Part 3

1767 Words
Happy reading.. Zara telah sampai dirumahnya. Sekarang dirinya berada di kamarnya. Zara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya, serta memakai dress rumahan selutut dengan lengannya yang pendek. Berjalan menuju meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Zara merasa bosan berada di kamarnya sendirian. Jadi setelah mengeringkan rambutnya, Zara turun kebawah mencari Mamanya. Pada saat di bawah Zara tidak menemukan bundanya. Kebetulan pada saat itu salah satu ARTnya (Asisten Rumah Tangga) berjalan melewatinya. Zara pun langsung bertanya, "Bi, liat Mama nggak ?" tanyanya. "Nyonya kayaknya ada di halaman belakang Non," ucap art itu. "Okhh...," Zara mengangguk-anggukan kepala. "Makasih ya, bi." Ucap Zara dengan senyuman. Art itu ikut tersenyum. "Iya, Non. Sama-sama." Zara pun melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang. Art itu masih memperhatikan punggung Zara yang mulai tak terlihat. Kagum melihat Zara yang baik serta ramah senyum meskipun kepada art sekalipun, Zara tetap ramah, pikirnya. Terutama pada Bik-Sarti. Zara menganggapnya seperti keluarganya sendiri karena sedari Zara kecil Bik-sarti sudah ada disana dan melihat pertumbuhan Zara sampai sekarang ini. Art itupun kembali berjalan setelah tak melihat punggung Zara lagi. Zara melihat Mamanya yang sedang duduk di bangku panjang serta ada meja kecil di depannya. Menikmati secangkir teh nya di taman dan terdapat kolam ikan hias juga disana, dan sesekali memberi makan ikan-ikannya. Seketika Zara tersenyum jahil dengan ide yang terlintas di pikirannya. Zara berjalan dengan pelan agar tidak ketahuan dan berniat mengagetkan Mamanya yang sedang asik sendirian di taman. Berjalan dengan pelan dan... 1..., 2..., 3!! "Dorrr!!!!" teriak Zara mengejutkan Mamanya sembari memegang kedua pundaknya. "Astaga!!!" (Astaghfirullah..) teriak Tanisha spontan, sambil mengelus dadanya. Zara tertawa melihat Mamanya yang kaget karena di jahili olehnya. "Ya ampun, Zara sayang. Iseng banget sih kagetin Mama!, Hm ?" tanya bundanya gemas dengan kelakuannya itu. Zara terkekeh, seraya duduk di samping Tanisha. Sebelas duabelas memang, dengan kelakuan kakaknya Devan. Tanisha menggelengkan kepalanya heran, seraya menghembuskan nafasnya lelah. Selalu saja di buat geleng kepala dengan tingkah Zara, 'putri kesayangannya' yang seperti itu, pikirnya. "Abisnya, Mama asik sendirian aja disini." Kata Zara. "Kamu pasti bosen yah, di kamar sendiri ?" "Mama tahu ajah... Hihhiii..." "Apasih, yang nggak Mama tahu dari Princess nyaa Mama ini...? Hmhh ?" tanya Tanisha, sembari tertawa pelan. Zara tersenyum senang dan langsung memeluk Mamanya, "Makin sayang deh, sama Mama." Menyandarkan kepalanya pada bahu sebelah kanan Mamanya dan Tanisha membalas pelukan Zara sembari tangannya mengusap kepala Zara sayang. "Mama juga sayaaang... banget sama Adek." Balas Tanisha dengan sangat tulus, sambil menekankan kata sayang. Zara sangat menyukai momen seperti ini, hatinya menjadi sangat tenang dan bisa merasakan kasih sayang dari Mamanya yang sangat tulus padanya. Zara tidak mau kehilangan momen-momen seperti ini dalam hidupnya. Zara sangat menyayangi keluarganya, sama seperti mereka menyayanginya. Tak terasa air mata Zara menetes begitu saja. Cepat-cepat dia menghapus air matanya yang mengalir secara tiba-tiba, karena takut ketahuan oleh Mamanya. Karena kalau tidak, Mamanya pasti akan ikut bersedih bila melihatnya menangis. Zara tidak mau itu terjadi. Zara hanya mau melihat keluarganya tersenyum ketika melihatnya. Meskipun mereka juga tahu, kesedihan yang Zara rasakan. Karena mereka juga merasakan kepedihan yang sama seperti yang Zara rasakan. Setelah lama duduk dan bercengkrama di sana. Zara dan Tanisha beranjak dari duduknya menuju dapur, hendak memasak untuk makan malam. Kalau urusan memasak mereka memang tidak terlalu mengandalkan para pekerja Art. Karena memang Tanisha tidak mau terlalu merepotkan para pekerjanya. Terkecuali kalau dirinya sedang sibuk, barulah menyuruh Bik Sarti untuk memasak. Kalau dirinya bisa, kenapa tidak ?, pikirnya. Dan selalu ada Zara yang siap membantunya kapanpun, kalau tidak sedang sibuk. Zara dan Tanisha mengecek perlengkapan bahan-bahannya terlebih dahulu. Apakah cukup atau tidak. "Mah, kayaknya kurang deh, bahan-bahannya." Ucap Zara. Tanisha pun melihatnya. "Iya sayang. Ini cuman cukup buat Bibi sama yang lain. Belum buat besok lagi." Tanisha memikirkan, bahan-bahannya hanya cukup untuk para pekerjanya saja. Karena persediaannya tinggal sedikit. "Mm... Gimana kalau hari ini kita makan malamnya di luar aja, Ma. Terus nanti pulangnya kita belanja. Atau kalau enggak, belanjanya sekarang aja gimana ?. Terus pulangnya nanti kita kabarin Papa sama Kakak, buat nyusul kita kesana." Usul Zara, karena Zara berpikir sudah lama juga keluarganya tidak pernah berkumpul untuk makan di luar. Kalau makan di luar biasanya suka terpisah, sendiri-sendiri. Tanisha tampak sedang memikirkan usulan Zara itu, "Mm... Boleh juga sih sayang. Kita belanja aja dulu sekarang, ajak bik Sarti juga." Zara mengangguk, mengiyakan. "Bik... bibi..." panggil Tanisha sedikit berteriak. Terlihat wanita yang sudah mulai menua berjalan ke arah mereka. "Iya Bu, ada apa ?" tanya wanita itu. Dia adalah bik Sarti. Di saat yang lain memanggil Tanisha dengan panggilan nyonya kepadanya, tetapi bik Sarti memanggilnya dengan panggilan Ibu. Itu keinginan Tanisha menyuruh bik Sarti memanggilnya seperti itu. Kenapa ?, supaya terdengar berbeda saja. Katanya seperti itu. Dan bik Sarti juga sudah sangat lama bekerja di rumah itu. Tanisha menceritakan akan berbelanja bersama Zara dan akan mengajaknya juga pada Bik Sarti dan menyuruhnya untuk bersiap-siap juga.Setelah berganti pakaian, akhirnya mereka pergi ke supermarket untuk berbelanja sayuran dan bahan-bahan yang lainnya juga dan di antar oleh supir keluarga mereka. Karena setelahnya Zara dan Tanisha akan makan malam di luar. Mereka telah sampai di supermaket dan sekarang tengah memilih-milih, apa saja yang akan di beli mereka. Dan troli yang mereka bawa sudah mulai penuh dengan belanjaan. Bukan hanya satu troli yang mereka bawa tetapi dua troli. Satu troli berisi sayuran dan satunya lagi berisi cemilan-cemilan yang biasa mereka makan dan tidak lupa juga membeli cemilan untuk para pekerja di rumahnya. Karena Tanisha tidak mau para pekerjanya kelaparan kalau tidak ada makanan, kasihan kan mereka. Itu sudah menjadi kebiasaan Tanisha sejak dulu. Dan itu juga yang membuat para pekerja di rumahnya sangat betah bekerja di rumah besar keluarga Praditya. Kalau untuk Bik Sarti jangan di tanya lagi yah, bahkan pemilik rumah itu sudah menganggapnya seperti keluarganya sendiri, dan bahkan suaminya Bik Sarti juga bekerja di sana sebagai tukang kebun. Oke! Balik lagi ke supermarket. Di saat Tanisha dan bik Sarti sedang memilih-milih sayuran, Zara berujar. "Ma, Zara kesana dulu yah," menunjuk ke lorong tempat cemilan-cemilan di sediakan, "Ada cemilan kesukaannya Zara yang belum ke ambil soalnya, hehhee," cengirnya. "Perlu bibi temenin, non ?" tawar bik Sarti. Zara menggeleng dengan senyuman, "Enggak perlu, bi. Zara bisa sendiri kok," ucapnya. Bik Sarti mengangguk mengerti. "Yaudah, jangan lama-lama yah. Hati-hati, jangan sampai nanti kesasar," ucap Tanisha sembari terkekeh. Sedikit menggoda Zara. Bik Sarti ikut terkekeh mendengarnya. "Iya ikhh, Mama!" ucap Zara sedikit cemberut, "Emangnya Zara anak kecil apa ?" protesnya. Zara pun berjalan menuju lorong tempat cemilan sembari mendorong trolinya, setelah izin terlebih dahulu pada mamanya. Zara tersenyum setelah menemukan cemilan kesukaannya dan memasukannya kedalam troli. Sekarang Zara tengah melihat-melihat cemilan yang lainnya, di saat itu pula ada anak kecil yang menarik-narik ujung bajunya pelan. "Kak.. kakak..," ucap anak kecil itu. "Ekhh!," Zara kaget karena ada yang memanggilnya serta menarik bajunya dari samping. Ketika melihat kesamping, ternyata ada anak kecil perempuan yang sedang melihat padanya. Umurnya kisaran Enam tahun sepertinya, dilihat dari perawakannya. Zara tersenyum pada anak kecil itu. "Kenapa sayang ?" tanya Zara lembut, sembari tersenyum dan sedikit membungkuk. Zara gemas sekali melihat anak kecil di depannya ini, yang sedang mengedipkan matanya lucu beberapa kali. Zara melihat ke sekelilingnya tetapi tidak melihat siapapun. Hanya ada anak kecil ini sendiri yang berada di dekatnya. "Eum.. Shena boleh minta bantuan gak.. sama kakak ?" ucap bocah kecil itu pelan, agak sedikit menunduk seperti takut-takut melihat pada Zara. Zara terkekeh, melihat bocah kecil di depannya ini. "Boleh dong sayang... Mau minta bantuan apa, hum ??" kata Zara sembari tangannya mengusap pelan kepala anak kecil itu. Anak kecil itu mengangkat kepalanya sepenuhnya melihat pada Zara dan matanya berbinar mendengar Zara mau membantunya. "Beneran ??" tanya anak itu memastikan lagi. Zara mengangguk, "Boleh.." ucap Zara meyakinkan dan masih mempertahankan senyumnya di hadapan anak kecil itu. Anak kecil itu tersenyum lebar mendengarnya dan langsung menarik tangan Zara untuk mengikutinya. Tidak jauh dari sana, hanya berjarak tiga meter saja dari tempat Zara berdiri tadi. "Kakak, bisa tolong ambilin Snack yang itu...?? Soalnya tadi Shena udah coba ngambil, tapi nggak bisa, ketinggian." ucap anak kecil itu sambil cemberut, mengingat kejadiannya tadi, sampai melompat-lompat untuk mengambil cemilan keinginannya. Karena memang lebih tinggi darinya dan tidak terjangkau oleh tangan mungil miliknya. "Yang ini ?" tunjuk Zara. Shena menganggukkan kepalanya lucu, sampai Zara gemas sekali di buatnya. Zara pun mengambil Snack itu lalu memberikannya pada Shena dan bertanya lagi, "Mau yang mana lagi sayang ?" tanyanya lembut. Shena tampak berfikir sembari jarinya mengetuk-ngetuk dagunya dan sebelah tangannya lagi sedang memegang cemilan itu. "Mm..." Shena melihat-lihat snack yang lainnya, "Udah aja deh, kak." Kata Shena, karena tidak menemukan snack yang menurutnya cocok untuk seleranya. "Yaudah... Mm... Namanya Shena yah ?" tanya zara dan berjongkok dihadapan Shena untuk mensejajarkan tingginya. Shena tampak terkejut, "Kok, kakak tahu ??" tanyanya. Zara tertawa pelan, "Kan tadi, Shena yang bilang sendiri." "Oh iya, yahh!" kata Shena lalu tertawa. Zara pun ikut tertawa melihatnya. "Makasih ya, kakak Cantik!" ucap shena sembari tersenyum ceria. "Kok, kakak Cantik ??" tanya Zara bingung. "Karena, kakak Cantik itu 'kan emang Cantik." Ucap Shena polos. Zara tertawa dibuatnya, "Sama-sama sayang," tangannya mencubit pipi chubby Shena dan menggoyangkannya pelan, "Ikhh... Gemes banget sih !" ucap Zara sembari tertawa. Di saat itu pula ada seorang wanita memanggil-manggil nama Shena dan terlihat sedang mencari keberadaannya dengan panik. "Mami!!" teriak Shena dan seorang wanita itu langsung mengalihkan pandangan pada Shena, lalu langsung berlari padanya. "Ya ampun sayang... Mami cariin kemana-mana ternyata kamu disini?" wanita itu tampak bernafas lega sembari memeluk Shena dan mengusap kepalanya. "Shena tadi mau ngambil snack ini, tapi nggak nyampe. Jadinya Shena minta tolong dulu sama kakak Cantik." "Kakak Cantik ??" tanya wanita itu bingung. Shena mengangguk dan langsung menunjuk Zara yang ada di belakangnya. "Oh! Maaf yah, mbak. Saya nggak nyadar kalo ada orang di dekat saya. Dan terimakasih juga, sudah membantu anak saya. Maaf, jadi ngerepotin." Ucap wanita itu tidak enak hati. Sudah tidak di anggap keberadaannya dan membantu pula, pikirnya. "Nggak papa kok, mbak. Nggak ngerepotin juga. Malahan saya seneng bisa ketemu sama Shena." Ucap Zara sembari tersenyum pada wanita itu dan Shena. "Aduh maaf yah, mbak, jadi ngerepotin. Makasih juga udah mau bantu anak saya." Ucap wanita itu. "Nggak papa kok, mbak. Dan sama-sama juga," ucap Zara. "Yaudah sayang, kita kesana sekarang yah. Papi udah nunggu soalnya." Ucap wanita itu pada Shena. Dan Shena pun mengangguk. "Sekali lagi makasih ya, mbak. Kita permisi pamit dulu." "Iya mbak, silahkan." "Ayo sayang, bilang makasih dulu sama kakaknya." Ucap wanita itu pada Shena. "Makasih yah, kakak Cantik!, Bye-bye!" ucap Shena sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya pada Zara, dan mulai berjalan menjauh perlahan. "Sama-sama. Bye-bye Shena...!" Zara membalas lambaiannya sembari tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD