Angger merasa kesal karena diusir oleh Ardhito kemarin, tetapi hal itu tak lantas membuat cintanya pudar. Justru penolakan Ardhito membuat semangat Angger dalam mendapatkan hati pria itu terpacu, ia tidak akan menyerah sebelum benar-benar mendapatkan Ardhito. Namun, Angger bingung, bagaimana caranya ia mendekati Ardhito sedangkan tiap ia ke sana pria itu pasti akan mengusirnya? Angger seakan sudah hilang ide karena memang jika Ardhito tidak mau menemuinya maka sangat kecil kemungkinan membuat pria itu jatuh cinta padanya. Sebenarnya Angger agak heran dengan Ardhito yang tiba-tiba merubah sikapnya, tak seperti saat di awal di mana Ardhito menyelamatkannya. Pria itu begitu lembut dan ramah, berbeda dengan saat ini. Pria itu cenderung dingin dan juga ketus, tetapi hal itu malah justru membuat seorang Angger semakin penasaran.
Sedari tadi Angger berjalan mondar-mandir menyusuri kamarnya, memikirkan sebuah cara apalagi yang bisa membuatnya bertemu dengan Ardhito. Inginnya Angger ia bisa bertemu Ardhito saat pria itu sedang tidak ada jam kerja, maksudnya ia ingin bisa bertemu Ardhito di luar rumah sakit. Namun, sepertinya takdir selalu tak berpihak padanya karena kerap kali harapannya itu tak menjadi kenyataan. Hingga tiba-tiba saja, tatapan Angger mengarah pada sebuah jas berwarna putih yang merupakan milik Ardhito. Wanita itu berjalan menuju jas itu, kemudian mengambil jas itu dan memperhatikannya cukup lama. Tiba-tiba ia tersenyum seakan baru saja mendapatkan sesuatu yang begitu indah.
"Dengan adanya jas ini, sepertinya aku bisa bertemu lagi dengan dokter tampan itu," gumam Angger merasa kalau saat ini keberuntungan sedang berpihak padanya.
"Tunggu aku, Dokter, kita akan segera bertemu lagi." Angger tersenyum penuh kemenangan.
Wanita itu menaruh kembali jasnya kemudian pergi menuju kamar mandi, ia akan bersiap-siap menuju rumah sakit. Setelah siap, Angger langsung meminta sopir mengantarnya menuju rumah sakit. Saat berada di rumah sakit, ia langsung berjalan menuju ruangan Ardhito, tetapi saat berada di sana begitu sepi dan tidak ada orang satu pun. Tempat yang biasanya ramai dengan pasien mendadak sepi tak berpengunjung, hal itu jelas saja membuat Angger keheranan. Saat melihat seorang suster yang lewat, Angger langsung memanggil nama suster itu.
"Sus, tunggu sebentar. Saya ingin bertanya," ujar Angger.
"Iya, ada apa ya, Mbak?" tanya suster itu.
"Ruang praktek Dokter Ardhito kok sepi? Biasanya ramai seperti hari-hari kemarin. Kira-kira ada apa ya, Sus?" tanya Angger.
"Oh, hari ini Dokter Ardhito memang libur, Bu. Waktu prakteknya Dokter hanya di hari senin sampai jumat," jawab suster.
"Oh jadi begitu." Angger mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya, Sus, kira-kira alamat rumahnya Dokter Ardhito di mana ya?" tanya Angger.
"Untuk apa Mbak nanya alamiahnya Dokter Ardhito?" tanya balik suster itu curiga.
"Saya cuma mau balikin sneli milik Dokter Ardhito aja, Sus," jawab Angger sambil memperlihatkan sneli yang ia bawa.
"Itu yakin milik Dokter Ardhito?"
"Iya, ini kebetulan ada namanya loh, Sus." Angger menunjukkan sebuah bordiran nama di sneli itu.
"Kalau begitu kenapa snelinya tidak dititipkan saja pada salah satu pegawai di sini? Mungkin dengan asisten Dokter Ardhito, kebetulan dia ada." Kalau ia menitipkan sneli itu, bisa gagal rencananya bertemu dengan Ardhito.
"Eum, ada yang mau saya bahas dengan Dokter Ardhito dan ini agak privasi. Kebetulan saya mengenalnya," ucap Angger.
"Kalau begitu kenapa Mbak nggak chat atau telepon langsung ke nomornya Dokter Ardhito?" Angger langsung gugup, masalahnya kalau ia menelepon pria itu, tidak mungkin bisa karena Ardhito pasti akan menutup langsung teleponnya begitu pria itu kalau dia yang menelepon. Alih-alih mendapatkan alamat pria itu, yang ada dirinya malah tak mendapat apa-apa.
"Masalahnya saya nggak bawa hape, Sus," jawab Angger berbohong.
"Kalau begitu mungkin Mbak mau pinjem hape saya untuk menghubungi Dokter Ardhito?" tawar suster itu sambil mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya.
"Ah, nggak usah, Sus. Saya minta alamatnya langsung aja boleh?"
"Mohon maaf, Mbak, saya nggak bisa memberikan alamat Dokter Ardhito. Kalau Mbak mau alamatnya, Mbak benar-benar harus menghubungi Dokter Ardhito dulu. Karena beliau sempat berpesan kalau kamu tidak boleh memberikan alamatnya ke sembarang orang," ujar suster itu.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya mohon pamit undur diri dulu. Ada pekerjaan yang harus saya urus, mari ...." Suster itu akhirnya pergi dari hadapan Angger.
"Hiss, nyebelin banget sih! Mau dapat alamat dokter itu aja susah banget!" gerutu Angger.
"Kalau gitu caranya aku harus nunggu selama dua hari lagi karena ini masih hari sabtu٫" ujar Angger kemudian memutuskan pergi dari rumah sakit itu karena untuk apalagi ia berlama-lama berada di sana jika tidak ada Ardhito?
"Pak, ke kafe dulu ya sebelum pulang," ucap Angger pada sopirnya.
"Baik, Non." Tak lama kemudian, mobil yang Angger tumpangi akhirnya tiba juga di depan sebuah kafe yang sering Angger kunjungi.
"Pak Nato langsung pulang aja nggak apa-apa, nanti saya pulang bareng teman saya atau kalau nggak nanti saya telepon Bapak buat jemput," ucap Angger sebelum turun dari mobil.
"Iya, Non."
Angger memasuki kafe itu dan ia baru sadar kalau sedari tadi ia membawa-bawa jas dokter milik Ardhito.
"Ah, ini kebawa lagi. Pak Nato pasti udah pulang nih, biar aja deh sekalian gue bawa. Udah terlanjur juga," ujar Angger.
Saat sudah berada di dalam kafe itu, mata Angger memicing ketika melihat seorang pria yang memakai kemeja berwarna abu-abu. Ia agak familiar dengan wajah pria yang terlihat dari samping itu.
"Dokter Ardhito bukan sih?" tanya Angger pada dirinya sendiri.
Angger yang penasaran pun akhirnya berjalan menghampiri meja di mana ada seseorang yang mirip dengan Ardhito.
"Ternyata emang Dokter, saya pikir tadi bukan." Ardhito yang mendengar suara seorang wanita di sebelahnya pun langsung menoleh, ia terkejut ketika melihat wanita aneh itu berada dekat dengannya.
"Kenapa kamu ada di sini!?" tanya Ardhito terkejut.
"Ini 'kan kafe langganan saya, kebetulan juga saya pengen main ke sini. Nggak nyangka ya saya bisa ketemu sama Dokter, pucuk dicinta ulam pun tiba! Pengen ketemu sama Dokter, nggak tahunya saya beneran ketemu sama Dokter di sini. Ah, saya senang banget!" ucap Angger antusias. Ardhito hanya menatap Angger datar, layaknya Angger adalah wanita aneh.
"Gesti!" teriak sebuah suara membuat Angger langsung menoleh.
"Saya nyamperin teman saya dulu ya, Dok, dokter jangan kangen.sama saya. Nanti saya ke sini lagi, bye, Dokter!" Angger melambaikan tangannya ke arah Ardhito kemudian menghampiri temannya.
"Gue telat nggak sih?" tanya teman Angger yang bernama Davika.
"Nggak, gue aja baru sampai kok. Yuk kita cari tempat," jawab Angger kemudian menggandeng tangan Davika dan mengajak temannya itu duduk di sebuah tempat yang masih kosong.
"Oh iya, lo tadi tuh ngobrol sama siapa?" tanya Davika saat keduanya sudah duduk saling berhadapan.
"Dokter yang ngobatin gue waktu gue kecelakaan, sekaligus gebetan gue," jawab Angger.
"Hah!? Lo udah punya gebetan lagi!?" Davika terkejut.
"Iya."
"Gíla lo! Perasaan lo baru putus, sekarang udah ada cowok baru lagi ckck." Davika menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Gue harus move on dong, masa iya gue mau mikirin masa lalu terus? Lagian nih ya, gebetan gue yang sekarang lebih ganteng dari dia yang nggak usah lagi disebut namanya." Angger bertopang dagu, wanita itu memperhatikan Ardhito yang walau hanya sedang minum kopi saja terlihat tampan.