7. Pesona Ardhito

1008 Words
Angger merasa sangat kesal karena pria bernama Bagin itu malah membuatnya repot dengan terus mengatakan kalau pria itu akan berusaha membuat Angger menerima perjodohan mereka. Padahal, sudah jelas-jelas Angger menolaknya karena Angger sama sekali tidak tertarik padanya, yang membuatnya tertarik adalah seorang dokter bernama Ardhito dan bukannya dokter lainnya. Namun, ternyata Bagin merupakan orang yang sangat bebal, sudah ditolak berkali-kali ia tetap datang ke rumah karena ingin menemuinya. Papa dan mamanya terlihat sangat terbuka saat kedatangan Bagin, hal itu benar-benar membuat Angger berdecak kesal. Rasanya ingin ia melempar tubuh Bagin ke rawa-rawa saja, pria itu benar-benar menyebalkan. Seperti saat ini, Angger yang ingin pergi untuk bertemu dengan pujaan hatinya harus ditahan saat Bagin datang untuk bertemu dengannya. Mamanya memaksa Angger menemani Bagin mengobrol, padahal ia sudah sangat ingin pergi dari sini. Ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Ardhito karena sudah beberapa hari setelah ia sembuh dari sakitnya, ia belum pernah bertemu ataupun melihat wajah Ardhito. Sungguh hal itu membuat Angger jadi sakit kembali, sakit rindu berkepanjangan yang akan sembuh dengan obat yaitu bertemu dengan. Namun, semuanya harus sirna saat kedatangan seseorang yang tidak diharapkan, siapa lagi orangnya kalau bukan Bagin? Pria itu seakan menahan Angger yang akan pergi dari sini. "Kamu itu maunya apa sih? Sudah saya katakan kalau saya tidak mau menerima perjodohan ini. Kamu bisa mencari wanita lain yang ingin menikah dengan kamu, saya yakin masih banyak wanita lain yang mau dengan kamu," ujar Angger yang sudah merasa sangat bosan saat ini. "Saya tertariknya pada kamu, tidak mungkin saya mendekati orang lain. Saya mendekati kamu karena saya tertarik pada kamu," balasnya. "Saya yang tidak tertarik. Perjodohan akan berlangsung kalau kedua pihak sama-sama setuju, jadi perjodohan ini tidak bisa berlanjut karena saya sama sekali tidak berniat melanjutkan perjodohan ini. Sudah ya, saya harap kamu tidak datang lagi." Angger berdiri dari duduknya, wanita itu menarik tasnya yang berada di atas meja kemudian segera pergi dari hadapan Bagin. Pria itu segera pergi dari rumahnya sebelum orang tuanya menyadari kalau dirinya sudah meninggalkan tamu sembarangan. "Bebal banget itu orang, moga aja setelah ini dia bisa sadar juga kalau gue sama sekali nggak tertarik," gumam Angger. Angger memasuki mobilnya, mengendarai mobil itu menuju rumah sakit tempatnya dirawat dulu dan tempat Ardhito bekerja. Meskipun pernah kecelakaan mobil, tetapi hal itu tidak membuat Angger trauma. Saat ini ia sudah semangat kembali melanjutkan hidupnya setelah bertemu dengan Ardhito, pria itu merupakan semangatnya saat ini. Jadi, tidak ada alasan bagi Angger untuk mengakhiri hidupnya lagi karena ia masih ingin hidup untuk bertemu dan menatap wajah tampan Ardhito. Tiba-tiba saja ponselnya berdering pertanda kalau ada panggilan masuk, dengan tangan sebelah yang memegang kemudi, tangan Angger yang satunya bergerak mengambil ponselnya dari tasnya. Saat melihat siapa si penelepon, Angger berdecak kesal. Mamanya benar-benar, apa tidak bisa membiarkannya tenang sedikit saja? Tadi ia sudah rela menghabiskan waktu bertemu dengan Bagin, meskipun hanya beberapa menit saja menurut Angger waktunya saat ini sangatlah berharga. Hanya demi mamanya ia mau meladeni Bagin walaupun tidak dengan raut bersahabat. Angger mengabaikan saja panggilan dari telepon itu, anggap saja ia tidak sopan karena sebagai anak malah mengabaikan panggilan telepon dari ibunya. Namun, hal itu dilakukan Angger karena ia ingin fokus menyetir, alasan yang sebenarnya karena Angger malas mendengar omelan Angger. Ia pasti akan diomeli saat mengangkat panggilan itu karena jelas-jelas dirinya salah sudah meninggalkan tamu begitu saja. Atau mungkin Bagin tadi mengadukan sikapnya? Mungkin saja karena ia tidak terlalu paham dengan sikapnya itu. Beberapa panggilan telepon dari mamanya itu Angger abaikan hingga akhirnya ia sampai di sebuah rumah sakit tempatnya dirawat dulu. Wanita itu langsung turun dari mobilnya saat tiba di parkiran rumah sakit, Angger tersenyum ketika membayangkan kalau ia akan bertemu dengan Ardhito. "Permisi, Sus, saya mau nanya ...." Angger langsing menghentikan seorang suster yang baru saja melewatinya. "Iya, ada apa?" tanya suster itu. "Ruangan Dokter Ardhito ada di mana ya, Sus?" tanya Angger langsung. "Oh ruangan Dokter Ardhito, ada di pojok sana, Bu. Yang ramai dengan pasien itu," jawab suster itu sambil menunjuk tempat keramaian sana. "Terima kasih ya, Sus." "Iya, sama-sama." Angger langsung berjalan menuju tempat keramaian itu, mata Angger membelalak saat melihat antrian panjang di depan sebuah ruangan bertuliskan dokter umum. Angger yakin sekali kalau ruangan itu adalah ruangan Ardhito, wanita itu tidak menyangka kalau ruangan Ardhito sangat ramai sekali dengan pasien yang datang. "Dokter Ardhito ganteng banget, saya mau dia jadi menantu saya. Tiap hari saya jadinya nggak perlu lagi ke rumah sakit karena punya menantu seorang dokter yang tampan lagi," ujar seorang ibu-ibu yang sedang mengobrol dengan ibu-ibu lainnya membuat Angger langsung menoleh ke arah ibu-ibu itu. Angger langsung merengut tidak suka, merasa tidak terima dengan perkataan ibu-ibu itu karena Ardhito hanyalah miliknya. "Iya, andai aja saya punya anak perempuan mungkin saya juga mau punya menantu kayak dokter itu." Ibu-ibu lainnya ikut menimpali. Angger tidak menyangka kalau pesona Ardhito sebegitu hebatnya, padahal Ardhito adalah dokter umum dan bukannya dokter spesialis. Namun, keberadaan pria itu banyak dicari oleh perempuan berbagai usia dan kalangan, Angger bahkan sampai melongo saat tadi melihat pemandangan antrian yang begitu panjang. "Mohon maaf ya, Mbak mau ke mana?" tanya seorang suster saat Angger berjalan mendekati pintu ruangan Ardhito. "Saya mau bertemu dengan Dokter Ardhito," jawab Angger. "Harap antri ya, Mbak, karena antrian masih sangat panjang," ujar suster itu. "Iya, antri huuu! Masih banyak ini yang lagi nunggu antrian!" teriak ibu-ibu di belakang Angger membuat Angger merasa malu. Wanita itu langsung mundur kemudian mengikuti antrian yang sangat panjang itu. "Mau ketemu Dokter Ardhito aja susah banget, nyesel waktu itu lupa minta nomor teleponnya," gerutu Angger merasa kesal. "Andai aja aku jadi istrinya, mungkin waktu masuk nggak akan ada yang berani larang-larang atau protes kayak tadi." Angger sudah mengkhayal, ia sudah membayangkan jika ia menjadi istri Ardhito. Hingga tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka membuat semua perempuan yang ada langsung menoleh takjub saat melihat keberadaan Ardhito yang dengan tampannya itu meminta agar ibu-ibu itu berbaris beratur. Wajah pria itu begitu tampan, tubuh tegap proporsional dengan jas dokternya semakin membuat ia terlihat tampan. Angger semakin yakin kalau ia benar-benar jatuh cinta pada Ardhito untuk yang kesekian kalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD