2. Suntikan Cinta

1298 Words
Suster bernama Wulan yang sudah tidak tahan dengan penolakan Angger pun memilih pergi, lebih baik ia memanggil Dokter Ardhito ketimbang dirinya yang mengurus wanita keras kepala itu. Masa bodo jika nanti Dokter Ardhito akan mengomelinya, asalkan wanita itu mau diobati. Toh, bukan salahnya juga karena ia pun sudah berusaha membujuk Angger, memang dasarnya wanita itu terlalu penakut saja sehingga semuanya menjadi sulit dilakukan. Padahal, apa susahnya berbaring dengan tenang dan menekan suntikan obat bius darinya, bahkan anak kecil saja tak berlebihan seperti Angger. Dia tahu sih kalau wanita itu trauma, tetapi masa iya menyangkal traumanya saja tidak bisa? Lagipula, disuntik itu rasanya hanya seperti digigit semut saja kok. Wulan menatap ruang Dokter Ardhito dengan gelisah, ia jadi berubah pikiran untuk pergi ke sana ketika melihat banyaknya antrian pasien yang datang. Bagaimana nanti kalau ia disemprot habis-habisan oleh Dokter Ardhito? Wulan jadi bimbang antara pergi atau tidak. Kalau ia tidak pergi, kasihan Angger yang butuh penanganan dalam lukanya, jika ia pergi nanti Dokter Ardhito memarahinya. Masa bodo jika Dokter Tampan marah padanya, ini darurat. Ia tidak mau ada pasien yang tewas karena kehabisan banyak darah, bisa-bisa rumah sakit ini dicap buruk oleh orang-orang. Setelah berpikir dan menghela napas berkali-kali akhirnya Wulan pun memilih pergi ke ruangan Dokter Ardhito. "Dokter ...." panggil Wulan pada Ardhito yang masih sibuk dengan salah satu pasien. "Sebentar," ujar Ardhito kemudian kembali fokus pada pasiennya. "Ini resep obatnya, nanti Ibu bisa tebus di apotek ya?" Ardhito menyerahkan secarik kertas yang di dalamnya sudah ia tulis resep obat. "Baik, Dok. Terima kasih ya," balas ibu itu sambil tersenyum. "Iya sama-sama, semoga cepat sembuh." Lagi, Ardhito kembali mengulas senyum, hal itu membuat ibu itu semakin meleleh dengan ketampanan sang dokter muda. "Duh, dokter ini. Udah ganteng, baik, ramah, sopan, seorang dokter lagi." Ardhito hanya tersenyum menanggapi pujian itu. "Dokter ...." panggil Wulan lagi karena ia merasa sudah tidak ada lagi hal penting yang dibahas oleh Ardhito dan ibu genit itu. Akhirnya, ibu yang genit itu pergi dari ruangan Ardhito. Sebelum benar-benar pergi, ia melambaikan tangannya dengan ceria pada Ardhito seakan ia sudah sangat sehat. Padahal saat pemeriksaan tadi, ia mengeluh begitu kesakitan. Benar-benar aneh sekali, Ardhito sampai geleng-geleng kepala melihatnya "Iya? Ada apa Suster Wulan? Saya sibuk, masih banyak pasien yang menanti di luar. Katakan apa tujuanmu datang ke sini," ucap Ardhito membuat Wulan gelagapan. Wanita itu bingung ingin berkata bagaimana, masa iya dia bilang langsung apa tujuannya? Eh tapi, Ardhito 'kan memang meminta itu 'kan? "Oh iya, bagaimana keadaan dia? Apakah kamu sudah menanganinya?" tanya Ardhito ketika mengingat wanita yang tadi ia tolong. "Itu dia masalahnya, Dok. Saya ke sini karena itu," ucap Wulan langsung, Ardhito yang tengah fokus dengan buku catatannya pun menatap Wulan dengan tatapan penuh keingintahuan. "Maksudnya?" tanyanya tak mengerti dengan apa yang Wulan katakan. "Itu Dok ... anu ... itu ... anu." "Katakan yang jelas, jangan anu-anuan itu!" pinta Ardhito tegas. "Jadi begini, Dok. Tapi sebelum itu jangan salahkan saya ya? Saya sama sekali tidak salah, tadi saya sudah membujuknya ...." "Iya, sekarang cepat katakan apa alasanmu kemari." Tak sabar, Ardhito memotong perkataan Wulan. "Wanita itu tidak mau disuntik, Dok. Dia mengatakan kalau dia trauma jarum suntik, saya sudah mencoba membujuknya, tetapi dia tetap tidak mau disuntik. Gara-gara itu saya jadi kesulitan mengobati lukanya," ucap Wulan. Ia lega setelah mengatakan hal itu. "Ya sudah kalau begitu kamu ke sana duluan, nanti saya akan menyusul." "Baik, Dok." Wulan mengangguk kemudian segera pergi dari hadapan Ardhito. Ardhito membereskan alat-alatnya kemudian menatap ke arah seorang wanita yang sedari tadi berdiri di belakangnya, namanya Ita, dia adalah asistennya. "Ita, kamu urus pasien sebentar ya? Jika ada sesuatu yang darurat kamu bisa hubungi saya," ujar Ardhito sambil berdiri. "Siap, Dok." Setelah mendengar persetujuan itu, Ardhito keluar dari ruangannya. Banyak pasien yang menanyakan ke mana ia akan pergi, Ardhito hanya berkata kalau ia ada urusan penting. Pasien yang datang pun mendesah kecewa karena kepergian Ardhito, padahal kedatangan mereka hanya ingin dirawat oleh Ardhito bukannya asisten, suster ataupun dokter lainnya. Pesona seorang Ardhito si dokter tampan memang sedahsyat itu, mau itu anak remaja sampai nenek-nenek pun pasti akan meleleh dengan pesona Ardhito. Terkadang ada pula yang berpura-pura sakit hanya untuk menatap wajah Ardhito, benar-benar konyol sekali. Mereka rela pergi ke rumah sakit dan berdesakan dengan pasien yang benar-benar sakit hanya untuk menatap wajah Ardhito sekejap saja. Ardhito memasuki ruangan di mana ia tadi tinggalkan seorang wanita yang ia tolong, di sana ia melihat kalau Wulan kembali membujuk Angger agar wanita itu mau disuntik. Ardhito tersenyum sekilas ketika melihat itu, sangat lucu dan aneh sekali. Baru kali ini ia mendapati seorang wanita dewasa yang takut pada jarum suntik, jarum suntik yang begitu kecil saja takut apalagi yang besar? "Dokter ...." Angger yang semula sibuk menghindar pun menoleh ke arah seseorang yang beberapa menit lalu menolongnya, mendadak Angger jadi gugup karena kedatangan Ardhito. "Masih belum diobati juga?" tanya Ardhito sambil menggeleng pelan, pria itu berjalan mendekat ke arah Angger yang semakin gugup. "Kenapa takut jarum suntik, hmm?" tanya Ardhito dengan lembut, pria itu menatap Angger dengan intens. Angger semakin salah tingkah, biar bagaimanapun ia juga wanita normal yang pastinya akan merasa berdebar ketika ada sosok tampan yang menatapnya selembut dan seintens ini. "D-dulu sewaktu saya kecil jarum itu pernah masuk ke dalam tubuh saya, Dok. Makanya saya sekarang takut banget sama jarum suntik," jawab Angger setengah gugup. Ia balas menatap Ardhito, duh itu wajah mengapa tampan sekali? Sambil mengajak Angger mengobrol, Ardhito perlahan melepaskan jasnya yang melilit lengan Angger yang terluka. Beginilah cara yang tepat ketika pasien takut terhadap sesuatu, kita harus mengajaknya mengobrol ya bisa dibilang kalau itu cara mengalihkan perhatiannya. Sambil terus mengajak Angger mengobrol dan sesekali menimpali apa yang Angger katakan, Ardhito memberikan kode pada Wulan kalau ia meminta jarum suntik berisi obat bius itu. Ardhito mengangguk paham dengan cerita Angger, ia kembali menanyakan hal-hal mengenai Angger dan dengan perlahan ia menyuntikkan obat bius di dekat lengan Angger yang terluka. "Auuhss!" Angger meringis sekaligus terkejut ketika merasakan sengatan di lengannya, rasanya seperti digigit semut. "Nah, sudah. Disuntik tidak sakit 'kan? Hanya seperti digigit semut saja, mungkin sewaktu kamu kecil dulu yang memberi obat terlalu ceroboh sehingga jarum bisa masuk ke dalam tubuhmu. Tapi di sini kamu tidak akan mendapati kecerobohan itu, di rumah sakit ini semua dokter, asisten ataupun suster sudah terlatih sesuai tugasnya masing-masing." Angger mengerjap, ia tidak percaya kalau ia telah disuntik. Secepat itukah? Ia bahkan tidak sadar kapan jarum suntik itu menusuk lengannya. Rasanya begitu cepat sekali berlalu, mantra apa yang dokter tampan itu lakukan padanya? "Sekarang saya akan membersihkan lukamu ya? Tahan sedikit karena ini akan sedikit sakit, meskipun diberi obat bius rasa sakit masih terasa, tetapi tidak separah sebelum diberi obat bius." Ardhito dengan telaten membersihkan luka Angger, sesekali ia kembali mengajak Angger berbicara. Ardhito pun tak henti memberi kode pada Wulan kalau ia membutuhkan alat-alat untuk membersihkan luka Angger dan alat untuk menjahit lukanya. Ardhito kembali memberikan mantranya hingga Angger tak sadar kalau kini lukanya tengah dijahit, semua itu berlalu dengan cepat seakan tak terjadi apa-apa. Angger kembali terpekik ketika Ardhito menunjukkan kalau lukanya sudah dijahit, bagaimana bisa ia tidak sadar? "Lukanya sudah dijahit, saya sarankan Mbak beristirahat selama beberapa hari di sini hingga luka itu kering. Mengingat luka itu begitu dalam kita perlu memberikan penyangga lengan agar tidak terlalu banyak pergerakan di lengannya yang terluka, Mbak bisa hubungi keluarga Mbak ya. Saya masih ada pasien, kalau butuh apa-apa Mbak bisa Mbak bisa memintanya pada Suster Wulan. Kalau begitu saya permisi. Semoga segera sembuh." Ardhito tersenyum singkat kemudian keluar dari ruangan itu. Angger terperangah, ia tak bisa berkata apa-apa. Tangannya yang bebas pun memegangi dadanya yang berdebar, sepertinya tubuhnya tak hanya terkena suntik obat bius. Melainkan juga ia sudah disuntik cinta oleh dokter tampan itu! *** Yuk sebelum lanjut follow akun author dulu dan tap love cerita ini yuk yuk selagi ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD