Part 8

1406 Words
Zara dan Vanya telah sampai di cafe tempat mereka bekerja mulai hari ini dan tengah mengadakan briefing pagi. Tak lupa sang manager pun memperkenalkan Zara dan Vanya sebagai pegawai baru di sana dan memberi semangat pada karyawan yang lain juga. Hari ini Zara lewati pekerjaannya dengan baik tak ada drama apapun atau masalah lainnya. Hanya agak lelah sedikit saja, mungkin karena ini pertama kalinya bekerja seperti ini. Meskipun Cafe ini tergolong baru tetapi pelanggannya lumayan ramai, atau mungkin hanya orang terdekat pemilik Cafe ini saja yang banyak berkunjung? Entahlah. Terhitung seminggu sudah Zara bekerja di Cafe tersebut. Kini Zara tengah membersihkan meja dan membawa piring-piring dan gelas kotor menuju dapur. "Udah, Zara. Nanti lagi, waktunya istirahat." Kata Serly, selaku senior dan Chef juga di sana. Dan waktu juga menunjukan jam istirahat, mumpung pelanggan sedang tidak terlalu ramai. Karena di jam-jam seperti ini selalu ramai biasanya. Jadi sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang ada untuk bersantai sebelum memulai kembali bekerja. Zara mengangguk, "Iya kak, ini juga udah mau selesai kok. Tinggal sedikit lagi yang belum di beresin." "Ya udah aku istirahat duluan yah." "Iya kak, duluan aja." lalu Zara melanjutkan kembali pekerjaannya. Sesampainya di belakang Zara berpapasan dengan Vanya yang telah membersihkan peralatan lainnya. "Eh! aku bantuin yah." ucap Vanya. "Ih nggak usah, biar aku aja cuman sedikit kok ini. Kamu duluan aja istirahat nanti aku nyusul." "Ya udah aku duluan yah, kalo gitu." Zara mengangguk seraya tersenyum, "Iya sana, gak akan lama kok ini." Setelah membereskan semuanya Zara pun segera menghampiri Vanya dan duduk di sebelah gadis itu, sembari membawa bekalnya. "Bawa apa hari ini, Zar?" tanya Vanya. "Sandwich buatan Mama, mau nggak?" "Iihh mau dong.. Kalo sandwich buatan Mama aku gak bakalan nolak.. hehe." "Mama sengaja bekelin banyak, soalnya tau kalo kamu suka." "Perhatian banget sih, Mamanya aku.." ucap Vanya terharu. Zara pun tersenyum. *** Zara berjalan keluar mendekati Vanya dan bertanya. "Di jemput nggak?" Vanya langsung menoleh, "Nggak nih. Kata Ibu, Ayah lagi sakit kepala barusan. Mau naik ojek aja deh, kayaknya." "Mau bareng aku nggak?" tawar Zara. "Nggak usah, aku naik ojek aja. Lagian nanti malah jadi bolak-balik tau." tolak Vanya. "Beneran nih?" tanya Zara. Vanya pun mengangguk sembari tersenyum. "Yaudah, kalo nggak mau." Dari arah parkiran Raka berjalan ke arah Zara dan Vanya. "Loh, belom pulang kalian?" tanyanya. Karena Zara dan Vanya berdiri di dekat pintu masuk Caffe. "Belum Kak, aku lagi nunggu jemputan. Kalo Vanya baru mau pesen ojek." jawab Zara. "Emangnya nggak di jemput?" "Nggak Kak. Soalnya Ayah lagi sakit katanya, barusan nelfon." ujar Vanya. "Mau bareng gue, nggak? Rumah lo di jalan xx, kan? Biar hemat ongkos, rumah gue deket kok dari situ." kata Raka. "Iya bener, di situ Kak. Tapi, apa nggak ngerepotin Kak?" "Udah santai aja. Tapi bentar yah, gue mau kedalem dulu ada yang ketinggalan." "Iya, Kak." ucap Vanya, sambil tersenyum. "Lumayan Zar, hemat ongkos." Setelah melihat Raka masuk mereka tertawa. Tak lama ada sebuah mobil parkir di depan mereka. "Eh, mobil siapa tuh?" tanya Vanya. Zara hanya mengedikkan bahunya tidak tahu. "Masa pelanggan, kan kita udah tutup yah." heran Vanya. Lalu keluar seorang Laki-laki dari balik kemudi berjalan ke arah mereka berdua. "Permisi, saya mau tanya." ujar pria itu. "Iya, ada apa yah?" tanya Vanya, sembari tersenyum ramah. "Saya mau cari seseorang yang namanya Zara, ada?" Sontak Zara dan Vanya saling menoleh dan berbicara lewat mata, "Siapa?" tanya Vanya. Zara pun menggelengkan kepalanya tidak tahu. Zara menoleh pada pria itu dan menunjuk dirinya sendiri, "Mm.. Saya Zara. Maaf mas, ada perlu apa yah?" Vanya meneliti penampilan pria di depannya ini dari atas sampai bawah yang memakai setelan jas rapih dengan mata menyipit. "Kalau di liat dari tampangnya sih, gak mencurigakan yah.. Kayaknya seumuran sama Kakaknya Zara. Tapi, siapa nih orang?" batin Vanya. "Oh! Saya di suruh jemput kamu sama Tante Tanisha." "Mama?" tanyanya tak percaya. "Kalau nggak percaya, silahkan telfon saja beliau." ujarnya pria itu sembari tersenyum tipis. "Hadeeehh! Mama ngapain sih, nyuruh-nyuruh gue jemput orang segala! Mana nggak tahu lagi, nih orang siapa!" batinnya kesal. Ragu, Zara pun beranjak untuk menelfon Mamanya. Sedikit menjauh dari pria itu, lalu mengeluarkan handphonenya dari dalam tas. Setelah deringan ketiga barulah telfonnya terjawab, "Halo. Assalamualaikum, Ma?" "Wa'alaikum sallam. Iya, kenapa sayang?" "Mama nyuruh orang lain buat jemput aku, yah?" "Oh, iyaa! ya-ampun, Mama lupa ngasih tau. Gimana, orangnya udah ada belum?" Zara pun mengangguk meskipun tak terlihat oleh Mamanya dan melirik sekilas ke arah pria itu, "Ada, barusan dateng. Emangnya Pak Kirman kemana, Ma? Kok, Mama malah nyuruh orang-" "Aduh! Sebentar yah, sayang. Mama lagi sibuk, nanti kita ngobrol lagi di rumah kalo kamu udah nyampe, yah. Assalamulalaikum!" Tut! "Ma! Ma? yah.." Zara melihat layar ponselnya yang telah terputus sambungan telfonnya, "Waalaikum sallam. Ck! malah di matiin lagi." lalu Zara berjalan mendekati Vanya lagi. "Gimana?" tanya pria itu. Zara pun mengangguk. "Kalau gitu bisa pergi sekarang? Takut ke malaman soalnya." "Aku duluan yah, byee.." Zara melambaikan tangannya pada Vanya dan Vanya pun membalasnya. "Iyaa, hati-hati.." "Udah di jemput si Zara?" tanya Raka. "Oh? Udah barusan." "Yaudah ayo, kita juga pulang sekarang." "Ayok." ... Di dalam mobil yang di tumpangi Zara itu hening. Zara pun hanya diam saja karena tak tahu harus bicara apa di tambah lagi dia tidak mengenal orang itu. Dan lagi, sedari tadi pun pria itu hanya diam saja tidak bicara apa-apa. Jadi Zara segan untuk bertanya pun, dia hanya bisa diam dan melihat keluar memandangi lajunya kendaran yang berlalu-lalang. "Ekhem! Kamu udah nggak kuliah?" tanya pria itu setelah sekian lama hening. Zara pun agak sedikit kaget. "Masih kuliah, kok.." "Oh, masih kuliah.." pria itu mengangguk-anggukan kepalanya kecil. "Terus kenapa kerja?" "Mm.. cari pengalam aja." pria itupun hanya ber-oh saja. "Tolong kasih tahu arah jalannya kemana." "Oh, iyaa.." setelah itu keheningan terjadi kembali sampai tiba di depan gerbang rumah orangtua Zara. Kecuali Zara yang memberi tahu arah jalan. Zara dan pria itu keluar dari mobil. "Mau mampir dulu?" tanya Zara. "Oh, nggak, saya cuma mau nyapa tante Tanisha aja." Zara hanya ber-oh dan menganggukan kepalanya saja. Sebenarnya Zara pun hanya berbasa-basi saja supaya tidak di cap tidak tahu terima kasih. Lalu Zara pun membuka gerbang dan pria itu mengikuti di belakang. Zara melihat pintu rumahnya terbuka berarti Mamanya sedang menunggunya pulang saat ini, langsung saja Zara mengucapkan salam. "Assalamualaikum..!" terdengar jawaban salam dari dalam. "Udah dateng sayang." ucap Tanisha dan Zara laangsung mencium tangannya. "Assalamualaikum, tante." ucap pria itu dan menyalami Tanisha. "Walaikum sallam. Aduh, Rival, maaf yah, tante jadi ngerepotin kamu. Soalnya lagi nggak ada orang di rumah." ucap Tanisha tak enak. "Nggak papa kok, tante. Kebetulan tadi emang lagi ada di daerah sana. Kalau begitu saya pamit pulang ya, tante." "Loh, nggak mampir dulu?" tanya Tanisha. "Saya langsung pulang aja, tante. Nggak enak juga saya bertamu tengah malam begini." kata Rival sembari tertawa kecil. "Padahal nggak papa, loh. Yaudah kalau mau langsung pulang. Makasih yah, udah nganterin Zara pulang." "Sama-sama tante, saya pamit. Assalamualaikum." Rival menyalami tangan Tanisha lagi. "Walaikum sallam. Kamu anterin dulu sana sebentar." suruh Tanisha pada Zara. "Iya, ma.." Zara hanya menurut saja. Zara dan Rival pun berjalan menuju gerbang depan. Setelah sampai di depan mobilnya Rival, Zara pun berkata, "Makasih sekali lagi ya, mas, udah ngerepotin." "Gak masalah. Kalau begitu saya pulang." "Iyaa." Zara kembali masuk kedalam rumah setelah mobil pergi. Setelah sampai di depan Mamanya yang masih berada di depan pintu, Zara langsung bertanya. "Yang barusan siapa sih, Ma?" "Loh, kan tadi kamu denger namanya Rival." Tanisha menjawab sambil menutup pintu dan menguncinya lalu bedjalan masuk. Zara memutar bola matanya mendengar jawaban dari Mamanya. "Ya aku juga tahu kalo itu. Tapi dia itu siapa? Kok, Mama bisa-bisanya nyuruh dia jemput aku. Kan aku bisa pulang sendiri naik ojek, kalo emang gak ada orang di rumah. Kenapa malah nyuruh orang lain?" "D-dia itu.. anak.. temen Mama, ah iya! N-nanti juga kamu bakal tau kok, dia siapa." Tanisha gelagapan menjawabnya. Zara menatap Mamanya bingung dengan perkataannya. "Maksud Mama, apa?" "Aduh! Sayang, Mama cape abis bikin brownies." Tanisha menggerak-gerakkan badannya seolah memang sedang sakit. "Kita lanjut ngobrolnya besok lagi yah, Mama mau istirahat. Kamu juga naik sekarang, mandi terus langsung istirahat. Oh iya, kalau kamu laper mau brownies ambil aja di kulkas. Mama mau masuk ke kamar yah." tak lupa Tanisha mencium kening Zara. Semetara Zara hanya diam saja mendengar perkataan Mamanya. Seperti orang yang sedang menghindari pembicaraan. Zara hanya bisa menghela napasnya pelan, lagipula itu tidak terlalu penting, pikirnya. Lalu Zara pun masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan badannya yang lelah juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD