"Gesti, lo ini kenapa sih? Cari ribet aja terus sama diri lo sendiri!" Saat salah satu teman Angger yang bernama Lenya datang, ia langsung mengomeli Angger ketika ia tiba di rumah sakit dan mendapati Angger yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan keadaan yang tidak dapat dikatakan baik-baik saja karena beberapa luka ada di tubuhnya.
"Bunuh diri aja sana lagi biar mati masuk neraka lo!" omel Lenya lagi.
"Tega banget doa lo, Len," balas Angger dengan wajah manyunnya.
"Berani ngejawab gue lagi lo? Yang salah jelas-jelas lo. Ngapain lo bawa mobil ngebut-ngebut? Mau mati!? Ya tinggal mati aja. Sayat-sayat aja itu tangan lo jangan bikin orang panik bisa nggak!?" Lagi, Lenya kembali mengomeli Angger.
"Nggak lagi, Lenya, gue nggak akan ngelakuin hal kayak gitu lagi," ujar Angger akhirnya.
"Bagus kalau gitu, lagian hanya karena putus dari si b******k itu lo kenapa sampai mau bunuh diri segala? Lo mau mati juga dia nggak akan mungkin bisa peduli lagi, Gesti. Lo salah kalau dengan cara mati lo berpikir kalau masalah lo akan selesai begitu aja," ucap Lenya.
"Iya gue tahu. Udah sih bumil, berhenti ngomel-ngomelnya. Nggak enak tahu diomelin mulu." Mendengar itu sontak saja membuat Lenya mendelik, wanita yang tengah berbadan dua itu menoyor kepala Angger sedikit kuat.
"Heh! Gue begini juga karena lo. Lo nggak tahu apa gimana rasanya jadi gue saat lihat berita di mana mobil yang lo kendarai itu kecelakaan? Gue udah panik banget waktu ke sini. Untungnya lo nggak apa-apa! Kalau sampai lo kenapa-kenapa, apa yang akan gue bilang sama Tante Dini? " tanyanya pada Angger yang sedang mengusap kepalanya. Toyoran itu begitu kuat sehingga membuat kepalanya nyut-nyutan.
"Ya tinggal lo bilang aja kalau gue mau mati karena gue putus cinta, gitu aja kok susah?" Lagi, kata-kata Angger itu membuat Lenya naik pitam. Wanita itu kini memukul kepala Angger kuat-kuat.
"Sadar lo! Ngomong jangan melantur! Ngomong mati udah kayak ngomong mau beli chiki aja lo," sinis Lenya.
"Tega lo! Gue lagi sakit gini lo malah mukul kepala gue! Gue aduin ke Mama kena omel juga lo nanti," tukas Angger merasa kesal.
"Bukan gue yang kena omel, malah lo nanti yang kena. Gue bilang aja lo mau mati karena habis diputusin sama pacar lo."
"Serah ah, debat sama lo nggak akan menang gue. Lagian lo buat apa ke sini kalau cuma buat ngomelin gue doang?" tanya Angger.
"Heh! Gue ngomelin gini juga karena gue peduli! Kalau gue nggak peduli, mana mungkin gue ke sini. Gue biarin aja deh tuh dengar kabar lo mau mati kek atau mau sekarat sekalian."
"Stop! Jangan lagi lo mau nyakitin gue! Ingat, gue lagi sakit. Ini banyak luka di tubuh gue." Angger langsung menahan tangan Kenya saat wanita itu hendak memukulnya lagi dengan tangan.
"Lo sakit karena dibuat-buat, coba aja lo bawa mobil nggak ngebut. Pasti sekarang nggak ada tuh luka-luka," ucap Lenya.
"Kalau gue nggak luka, gue nggak akan ke sini. Kalau gue nggak ke sini berarti gue nggak bisa ketemu sama Dokter tampan itu," gumam Angger sambil tersenyum saat mengingat kembali Ardhito, sosok dokter tampan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama setelah patah hati berkepanjangan karena ulah mantan pacarnya yang tega-teganya memutuskannya tanpa alasan yang jelas.
Ia berpikir kalau hidupnya hanya berpusat pada sang mantan kekasih sehingga saat mantannya itu memutuskannya maka tidak ada lagi alasan untuknya hidup. Maka, dengan kenekatan dan kecerobohannya itu ia berniat bunuh diri, perbuatannya itu membuatnya ditolong oleh seorang pria yang tak lain adalah Ardhito. Saat tadi Ardhito mengobati lukanya, Angger tidak menyangka kalau ia akan merasakan jatuh cinta lagi pada pandangan pertama.
"Kenapa lo malah senyum-senyum? Udah gila lo?" tanya Lenya heran dengan kelakuan Angger yang tiba-tiba tersenyum padahal sepertinya tidak ada pembicaraan yang bisa membuat orang tersenyum.
"Nggak kok." Angger menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum.
"Wah, jangan-jangan gara-gara lo kecelakaan lo jadi sinting gini. Kepala lo harus diperiksa ini, takut-takut lo tiba-tiba jadi gila 'kan?" tanya Lenya yang mulai khawatir dengan keadaan Angger yang terlihat aneh. Angger 'kan baru saja putus cinta, seharusnya 'kan ia bersedih. Apalagi Angger juga habis kecelakaan, mana mungkin ada kebahagiaan yang tengah menghampirinya 'kan?
"Sembarangan aja kalau lo ngomong! Gue masih waras! Yang luka itu lengan gue, bukannya kepala gue!" balas Angger tidak terima dikatai sinting.
"Habisnya lo ngeri banget, tiba-tiba senyum kayak gitu. Gue 'kan jadi curiga," ujar Lenya.
"Permisi ...."
Hingga pembicaraan Angger dan Lenya harus terhenti saat seorang dokter tampan dan suster datang memasuki ruang inap Angger. Seketika senyum Angger semakin cerah saat melihat kehadiran Ardhito, selain penyelamat baginya, Ardhito merupakan orang yang sangat berjasa bagi keadaan hatinya. Karena berkat bertemu dengan pria itu, ia bisa kembali jatuh cinta lagi. Pertemuan pertama mereka benar-benar dahsyat, Angger tak menyangka ia akan jatuh cinta dalam waktu sesingkat ini pada seseorang. Biasanya sangat sulit membuat dirinya untuk merasakan cinta, mantannya dulu saja perlu perjuangan yang besar hingga berhasil meluluhkan hatinya.
Ardhito? Pria itu bahkan tidak berniat meluluhkan hatinya, tetapi berhasil membuatnya tergila-gila di pertemuan pertama mereka hingga membuatnya tersenyum-senyum sendiri saat melihatnya.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?" tanya Ardhito saat sudah berada di samping brankar tempat Angger duduk dengan menyandarkan tubuhnya di kepala brankar rumah sakit.
"Setelah dokter menyuntikkan obat itu, saya menjadi lebih baik, Dokter. Bahkan lebih baik dari biasanya," jawab Angger sambil tersenyum penuh arti.
Semua itu tak lepas dari tatapan Lenya, wanita itu memicing saat memperhatikan interaksi antara Angger dan dokter tampan itu. Sepertinya ada yang tidak beres di sini, di mana Angger terus tersenyum saat melihat Ardhito.
"Dokter, kayaknya teman saya ini agak stres. Dari tadi senyum-senyum terus, coba Dokter periksa kepalanya, barangkali pas kecelakaan waktu itu kepalanya terbentur hingga membuat dia jadi sedikit gíla," ujar Lenya.
Mendengar perkataan Lenya membuat Angger mendelik, bisa-bisanya Lenya mengatakan itu di depan seseorang yang sudah ia klaim menjadi cintanya itu.
"Len, lo apaan sih? Gue masih waras. Apa salahnya kalau gue senyum? Senyum itu nggak bikin orang gila," ujar Angger kesal.
"Benar apa yang dikatakan Mbak Angger, senyum tidak membuat orang dicap menjadi gíla. Lagipula akan lebih bagus lagi kalau Mbak Angger sering tersenyum, barangkali itu bisa membuatnya bisa sembuh lebih cepat," ujar Dokter Ardhito.
"Tuh dengerin, Len," ucap Angger tersenyum karena merasa dibela oleh Ardhito.