10. Berarti Jodoh

2124 Words
"Duh, ganteng banget sih jodoh gue. Jadi pengen bawa pulang, kekepin di kamar biar nggak ada jomblowati lain yang lirik-lirik," gumam Angger berdecak kagum saat melihat Ardhito yang semakin hari semakin tampan. "Lo lihatin apaan sih, Ges?" tanya Davika keheranan saat melihat Angger yang sepertinya sedang melihat sesuatu yang menarik sehingga pusat perhatian gadis itu selalu saja di belakang tubuhnya. "Jodoh masa depan gue lah, masa iya kang becak yang lagi mangkal di depan kafe?" balas Angger dengan mata yang masih tertuju pada Ardhito. "Aduh, tingkah cool-nya itu makin buat dia kelihatan ganteng. Jantung gue nggak kuat ini nahan debaran yang menggebu-gebu ketika melihat pangeran tampan tanpa kuda putih tetapi berkemeja abu itu," ujar Angger lagi. "Ges, lo sehat?" Davika yang takut kalau Angger ada gangguan dengan kewarasannya pun bertanya sambil menempelkan tangannya di dahi Angger, mengecek suhu badan gadis itu. "Apaan sih, Davi? Gue sehat walafiat. Nggak sakit apalagi stres," tukas Angger segera menyingkirkan tangan Davika dari dahinya karena sedikit mengganggu kegiatannya yang sedang memperhatikan jodohnya itu. "Gangguin gue aja lo," sambung Angger. "Siapa sih yang dari tadi lo lihat? Gue jadi kepo sama seseorang yang udah buat lo jadi move on cepat dari si dia." Davika yang penasaran pun membalikkan tubuhnya, ikut melihat seseorang yang sedari tadi menjadi perhatian Angger. "Oh ternyata Dokter Ardhito," ujar Davika saat melihat siapa pria itu. Angger yang mendengarnya pun sejenak mengalihkan pandangannya dari Ardhito ke Davika. "Kok lo kenal?" tanya Angger heran. "Ya kenal lah, dia 'kan sepupunya cowok gue," jawab Davika. "Ih seriusan? Kok lo nggak bilang dari awal sih, Davi!?" Angger jadi heboh mendengar fakta itu. "Ya lo nggak nanya sama gue, lo juga nggak cerita sama gue. Mana gue tahu lo naksir dia dan satu hal lagi, jangan Panggung gue Davi. Berasa cowok tahu nggak!? Nama panggilan gue tuh Vika ya," ujar Davika. "Gue juga 'kan baru ketemu sama tuh dokter, Davi, eum maksudnya Vika." Angger langsung meralat panggilannya untuk Davika saat melihat wanita itu mendelik kesal "Lo baru ketemu sama dia tapi udah jatuh cinta sama dia? Gimana ceritanya?" tanya Davika penasaran. Pasalnya Davika sangat tahu sekali kalau Angger begitu cinta mati dengan pacarnya yang sudah menjadi mantan itu, tiba-tiba saja Angger berpaling pada seorang pria yang merupakan sepupu kekasihnya. Agak mengherankan sekaligus membuat penasaran bagaimana bisa Angger yang sulit jatuh cinta, tiba-tiba saja menjatuhkan hatinya untuk Ardhito. "Dia itu yang nolongin gue waktu kecelakaan, dia juga yang bikin gue nggak takut pas disuntik dan dijahit. Pokoknya dia itu ibarat superhero gue, entahlah. Gue rasa gue udah jatuh cinta beneran sama dia sejak pertama kali kita ketemu," jawab Angger begitu antusias sekali saat membahas Ardhito. "Walau agak lucu karena kisah lo mirip FTV, tapi bolehlah. Seenggaknya lo udah berhasil move on, good job!" Davika menepuk bahu Angger. "Makanya, lo tolongin gue dong biar dekat sama dia," pinta Angger. "Kok minta tolong sama gue? Kenapa nggak lo coba dekati dia sendiri aja?" "Gue udah coba, tapi setelah dia tahu perasaan gue dia jadi dingin gitu. Padahal waktu jadi dokter gue, dia itu ramah banget loh." Mendengar perkataan Angger membuat Davika tertawa. "Kenapa lo ketawa? Nggak usah ngejek gue lo!" sinis Angger. "Nggak, bukan ngejek. Gue cuma mau bilang kalau dia tuh emang gitu orangnya, beberapa kali gue sempat dengar cerita dari cowok gue tentang sepupunya si dokter itu. Dia selalu sebal sama sepupunya itu tuh, dinginnya kelewatan," ucap Davika. "Sedingin-dinginnya es batu lama-lama juga bakalan panas juga kalau dipanasin di kompor. Begitupun juga hati jodoh gue itu, gue yakin dia pasti bakalan luluh kalau gue nggak pantang menyerah ngejar dia." Angger menggebu-gebu saat mengatakannya. "Semangat buat lo, semoga berjaya meluluhkan hati Dokter Ardhito," ujar Davika memberi semangat. "Cuma ngasih semangat aja lo?" tanya Angger. "Terus gue harus kasih apalagi?" "Kasih alamat Dokter Ardhito ke gue dong," pinta Angger. "Lah buat apaan?" "Ya biar gue enak berkunjungnya lah, biar kalau apa-apa gue ke sana. Inginnya biar pdkt gue sama tuh dokter berjalan dengan lancar, bantuin gue ya? Ya?" Angger menatap Davika penuh harap. "Ya udah, oke. Nanti gue mintain ke cowok gue," ujar Davika yang langsung membuat Angger memeluknya erat. "Makasih teman baik gue!" "Nggak usah meluk gue lo, malu dilihatin orang lain." Davika langsung melepaskan pelukan Angger. "Yaelah, takut amat lo dikatain lesbi sama orang-orang. Lagian kalau semisal gue lesbi juga bukan lo yang gue pilih," ujar Angger asal ceplos. "Mulut lo kebangetan, asal ceplos aja. Kayak nggak disaring dulu kalau ngomong." "Lo kata mulut gue ini teh yang perlu disaring habis diseduh?" tanya Angger. "Serah lo aja deh, gue cuma mau bilang kalau jodoh lo lagi berdiri dan berniat pergi dari sini," ujar Davika yang membuat Angger langsing melihat ke arah Ardhito. "Aihs, kok nggak bilang dari tadi sih?" gerutu Angger langsing berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Ardhito. "Dokter ganteng calon masa depan saya, tungguin dong!" teriak Angger begitu membahana hingga membuat pengunjung yang lain menoleh heran ke arahnya. Ardhito yang mendengar suara teriakan yang beberapa hari ini mengganggunya pun lebih memilih mempercepat langkahnya, ia pura-pura tidak mendengar saja teriakan dari wanita aneh itu. Angger yang melihat Ardhito yang semakin mempercepat langkahnya itu pun tak mau kalah. Ardhito memang berjalan cepat, tetapi Angger bisa berlari sehingga akhirnya ia bisa menyusul dokter tampan itu yang saat ini sedang berdiri di samping mobilnya. "Dokter, tunggu dulu ...." Angger mengatur napasnya yang tak beraturan ketika sudah berhasil berada di hadapan Ardhito. "Tidak usah mengganggu saya, saya sedang banyak urusan," ujar Ardhito dingin. "Urusan apaan sih, Dok? Saya udah nanya sama suster di rumah sakit kalau Dokter tuh nggak ada praktek lagi. Saya yakin kalau Dokter banyak nganggurnya, lagian semenyeramkan apa sih saya sampai-sampai Dokter harus menghindar pas saya panggil Dokter?" tanya Angger. "Menurut kamu?" "Ya saya nggak tahu, kenapa malah nanya saya? Aneh banget deh Dokter." "Eh? Kok mau masuk, tunggu dulu, Dok." Angger langsing menahan Ardhito saat pria itu hendak memasuki mobilnya. "Ada apa!?" "Saya tuh cuma mau balikin sneli milik Dokter aja. Ini, Dok. Makasih ya udah bantuin saya pas kecelakaan, saya nggak tahu gimana nasib saya kalau sampai Dokter nggak nolongin saya waktu itu. Saya berhutang budi sama Dokter," ujar Angger dengan tangan yang menyodorkan sneli milik Ardhito. "Makanya lain kali jangan terlalu bodoh, cinta boleh tapi jangan hanya karena cinta kamu bisa melakukan hal buruk seperti itu. Itu sama sekali tidak dibenarkan," balas Ardhito menerima sneli yang Angger sodorkan. "Iya, saya nggak gitu lagi kok, Dok. Saya udah move on, nggak ada lagi niatan saya buat bunuh diri," ujar Angger. "Bagus." Ardhito mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dok, saya boleh minta alamat rumahnya Dokter?" pinta Angger. "Buat apa?" "Supaya saya semakin mengenal Dokter, saya 'kan calon jodoh Dokter. Kalau Dokter mau ke rumah saya juga boleh," ujar Angger. "Maaf, saya tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal remeh seperti itu. Saya permisi." Setelah mengatakan itu, Ardhito langsung memasuki mobilnya kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan Angger yang berdecak kesal karena sikap dingin Ardhito. Angger memasuki kafe sesekali menghentakkan kakinya di lantai, merasa kesal karena tidak berhasil mendapatkan alamat Ardhito dari pria itu langsung. "Dav, Dokter Ardhito sebenarnya jomblo nggak sih? Sikapnya dingin banget ke gue. Jangan-jangan dia udah punya pacar atau bahkan udah punya istri lagi," ujar Angger sambil duduk di depan Davika. "Dokter Ardhito tuh single, dia emang kayak gitu. Dengar-dengar sih gara-gara mantan pacarnya yang dulu pergi ninggalin dia, kalau nggak salah sih mantannya tuh selingkuh. Jadi ya dia kayak gitu, semacam trauma untuk menjalin cinta lagi." Angger mengangguk paham dengan penjelasan Davika. "Jadi itu alasannya, berarti gue sama dia jodoh dong ya?" tanya Angger yang awalnya memasang wajah kesal kini tersenyum kembali. "Hah? Maksudnya gimana tuh?" "Ya gue ditinggalin dia, Dokter Ardhito juga ditinggalin mantan pacarnya. Nasib kami tuh sama, sama-sama ditinggalkan. Itu menandakan kalau gue dan dia berjodoh, ditakdirkan bertemu kemudian saling mengobati luka. Ah makin yakin deh buat jadiin Dokter Ardhito sebagai calon masa depan gue, soalnya gue yakin dia pria yang baik. Kalau bukan cowok baik-baik nggak mungkin dong dia yang diselingkuhin, seharusnya sih sebaliknya," ujar Angger. "Udah ganteng, baik hati, nggak nyakitin hati cewek. Punya pekerjaan yang mapan, gue jadi makin tergila-gila." Angger bertopang dagu, membayangkan begitu bahagianya jika dirinya menjadi istri Ardhito. "Pertanyaanya, apa lo sanggup ngadepin sikap dinginnya? Dengar-dengar dia kalau nggak suka sama orang bakalan ketus banget loh," ujar Davika. "Yakin lah! Gue akan ubah dia yang dingin menjadi hangat, dia yang ketus menjadi sangat perhatian. Lo lihat aja nanti, secara gue ini 'kan nggak jelek-jelek amat 'kan? Eh emang nggak jelek soalnya banyak yang bilang kalau gue ini cantik, jadi gue harus pede dong." Davika menggelengkan kepalanya dengan tekad besar Angger yang ingin meluluhkan hati Ardhito. "Kodrat cewek tuh dikejar, bukan mengejar. Tapi bolehlah lo coba itu, lagian Dokter Ardhito mana mau ngejar-ngejar lo. Siapa tahu aja ada keajaiban dari Tuhan yang buat Dokter Ardhito luluh," ucap Davika. "Gitu dong jadi teman, ngedukung kebahagiaan temannya. Ah jadi makin sayang sama Davi deh." Angger berniat memeluk Davika lagi, ia bahkan sudah merentangkan tangannya. "Ehh, stop! Jangan panggil gue Davi dan jangan peluk-peluk gue!" "Ck, anti banget dipanggil Davi sama gue? Anti banget juga lo dipeluk sama teman sendiri?" "Biarin, males gue ketularan nekadnya lo," tukas Davika. "Nekad juga demi cinta nggak apa-apa," tukas Angger santai. "Kayaknya otak lo abis geser deh pas kecelakaan kemarin, heran gue sama lo yang tiba-tiba jadi kayak gini." "Yang luka tangan gue tuh waktu kecelakaan, nggak ada sangkut-pautnya sama geger otak atau hal lainnya. Gue emang harus kayak gini karena ya lo tahu lah dokter Ardhito itu dingin banget, kalau bukan gue yang ngedeketin mana mungkin kita bisa dekat." "Terserah lo aja." Memang susah berdebat dengan Angger, lebih baik Davika yang mengalah. Puas mengobrol di kafe dengan Davika, Angger akhirnya memutuskan untuk pulang karena Davika pun setelah ini harus pergi menemui kekasihnya. Terkadang Angger iri pada Davika yang memiliki kekasih teramat setia, sudahlah pacar Davika itu ganteng, mapan, kaya, setia pula. Wanita lain mana yang tidak iri melihatnya? Davika dan pacarnya itu sudah berpacaran selama kurang lebih lima tahun lamanya. Mereka bertemu saat berada di bangku kuliah. "Lo yakin nggak mau gue anterin pulang aja?" tanya Davika. "Nggak usah lah, gue telepon sopir gue aja. Katanya lo mau nyamperin Kak Argan, nanti kelamaan lagi kalau harus nganterin gue dulu," jawab Angger. "Gue 'kan bisa bilang dulu ke Argan kalau gue mau nganterin lo dulu," ucap Davika. "Nggak usah, Davika Sayang. Gue bisa pulang sendiri kok, nanti gue minta jemput sopir gue. Udah sih, lo duluan aja." Angger mencoba meyakinkan Davika agar wanita itu pulang lebih dulu. "Ya udah deh, kalau gitu gue duluan. Lo hati-hati ya ...." Angger tertawa mendengar perkataan Davika. "Harusnya gue yang bilang gitu ke lo," kekeh Angger. "Biar aja, biar kebalik. Gue duluan ya!" Davika menepuk bahu Angger kemudian wanita itu benar-benar pergi meninggalkan Angger. Angger yang sudah melihat kepergian Davika pun mulai mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Pak Nato, ia akan meminta dijemputnya oleh sopirnya itu. Setelah mendapat balasan dari Pak Nato, beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan hitam memasuki area parkirannya kafe. Angger yang memang menunggu di depan kafe sontak saja langsung menghampiri mobil itu. "Kok cepat banget, Pak?" tanya Angger. "Kebetulan saya tadi mampir ke rumah saudara yang dekat sini dulu, Nona, jadi nggak pulang ke rumah," jawab Pak Nato. "Oh gitu." Angger mengangguk, wanita itu langsung memasuki mobilnya bertepatan dengan dering di teleponnya. "Iya, Ma, ada apa?" tanya Angger pada suara di seberang sana. "Kamu di mana? Cepetan pulang sekarang," ujar mamanya. "Ini juga lagi jalan mau pulang, Ma, ada apaan sih? Tumben banget Mama nyuruh aku pulang cepat-cepat." "Nanti juga kamu tahu kalau udah sampai di sini," ucap mamanya. "Ma, nggak usah misterius gitu deh. Tinggal jawab pertanyaan aku aja susah banget," dumel Angger. "Pulang cepat aja, Sayang, nanti kamu tahu jawabannya. Mama tunggu ya, jangan lama-lama." Tut. Angger menatap ponselnya yang panggilannya sudah dimatikan, "Mama tumben banget sih jadi nyebelin kayak gini!" gerutu Angger kemudian menyimpan ponselnya. Tak lama kemudian, mobil yang Angger tumpangi akhirnya tiba juga di pelataran rumahnya. Wanita itu langsung keluar dari mobil dan memasuki rumah mewahnya, Angger dari awal sudah penasaran ketika melihat dua mobil asing di depan rumahnya. Seakan sedang ada acara yang tidak ia ketahui. "Nah ini dia sudah datang, perkenalkan putri saya satu-satunya. Namanya Angger, tapi kami biasanya memanggil dia dengan nama Gesti, nama itu diambil dari nama belakangnya Angger," ujar papa Angger memperkenalkan Angger pada dua orang paruh baya yang duduk di sebuah sofa panjang. "Kamu!?" teriak sebuah suara yang membuat Angger menoleh ke arah pria itu. Angger tak kalah terkejutnya ketika melihat pria yang juga terkejut ketika melihatnya. "Dokter Ardhito kok bisa ada di sini?" tanya Angger kebingungan. "Kalian udah saling kenal?" tanya mama Dokter Ardhito. "Iya, Tante, Dokter Ardhito ini dokter yang pernah nolongin saya saat saya kecelakaan," jawab Angger. "Kalian ke sini karena mau apa ya?" tanya Angger dengan wajah polosnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD