DOR DOR DOR
Bukan. Itu bukan suara tembakan, melainkan suara pintu yang digedor dengan sekuat tenaga hingga membangunkan Annabelle yang tadinya tertidur lelap nan tenang. Annabelle bangun dan duduk di kasurnya dengan setengah sadar. Dia menggaruk belakang kepalanya sambil menggumamkan gerutuan tidak jelas.
DOR DOR DOR
Gedorannya semakin brutal. Annabelle menggeram kesal. Ia menatap pada jam dindingnya sambil mengucek mata. "Jam 2 malam?? Siapa tamu kurang ajar yang berani-beraninya mengganggu tidurku???" kesal Annabelle.
Annabelle kemudian berdiri sambil menghentak kesal saat melangkahkan kakinya ke depan pintu. Annabelle menyalakan interkomnya dan melihat postur tubuh laki-laki yang sedang menunduk itu membuat Annabelle sangat mengenal siapa yang bertamu dengan tidak sopannya itu. Annabelle segera bergeser ke pintu dan membukanya lebar. Darren di depannya masih saja menunduk dengan tangan yang ditopang di kusen pintu.
"Darren! Apa yang kau lakukan malam-malam begini ke rumahku?? Pakai menggedor pintu segala. Tidak lihat jika ada bel di sana??" tunjuk Annabelle pada sisi tembok. Namun Darren hanya diam saja dan tetap pada pose berdirinya. "Darren!!"
Darren mengangkat kepalanya dan tersenyum usil. "Anna..."
Annabelle menutup hidungnya dan menatap Darren tajam. "Kau mabuk???" tanyanya saat merasakan bau alkohol yang menyengat.
Darren mengangkat jari kelingkingnya. "Sedikit. Seperti ini nih. Kecil seperti kecil hehehe," cengirnya dalam mabuknya. Tangannya kemudian berubah menjadi mengepal. "Atau sekecil ini?? Kenapa yang ini terlihat besar?"
Annabelle tertawa gemas dengan tingkah Darren. Dia bersidekap d**a dengan senyum manis. "Jadi, kau mabuk dan pergi ke rumah sewaanku? Untuk apa? Mencariku?"
Darren menggangguk dengan menggemaskan. Dia tersenyum polos. "Aku cari Annaaa...." Serunya senang kemudian tertawa.
Annabelle memiringkan kepalanya dengan senyum lebar yang tercetak di wajahnya. "Untuk apa kau mencariku?"
"Aku tidak mencarimu. Aku mencari Anna."
"Ini Anna, Darren. Kau di hadapan Annabelle sekarang."
"Kau Anna?"
"Ya. Dan aku bertanya apa maksudmu datang ke rumahku."
Darren tersenyum polos. Dia memajukan wajahnya ke Annabelle dan bibirnya dimonyongkan. "Mau cium." Katanya lucu.
Annabelle tertawa. "Aku seharusnya merekam si kulkas ini saat mabuk."
"Mana kulkas?" tanya Darren sambil celingukan mencari di sekitarnya.
"Kau yang kulkas." Kata Annabelle sambil tersenyum.
"Aku tidak berat, Anna. Aku tidak dibuat dari besi. Aku bukan kulkasssss."
"Kau ke sini bersama siapa?"
"Bersama bayangan."
"Aku serius."
"Dengan pria tua yang menggunakan mobil warna kuning."
"Katakan saja kau menggunakan taksi."
"Kenapa aku menggunakan taksi?"
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Entahlah. Aku ingin cium!" seru Darren sambil memeluk Annabelle dan mengecupi bibir pucat Annabelle.
Annabelle tertawa. Dia menjauhkan wajahnya dari Darren dan mencoba mendorong Darren yang malah sibuk menciumi lehernya. "Darren! Kau sangat mabuk!"
Darren tidak mendengarkan. Ia malah mendorong Annabelle agar masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu yang otomatis terkunci.
"Darren!!" seru Annabelle lagi kala Darren malah gencar menciumi leher Annabelle, menjilat, dan bahkan menghisap kulit leher Annabelle hingga memerah. "Dar—"
Darren segera membungkam bibir Annabelle dan melumat bibirnya dengan ganas. Annabelle mencoba meronta kala merasakan mulut Darren yang berbau alkohol malah membuatnya mual. Darren menahan tengkuk Annabelle dan satu tangannya mencengkram rambut Annabelle, mendongakan kepala Annabelle dengan paksa agar ciuman mereka makin ganas. Darren memasukkan lidahnya ke dalam mulut Annabelle dan mengeksplor mulut Annabelle dengan lidahnya. Darren menjilati deretan gigi Annabelle dan menggelitik bibir bagian atas Annabelle dengan lidahnya. Darren menghisap mulut Annabelle dan menelan saliva yang sudah bercampur itu.
Annabelle gemetar dengan kebuasan Darren dan mata yang menggelap itu. "Darren... Kau membuatku takut."
"Anna... Aku menginginkanmu."
Annabelle segera mundur menjauhi Darren. Kepalanya menggeleng kuat. "Tidak Darren! Kau mabuk! Sadarlah!!"
"Aku. Tidak. Mabuk," tekan Darren sambil melangkah mendekati Annabelle. Segera, Annabelle berbalik untuk kabur dan Darren dengan cepat memeluk tubuhnya dari belakang dan membanting Annabelle ke ranjang yang tidak jauh dari sana.
"Tidak, Darren!! Lepas!!" teriak Anna ketika Darren malah mencengkram tangannya dengan kuat. Annabelle memukuli tubuh Darren dan memberontak sekuat tenaga. Dia sangat ketakutan sekarang.
Darren mengabaikan. Dia menekan paha Annabelle dengan lututnya.
"Aahhh!!! Sakit!!" teriak Annabelle kuat.
Tanpa mempedulikan teriakan kesakitan Annabelle, Darren dengan gencar merobek seluruh pakaian Annabelle hingga tidak menyisakan apapun. Tubuh Annabelle yang polos membuat Darren menyeringai senang. Matanya makin menggelap. Tangan Darren meremas p******a Annabelle dengan kuat seolah mencengkram.
Annabelle menggeliat dan mencoba melepaskan tangan Darren. "Ini sakit!! Akh!"
"Diam, Anna..." Geram Darren. Dia membungkuk di atas Annabelle dan menghisap kuat p******a Annabelle yang sebelahnya. Teriakan Annabelle sudah tidak karuan. Dia memukuli bahu Darren dan menjambak rambut Darren agar melepaskan payudaranya.
"Sakit Darren!! Lepas!!!"
PLAK!!
"DIAM ANNA!!! DIAM!!"
Suara tamparan menggema memenuhi seisi kamar. Kepala Annabelle terpental ke samping saat tangan besar itu menampar kuat wajahnya. Rasa asin dan besi terasa di dalam mulutnya menunjukkan jika pipi dalamnya terluka. Tangis Annabelle luruh seketika. Tubuhnya makin gemetar ketakutan.
"Kau selalu saja menolakku." Kata Darren sambil bangun dari tubuh Annabelle. Dalam sekali sentakan, Darren membalikkan tubuh Annabelle hingga terlengkup di atas kasur. "Dengan lancangnya, akan menikahi pria lain padahal di dalam rahimmu adalah anakku."
Darren membuka celana dalam Annabelle, membuat Annabelle mencengkram seprai kasurnya dengan kuat. Suara gesper yang dibuka dan jatuh ke lantai membuat Annabelle memejamkan matanya dengan erat. Tangis tak kunjung terhenti mengalir dari matanya.
"Kau pikir, aku akan melepaskanmu begitu saja? Tidak akan pernah! Sampai mati pun, aku takkan membiarkanmu membawa pergi bayiku!"
Jleb!!
"AHHHKH!!" jerit Annabelle kuat. Tangannya mencengkram kasurnya sekuat tenaga untuk menyalurkan rasa sakitnya. Pinggangnya menggeliat dan mencoba maju agar melepaskan benda yang memasuki lubangnya yang masih kering itu. Tangisnya menguat, histeris tak terbendung.
Darren malah tertawa dan mencengkram erat pinggang Annabelle. "Kau selalu begitu. Menolakku, namun mendesah kuat saat kusetubuhi. Seperti sekarang."
"Darren... Sakit..." Lirih Annabelle dalam tangisnya. Seluruh tubuhnya seolah merasakan sakit bahkan dengan hatinya juga.
Darren kembali tertawa. "Jangan berpura-pura lagi, Anna. Mendesahlah..." Ujarnya serak dan menghentakan dirinya di dalam Annabelle dengan kuat.
Annabelle terus menangis sedangkan Darren menikmati kenikmatannya sendirian diiringi tangisan Annabelle yang dia kira adalah tangisan kenikmatan.
Entah Annabelle harus mengerti atau tidak dengan mabuknya Darren yang membuatnya tidak sadarkan diri.
∞ ∞ ∞
Darren terbangun dari tidurnya. Dia duduk di atas kasur sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia menggeram dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat rasa pusing menghampirinya sesaat. Darren kemudian menghela napasnya dan menatap sekelilingnya dengan heran.
"Aku ada di mana?" tanya Darren bingung. Darren kembali meneliti sekitarnya. Dan ketika melihat darah di atas kasur dan baju robek yang berserakan di lantai, ingatan semalam menghampiri dirinya.
Darren melotot. Dia segera turun dari kasur dan menghampiri pintu apartemen dengan matanya yang mencari-cari keberadaan Annabelle.
"Apa dia pergi?" tanya Darren gusar. Dia menghela napas panjang dan mencengkram rambutnya kuat dan memukuli kepalanya sendiri. "Bodoh! Bodoh! Bagaimana bisa kau hilang kendali???"
Darren terus memukuli dirinya sendiri. Dia kemudian kembali ke kamar dan memakai celananya dengan cepat. Tangannya meraba-raba sekitaran saku celananya untuk mencari ponsel. Ketika mendapatkannya, Darren segera menghubungi nomor asistennya dan menempelkan ponselnya ke telinga.
Darren berjalan tergesa ke arah pintu. "Halo? Tom, aku minta bantuanmu untuk melihat cctv apartemen Annabelle dari jam—"
Ucapan Darren terpotong ketika ia membuka pintu dan menemukan orang yang dicarinya sedari tadi, kini ada di depannya. "Anna..." Panggil Darren pelan.
"Kau sudah bangun?" tanya Annabelle santai sambil masuk ke dalam, melewati Darren dengan wajah tertunduk tak mau menatap Darren. Dia menghampiri meja yang berada di tengah ruangan dan menyimpan barang bawaannya di atas meja. "Kau duduk dulu. Aku baru saja membeli sereal untuk sarapan. Bahan masakanku habis."
Darren mematung di tempatnya. Menggigit bibir bawahnya kuat dan lamat-lamat mendekati Annabelle yang masih membelakanginya. "Anna, kemarin... Malam itu... Tadi malam... Aku mabuk." Katanya.
Darren merutuki dirinya sendiri karena ucapannya. Kenapa kau tidak meminta maaf saja langsung, bodoh??? Umpat batinnya.
Annabelle berbalik menghadap Darren. Dia mendongak dan tersenyum. "Ya. Aku tahu kau tidak sadar," katanya, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk di sana.
Darren terdiam, merasakan denyut kesakitan kala melihat mata itu tidak ada emosi. Tidak ada binar. Hanya ada kekosongan.
Darren telah menyakiti Annabelle.
Tapi kenapa Annabelle tidak marah? Kenapa Annabelle tidak mencaci maki Darren saja seperti biasanya? Atau mendebat tentang perasaannya yang sakit hati pada Darren. Kenapa Annabelle biasa-biasa saja menanggapinya?
Tangan Darren mengepal, marah pada dirinya sendiri karena membuatnya kehilangan Annabelle yang dia kenal. "Kau tidak marah?" tanyanya.
Annabelle sudah kembali ke meja makan dan menyimpan mangkuk di atas meja. "Kenapa aku harus marah, Darren? Kau mabuk semalam."
Napas Darren memburu menahan kekesalannya. Dia menghampiri Annabelle dan mencengkram kedua tangan Annabelle kuat hingga tubuh Annabelle tersentak membentur d**a Darren. "Kenapa??? Kau tanya kenapa??? Sudah sepantasnya kau marah!!! Sudah sepantasnya kau memakiku! Aku sudah menamparmu! Menyetubuhimu berkali-kali dan tidak manusiawi!! Pukul aku, Anna!!! Aku pantas untuk dipukul!!!" teriaknya.
Annabelle memejamkan matanya dengan kuat. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dan sedetik kemudian air matanya luruh menuruni pipinya. "Maafkan aku..." Isak Annabelle.
Darren tersentak. Dia melepaskan tangannya dan mundur 3 langkah menjauhi Annabelle.
Annabelle memeluk dirinya sendiri. Terlihat sekali jika Annabelle merasa tertekan. "Aku hanya berpikir rasional. Ya, kau menyakitiku. Tapi kau mabuk. Kau tidak sadar. Kau tidak sadar, Darren... Maafkan aku... Aku takkan menolakmu lagi. Aku... Aku akan mengikuti semua keinginanmu. Maafkan aku... Maaf..."
Darren tersentak kembali. Dia menatap Annabelle lamat-lamat dan mengacak rambutnya sendiri, merutuki sikapnya yang malah membuat Annabelle takut padanya. Darren mendekati Annabelle dan memeluk tubuh gemetar itu dengan erat. Memejamkan matanya saat merasakan ngilu menghampiri d**a.
"Kenapa kau yang meminta maaf, Anna? Seharusnya aku... Aku yang meminta ampun."
Annabelle hanya menangis dengan sesegukan di pelukan Darren. Sungguh, melihat Darren membuat Annabelle langsung mengingat apa yang dilakukan pria itu semalam. Sungguh kejam dan membuat Annabelle trauma.
Apakah Annabelle harus tetap menikah dengan Darren? Pria yang bahkan sudah berani main tangan padanya.