Dosa ditanggung yang baca
Annabelle duduk dengan tidak nyaman di atas ranjang di dalam apartemen mewah dan luas milik Darren. Annabelle bahkan ragu jika itu adalah apartemen karena selain ruangannya yang luas, seluruh isi dalam rumah ini didesain begitu teliti dari cat dan lain-lainnya. Begitu tertata rapi dan entah kenapa memperlihatkan kepribadian Darren yang membosankan.
"Buka pakaianmu. Aku gerah melihatnya." Kata Darren yang saat ini sedang melepaskan kaitan kancing jasnya. Matanya menatap Annabelle dengan tajam sedangkan mulutnya mendesis kesal. "Sangat membuatku bernafsu untuk merobeknya saat ini juga."
Annabelle melotot pada Darren. "Enak saja! Ini belum dibayar!! Aku masih mencobanya."
"Tenang saja. Kau takkan menggunakan pakaian itu."
"Karena dari itu, aku harus merawatnya dengan baik. Kau tahu berapa harga gaun ini??? Harganya setara dengan gajiku 3 bulan penuh!"
"Aku tidak peduli. Lepaskan jika kau tidak ingin aku merobeknya."
"Lalu aku harus pakai pakaian apa???"
"Pakai apa saja. Tidak pakai apapun juga tidak masalah."
"m***m!!"
Darren mendelik kesal. "Sampai kapan kau akan mendebatku?"
"Sampai kau melepaskanku."
Darren membuka jasnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Dia mendekati Annabelle perlahan dengan sorot mata mengintimidasi. "Sampai kapanpun aku takkan melepaskanmu."
"Apa maksudmu?"
Darren sampai di hadapan Annabelle. Dia membungkuk memajukan wajahnya dengan wajah Annabelle hingga Annabelle harus memundurkan wajahnya. Namun Darren tidak berhenti dan terus mendekati wajah Annabelle dan membuat Annabelle tertidur di atas kasur dengan Darren yang mendominasi di atasnya. Mata tajam Darren menatap Annabelle dengan lekat.
Membuat tubuh Annabelle bergetar karena gairah.
"Dengar, Anna, di perutmu ini..." kata Darren dengan tangan yang mengusap perut Annabelle dengan seduktif dan membuat tubuh Annabelle makin gemetar. "... Ada anakku. Darah dagingku. Keturunan Reinhard dan aku adalah satu-satunya keturunan Reinhard di sini. Dan kau, walaupun kau bukanlah wanita yang kuinginkan untuk dinikahi, tapi kau tetap saja mengandung darah dagingku. Tak akan kulepaskan sampai kapanpun."
Annabelle mengernyit mendengarnya. "Dengar, Darren. Jika aku memang bukan wanita yang ingin kau nikahi, dan jika memang hanya bayi ini yang kau inginkan, kau tidak perlu mengurungku. Aku hanya menikahi Alex hingga anakku lahir. Setelah itu kami akan berpisah."
Darren mendengus sinis dan napasnya yang berada tepat di wajah Annabelle membuat Annabelle makin panas dingin. Kewanitaannya kini sudah basah.
"Kau yang harus mendengarku, Anna. Aku sangat tahu tipe manusia di dunia ini. Memanfaatkan dan dimanfaatkan. Anakku akan dimanfaatkan olehmu dan Alex untuk mendapatkan hartaku, bukan?"
Annabelle mengernyit. "Wow, kenapa aku tidak berpikir sepicik dirimu ya? Kau benar, aku bisa kaya mendadak jika anak ini lahir."
"Anna!!"
Annabelle malah tertawa. "Baiklah, aku bercanda. Kau tenang saja Darren, anak ini boleh menjadi milikmu, kok."
Darren mengernyit heran. "Segampang itu? Kau tidak menyayangi anakmu??"
"Enak saja!! Justru aku sangat menyayangi mereka, makanya aku mempertahankannya." Jawab Annabelle dengan mata melotot.
"Mereka?"
"Hm. Kembar." Kata Annabelle sambil tersenyum hangat. "Masih perkiraan Alex karena mereka belum terlihat."
Darren terdiam sejenak menatap wajah Annabelle dengan lekat. Dia kemudian memundurkan tubuhnya dan duduk sambil merengangkan tubuh yang pegal. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengurus pernikahan kita besok."
Annabelle segera terduduk di atas kasur. "Apa?? Pernikahan?? Apa maksudmu??? Aku akan menikah dengan Alex! Dan apa kau juga akan menikahiku?? Oh tidak, apa aku akan punya 2 suami???"
Darren melotot. "Kau gila?? Mana mau aku jadi suami kedua!"
"Lalu?"
"Batalkan pernikahanmu dengan Alex. Menikahlah denganku."
Annabelle melotot pada Darren. "Apa??? Aku tidak bisa melakukannya!! Kau gila, Darren!!!"
"Terserah kau mau menganggapku gila atau apa. Yang pasti, batalkan!"
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Mau membantahku?"
"Ya! Ya! Ya! Aku tetap akan menikah dengan Alex, titik!"
Darren mendengus. "Dia hanya dokter kandungan."
"Dan calon suamiku! Kau tidak bisa meremehkan profesi dokter seperti itu! Apalagi dokter kandungan! Merekalah yang membantu para bayi menyambut dunia!"
"Dan kau akan terus menolakku?"
"Ya. Aku sudah mengecewakan Alex saat memilih pergi denganmu. Dan aku tidak mau mengecewakan Alex lagi dengan memilih menikahimu."
"Lalu bagaimana jika pria itu kecewa padamu karena kau menjadi penyebab dirinya dipecat dan lisensinya dicabut?"
Annabelle tersentak dengan ucapan Darren. Dia melotot. "Apa maksudmu???"
"Maksudku," Darren menjeda kalimatnya. Dia menatap Annabelle dingin yang seolah sukses membuat Annabelle menggigil kedinginan. "Maksudku, aku akan memecat Alex dan mencabut lisensinya sebagai dokter jika kau tidak mau menikahiku."
Mulut Annabelle menganga lebar mendengarnya. Refleks, Annabelle berdiri dan menatap Darren tajam. "Kau tidak bisa melakukannya!!" tunjuknya.
Darren mendongak penuh intimidasi. "Tentu saja aku bisa. Aku pemilik rumah sakit itu jika kau lupa."
Annabelle menggelengkan kepalanya cepat. "Alex sahabatku. Aku tidak mungkin membatalkan pernikahan ini!"
"Pria itu tetap akan jadi sahabatmu walaupun kau menikah denganku."
"Tapi—"
"Jadi kau ingin lisensinya dicabut? Kau sahabat yang buruk, Anna."
Annabelle gemetar ketakutan di tempatnya. Dia membayangkan saat jika Annabelle memilih menikahi Alex dan membuat Alex kehilangan segalanya. Pasti pernikahan mereka tidak awperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Tidak ada Alex yang akan merawat Annabelle, menyayangi Annabelle, dan memperhatikan bayi yang Annabelle kandung. Yang ada hanya tatapan kecewa, rasa penyesalan, dan rasa bersalah dan menyalahkan tiada akhir.
Annabelle menggelengkan kepalanya cepat ketika bayangan itu hadir. Annabelle menatap Darren dengan pandangan putus asa. "Kau tidak boleh melakukannya, Darren..." Lirihnya.
Darren tersenyum bak iblis. Dia bersidekap d**a dengan santai. "Itu takkan terjadi jika kita menikah, Annabelle."
Annabelle menggigit bibir bawahnya. Dia menggelengkan kepalanya kuat. "Aku tidak bisa mengewakan Alex. Bagaimana aku harus mengatakan ini padanya?"
Darren tersenyum miring. "Perlu bantuan?"
Annabelle menelan ludahnya susah payah. Ia menatap lekat pada Darren yang duduk di tepian ranjang sambil bersidekap d**a. Otot tangannya terbentuk sempurna membuat kemeja yang digunakannya bahkan terlihat sesak. Rahangnya yang luar biasa tegas dan mata tajam mengintimidasi. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang seksi. Annabelle mnelan ludah susah payah.
"Eum, Darren."
Darren mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.
Annabelle menggigit bibir bawahnya kuat. "Kau tahu tentang ngidam? Atau selain itu, kau tahu tentang koneksi bayi pada ayahnya atau sesuatu seperti itu bukan?"
Darren mengangkat sebelah alisny lagi menjadi dua-duanya terangkat tinggi.
Annabelle menghela napas panjang. "Kau tahu ini rumit. Maksudku, aku tidak punya ketertarikan padamu. Tapi sungguh, sepertinya... Anakmu... Ingin ditengok." Katanya malu-malu.
Darren menggaruk dagu tegasnya itu. "Jadi apa maksud perkataanmu?"
"Bisakah kita melakukan seks sekali lagi? Dan, ini bukan keinginanku. Kau jangan salah paham! Aku tidak mungkin begitu! Tapi, ada yang aneh. Maksudku, karena ini anakmu—"
"Hahahaha!" tawa terbahak Darren terdengar. Annabelle melongo melihat Darren yang benar-benar tertawa di hadapannya. Bukan tawa yang dibuat-buat namun benar-benar tertawa lebar sekali. Darren menggelengkan kepalanya dengan binar geli di matanya. "Apa kau baru saja meminta padaku untuk mentuhmu lagi, Anna?"
"Ini permintaan anakmu!! Kalau kau tidak mau tidak apa-apa." Balas Annabelle sambil cemberut maksimal.
Darren menahan tawanya. Dia menangguk pelan seolah mengerti. "Baiklah, aku mau kalau kau menurutiku untuk menikah denganku dan membatalkan pernikahanmu dengan Alex."
"Kau sudah mengancamku. Mana mungkin aku menolak? Tapi, benar ya!! Kau harus janji untuk—hmmph!"
Ucapan Annabelle tidak pernah selesai ketika Darren malah menarik tubuhnya hingga Annabelle terduduk di pangkuan Darren dan mencium bibir Annabelle dengan ganas.
Mereka sama-sama sadar kali ini. Mereka berciuman panas melumat bibir satu sama lain. Darren menggigit bjbir bawah Annabelle dan memasukkan lidahnya, membuat Annabelle tersentak dan mencengkram bahu Darren dengan tegang.
Annabelle menggeliat tidak nyaman di pangkuan Darren akibat gaun yang benar-benar tidak nyaman di tubuhnya.
SREKK!
Annabelle refleks menghentikan ciumannya. Dia berbalik dan menemukan jika gaun bagian belakangnya sudah dirobek oleh Darren. Mulut Annabelle terbuka lebar melihatnya. Dia menatap Darren dengan mata melotot lebar.
"WHAT THE f**k DARREN!!" teriak Annabelle tepat di depan wajah Darren membuat Darren refleks terpejam denan telinga yang ditutupi keua tangan. "Kau bodoh apa bagaimana??? Sudah kebiasaan ya, merobek barang orang lain??"
"Akan kugan—"
"Selau saja meremehkan semua hal!!" gerutu Annabelle dan turun dari pangkuan Darren dengan kesal. Gairahnya mati seketika. "Kau barangkali punya banyak uang dan bisa membeli segalanya! Tapi jangan biasakan merobek pakaian seperti itu! Gaun ini bukan milikku, dan kau tidak berhak untuk merusaknya!"
"Aku kenal dengan pemiliknya. Kau tenang saja."
Annabelle berdecih dan tertawa sinis. "Ya. Tenang saja. Kau kenal pemiliknya, kau punya banyak uang, kau bahkan bisa merobek apapun di dunia ini!! Sombong sekali."
"Hey, di antara teman-temanku, akulah yang paling rendah hati."
"Dan kenapa kau tidak bisa melakukannya padaku?? Karena aku tak sekaya teman-temanmu?"
"Maksudku bukan—"
"Aku ingin kembali ke butik. Alex pasti menungguku."
Darren menghela napasnya dengan sabar. "Apa harus kau menemuinya lagi?"
"Dia sahabatku!"
"Sahabat yang hampir kau nikahi!!!" bentak Darren kuat sambil berdiri dan menunjuk Annabelle. "Awas saja jika kau masih berhubungan dengannya. Akan kuhancurkan pria itu."
Annabelle membuang wajahnya dengan kesal. "Aku ingin pulang," katanya dan saat dilihatnya Darren akan kembali membuka mulut, Annabelle mengangkat tangannya ke atas. "Sekarang."
Merasa memang Darren juga harus mendinginkan kepala, Darren terpaksa membuka kunci kamarnya dan membiarkan Annabelle mengambil jas Darren yang sebelumnya Darren gunakan.
Darren mengantarkan Annabelle pulang dalam keheningan.
***
Akhirnya, Darren menjatuhkan pilihannya untuk mendinginkan kepala ke sebuah kelab malam yang biasa ia dan teman-temannya kunjungi. Darren sebenarnya tidak suka mabuk-mabukan. Namun, alkohol yang dapat menghilangkan kesadaran memang sukses membuat dia melupakan masalahnya untuk sementara.
"Darren!!"
Tanpa menoleh untuk mencaritahu siapa pemilik suara, Darren mendelik jngah dan meminum wiski yang sebelumnya dia minta pada bartender.
"Sahabat Dinginku, yang cara ngomongnya seperti kulkas yang berada di diameter 6, kenapa kau tidak mengajak kawanmu ini untuk mabuk-mabukan?? Kami pasti akan selalu menemanimu."
Darren mendorong Makiel dengan kesal. "Terserahlah."
Kali ini, Felix yang merangkul Darren. "Apa masalahmu, kawan? Tidak biasanya kau ke kelab seperti ini tanpa diajak terlebih dahulu."
Darren mengela napas panjang dan mendorong Felix. "Kenapa kalian selalu mengganggu hidupku?? Sungguh, aku tidak butuh kalian sama sekali."
"HAHAHAHA tidak usah memuji begitu. Kami memang kawan sejati yang akan ada di saat senang dan sangat senang." Jawab Makiel sambil merangkul Darren.
"HAHAHA aku tidak menyangka jika itu pujian, Kiel. Kau pintar sekali menerjemahkan bahasa kulkas," balas Felix sambil ikutan merangkul Darren. "Kiel benar, kita akan ada di saat kau selalu senang saja. Tenang, Alarick juga akan ke sini sebentar lagi."
"Sayangnya, saat ini aku dalam keadaan susah, kawan. Jadi mohon mnyingkir."
"Kau..., bangkrut?" tanya Makiel sambil perlahan menjauh dari Darren seolah Darren akan berubah menjadi zombie.
"Lebih dari itu. Aku akan menikah." Kata Darren.
Felix maupun Makiel bereaksi berlebihan. Mereka melotot pada Darren.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Kukira, aku yang aalah dengar dan ingin memastikannya padamu, Kiel."
"Jadi benar temanku tadi mengatakan akan menikah?"
"Jadi itu sesuatu yang buruk? Apa kalau aku nanti menikah akan menjadi suatu hal yang buruk?"
"Yang buruk adalah amenikah dengan wanita manja dan kami saling membenci."
"Lalu kenapa kau menikahinya???" tanya Makiel.
"Dia hamil." Kata Darren sambil kembali meminum wiskinya lagi.
Makiel dan Felix kompak saling lirik. Mereka diam berpikir. Pasalnya mereka sangat tahu Darren lelaki seperti apa. Darren bukan tipe orang yang suka melakukan seks sembarangan. Bahkan, Makiel maupun Felix pernah menyangka Darren gay.
"Kau sudah tes DNA anakmu? Bisa saja, itu bukan anakmu, Darren. Mungkin dia mengaku-ngaku."
Pertanyaan bodoh Makiel membuat Felix memukul bepakang kepala kawannya itu. "Masih ada di dalam perut bagaimana bisa tes DNA??"
"Bisa, Lix, kau ketinggalan zaman sih. Dasar tua!!"
"Kau!!!"
"Apa??? Aku hanya berujar fakta!"
"Hey, itu Alarick!" seru Felix tiba-tiba.
"Oh hey, Kawan Bejatku!"
Seruan Felix dan sapaan dari Makiel membuat Alarick mendelik kesal. Dia berjalan malas menuju tempat di mana teman-temannya duduk di bar kelab malam. Mereka lengkap berada di sana. Namun, entah mengapa Darren terlihat kesal dan meminum minumannya dengan amat cepat. Alarick mengerutkan keningnya sambil duduk di sebelah Darren.
Alarick menatap Felix dan Makiel dengan kesal. "Aku sudah bilang, bukan? Jangan memilih tempat murahan ini!! Apa kalian jatuh miskin sehingga tidak dapat menyewa tempat VVIP?? Kalau begitu, pesanlah dan biarkan aku yang membayarnya!!"
"Berisik! Kau cerewet sekali!!" Tanpa di duga, bukan Felix ataupun Makiel yang menjawabnya, melainkan Darren yang sudah mabuk dan terlihat tidak fokus. "Aku yang menyewanya! Aku yang pertama duduk di sini! Aku!!"
Tiga orang lainnya melongo. Alarick melirik Felix dan Makiel, dan sebuah senyuman jahil terlihat di wajah keduanya.
"Darren akan menikah!" seru Felix.
"Ya. Dia hanya gugup karena menikah dengan perempuan yang sangat manja dan sangat dibencinya sebentar lagi." Ucap Makiel.
Mulut Alarick terbuka setengah. Ia menatap Darren dengan tatapan tidak percaya. "Apa kau waras? Kau kerasukan atau diguna-guna? Sejak kapan kau mau membina komitmen serius seperti itu?" tanya Alarick beruntun.
"Tidak begitu. Dia hamil." Kata Felix.
Mulut Alarick terbuka lebar. Ia menatap takjub pada Darren. "Dan saat dia mengemis-ngemis di depanmu, kau percaya jika itu adalah anakmu? Man, kau mungkin saja ditipu olehnya."
Makiel mengangguk menyetujui. "Aku sudah mengatakan itu padanya. Mungkin saja itu anak Pria b******k lainnya."
"Anak itu milikku!! Aku! Cuma milikku!! Akulah calon Ayahnya!!!" Darren yang mabuk berseru marah pada Alarick dan Makiel. Tangan Darren kemudian mencengkram kerah jas Alarick. "Aku mungkin diguna-guna oleh Annabelle. Padahal perempuan itu sudah merencanakan pernikahan dengan sahabatnya. Tapi, kenapa aku memutuskan untuk menikahinya??? Aku bahkan mengancam padanya jika dia tidak mau menikah denganku! Aku diguna-guna, bukan?"
Alarick menggelengkan kepalanya mantap. "Bukan. Kau jelas-jelas kesurupan." Katanya dan Darren langsung melepaskan tangannya dari Alarick.
"Jadi, bukan dia yang mengemis-ngemis meminta dinikahi olehmu? Dan, siapa tadi namanya? Annabelle? Namanya bahkan terdengar menyeramkan di telingaku, kawan!" Ujar Makiel.
Felix segera menampar wajah Makiel agar sadar. "Itu karena namanya pernah digunakan untuk film horror!" serunya lalu menatap Darren. "Kau yakin itu bayimu? Kenapa kau yakin sekali, huh?"
Darren mendengus dan meminum alkohol kembali. "Dia masih perawan saat kutiduri." Katanya.
Alarick mengernyit. "Pasti sangat sempit."
"Sangat nikmat."
"Kau takkan bisa bergerak cepat dan keras saat meniduri perawan."
"Tapi sangat nikmat."
"Terdengar menjijkan saat penisku bersatu dengan darah perawan."
"Kudoakan kau meniduri perawan di masa depan."
"Tentu saja tidak mungkin."
"Sudah! Sudah!" Seru Felix menghentikan kegiatan teman-temannya. "Kenapa kalian jadi membahas perawan? Kau, Alarick, bukankah sekretasrismu masih perawan?"
"Tidak. Tidak mungkin. Dia hanya jual mahal padaku." Jawab Alarick, lalu mendesis. "Damn, aku jadi teringat kejadian tadi di mobil. Aku menginginkannya. Benar-benar ingin menidurinya dengan keras."
"Apakah senikmat itu hingga kau ketagihan? Boleh aku mencobanya?" tanya Makiel dengan antusias.
Alarick langsung menatap tajam. "Tidak boleh. Jangan berani-berani menyentuhnya."
Felix berdecak. "Kau pelit sekali. Selama 2 tahun dia bekerja padamu, kau tidak pernah mengenalkannya pada kami secara resmi."
"Kalian berengsek. Jelmaan Iblis. Aku tak ingin dia bertemu orang semacam kalian."
"Berkacalah!"
Lalu setelahnya mereka mengatakan hal-hal yang tidak penting sampai saat Alarick berdecak kesal, dan meminum alkohol dari gelas Darren yang dia rebut. "Aku tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya pada kalian. Tetapi, memang benar jika aku tidak ingin dia bertemu dengan jelmaan iblis seperti kalian!"
Dan pembicaraan pun terus berlanjut dan Darren tidak pernah tertarik dalam pembicaraan kawan-kawannya. Pikirannya hanya pada Annabelle dan pada kejantanannya yang sempat berdiri saat ia dan Annabelle berciuman dengan Annabelle yang ada di pangkuannya.
TBC