Bab 3
Toni berjalan mondar-mandir di depan pintu, tempat menyekap Nia. Sesekali dia mengintip lewat celah-celah dinding kayu, terlihat perempuan itu duduk meringkuk memeluk lutut, wajahnya dibenamkan di antara lutut.
Kreeet! Terdengar derit pintu dibuka, membuat Nia terlonjak kaget dan langsung berdiri menatap takut, badannya gemetaran.
"Mau apa kamu!" tanyanya setengah membentak. Rasa takut makin menjadi ketika mata jalang Toni, menatapnya tak berkedip. Perlahan dia melangkah ke arah Nia.
"Stop! jangan mendekat!" teriak Nia panik, nafasnya tersengal karena takut, seketika langkah kaki Toni terhenti sambil menyeringai sinis dan kembali mengayunkan langkahnya.
"Ka-kamu! Ma-mau apa, kamu! Pergi jangan mendekat!" teriak Nia terbata-bata, kakinya gemetaran berusaha menghindar sambil terus mundur.
"Aku ingin menawarkan kerja sama denganmu, bila kamu bersedia aku akan melepaskanmu," ucap Toni memburu. Kaki Nia terasa semakin berat karena rasa takut yang luar biasa.
"Kumohon jangan mendekat, atau aku akan teriak!" ancam Nia sambil berusaha meraih sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi diri, namun ruangan itu kosong tak ada benda apa-apa disekitarnya untuk dijadikan tameng.
"Hahaha, teriaklah sekencangnya, siapa yang akan mendengarmu di tengah hutan belantara seperti ini." Toni terbahak-bahak sambil merentangkan kedua tangannya.
"Apa maunya! Pergi! pergi! Mas Hadi tolong aku!" teriak Nia keras memanggil suaminya agar segera datang.
"Tenanglah, aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang!" Mendengar ucapan laki-laki itu, hati Nia makin bergidik. Sorot mata penuh nafsu dan nafas memburu, dia mendekat. Berusaha menghindarinya, perempuan itu terus mundur hingga terjebak di pojok ruangan, seketika darahnya berhenti mengalir dengan wajah pucat pasi. Toni tak menyia-nyiakan kondisi yang menguntungkan, dengan gerakan cepat dia meraih tubuh perempuan malang itu.
Nia terus meronta berusaha melepaskan diri, namun tangan itu sangat kuat mencengkeramnya. Dengan mengumpulkan tenaga, Nia melayangkan tendangan tepat pada alat vital hingga laki-laki berwajah imut berhati setan, meringis kesaktian. Kesempatannya untuk kabur, dia berlari menuju pintu dan membuka. Sial! pintu ternyata di kunci dari dalam.
"Buka! tolong! Buka pintunya, Mas Hadi! Tolong aku!" teriaknya terus memukul-mukul pintu, penuh harap Hingga suaranya serak, laki-laki yang menjadi suaminya, tak jua datang menolongnya.
"Apakah kamu mencari ini?" tanya Toni sambil memperlihatkan kunci, sontak Nia menoleh, wajahnya makin menegang saat dia kembali mendekat.
"Kumohon lepaskan aku!"
"Bila kamu ingin selamat, kamu harus bersikap manis padaku," ucap Toni sambil mendekati Nia yang menggigil ketakutan. Air matanya luruh seketika menangis memohon.
"Lepaskan aku! Tolong! Mas Hadi!!" teriak Nia serak, tangis terus pecah memenuhi ruangan. "Ya Allah tolonglah hamba-Mu," ucap Nia pasrah. Sambil menutup mata, Nia terus berdoa dalam hati. Tiba-tiba pintu dibuka, Angga muncul langsung menendang tubuh Toni yang berada di atas Nia, tak ayal Toni tersungkur mencium tanah.
"Toni hentikan! apa yang kamu lakukan!" bentak Angga, matanya melotot menahan amarah.
"Sial!" umpat Toni sambil meninju lantai tanah itu dan menoleh ke arah Angga. Nia langsung bangkit, segera mengambil jilbab yang dilepas kemudian mengenakan kembali. Badannya gemetaran, keringat dingin membasahi tubuh dan baju, dengan muka pucat dia berlari menjauh. Toni mendengus keras sambil menatap tajam ke arah Angga.
"Bukankah sebentar lagi kita akan menyingkirkannya? apa salahnya kita bersenang-senang dulu dengan perempuan itu!"
"Imam Benua hanya memerintahkan menyingkirkannya, bukan untuk yang lain!" bentak Angga.
"Kamu tak perlu munafik! Mumpung ada perempuan cantik. Toh Hadi juga telah menyerahkan pada kita," ucapnya sambil melirik sekilas ke arah Nia, sejak awal bertemu, Toni sudah sangat ingin memuaskan nafsu setannya.
"Tugas kita hanya mengeksekusinya!" bentak Angga lagi, Toni terkekeh-kekeh sambil mengibas tanah yang menempel di celanan. Dia berjalan mendekati Nia, berusaha meraih dagu lancipnya, tapi ditepis keras sambil memandang jijik membuatnya makin terbahak-bahak, kemudian melangkah keluar.
Angga melirik sekilas Nia yang berdiri memojok sambil terisak. Nia memberanikan diri melihat, saat matanya beradu dengan laki-laki itu, membuatnya kian ketakutan. Air mata terus mengalir,dan penyesalan makin merajai lubuk hati terdalam, karena percaya pada Hadi dan bersedia ikut dengannya.
“Hapus air matamu!" ucap Angga ketus sambil menyodorkan sapu tangan berwarna biru dengan dua garis hitam yang membingkai pinggir, Nia meraih pelan sapu sembari memandang penuh harap ke arah Angga.
"Tolong lepaskan aku, aku janji tak akan menceritakan pada siapapun." Angga hanya diam tak menjawab, langsung membalikkan badan dan melangkah pergi.
"Wahai hamba Allah, bila kamu punya nurani, pasti terbetik dalam hatimu pengingkaran atas kedzaliman ini," teriak Nia tersedu-sedu, Angga terhenyak, sesaat dia menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Tolonglah aku, semoga apa yang kamu lakukan padaku menjadi pemberat amal kebaikanmu, kumohon!" ucap Nia memburu melihat respon dari Angga, ada secercah harapan di hatinya saat Angga terdiam, namun kembali kandas ketika laki-laki itu menyeret langkah kaki menjauh. Nia makin menangis histeris,
"Bila kalian ingin membunuhku, bunuh saja! tapi kumohon jangan rusak kehormatanku, aku akan malu menemui Tuhanku dalam keadaan ternoda!" teriak Nia di antara isak tangis. Tak ada tanggapan dari Angga, membuatnya putus asa.
Nia menatap nanar pintu rumah yang telah dikunci kembali oleh Angga. Hatinya terluka makin dalam dan pedih, membuatnya sangat membenci Hadi, hingga tiap helai rambut yang ada padanya. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Darah Nia terkesiap. Hatinya mulai diliputi rasa takut yang mencekam. Nia berusaha mengintip di balik celah dinding kayu. Terlihat Hadi sedang bercakap serius dengan Imam Benua melewati rumah tempat dia di sekap.
“Mas Hadi … tolong …!” teriaknya, namun Hadi tetap berlalu meninggalkannya. Hati Nia kian perih bagai tercabik sembilu. Memilih Hadi adalah sebuah kesalahan terbesar yang disesalinya. Nia kembali menangis, hingga matanya bengkak.
Nia terdiam, tenaganya benar-benar terkuras. Menangis dan meratapi diri tak akan menghasilkan apapun. Sambil menghela nafas panjang, Nia berusaha tegar dan bangkit. Bagaimana pun juga dia harus bisa keluar dalam keadaan hidup. Sesaat Nia terdiam, mengumpulkan semua kekuatan diri sembari melihat sekeliling ruangan, berusaha mencari celah agar bisa meloloskan diri.
Waktu terus bergulir dan hari mulai menjelang sore, namun Nia masih belum berhasil membobol pintu itu. Keringat dingin membasahi kening, hingga akhirnya dia terduduk lemas. Nia berjalan perlahan, tenaga benar-benar terkuras. Rasa ngantuk pun mulai menyerang, hingga akhirnya dia tertidur di lantai tanah karena letih.
***
Nining berusaha mencari tahu siapa yang telah merusak praktikum tanamannya, sudah dua hari dia mengendap-endap, memantau keadaan sekitar kebun percobaan. Memecahkan teka-teki yang selama ini menjadi pertanyaannya memang butuh kesabaran, setelah dua hari Nining mengawasi praktikum percobaannya, Nining tidak juga menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.
Nining hampir putus asa dan hendak berlalu, namun tiba-tiba dari arah berlawanan muncul Trysna. Dia tergesa-gesa berjalan menuju kebun sambil menengok ke kiri dan ke kanan, gelagatnya mencurigakan. Nining yang duduk di bagian belakang gedung Pertanian yang agak sepi, karena jarang di lewati mahasiswa. Langsung bersembunyi di antara pepohonan di sekitarnya, sambil terus mengawasi Trysna.
Trysna terlihat mendekati kebun percobaan yang terdapat praktikum teman-teman dan miliknya, sepertinya dia mencari sesuatu. Trysna terlihat serius mencari dengan mengangkat satu persatu pot kemudian diputar-putar seperti mencari nama pada pot itu. Trina tampak kesal setelah beberapa lama mencari namun tak membuahkan hasil. Dia kembali ke tempatnya di mana ia muncul, kemudian hilang dari pandangan. Alis Nining bertaut heran, rasanya mustahil dia harus mencurigai Trysna karena selama ini dia yang paling baik padanya, dibandingkan Teguh dan Ida. Sambil melangkah pelan, dia berusaha menghilangkan kecurigaan.
"Nining!" pangil Teguh, namun Nining tak merespon, pikiran masih sibuk menduga dan menerka. "Hei! Dipanggil dari tadi gak nyahut-nyahut!" Teguh sudah menghadang di depan, membuatnya terperanjat.
"Kamu bikin kaget saja!"
"Kamu kenapa? Kayak orang linglung, lagi mikirin apa? Pasti mikirin aku ya?" Tanya Teguh kepe-dean, senyum manis menghiasi bibirnya yang penuh.
"Kege-eran," ucap Nining singkat.
"Praktikummu gagal, ya?" tanya Teguh.
"Iya, kamu tahu dari siapa kalau praktikumku gagal."
"Dari Trysna."
"Kamu lihat Trysna gak?"
"Dia barusan pulang, tadi berpapasan denganku di gerbang depan," jawab Teguh
"Oh gitu," ucap Nining singkat, hatinya masih belum yakin kalau Trysna yang melakukannya. Nining melirik sekilas jam tangannya, sudah menjelang sore. Nining mempercepat langkahnya menuju kosan. Hari ini ada jadwal kajian di masjid terdekat kosannya, pematerinya adalah Mas Syaiful.
***
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Syaiful lembut.
"Wa'alaikumsalam," serentak peserta kajian menjawab
"Maaf sebelumnya, ana hanya sebagai pengganti ustadz yang berhalangan hadir, ana hanya seorang mustami'uun masih terbatas pemahamannya. ana akan mencoba menyampaikan dari segi ilmu pengetahuan saja." Terdengar dari dalam suara Syaiful. Dengan langkah cepat Nining masuk ke masjid, hatinya merasa lega karena acara baru dimulai. Kajian banyak dihadiri anak-anak mahasiswa.
Bayangan Nining yang datang sempat tertangkap oleh ekor mata Syaiful, membuatnya salah tingkah dan pikirannya blank sesaat. Peserta menunggu kelanjutan kajian, sambari menarik nafas panjang, dia berusaha memfokuskan pikirannya pada materi yang dibahas, fenomena alam yang sedang terjadi ditinjau dari perspektif Islam.