Sekarang Zara tengah berada di depan pintu kamar kakaknya, Andra, mengetuk pintunya.
"Siapa ?" Terdengar sahutan dari dalam.
"Ini Zara, kak," ucapnya. Pintu pun langsung terbuka dan menampakkan wajah Andra.
"Mm, boleh Zara masuk ?" Jujur saja Zara jadi deg-degan saat ini. Bukan karena takut akan di marahi, tetapi takut kalau kakaknya itu akan ngambek dan tidak berbicara padanya. Zara tidak mau itu terjadi, karena Andra adalah penyemangatnya di kala Zara sedang bersedih dan memiliki kesulitan, Andra-lah yang selalu membantunya.
Setelah Andra memperbolehkannya masuk, Zara pun masuk, mengikuti langkah Andra dan duduk di sofa yang ada disana. Andra bersandar pada sofa dan Zara berada di sampingnya, duduk bersebelahan.
"Zara mau ngomong sama, kakak," tubuhnya boleh terlihat baik-baik saja, tetapi padahal tangannya sudah berkeringat dingin.
"Mau ngomong apa, dek ?" tanya Andra.
"Mama udah ngomong kan, sama kakak ?"
"Ngomong tentang apa ?" Andra malah balik bertanya. Andra tahu, kalau Zara akan membicarakan tentangnya yang akan bekerja. Tapi Andra hanya ingin Zara yang berbicara langsung padanya.
Zara memejamkan matanya sejenak, "Mm, tentang, Zara yang mau kerja."
Andra mengangguk, "Okhh. Kakak tahu," ucapnya santai, sambil menegakkan badannya.
"Terus, menurut kakak gimana ?" jujur saja, Zara takut dengan jawaban yang akan Andra katakan.
"Menurut kakak kamu nggak boleh kerja. Lagian kamu masih kuliah. Waktu kuliah kamu nanti akan terganggu dengan pekerjaan kamu."
Zara menjadi lesu seketika dan menundukkan kepalanya. Yang kakaknya katakan itu tidaklah salah, tetapi Zara yakin kalau dia bisa menyelesaikan kuliahnya meskipun sambil bekerja.
"Tapi Zara yakin kok, Zara bisa selesain kuliah sambil kerja. Kuliah Zara nggak akan terganggu sama pekerjaan Zara."
"Hey, lihat kakak." Andra menyentuh dagu Zara agar melihatnya, lalu memegang kedua bahunya. "Kakak nggak mau kamu kecapean dan nantinya malah jatuh sakit karena jadwal kamu yang padat, dek. Kakak tahu gimana rasanya kuliah sambil kerja. Apalagi kamu mau kerja di Cafe, tenaga kamu pasti bakalan terkuras dan tubuh kamu pasti down nantinya," kata Andra dengan nada pelan, agar Zara mengerti tentang ke khawatirannya ini.
Zara tersentuh mendengar perkataan Andra dan tidak bisa berkata-kata apalagi. Bahkan matanya pun kini berkaca-kaca. Begitu besarnya rasa kasih sayang kakaknya terhadapnya. Sedangkan dirinya selalu saja menyusahkan Andra, merepotkan Andra dan membuatnya khawatir kepadanya.
Melihat mata Zara yang berkaca-kaca, Andra langsung memegang sebelah pipi Zara dan mengusapnya pelan dan berkata, "Hey, jangan nangis."
Mendengar kata-kata itu, Zara malah meneteskan air matanya dan langsung berhamburan memeluk Andra. "Maafin Zara yang selalu nyusahin kakak, yang selalu ngerepotin kakak dan buat kakak khawatir sama aku," ucapnya sambil menangis di pelukan Andra. Andra mencoba menenangkan Zara dengan mengusap-usap punggungnya dan itu sedikit berhasil.
"Yaudah, Adek boleh kerja. Tapi harus bisa jaga diri, jangan sampe sakit gara-gara kecapean. Okey ??"
Zara mengangguk dalam pelukannya sambil menangis. Tapi sedetik kemudian dirinya tersadar, langsung mengurai pelukannya dan bertanya, "Apa kak ??"
Apa dirinya tidak salah dengar? Atau memang pendengarannya yang bermasalah? Zara seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Kakak bolehin kamu kerja. Tapi.., kamu harus janji sama kakak, jangan terlalu kecapean sampai kamu jadi sakit. Kalau ngerasa nggak enak badan harus istirahat dulu. Okey !?"
Zara tersenyum dan mengangguk berkali-kali. "Zara janji, akan dengerin apa yang kakak bilang!" Zara kembali memeluk Andra dan mengucapkan terima kasih, karena telah mengizinkannya untuk bekerja. Zara pun kembali ke kamarnya setelah mendapat persetujuan dari Andra.
Ketika Zara membuka pintu Vanya langsung menghampirinya dan bertanya, "Gimana, gimana ?? Di bolehin nggak ??"
"Di bolehin dong !" Zara tertawa.
"Beneran ??" Zara mengangguk.
"Ahh, alhamdulillah. Aku deg-degan banget tau dari tadi nunggu kamu," ucap Vanya bernafas lega sambil memegang dadanya.
"Udah, sekarang mending kita tidur. Besok kan kita udah mulai kerja." Zara sedikit mendorong pundak Vanya, lalu mereka merebahkan tubuhnya di atas kasur bersiap untuk tidur.
"Tapi bentar deh, aku heran sama kamu," ucap Vanya.
"Kenapa emangnya ?" Tanya Zara bingung.
"Kamu mau kerja, tapi semangat banget sih ?? Kalau orang lain nih ya, pasti bilang gini, nggak mau ah, capek lah, ini lah, itu lah, keluhannya ada aja. Kalau bukan karena kebutuhan nggak akan mau kerja. Tapi kamu ?, malah girang. Jadi pelayan cafe lagi yang gajinya kecil." Zara hanya tersenyum saja mendengar perkataan Vanya.
"Perusahaan Papa kamu kan gede, atau ngelamarnya di restoran-restoran mewah gitu ?. Kamu kan nggak kekurangan uang, malah kelebihan kan ?. Hidup kamu itu serba ada, kalaupun nggak kerja. Kalau aku ya pasti harus kerja, kalau mau banyak uang." cerocos Vanya panjang lebar.
"Mm, gimana yah ?" menggaruk kepalanya pelan, "Aku itu pengen ngerasain gimana rasanya kerja, gimana rasanya dapet uang dari hasil kerja keras sendiri, dari keringat kita sendiri. Supaya kita bisa menghargai diri kita sendiri dan orang lain, dari pengalaman kita itu. Dan juga, mudah-mudahan kalau kita punya restoran sendiri, kita jadi tau gimana rasanya jadi bawahan. Jadi kita gak akan semena-mena sama siapapun yang bekerja di tempat kita." Vanya sampai menganga mendengar jawaban dari Zara. Tidak menyangka bahwa Zara berfikiran sangat bijak seperti itu. Vanya merasa beruntung berteman dengan Zara, walaupun Zara berasal dari keluarga yang berada, tetapi tidak malu berteman dengan dirinya yang berasal dari keluarga biasa. Bahkan ketika makan di pedagang kaki lima pun Zara tidak risih sama sekali dan sangat menghargai orang lain.
"Aku pengen nanti kalau udah punya uang cukup, bangun restoran."
"Seperti keinginan bunda dulu yang belum tercapai," lirihnya dalam hati, tersenyum kecut. Zara menerawang bagaimana kalau dirinya mempunyai restoran. Pasti Bundanya akan bangga padanya.
Zara kembali tersenyum senang, "Sebenarnya aku di tawarin sih, kerja di perusahaannya Papa. Tapi aku nggak mau, itu bukan tempat aku. Lagian juga, otak aku nggak bakalan nyampe kalau di suruh buatin proposal-proposal atau dokumen apalah itu namanya, aku nggak ngerti. Otak aku nggak encer kalau di suruh pantengin komputer terus," ucap Zara sampai tertawa kecil.
Vanya berdecak kagum sampai menggelengkan kepalanya, "Wah, aku kagum banget denger jawaban bijak dari kamu. Aku aja nggak sampai mikir jauh kesitu loh ?"
"Masa sih ?, perasaan biasa aja deh."
"Ikhh! kamu itu yah, selalu aja suka ngerendahin diri sendiri. Sekali-kali itu kamu harus tinggi ngomongnya. Supaya nggak di ganggu sama si senior cabe-cabean yang suka ngerendahin kamu itu!." Vanya malah menjadi kesal kalau Zara selalu merendahkan dirinya dan menjadi sasaran amukan senior-seniornya yang gak punya otak di kampus mereka.
"Udahlah biarin, toh kita nggak ngelakuin hal yang di katakan sama mereka, kan ?. Justru kalau kita ngelawan, berarti kita ngerasa dong kalau yang di ucapin sama mereka itu benar ? Iya kan ??"
Vanya menghela nafasnya pasrah, "Iya juga sih...," lagi, Vanya tidak bisa menjawab perkataan Zara. Karena kalau di pikir-pikir lagi memang benar seperti itu, pikir Vanya. Hanya saja Vanya suka terbawa emosi bila ada yang menjelek-jelekkan temannya, padahal kenyataan nya tidak seperti itu.
"Udah, sekarang mending kita tidur. Ngumpulin tenaga buat besok supaya semangat," kata Zara, Vanya pun mengangguk. Mereka mencari posisi yang nyaman, lalu mereka pun tertidur. Lampu di kamar tidak di matikan, karena Zara tidak suka gelap.
Paginya setelah sholat shubuh berjamaah di rumah, Zara dan Tanisha mulai menyiapkan masakan untuk sarapan pagi mereka. Vanya pun ikut membantu. Setelah selesai mereka kembali ke kamar masing-masing dan bersiap-siap. Karena hari ini, hari pertama Zara dan Vanya bekerja. Belum lagi Vanya yang meminta mampir terlebih dahulu kerumahnya, sekalian pamitan terlebih dahulu katanya. Jadi mereka harus cepat-cepat bersiap, karena jadwal shift kerja mereka hari ini adalah pagi.