Cold 7 : Maaf

2052 Words
"Alex..." Annabelle memanggil lirih. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat melihat lagi tatapan tidak percaya yang dilayangkan dari sahabatnya itu. "Aku minta maaf..." Lanjutnya lirih. Alex menggeleng dengan senyum sinis. "Kau mengecewakanku, Anna." Annabelle menundukan kepalanya dalam. "Maaf..." "Kita sudah sejauh ini. Seharusnya, hari ini kita memilih desain undangan." "Maaf..." "Kau menggampangkan segalanya." "Maaf..." "Apa yang salah dariku hingga kau lebih memilih Darren di saat kita sudah sejauh ini? Uang?" "Jaga bicaramu, tuan Alex." Ucap Darren yang sedari tadi hanya diam menonton seolah sedang disuguhi film telenovela. Saat ini, mereka sedang berada di sebuah kafe yang Annabelle janjikan untuk bertemu dengan Alex. Darren yang juga ikut mengantar dan menjanjikan akan membantu Annabelle untuk berbicara dengan Alex malah diam dan tidak membantu Annabelle sama sekali. Annabelle dibuat geram dengan kelakuan si Dingin Darren. "Mungkin iya. Karena dia kaya, Alex." Jawab Annabelle kemudian. Alex menatap Annabelle tidak percaya. "Aku bisa membiayaimu, Anna. Memang pekerjaanku tidak memiliki milyaran gaji namun aku sungguh dapat memenuhi kebutuhanmu dan bayimu." "Ya. Tapi itu tak adil untukmu," kata Annabelle sedih. "Bayi dalam kandunganku bukanlah anakmu. Dan aku tidak mau kau memegang tanggung jawab yang seharusnya memang digenggam oleh Darren. Aku tak mau membebanimu, Alex." "Anna, kau sama sekali bukan beban." "Ya, sekarang. Tapi nanti? Sebulan setelahnya? Sampai 9 bulan setelahnya? Berapa uang yang sudah kau sia-siakan untuk memenuhi kebutuhanku?" "Anna..." "Ini pilihanku, Lex. Lebih baik menikah dengan orang yang kubenci namun merupakan ayah dari anakku daripada menikahi sahabat yang kusayangi namun menghilangkan masa depanmu karena menghabiskan waktu bersamaku. Maafkan aku yang sebelumnya memintamu untuk menikahiku." "Anna... Kau berucap omong kosong." "Terserah. Hanya maafkan aku karena aku sudah bulat dengan keputusanku." Alex diam. Dia menatap Annabelle lalu menatap Darren dengan geram. "Kau tidak diancam olehnya, bukan?" Annabelle menegang, sementara Darren memelototi Alex dengan tidak terima. "Hey! Jaga mulut sialanmu itu!" "Apa aku salah? Kau kemarin membawa Annabelle pergi. Ada kemungkinan kau mengancamnya agar tidak menikah denganku." "Sialan!!" seru Darren sambil menggebrak meja dengan kuat. Dia akan menerjang Alex jika saja Annabelle tidak memegangi tangannya. "Darren!" seru Annabelle ketakutan. Dia menatap Alex kemudian. "Sekali lagi, aku minta maaf tidak bisa menikah denganmu, Lex. Kuharap kau tidak marah padaku dan masih mau menjadi sahabatku." Katanya lirih. "Anna..." Panggil Alex namun tidak didengar oleh Annabelle. Annabelle hanya berdiri dan meninggalkan Alex sambil menarik Darren yang masih betah memelototi Alex. "Kau harusnya membiarkanku memukulnya." Kata Darren dengan geraman kesal ketika mereka sudah berada di luar. "Dia berkata jujur, Darren." Ucap Annabelle pelan tanpa mau menatap Darren. Jujur, ketakutan Annabelle masih ada terhadap Darren. Annabelle takut jika Darren bisa saja berbuat seperti semalam walaupun dalam keadaan sadar. Darren pun menyadari ketakutan Annabelle. Dia menghentikan langkah Annabelle dan membalikan badan Annabelle agar menghadap ke arahnya. Namun Annabelle menundukkan kepala, membuat Darren menghela napas panjang. Pelan, Darren menyentuh dagu Annabelle dengan jari telunjuknya. Dia mengarahkan kepala Annabelle ke atas agar menghadap ke arahnya. Namun Annabelle malah mengalihkan pandangan ke mana pun selain Darren. Itu membuat Darren menghela napas beratnya. Sialan. Minuman sialan. Aku takkan menyentuhmu lagi. Gerutu batin Darren. "Anna... Kau masih marah padaku?" Annabelle menggeleng cepat. Darren memajukan wajahnya. Dia mengecup pipi Annabelle penuh perasaan. Namun yang didapatkannya bukan wajah merona Annabelle melainkan tubuh yang gemetar ketakutan. Melihatnya, Darren menghela napas. "Malam ini, kita bertemu orangtuaku. Bersiaplah." Bisiknya. Dan tubuh Annabelle makin gemetar mendengar bisikan Darren yang malah menyerupai perintah di telinga Annabelle. *** Darren sudah tiba di kantornya. Dia berjengit terkejut kala melihat tamu tidak diundang berada di dalam kantornya. Sedang duduk sambil bermain catur berdua dengan salah satu karyawannya yang berada di sisi Makiel dengan raut wajah centil. Darren menghela napas panjang. "Laura." Panggilnya. Makiel maupun Felix saling tatap. "Siapa Laura?" Tanya Makiel bingung. Darren mengedikan dagunya ke arah wanita yang duduk di samping Makiel, menunjukkan jika yang dipanggilnya Laura tak lain adalah wanita itu. Makiel mengerjap dan menatap wanita itu sekilas. "Laudia, maksudmu?" Darren mendelik. "Iya, Lau-something. Aku lupa namanya." "Ya ampun, Bungsu, kau melupakan karyawan yang merupakan sekretarismu? Dia ke mana-mana denganmu, dude!" "Benarkah? Apa itu sebuah bencana?" "Ya! Bencana karena kau yang paling muda tapi kau yang paling pikun!" "Tidak penting. Lau, pergilah dari sini jika kau tidak ingin kupecat." Horor, Laudia segera berdiri dan pergi dari sisi Makiel. Wanita itu menunduk sekali pada Darren, lalu pergi dari sana. Darren menghela napas lelah. Dia beralih duduk di kursi kebesarannya dan menatap teman-temannya penuh minat. "Jadi, bisa dijelaskan kenapa kalian ke sini?" Felix mengedikan bahunya acuh. "Makiel bilang dia ingin meniduri sekretarismu. Dia mengajakku untuk threesome." "Hey!! Aku tidak mengajak threesome tapi foursome." "Kau benar-benar tidak waras, Makiel," Darren menggeleng lelah. "Aku mana mau diajak berempat. Dan lagi, aku tak pernah meniduri karyawanku sendiri." "Dan meniduri wanita manapun. Kau tahu, Darren? Aku dan Felix pernah menganggapmu seorang gay jika saja kau tidak meniduri Boneka Setan itu." "Kukira, Annabelle adalah Boneka Iblis, Kiel." Jawab Felix. Makiel menggeram ksal. "Mana kutahu! Aku tidak pernah nonton film manapun yang tidak ada adegan seksnya." "Bohong. Kau pasti takut pada film horror." "Tidak. Memangnya ada yang lebih menyeramkan daripada wajahmu?" "Kau!! Akulah yang paling tampan di antara kalian semua!!" "Ya. Tapi umurmu yang paling menyeramkan di antara kami semua." "Kau!!!" "Apa hah?? Apa?? Aku hanya mengungkapkan fakta jika kau tua! Tua! Tua! Tua!" Felix menggeram. Segera, dia menerjang Makiel dan mencekik lehernya sambil menggoyangkannya dengan brutal. Tidak terima dikatai tua walaupun itu adalah fakta. Darren menggelengkan kepalanya dengan lelah. Dia menekan interkom yang terhubung pada penjaga kantornya. "Penjaga, di ruanganku ada keributan. Usir mereka dengan segera." Makiel dan Felix menghentikan pertengkarannya dan menatap Darren tidak percaya. "Kau sungguh memanggil pengawalmu yang berbadan besar itu ke sini???" Pekik Makiel panik. Darren mengedikan bahunya acuh. "Tujuan kalian ke sini adalah meniduri karyawanku. Dan aku tidak terima. Jadi, silahkan keluar, tuan-tuan." "Darren, tapi-" "Sir." Pintu dibuka, dan para penjaga sudah berada di sana. Makiel melotot. "Mereka datang!! Sembunyi di belakang Darren!! Ayo Felix!" Darren mengibaskan tangannya pada penjaga itu, isyarat bahwa mereka harus mengusir tikus yang merupakan kawannya sendiri. Felix dan Makiel akhirnya ditendang dari kantor perusahaan milik sahabatnya sendiri. Mereka mengumpat dan menyumpahi Darren sambil berteriak-teriak membuat keributan. Mereka menjadi tontonan namun Makiel menanggapinya dengan mengedipkan mata pada beberapa wanita. Bahkan, penjaga yang menendangnya pun diberi kedipan sebelah mata oleh Makiel. Sedangkan Darren hanya menggeleng sambil menghela napas panjang di dalam ruangannya. Sungguh, Darren benar-benar tidak pernah menganggap mereka teman. Hanya saja, mereka yang selalu mengejarnya ke mana pun. Jika saja dulu Darren tidak memiliki tujuan saat bergabung dengan The Devils, Darren mungkin takkan terjebak dalam persahabatan antara orang-orang gila itu. Kringg kringg Darren segera mengangkat panggilan masuk dari ponselnya yang merupakan panggilan dari ibunya. "Ya, mom?" Tanya Darren. "Kau jadi pulang untuk makan malam, kan, hari ini?" "Aku sudah bilang akan menemuimu. Ada yang harus aku obrolkan pada kalian." "Baguslah! Mom tunggu ya sayang. Ada seseorang yang akan mom kenalkan padamu." Kata ibunya, Raline, yang langsung menutup sambungan telfon. Entah untuk ke berapa kalinya, Darren menggelengkan kepalanya. Dia menyimpan ponselnya dan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. *** "Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Annabelle pada dirinya sendiri sambil melihat pantulan dirinya di cermin. Satu yang terlihat dari dirinya saat ini: seorang putri kerajaan. 3 jam yang lalu, Annabelle dijemput oleh orang suruhan Darren di rumah sakit. Mereka meminta Annabelle untuk ikut dan setelahnya Annabelle malah diminta untuk ke sebuah salon. Rambutnya dihias sedemikian rupa dengan sedikit polesan warna pirang di bawahnya. Dia juga menggunakan gaun yang sangat indah dan high heels yang terlihat mewah. Sebuah kalung menghiasi lehernya dan sepasang anting di telinganya. Annabelle terlihat sangat elegan. "Ekhem." Suara dehaman itu membuat Annabelle berbalik dan menemukan Darren di ambang pintu sedang besidekap d**a menatanya. "Kau sudah siap?" Tanya Darren sambil melihat Annabelle dari atas sampai bawah. Annabelle tersenyum dan mengangguk cepat. "Siap." Darren mengangkat kedua alisnya seklias sambil mengangguk. "Baiklah, kita pergi." "Tunggu," panggil Annabelle sambil memperhatikan Darren. "Kau hanya akan berpakaian seperti itu?" Darren mengerjap sekilas. "Ya. Apa aku harus memakai gaun juga?" Annabelle menggigit bibir bawahnya dengan gugup. "Tidak. Maksudku, aku kan menggunakan gaun tapi kau hanya menggunakan kaos dan jaket kulit seperti itu. Kupikir, kau akan menggunakan tuxedo atau semacamnya." Darren mendengus geli. "Aku menemui orangtuaku. Wajar jika aku memakai pakaian santai. Dan kau, kau adalah orang asing. Gaun itu harus kau bayar dengan tidak mempermalukan diriku di hadapan orangtuaku." Annabelle mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Tidak perlu begitu juga kali. Siapa juga yang mau mempermakukanmu?" "Sikapmu yang kekanakan itu membuat orang malu. Bahkan Alex saja malu mengakuimu sahabat." Annabelle melotot. "Siapa bilang??? Alex tidak pernah-" "Kau yang tidak pernah melihat saat dia menutup wajahnya sendiri ketika kau bertingkah konyol." "Hey!!! Aku memang agak tomboy, tapi aku tidak pernah mempermalukan Alex seperti yang kau bilang!!" "Ya. Ya. Katakan pada seseorang yang menyombongkan gaun yang hanya seharga tas channel." "Hanya??? Kau bilang hanya???" "Itu hanya 1 persen uang yang masuk ke rekeningku." "Lihat siapa yang kekanakan sekarang!! Dasar tukang pamer!!" "Aku pamer karena ada yang bisa kupamerkan." Annabelle seketika cemberut. "Orang kaya selalu sombong." Darren mengangkat sebelah alisnya. Sebuah senyum miring ia sunggingkan. "Sedari dulu hingga sekarang, kau berpikir seperti itu. Bahkan, saat awal kita bertemu, kau mengatakan hal yang sama. Apa kau pernah memiliki masalah dengan orang kaya?" Ucapnya. Annabelle menatap dingin. Dia melangkah meninggalkan Darren sambil berucap. "Bukan urusanmu." *** Mobil Darren terparkir di sebuah halaman mansion yang tampak seperti istana di mata Annabelle. Dia menatap tak lepas pada bangunan tersebut. Hatinya bergemuruh hebat. Sebuah rasa minder kali ini datang dalam diri Annabelle. Dia menelan ludah dengan susah payah sambil menghela napas panjang. Dengan tangan bergetar, Annabelle mencengkram ujung gaunnya. Dia menghela napas panjang. "Kau bisa, Anna." "Ayo turun." Kata Darren sambil membuka sabuk pengaman dan turun dari mobilnya. Annabelle menyusul. Dia berjalan menunduk di belakang Darren. Mereka menghampiri pintu yang sudah terbuka dan masuk ke dalam sana. Di sana, sudah ada orangtua Darren dan juga salah satu wanita yang tak dikenal sedang duduk bersama, berhadapan di sebuah meja besar dan panjang yang bahkan membuat penghuninya terlihat kecil. Darren berdiri tepat di hadapan orangtuanya. "Mom, dad." Sapa Darren dingin. Ayahnya Darren, Bastien hanya melongos sambil minum air yang berada di pegangannya sedangkan Ibunda Darren, Raline berdiri sambil menghampiri Darren dan memeluk anaknya dengan senang. Raline menangkup pipi Darren dan mengecupnya sekilas. "Halo sayang? Sudah lama kau tidak datang ke sini. Ayo duduk, mom akan mengenalkan seseorang padamu." Darren menggeleng tegas. "Ada seseorang yang ingin kukenalkan pada Mom dan Dad." Raline mengerjakan matanya heran. "Siapa?" Darren berbalik, menatap Annabelle yang menunduk takut di belakangnya. "Dia Anna, calon istriku." Raline terkejut. Dia mundur beberapa langkah sambil menatap Annabelle yang terlihat ketakutan. "Kau bercanda??? Mom akan menjodohkanmu dengan anak menteri kerajaan, Darren." "Oh ya? Bagus sekali. Tapi mom terlambat. Anna mengandung anakku." Annabelle mengangkat wajahnya dengan terkejut. Sungguh, tidak bisakah Darren mengatakannya baik-baik dan tidak sesantai itu?? Raut terkejut makin jelas di wajah Raline. Dia terlihat pucat pasi. Sedangkan ayah Darren segera berdiri dan mendengus sinis. "Kau memang tidak pernah berguna, Darren." Ayah Darren kemudian pergi dari sana seolah tidak ingin lagi peduli dengan masalah yang menyangkut anaknya. Raline menatap Annabelle dengan marah. "Jalang. Kau menggoda anakku bukan? Mengatakan padanya jika kau hamil dan ingin menjadi bagian dari keluargaku???" Darren diam. Tidak membela Annabelle sama sekali. Sedangkan Annabelle menggigit bibir bawahnya kuat. "Tidak seperti itu. Hanya saja, aku sudah menyembunyikan kehamilanku dari anakmu, tapi-" "Munafik!!" Teriak Raline dengan tatapan tajamnya. "Berapa yang kau inginkan dari anakku??? Hah??? Aku akan memberikan segalanya padamu jika kau ingin pergi dari sisi puteraku!" "Dramatis sekali," decih Darren sambil mendengus. "Aku ke sini tidak meminta restu kalian. Aku hanya mengatakannya saja agar kalian tidak kaget. Dengan atau tanpa izin kalian, aku akan menikahinya sesegera mungkin." "Apa??!" "Ayo pergi," kata Darren sambil mengamit tangan Annabelle. Annabelle menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi Darren-" "Ayo. Pergi." Tekan Darren yang hanya dapat membuat Annabelle menghela napas panjang. Annabelle menatap Raline dengan tatapan bersalah. "Maaf... Aku maupun Darren tidak menginginkan hal ini, nyonya." "Anna!" Seru Darren sambil menyeret Annabelle agar keluar dari sana. Raline mendecih sinis. "Murahan. Kau pikir aku percaya?" Annabelle menggeleng sambil masih diseret Darren susah payah. "Malam itu adalah sebuah kesalahan. Kami-" "p*****r!! ANAK RENDAHAN SEPERTIMU TIDAK SEHARUSNYA MENIKAHI ANAKKU!!" Annabelle tertegun. Tubuhnya melemas dan Darren kali ini membawanya keluar dengan mudah. Air mata Annabelle tak dapat dibendung. Dia membiarkan dirinya menangis di hadapan Darren. Anak rendahan. Haruskah Annabelle mendengar perkataan itu lagi sekarang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD