tanpa disengaja, menimbulkan rasa yang bergemuruh. "Mas, kenapa kamu melibatkanku dalam hal yang tidak kuinginkan? seandainya aku tahu akan seperti ini. Aku tak akan pernah menyetujui ikut bersamamu dan akan senang hati memutuskan untuk bercerai." kembali air matanya menetes. nasib pelik benar-benar sedang dihadapinya sekarang. Sendiri dalam ketakutan dan tidak tahu akan bagaimana nasibnya bermuara. Perempuan itu kemudian menepuk tembok kayu dengan kedua telapak tangan, untuk tayyamum. Nia pun shalat dengan baju seadanya. Dalam kekalutan yang tak berujung, bersimpuh dan memohon pertolongan kepada Tuhan yang Maha berkuasa adalah jalan terbaik yang dapat dilakukannya sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD