Happy Reading guy'ss...
Setelah selesai berbelanja sayuran dan yang lain-lainnya, Zara dan Tanisha pergi menuju restoran yang di rekomendasikan oleh Zara, tetapi yang memilih tetap Mamanya. Sedangkan bik Sarti sudah pulang dengan sang supir setelah mengantarkannya ke restoran terlebih dahulu. Dan sudah menghubungi Papa serta kakak-kakaknya, supaya mereka menyusul Zara dan Tanisha ke restoran tersebut.
Zara melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Papanya yang terlihat celingukan mencari mereka. Hendra pun berjalan mendekati Zara dan Tanisha dan duduk di sisi istrinya. Lalu mencium kening istrinya.
"Papa, jangan gitu dong...," rengek Zara pura-pura cemberut. "Adek kan jadi cemburu." Lalu Zara tertawa kecil. Tanisha dan Hendra ikut tertawa mendengar candaan Zara.
"Princess nya Papa jangan cemburu dong." Kata Hendra sambil tangannya mengacak gemas rambut Zara yang terikat.
"Oya, Kakak kemana Pa ?" tanya Zara karena tidak melihat kakaknya datang bersama Hendra.
"Papa tadi perginya duluan, mungkin sebentar lagi dateng." Kata Hendra. Zara membulatkan mulutnya tanpa suara, tanda mengerti.
"Belum pesan makanan ?" tanya hendra, pada Zara dan Tanisha.
"Belum. Kita nungguin kalian dateng dulu baru pesan." ucap Tanisha. Hendra mengangguk mengerti.
Hingga beberapa menit kemudian Andra dan Devan terlihat berjalan ke arah meja dimana ada Zara, Tanisha dan Hendra berada.
"Hai princess...," sapa Andra dan mencium kepala Zara, lalu duduk disampingnya. Begitu juga dengan Devan.
"Sekarang giliran Papa yang cemburu sama adek," ucap hendra seraya terkekeh. Zara ikut terkekeh mendengarnya. Andra tidak mengerti apa yang Papanya ucapkan, tetapi dia diam saja. Sedangkan Devan terlihat mengerutkan keningnya menatap Zara dan Hendra bergantian. Memiringkan kepalanya dan mengangkat bahunya pelan, bodo amatlah, pikirnya.
Zara duduk di tengah-tengah Devan dan Andra. Sementara Tanisha dan Hendra berada di depan mereka. Mereka pun memesan makanan sesuai keinginan masing-masing. Setelah pesanannya datang mereka menikmati makanannya sambil sedikit bercengkrama dan bercanda, menceritakan kegiatannya masing-masing.
Selesai makan Tanisha dan Hendra langsung pulang kerumahnya bersama Devan. Sedangkan Zara bersama Andra menuju bioskop, karena Zara ingin menonton bioskop dan ditemani. Andra dengan senang hati menemani Zara, meskipun dirinya tidak terlalu menyukai hal-hal seperti itu. Apapun akan Andra lakukan untuk Zara, entah itu hal yang disukainya atau tidak.
Sekarang Zara dengan Andra sudah sampai di bioskop, tengah melihat poster-poster yang di pajang disana. Sebenarnya Zara sudah menentukan pilihannya ingin menonton apa? dari sebelum dirinya berangkat kesana. Tetapi tidak ada salahnya kan, kalau melihat-lihat lebih dulu? Siapa tahu dirinya nanti berubah pikiran setelah melihat poster-poster yang lain dan bertanya juga pada Andra, ingin menonton apa?
"Mau nonton apa, Kak ??" tanya Zara, mendongak melihat pada Andra di sebelahnya. Karena tingginya hanya sebatas ketiak Andra saja. Lalu Andra mengalihkan pandangannya pada Zara seraya tersenyum lembut.
"Gimana adek aja mau nonton apa? Kakak ikut."
"Kalau yang itu gimana Kak ??" tanya Zara lagi, sambil menunjuk salah satu poster yang ada disana.
"Mm, boleh."
Zara tersenyum senang dan bersorak dalam hati. 'Yess!!!' soraknya gembira. Padahal, meskipun dirinya ingin menonton bioskop setiap hari juga tidak akan mengurangi uang jajannya. Karena Andra selalu rutin memberinya uang jajan seminggu sekali dalam jumlah yang sangat besar menurutnya. Karena itu tidak akan habis dalam waktu satu minggu dan itu mustahil, pikirnya. Belum lagi uang jajan dari Papanya. Zara memang tidak seperti gadis-gadis remaja lainnya yang manja dan suka menghambur-hamburkan uang dengan shopping setiap minggunya. Zara hanya manja dengan tingkahnya saja, karena ingin mendapatkan kasih sayang dan itu teruntuk keluarganya saja.Tidak untuk orang luar. Kalau Zara shopping pun itu pasti selalu dengan Mamanya dan yang sibuk memilih baju untuk dirinya yaitu Mamanya. Zara hanya menurut saja. Atau kadang sesekali dengan Vanya. Itupun kalau Vanya mengajaknya, kalau tidak, ya diam saja. Oke! kita balik lagi ke bioskop sekarang.
Sekarang Andra tengah mengantri untuk membeli tiket. Sedangkan Zara, Andra menyuruhnya untuk duduk di sofa yang telah di sediakan di depan pintu ruangan bioskop. Karena Andra tidak ingin Zara kelelahan berdiri dan menunggu untuk membeli tiket serta cemilan untuk menemani menonton film. Itu pasti akan memakan waktu yang lama, menurutnya. Meskipun dirinya risih, dengan tatapan wanita yang terang-terangan memuji ketampanannya. Adapula yang berlagak manis dengan menyelipkan rambutnya ke telinga, serta memasang senyumnya semanis mungkin, berharap Andra akan menyukainya dan meliriknya. Andra memang tampan, tubuhnya yang tegap serta otot-otot yang sedikit menonjol meskipun terhalang oleh bajunya, tetapi itu tetap saja terlihat dan itu menambah kadar ketampanannya yang memang sudah tampan dari sananya. Sementara Andra hanya menampilkan wajah datarnya saja pada orang lain, berbanding terbalik bila pada Zara. Selang beberapa menit setelah membeli tiket dan cemilannya, akhirnya pintu ruangan bioskop terbuka yang menandakan film akan segera di mulai.
Zara dan Andra langsung bangkit berdiri. Di saat itu pula, ada seorang pria yang umurnya tak jauh beda dengan Andra, merasa tak asing dengan wajah yang Zara miliki. Ketika hendak berjalan untuk memastikan dengan jelas siapa gadis itu sebenarnya, ada jemari yang menahan lengannya, membuatnya terhenti dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lengannya. Menaikan alisnya, seolah bertanya 'ada apa?' pada wanita di sampingnya, yang menahan lengannya itu, dengan raut muka yang sedikit kesal.
"Tunggu dulu bentar, Val. Aku lupa nyimpen tiketnya dimana." Kata wanita itu, sembari mengobrak-abrik isi tasnya. Pria itu adalah Rival, 'Rival Andaresta'. Wanita yang berada di sampingnya adalah Neta, salah satu temannya yang wanita. Alasan pria itu berada di tempat ini sekarang adalah Neta. Karena Neta memaksanya terus menerus, memintanya untuk menemani dirinya menonton film bioskop. Meskipun Rival sempat menolak, tetapi Neta tetap gigih memaksa Rival untuk menemaninya, hingga membuat Rival sangat kesal karena terus merengek padanya, hingga membuat kepalanya serasa ingin pecah. Neta adalah orang yang sangat keras kepala. Dan dengan sangat terpaksa akhirnya Rival menurutinya dengan wajah yang tidak bersahabat sedari tadi.
Rival berdecak kesal mendengarnya, "Ck! Gimana sih, katanya mau nonton ? Tapi tiketnya malah gak tahu di kemana'in!" kesalnya. Heran deh gue sama ni orang, pikirnya.
Rival mengalihkan pandangannya dimana tempat berdirinya gadis yang tadi membuatnya penasaran. Dan ternyata gadis itu sudah tidak ada disana, entah kemana perginya.
"Kok gue berasa kayak gak asing yah, sama wajahnya ??" batinnya heran.
"Nah! Ini udah ketemu. Ayok!!" ujar Neta semangat, membuat Rival langsung melihat padanya. Dan Neta langsung meraih lengan Rival untuk di gandengnya menuju ruangan bioskop.
Rival hanya pasrah mengikuti kemauan wanita di sampingnya itu. Dengan malas dan berjalan lemas, Rival mengikuti kemana arah Neta berjalan, menyeret lengannya yang terlihat seperti orang yang sedang di paksa. Memang seperti itukan kenyataannya ?
Tak lupa Neta memberikan tiketnya pada petugas yang berjaga di depan pintu untuk menerima tiket dari para tamu.
Setelah Rival dan Neta duduk di kursi urutan nomornya. Rival sedikit terkejut, karena gadis yang tadi membuatnya penasaran ternyata satu ruangan dengannya, yang terhalang satu baris kursi di depannya. Dari sini Rival bisa melihat gerak-gerik gadis tersebut dengan jelas. Tetapi karena lampu yang sudah di matikan, Rival tidak bisa melihat lebih jelas lagi, bagaimana rupa wajah gadis itu hanya terlihat samar-samar saja karena terlalu gelap.
Rival terus mengingat-ingat kembali siapa gadis yang menurutnya terasa tak asing itu, hingga membuatnya semakin pusing sekarang. Akhh!! terserah lah, mau dia siapa kek atau apa kek! Gak peduli gue! Ni kecombrang yang di samping gue aja udah bikin gue pusing, pikirnya, sambil melirik kesal pada Neta dan mendengus pelan.
Zara tampak sedang fokus menonton film, dengan sesekali memakan popcorn di sampingnya yang di beli oleh Andra tadi. Sedangkan Andra tidak terlalu fokus menonton, yang menjadi fokusnya adalah hanya Zara dan sesekali melihat film yang sedang di tayangkan itu. Andra ikut memakan popcorn nya, menyuapi Zara dan dirinya sendiri, bergantian. Lalu menyodorkan minumnya pada mulut Zara yang langsung diterima. Zara menoleh pada Andra dan tersenyum.
"Makasih kak." Ucapnya pelan. Andra mengangguk sambil tersenyum menjawabnya. Lalu tangannya mengambil kepala Zara pelan dan di sandarkan pada bahunya, serta mengelus sayang kepala Zara.
"Mau lagi ?" tanya Andra sedikit berbisik, karena takut mengganggu yang lain. Zara hanya mengangguk tanpa bersuara, karena fokusnya pada film tersebut. Andra mulai menyuapi Zara lagi.
Mungkin orang yang melihat mengira Andra dan Zara adalah sepasang kekasih. Karena Andra yang selalu memprioritaskan Zara, perhatian dan perlakuannya yang terlihat romantis layaknya seorang pacar, dalam hal apapun. Tetapi yang sebenarnya tidak seperti itu. Dan tentunya Andra juga sangat posesif. Bukan tanpa alasan Andra melakukan itu, ia hanya tidak ingin ada yang mengganggu Zara dan beranggapan kalau dirinyalah pacar seorang Zara. Bukan niatnya untuk menghalangi Zara mempunyai seorang kekasih. Tetapi kalau memang benar-benar ingin serius menjalin hubungan dengan adiknya itu, maka pria manapun itu akan memperjuangkannya dan bertanya mengenai hubungan Andra dengan Zara yang jelas seperti apa. Bahkan teman satu kelasnya yang sudah mengetahui kebenarannya sering berkata pada Zara.
"Duh, sosweet banget sih! Kakak rasa pacar! Hehhee..."
"Iri gue ngeliatnya, pengen deh punya doi kayak kakak lo begitu."
"Iya, ikhh! Kalo enggak... Gue nyalon jadi kakak ipar lo aja deh Zar! Boleh nggak ??" Begitulah kira-kira, kata-kata yang sering di dengar dari para wanita oleh Zara, kala Andra yang mengantar jemputnya ketika kuliah.Dan pria manapun yang akan menjadi kekasih adiknya, maka dia harus lulus seleksi darinya terlebih dahulu. Tapi sejauh ini Zara tidak pernah memiliki seseorang yang dekat dengannya atau yang biasa di sebut sebagai 'gebetannya'.
Kembali ke bioskop. Tak terasa dua jam telah berlalu dan lampu sudah menyala terang, menandakan film sudah selesai dan pintu keluar sudah terbuka lebar. Orang-orang mulai berdiri dan beranjak keluar dari ruangan, begitupun dengan Andra dan Zara. Andra menyodorkan tangannya pada Zara yang langsung di sambut olehnya sembari tersenyum, lalu berjalan keluar dengan bergandengan tangan. Pada saat berjalan keluar dari ruangan bioskop, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Ada yang memandang takjub pada mereka, karena melihat Zara dan Andra yang begitu cantik dan tampan. Ada yang menatap Zara dengan iri, karena berdampingan dengan pria yang sangat tampan dan tampak gagah. Ditambah mereka terlihat sangat romantis layaknya sepasang kekasih. Mereka langsung pulang kerumahnya setelah menonton bioskop. Karena Zara tidak ingin menyita waktu kakaknya terlalu banyak hanya untuk menemani dirinya saja, karena Andra juga pasti memiliki kegiatannya sendiri dan Andra juga pasti lelah dengan pekerjaannya bila dirinya mengganggu waktu Andra terus, pikir Zara. Kakaknya juga perlu istirahat, pikirnya.