Part 5

1862 Words
Beberapa hari telah berlalu. Vanya menceritakan pada Zara bahwa dirinya melamar pekerjaan di cafe baru yang pernah di datanginya bersama Dicky, karena kebetulan di sana sedang membutuhkan karyawan. Vanya ingin mencari uang jajan untuknya sendiri, karena tidak ingin terlalu membebankan orangtuanya untuk memberinya uang jajan. Vanya ingin mencoba mandiri sedari sekarang. Keluarga Vanya memang sederhana, berbeda dengan Zara yang serba ada. Tetapi Zara tidak terlalu memperlihatkannya pada orang lain. Bahkan dandanannya setiap hari cukup sederhana, sama seperti Vanya. Zara sedikit tertarik tentang Vanya yang bekerja di Cafe baru itu dan bertanya, apa masih ada lowongan untuk dirinya bisa bekerja disana ? Agak sedikit ragu, Vanya berkata masih ada lowongan. Tetapi yang benar saja, seorang Zara praditya akan bekerja di sebuah Cafe ? Ya meskipun Cafe itu tidak terlalu kecil, pikirnya. Tetapi kan Zara berasal dari keluarga yang berada dan tahu pasti kalau kakaknya Zara yang posesif itu pasti tidak akan mengizinkan Zara untuk bekerja di tempat itu. Memang sih, Zara itu orang yang sederhana, tapi bagaimana dengan keluarganya kalau tahu Zara akan bekerja. Tetapi Zara dengan tegas dan kekeuh ingin bekerja di tempat Vanya melamar pekerjaannya. Pasrah dan sedikit membantu Zara untuk melamar kerja, karena Zara memaksanya untuk membantunya dan menjelaskan kalau Zara ingin mencari pengalaman bekerja. Dan disinilah mereka sekarang, siang ini di cafe tempat Vanya melamar pekerjaan. Duduk di meja yang dekat dengan jendela. Zara mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe itu, mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang, mungkin di karenakan masih terlalu pagi dan baru buka beberapa hari yang lalu. Bagus juga ternyata cafenya, pikirnya. Cafe bernuansa putih dan di dekorasi dengan tanaman-tanaman segar sehingga sejuk dimata bila melihatnya. Ada ruangan khusus untuk keluarga besar, adapula ruangan Meeting Room yang berada di lantai tiga. Cafe ini terletak di lantai dua, sementara lantai pertama terdapat sebuah minimarket dan ada juga yang menjual makanan-makanan ringan lainnya. Mereka tengah menunggu sang managernya, hingga beberapa menit kemudian datanglah seorang pria berpakaian rapi memakai jas. Mungkin umurnya kisaran 35 tahunan. Zara juga telah membawa berkas-berkas serta yang lain-lainnya, seperti yang di katakan oleh Vanya untuk melamar. Zara dan Vanya langsung berdiri ketika sang manager tiba di hadapan mereka dan berjabat tangan terlebih dahulu. "Selamat siang pak, ?" ucap Vanya sopan dengan sedikit menundukkan kepalanya. "Siang," jawab pak manager yang bernama Pak Dhani itu sembari tersenyum ramah. "Oh iya, Pak. Ini teman saya yang ingin melamar di Cafe ini, yang saya bicarakan kemarin Pak." Kata Vanya memperkenalkan Zara pada sang manager. "Selamat siang pak," ucap Zara sopan. "Siang," pak Dhani menjawabnya sembari berjabat tangan dengan Zara. "Sudah di bawa berkas-berkasnya sesuai dengan prosedurnya kan ?" tanya pak Dhani melihat Vanya dan Zara bergantian. "Sudah pak," Vanya yang menjawabnya. Vanya mengkode Zara untuk memberikan berkas-berkas yang di bawanya tadi kepada pak Dhani. Zara pun langsung mengambilnya dan memberikannya kepada pak Dhani. "Baiklah, kalau begitu. Saya akan memeriksa ini terlebih dahulu sebentar, nanti saya akan panggil lagi." Ucap pak Dhani. Serempak Zara dan Vanya mengangguk lalu membiarkan pak Dhani untuk masuk ke ruangannya. Setelah menunggu sekitar 15-20 menitan, akhirnya Zara di panggil pak Dhani ke ruangannya untuk melakukan interview. Karena cafe ini masih membutuhkan karyawan, jadi tidak begitu lama prosesnya sehingga Zara langsung melakukan interview setelah memberikan berkas-berkasnya. Zara menghirup dan menghembuskan nafasnya perlahan, untuk menghilangkan kegugupannya. Berdiri dari duduknya, melihat pada Vanya, yang juga tengah melihat padanya. Vanya mengangkat genggaman tangannya ke atas, lalu memberi semangat pada Zara, "Semangat!," ujarnya dengan senyuman. Zara pun melakukan hal yang sama seperti yang Vanya lakukan, mengangguk mantap, "Mmhh!, semangat!." Lalu Zara mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan manager berada dengan yakin. Jujur saja Zara merasa sangat gugup sekarang. Ini adalah pengalaman pertamanya melamar pekerjaan, langsung di interview pula, pikirnya. Zara sudah bertanya kepada Vanya, tentang bagaimana kemarin waktu dirinya di interview. Vanya menceritakan semuanya pada Zara, tentangnya selama dalam masa interview. Setelah di interview selama 30 menitan, Zara akhirnya keluar dengan wajah lesu. Vanya langsung menghampirinya dan langsung bertanya, ketika melihat raut wajah Zara yang lesu. "Gimana, gimana ??, Di terima nggak..??" Vanya harap cemas dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Zara. "Semoga aja di terima," ujarnya dalam hati. Dengan menghela nafas lelah Zara melihat pada Vanya seolah sedang bersedih. Bahu Vanya meluruh melihat ekspresi yang di tunjukan oleh Zara. Pasti tidak diterima, pikir Vanya. Dengan menepuk bahu Zara pelan Vanya mencoba memberi semangat pada Zara, "Mungkin emang belum saatnya buat kamu untuk kerja," dengan memberikan senyuman yang di paksakan. "Aku di terima !!," teriak Zara dengan senyum lebar. Vanya kaget mendengar teriakan Zara, "Hah!," mengerjapkan matanya tidak percaya dengan mulut terbuka. "Di terima !??" tanya Vanya memastikan, kalau pendengarannya tidak bermasalah. Zara mengangguk berkali-kali menjawab pertanyaan yang Vanya lontarkan itu. "Di terima !?" Zara mengangguk lagi. "Yess !!," teriak Vanya. Mereka berpegangan tangan, meloncat-loncat berputar, layaknya seorang anak kecil yang girang mendapatkan keinginannya sembari tertawa dan berteriak, "Akhirnya di terima!" "Yess!! aku di terima..!!" Hingga membuat beberapa pengunjung dan para pekerja disana melihat mereka dan menggelengkan kepalanya. Tapi Zara dan Vanya tidak peduli dengan itu. Sang manager berkata, bahwa Zara dan Vanya bisa langsung bekerja mulai dua hari atau tiga hari ke depan. Mereka senang bukan main karena bisa mendapatkan pekerjaan disana dan yang lebih senangnya lagi adalah mereka bekerja di tempat yang sama. Beruntungnya bekerja di Cafe ini, karena memakai aturan shift pagi dan shift siang untuk para pekerja, jadi jadwal shift merekapun sama. Pada saat Zara dan Vanya berjalan keluar dari Cafe itu pada saat itu juga dari arah yang berlawanan ada seorang pria yang berjalan ke arahnya hendak masuk ke Cafe itu. Seolah waktu melambat mereka berjalan bersisian berlawanan arah, hingga beberapa saat kemudian pria itu tersadar, merasa tidak asing dengan seseorang yang berjalan melewatinya membuatnya membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang itu. Dan ternyata seseorang itu sudah tidak ada disana. Pria itu berpikir, siapa orang itu sebenarnya hingga membuatnya menjadi penasaran dengan sosok itu? Hingga ada yang menepuk bahunya pelan membuatnya sedikit kaget. "Bro!" ucap orang itu sambil menepuk bahunya. "Ngapain lo ngelamun disini? Buruan masuk." "Gue nggak ngelamun. Ini juga mau masuk." "Lagi ngeliatin apa sih, lo?" "Gue nggak ada ngeliatin apa-apa. Yaudah ayo masuk." Dengan sedikit mendorong bahu orang itu agar segera masuk dan tidak bertanya lagi dengan kelakuannya barusan. ** Malam hari Zara tengah berada di kamarnya setelah selesai makan malam. Berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Gimana yah, cara ngomongnya ke Papa sama Mama?" gumamnya sambil menggigit jarinya. "Aduh, gimana yah?" menggaruk kepalanya. "Gimana kalo mereka nanti ngelarang?" "Akhh! bodo akhh!. Gimana nanti aja deh," Zara mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu, memegang handle nya dan mengatur nafasnya secara perlahan untuk menenangkan kegelisahan yang menerpanya, lalu membuka pintu dan berjalan kebawah menuruni tangga. Tok, tok, tok!! "Ma, Pa.. Zara boleh masuk nggak?" "Masuk aja sayang." Terdengar suara wanita dari dalam menyahutinya. Zara mencoba untuk rileks, lalu membuka pintunya dan masuk. Zara melihat Mamanya yang sedang duduk di sofa yang ada di kamar itu sedang membuka majalah. "Sini sayang, duduk." Tanisha menepuk sofa di sebelahnya agar Zara ikut duduk disana, Zara pun duduk di sebelahnya. Melihat ke sekeliling kamar itu dan tidak menemukan Papanya, lantas Zara bertanya. "Papa kemana, Ma?" "Papa lagi ke kamar mandi, bentar lagi keluar kayaknya," jelas Tanisha. "Okhh," Zara mengangguk mengerti. Tak lama setelah itu keluarlah Hendra dari dalam kamar mandi, "Loh, ada Adek ?" tanyanya, sembari melangkah mendekati Zara dan Tanisha, lalu duduk di samping Tanisha, "Kapan kesininya, kok Papa nggak tahu ?" "Nggak lama kok, Pa. Baru aja masuk," sahut Zara. "Ada apa sayang ?" Papa Hendra yang bertanya. Tanisha juga ikut memperhatikan Zara yang seperti ragu untuk berbicara. "Zara mau ngomong sama Papa, Mama," ucap Zara. "Mau ngomong apa sayang ?" ucap Tanisha lembut. "Tapi janji yah, jangan marah ??" Mohon Zara sambil menggenggam tangan Tanisha. "Iyaa. Kamu ini mau ngomong apa sih..??" ucap Tanisha sembari tertawa kecil, memperhatikan Zara. "Adek, punya pacar yah ??" tanya Hendra, menggoda Zara. Zara menggeleng tegas, "Nggak!" jawabnya. "Atau..," Hendra menggantungkan kata-katanya, membuat Zara menggigit bibir dalamnya gugup dengan apa yang akan Papanya katakan dan membuat Tanisha menjadi penasaran. "Atau, Adek punya selingkuhan yah ??" kata Hendra lalu tertawa. Tanisha ikut tertawa kecil mendengar kata yang terlontar dari suaminya itu. "Ikhh, Papa!, masa' punya selingkuhan sih ? Punya pacar juga enggak, gimana mau selingkuhnya coba ?" rengek Zara sedikit memanyunkan bibirnya. "Ya terus kamu mau ngomong apa, sayang ??" tanya Hendra sambil mencubit hidung Zara gemas. Zara mengusap-usap hidung nya yang di cubit oleh Papanya. "Mm.. Zara mau kerja, boleh nggak ??" "Kerja.. ?!" tanya Tanisha lagi memastikan. Zara mengangguk takut-takut melihat pada Mamanya. Lalu Tanisha melihat pada suaminya yang berada di sampingnya, saling bertatapan. Lalu sama-sama mengalihkan pandangannya lagi pada Zara. "Adek mau kerja jadi apa ?? Nanti Papa cariin posisi yang cocok buat kamu di kantor, yah." Zara menggeleng cepat, sambil melambaikan tangannya, "Bukan, bukan! Zara nggak mau kerja di kantor Papa." "Terus kamu mau kerja apa, Sayang ??" tanya Tanisha. Kalau bukan kerja di kantornya, lantas Zara akan bekerja dimana ?, pikir mereka. "Aku mau kerja di Cafe. Boleh yah ??" mohon Zara dengan menyatukan kedua tangannya di depan d**a, melihat pada Tanisha dan Hendra bergantian. "Sayang, kok kerja di Cafe sih ? Kerja di Cafe itu capek, berat loh sayang." Tanisha khawatir akan kesehatan Zara, meskipun fisiknya memang kuat tetapi tidak menjamin dengan kesehatan batin dan mentalnya. Bisa saja sewaktu-waktu Zara mendapatkan tekanan di tempatnya bekerja, pikir Tanisha. Tanisha tidak ingin hal itu terjadi kembali. "Mama tenang aja jangan khawatir, Zara kuat kok," ucap Zara meyakinkan Mamanya sambil tersenyum. Hendra mengelus punggung sang isteri mencoba menenangkannya, meskipun dirinya juga sama khawatirnya dengan sang isteri. "Lagi pula, Zara kerjanya bareng Vanya, jadi Mama nggak perlu khawatir yah." Zara tahu, pasti Mamanya mengkhawatirkannya. Zara akan sebaik dan sehati-hati mungkin agar Mamanya tidak terlalu mengkhawatirkannya lagi. Mendengar Zara akan bekerja bersama Vanya, membuat Tanisha sedikit merasa lega, karena ada yang menemani Zara. Tetapi tidak mengurangi rasa khawatirnya terhadap Zara. "Boleh ya, Ma ??" mohon Zara dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu. Dengan menghela nafas panjang dan berat hati, "Yaudah boleh," mengizinkan Zara bekerja. "Tapi..., kalau ada apa-apa langsung hubungin Mama. Okay!?" titah Tanisha. Zara langsung tersenyum lebar dan mengangguk, "Okay, Ma!" dan langsung berhamburan memeluknya Mamanya. "Makasih, Ma," ucap Zara lagi. "Iya, sama-sama Sayang." Kata Tanisha sambil mengelus sayang kepala Zara yang bersandar di bahunya. "Sama Papa enggak, nih ?" tanya Hendra pura-pura cemberut. Zara langsung berhamburan memeluk Papanya dan mengucapkan kata terimakasih sambil tersenyum senang. Zara teringat satu hal lagi, langsung menegakkan tubuhnya. Posisinya Zara sekarang berada di tengah-tengah antara Tanisha dan Hendra. "Oh-yah, satu lagi," kata Zara. Tanisha dan Hendra mengerutkan keningnya, "Apa lagi Sayang ? Jangan yang aneh-aneh, yah ?" pinta Tanisha dengan memelas. Zara meringis tidak enak hati, "Nggak aneh-aneh kok, Ma. Ini soal..Mm.. Kak Andra, hehee.." Zara tertawa canggung. Hendra langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, "Papa nggak sanggup kalau soal Kakak! Adek'kan tahu sendiri gimana Kakak, mending Adek langsung yang ngomong." Hendra tidak sanggup kalau harus berbicara pada anak sulungnya itu, bisa-bisa dirinya yang malah terkena semprot. "Ma.." Zara menunjukkan muka memelas nya, meminta pertolongan kepada Mamanya agar mau berbicara pada Kakaknya itu. "Yaudah, Mama bantu. Tapi Mama nggak bisa bantu banyak, selebihnya Adek aja yang ngomong sama Kakak, yah.." Zara mengangguk dan tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD