Happy reading guy's...
**
Zara telah sampai di halaman rumah Vanya yang minimalis dan dua tingkat tetapi terlihat elegan. Zara mematikan mesin motornya, tidak lupa menstandarkannya dan berjalan ke arah pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu. Sementara di lantai atas tepatnya di sebuah kamar, seorang gadis langsung mengintip dari jendela, karena sudah hafal dengan suara motor itu, lalu tersenyum lebar melihatnya. Buru-buru beranjak turun kebawah untuk menyambut Zara.
"Assalamualaikum... Vanya..." teriak Zara dari luar sembari mengetuk pintunya pelan.
"Walaikumsalam..." teriak Vanya dari tangga dan segera membuka pintunya.
Vanya adalah salah satu sahabat terdekatnya Zara. Hobinya pun sama dengan Zara. Pokoknya mereka seperti saudara kembar, karena hal apapun pasti sama. Padahal aslinya tidak seperti itu.
"Zara..." Vanya tersenyum lebar menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Hai..."
"Ayok masuk." Ajak Vanya.
Zara langsung melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan. Karena memang Zara sudah sering kesana. Jadi ada sandal khusus untuknya.
"Ayah sama Ibu pada kemana ?" tanya Zara, sembari melihat ke sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa. Dan bahkan saking seringnya Zara mampir kesana, memanggil orangtuanya Vanya, dengan sebutan yang sama dengannya. 'Ayah dan Ibu'. Itu keinginan orangtuanya Vanya, karena mereka sudah menganggap Zara seperti anaknya sendiri.
"Ayah udah berangkat kerja. Kalo Ibu lagi di belakang deh, kayaknya."
"Mm..." Zara mengangguk mengerti.
"Eh, Zar!, Aku lagi nonton drakor loh. Aku liat di t****k kayaknya seru deh. Ke atas yuk ?" ajak Vanya, semangat.
"Beneran ?" tanya Zara antusias. Vanya mengangguk.
"Mau dongg!...." Jawab Zara girang, sambil memegang tangan Vanya dan melompat-lompat pelan.
Yah... itu adalah salah satu hobi mereka. Menonton drakor. Hihhiii...
"Yaudah yuk!."
"Eh, bentar. Aku kebelakang dulu yah. Mau ketemu sama Ibu dulu."
"Yaudah aku tunggu di atas yah."
"Oke!" kata Zara.
Zara melangkahkan kakinya kebelakang rumah Vanya dan mendapati Widia-Ibunya Vanya sedang menyiram tanaman, yang di tanam olehnya sendiri.
"Assalamualaikum, Ibu..." panggil Zara sembari tersenyum.
"Wa'alaikumsallam..." Ibunya Vanya menengok kebelakang dan tersenyum saat melihat Zara. "Eh!, Zara udah dateng. Udah lama datengnya ?"
"Baru aja dateng Bu." Tak lupa Zara menyalami tangan Widia-Ibunya Vanya terlebih dahulu.
"Udah makam belum ?, makan dulu yuk. Ibu ambilin yah." Tawar Widia.
Zara terkekeh, menggeleng pelan.
"Zara udah makan kok Bu. Masih kenyang," sembari memegang perutnya, menandakan bahwa dia memang masih kenyang.
"Nanti aja kalo Zara laper, Zara minta sama Ibu." Ucapnya sembari tersenyum. Zara sangat senang sekali, karena keluarganya Vanya menyambutnya dengan sangat hangat. Bahkan menganggapnya seperti kelurga sendiri.
"Yaudah kalo gitu," ucap Widia sembari mengelus pelan kepala Zara. Akhh...!! Zara sangat senang sekali di perlakukan sangat hangat seperti ini. Dan tidak bisa menahan senyumnya ketika sudah seperti ini.
"Nanti bilang aja yah kalau mau makan. Kalo nggak, ambil sendiri aja nanti di meja makan sama Vanya, bareng yah. Nggak usah sungkan." Kata widia lagi, sambil tersenyum hangat pada Zara.
"Siap bu..." kata Zara, "Zara ke atas dulu yah, Bu. Mau nonton drakor dulu soalnya sama Vanya. Hihhiii..."
Widia terkekeh, "Kalian ini...," menggelengkan kepalanya pelan.
Zara hanya nyengir saja. Dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan naik ke atas, menuju kamar Vanya.
Sebelum menonton drakor tak lupa Zara memasang alarm, berangkat kuliah. Karena kalau mereka sudah nonton drakor suka lupa waktu. Keasyikan menonton, apalagi kalau ada yang menemani. Wah... sangat menyenangkan. Hahahaa...
Hingga waktu berlalu...
Dan benar saja! mereka lupa akan waktu. Handphone milik Zara berdering sangat nyaring. Kalian tahu nada dering nyaa apa ...? Nih, aku kasih tahu yah...
Honja.. jujeoanja..
Saenggakman keojyeoga...
Onjebuteo..
Neon nal apeugehaessdonga
Neojochado moreujanha..
Neodo apeujanha cause you're mine
I just wanna blow your mine
Iroehge neon tto meoreojyeoman ganeunde
Nan amureohji anheunde geureohge malhaneunde
Sasireun nega geuge aningabwa..
I want to the be your light, babe
You should be your light..
Doeneun apeuji anhge nega useulsu issge..
I want to the be your night, babe
You could be your night..
Ibami noege soljikhalsuissge..
Tahu kan, lagunya siapa ?
Yap!! 'Park Jimin BTS'. "Jimin-Promise"
Mereka penggemar Kpop juga. Dan group kesukaan mereka adalah BTS. Zara, biasnya adalah 'Jimin'. Tetapi kalau Vanya, biasnya adalah 'Kim Taehyung' alias 'V'.
Awalnya mereka biasa saja dengan nada dering yang terdengar nyaring itu. Tetapi lama-lama mereka juga merasa risih dengan suara itu. Karena mengganggu waktu mereka yang sedang fokus nonton drakor.
"Zar, coba deh angkat dulu telfonnya. Siapa sih ?, berisik banget dari tadi!." Kata Vanya sembari cemberut.
Lihat, kan ? Gimana mereka berdua sampai lupa dengan waktu. Ck, ck, ck.... Tidak patut di contoh yaa, seperti itu.
"Iya iyaa, bentar." Dengan malas, Zara pun beranjak untuk mengambil ponselnya. Dan ketika Zara melihat layar ponselnya yang bergetar sedari tadi. Dia membulatkan matanya kaget.
"Hah..!!!, udah jam setengah sebelas lebih Vanya!" teriak Zara kaget.
"Beneran !?" Vanya ikut membulatkan matanya kaget.
Zara mengangguk berkali-kali, "Iyaa...!"
"Yaudah ayok, cepet!" mereka cepat-cepat mengambil tasnya masing dan berlari keluar kamar.
Ketika Vanya dan Zara sudah sampai di tangga. Widia keluar dari dapur, hendak menemui Vanya dan Zara. Karena dirinya merasa bosan sendirian, tidak ada kerjaan. Sedangkan pekerjaan rumah sudah selesai sedari tadi.
"Vanya, kamu mau kemana ?" tanya ibunya heran, dengan kening berlipat. Terlebih lagi melihat mereka berjalan dengan terburu-buru. Dan wajah mereka yang terlihat panik.
"Mau kuliah lah, Bu. Mau kemana lagi!" kata Vanya, sambil berjalan buru-buru dan akan menyalami ibunya. Tetapi di tahan.
"Tunggu dulu."
"Apalagi bu ?, duh.. ini kita udah kesiangan, takutnya telat." Kata Vanya dengan wajah memelas.
Widia memperhatikan Vanya dari atas sampai kebawah, "Kamu mau berangkat kuliah kayak gini ?" tunjuk ibunya dengan jarinya naik-turun, menunjuk pakaian yang di pakai oleh Vanya. Yang di pakai Vanya adalah pakaian rumahan dress selutut. Jadi, wajar kan ? kalau widia bingung dengan anaknya itu, yang akan kuliah tetapi memakai baju seperti itu ?
Zara dan Vanya, kompak membulatkan mulutnya tidak percaya.
"Ya-ampun !!" teriak mereka bersamaan dan saling pandang.
"Ayok cepet ganti baju!" kata Zara panik. Takut mereka telat masuk kelas.
"Akhh...!!" teriak Vanya tidak karuan. Dan mereka buru-buru kembali ke kamar Vanya untuk mengganti bajunya.
"Kenapa kamu gak bilang sih, Zar !?"
"Ya-aku mana tahu!, orang aku nggak ngeh karena kaget." Kata Zara membela diri.
"Kamu sendiri, kenapa nggak ngerasa ?" mereka malah sibuk berdebat sambil berjalan ke atas.
Ya memang Zara tidak menyadari kalau ternyata pakaian yang di pakai Vanya adalah pakaian rumahan.
Sementara ibunya Vanya hanya menggelengkan kepala saja, melihat kelakuan mereka. Terkekeh, mengingat kalau mereka sudah bersatu pasti akan sangat heboh. Dari rumah yang tadinya sepi, maka seketika akan menjadi riuh kalau ada mereka berdua.
Tak berselang lama Zara dan Vanya kembali turun dengan terburu-buru juga.
"Bu, aku pamit yah. Assalamualaikum!" ucap Vanya sambil menyalaminya terburu-buru.
"Bu, Zara juga pamit yah. Assalamualaikum!"
"Iyaa.. Wa'alaikumsallam. Hati-hati yah. Jangan terlalu ngebut!," nasihatnya.
"Siap Buu..!!" jawab mereka serempak.
Vanya pun melajukan motornya Zara menuju kampus mereka berdua dan tidak lupa memakai helm terlebih dahulu. Karena memang janjiannya Vanya akan ikut menebeng pada Zara, karena motornya di pakai oleh Vani-Adiknya ke sekolah.
**
Setelah sampai di kampusnya, Zara dan Vanya berlarian menuju kelasnya. Dan beruntungnya mereka hari ini, karena kelas belum di mulai.
Dengan nafas yang ngos-ngos'an, Zara dan Vanya segera duduk di tempat biasa mereka. Di barisan kedua dari dari depan yang paling dekat dengan pintu. Disana juga sudah ada banyak mahasiswa-mahasiswi yang sudah masuk.
"Hah.. hah..." mereka mengatur nafasnya yang ngos-ngos'an sehabis berlari. Saling pandang dan tertawa kecil.
"Heh!," sontak, Zara dan Vanya mengalihkan pandangannya ke arah asal suara berat laki-laki itu.
"Kalian pasti abis nonton drakor, kan ?, sampai telat begini ?" tanyanya tepat sasaran.
Sementara Zara dan Vanya hanya cengengesan saja. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menggaruk pelipisnya. Karena memang benar seperti itu.
Siapa dia ?
Perkenalkan, dia adalah 'Dicky'. Sahabat terdekatnya Zara dan Vanya.
Jadi wajar saja Dicky tahu tentang kegiatan mereka. Tetapi Dicky tidak terlalu suka Drama Korea, dirinya hanya penggemar BTS, sama seperti Zara dan Vanya. Tak lama setelah itu dosen pun datang dan kelaspun dimulai sampai selesai. Zara kuliah tahun ketiga di tahun ini dan satu tahun lagi dirinya akan segera lulus. Tidak satu tahun sih, lebih tepatnya satu setengah tahun lagi, itupun mungkin yah. Mungkin?. Zara berkuliah dan ingin mewujudkan Cita-cita orangtuanya dulu yang belum tercapai. Mempunyai restoran miliknya sendiri dan ingin membanggakan orangtuanya disana.
Setelah kelas berakhir. Zara, Vanya dan Dicky beranjak menuju kantin untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Mereka duduk bertiga di meja yang ada disana dan telah memesan makanan terlebih dahulu sebelum duduk, tinggal menunggu makanannya datang saja.
"Abis ini kalian mau pada kemana lagi ?" tanya Dicky, menatap Zara dan Vanya. Vanya pun mengalihkan tatapannya pada Zara. Menunggu jawabannya.
"Mm... kayaknya aku mau langsung pulang deh. Gak kemana-mana lagi." Jawab Zara.
"Kalo lo Van ?" tanya Dicky pada Vanya.
"Jangan manggil aku Van, dong!!, kayak lagi manggil cowok aja!." Protes Vanya sambil cemberut.
"Iya deh iya!, Anya!," sebal Dicky, memutar bola matanya malas. "Puas lo!?," sarkasnya.
"Nah.. gitu dong!. Kalo begitu kan enak di denger," ucap Vanya sembari tertawa kecil.
"Aku ngikut aja sama Zara, soalnya berangkat juga aku nebeng sama dia. Hehhee..." jawab Vanya cengengesan. Dicky hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, tanda mengerti.
"Lo pada mau mampir dulu nggak, ke Cafe ?, kemarin gue liat kayak ada cafe baru di jalan X," ajak Dicky, kata-katanya terpotong karena pesanan mereka sudah datang.
"Makasih bu.."
"Makasih bu.."
"Iya sama-sama Neng.." kata ibu penjual itu dan berlalu meninggalkan mereka.
"Gue liat sih, tempatnya bagus. Cocok buat anak muda kayak kita. Gue belum tahu jelasnya kayak gimana sih. Tapi keliatannya bagus deh, kalo diliat dari luar." Kata Dicky lagi.
"Wah.. boleh juga tuh!," kata Vanya semangat.
"Kalo hari ini, aku kayaknya enggak deh. Soalnya langsung di suruh pulang tadi." Ucap Zara, sedikit tidak enak.
"Yah...," keluh Vanya.
Setelah selesai makan, mereka pulang menuju rumahnya masing-masing. Zara pulang sendiri. Sementara Vanya, pulangnya di antar kan oleh Dicky, dirinya menawarkannya untuk mengantar Vanya.