34 Hari Sebelum Persidangan
Feli tersenyum ketika menyadari segala hal yang terjadi selama ini.
Feli mendapatkan semua kebahagiaan yang dia inginkan. Iya, Feli memang mendapatkannya. Tapi sekarang, ketika Feli pikir dia akan mendapatkan puncak dari semua kebahagiaan ini, kenapa Feli harus dihancurkan dengan semua masalah yang terasa sangat tidak masuk akal?
Iya, semua ini memang sangat tidak masuk akal.
Bagaimana.. bagaimana bisa semua ini terjadi?
Feli sudah mempersiapkan segalanya. Feli sudah merencanakan satu kebahagiaan lagi yang akan segera dia dapatkan, tapi apa yang terjadi? Kenapa Feli harus menerima fakta yang sangat menyakitkan ini?
Semua orang yang ada di sekitarnya, mereka selama ini menghianati Feli dengan senyuman yang selalu mereka berikan pada Feli.
Kenapa rasanya sangat sakit sekali? Feli tidak akan sanggup menghadapi Ken setelah ini. Apa yang bisa dia lakukan jika harus hidup tanpa pria itu? Feli memang sangat ingin menjadi orang yang egois, Feli ingin berpura-pura tidak mengetahui apapun yang sebenarnya sudah lama terjadi itu. Iya, Feli ingin melakukannya semata-mata hanya untuk mempertahankan kebahagiaannya.
“Apakah ada sesuatu yang salah? Kamu terlihat sangat murung hari ini..” Kata Tristan yang duduk di samping Feli.
Feli mengerjapkan matanya lalu tersenyum ke arah Tristan hanya agar pria itu tidak merasa khawatir lagi. sudah tidak terhitung berapa kali teman-temannya menanyakan tentang keadaan Feli yang sedang sangat kacau ini. Iya, Feli memang tetap terlihat menyedihkan sekalipun dia sudah berusaha untuk menutupi semuanya.
Feli menggunakan riasan yang tebal agar wajahnya yang pucat tidak terlalu terlihat, Feli juga selalu berusaha tersenyum agar dia terlihat baik-baik saja. Sayangnya, orang-orang yang memang sangat dekat dengan dirinya pasti akan tetap tahu jika sekarang Feli sedang sangat tidak baik-baik saja.
Feli tahu jika pasti ada orang yang menyadari perubahannya ini.
“Aku rasa kamu akan tahu kalau aku berbohong jika aku mengatakan aku baik-baik saja..”
Tadi, ketika mereka sedang berbicara, di sana ada Sagara dan Yuda. Tidak, Feli memang tidak membeda-bedakan teman-temannya itu. Sebenarnya Feli hanya tidak ingin saja mereka ikut mengetahui permasalahan yang sedang dirasakan oleh Feli.
“Jadi, ada apa?” Tanya Tristan dengan pelan.
Feli menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil air mineral yang ada di depannya.
Ini semua memang sangat tidak menyenangkan. Feli sama sekali tidak bisa mengatakan apapun pada siapapun. Sejujurnya Feli hanya ingin bertemu dengan Ken dan menangis di dalam pelukan pria itu. Feli ingin menangis dan mengatakan jika dia tidak sanggup menahan sesak di dalam dadanya setelah mengetahu fakta-fakta tidak menyenangkan ini. Tidak, Feli sama sekali tidak sanggup..
Feli ingin mengatakan apa yang dia rasakan pada Ken, Feli ingin mengatakan segalanya.. ingin mengungkapkan semua kesesakan yang harus dia tahan selama ini.
“Kamu tahu kalau selama ini aku menganggap dirimu sebagai adikku sendiri. Apakah kamu ingin tahu satu kisah pilu di dalam hidupku? Iya, ini tentang adik kandungku..”
Feli menolehkan kepalanya dengan pelan. Feli memang pernah mendengar satu kisah tentang adiknya Tristan. Ada banyak orang yang terus menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya Tristan, tapi selama ini Feli sama sekali tidak tahu bagaimana kisah yang sebenarnya. Selama ini, sekalipun merasa sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Feli tetap menahan dirinya untuk tidak bertanya apapun pada Tristan karena Feli tahu jika itu adalah rahasia pribadi milik Tristan.
“Kamu mau mendengarkan cerita ini? Aku tahu kalau ini bukan cerita yang baik dan akan menghiburmu tapi aku yakin kalau kamu akan mendapatkan satu jawaban dari masalahmu ketika kamu mendengarkan ceritaku..”
Biasanya Tristan memang selalu menjadi orang yang sangat bijak dalam memberikan nasehat. Tristan selalu berpikir secara dewasa sebelum dia mengambil satu tindakan. Iya, Tristan memang lebih memilih untuk lama berpikir sebelum dia akhirnya berbicara dibandingkan dengan banyak bicara tanpa pernah berpikir.
Feli sangat mengagumi sifat Tristan yang begitu bijaksana itu. Pada zaman sekarang, orang seperti Tristan sudah sangat jarang untuk di temukan. Feli merasa kalau sekarang ini orang lebih suka banyak bicara sekalipuun mereka tidak pernah mau berpikir dengan baik.
“Tentu saja aku mau. Aku akan sangat terhormat karena bisa mendengarkan cerita ini..” Kata Feli sambil tersenyum.
Feli melirik ke arah jam dinding yang ada di sudut ruangan. Feli masih memiliki banyak waktu sebelum dia harus datang ke kantor Feli dan mengatakan segalanya yang terjadi. Entahlah, mungkin Feli juga tidak akan mengatakan semuanya saat ini juga.. Feli mungkin akan menghabiskan waktunya untuk berbincang bersama dengan Ken untuk membicarakan tentang kisah mereka berdua. Iya, Feli sangat ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Ken, mereka mungkin bisa berjalan ke taman bunga, atau menghabiskan waktu hanya dengan menyusuri jalanan kota ini saja. Apapun yang akan mereka lakukan, Feli akan benar-benar menikmati setiap detik yang akan dia bagi bersama dengan Ken.
“Semua orang juga tahu kalau aku sangat mencintai adikku. Di hari saat dia akhirnya lahir ke dunia, aku adalah orang yang paling senang karena dia terlahir sebagai seorang perempuan. Aku sudah berpikir untuk menghabiskan semua uangku yang ada di dalam kotak tabungan untuk membelikan dia berbagai macam gaun princess. Iya, aku memang sangat menyayanginya hingga aku rela melakukan apapun untuknya. Aku selalu senang ketika dia mengandalkanku dalam melakukan berbagai hal. Begitulah, hari-hari kami berjalan dengan sangat baik karena aku merasa jika adikku sama sekali tidak memiliki masalah apapun selama aku ada bersamanya..” Kata Tristan dengan pelan.
Feli bisa melihat cinta yang begitu besar ketika dia Tristan menceritakan tentang adiknya. Iya, Feli juga tahu kalau Tristan sangat mencintai adiknya. Dia pria yang baik, seorang pria yang sangat bertanggung jawab karena dia mencintai adiknya bahkan ketika dia belum bisa melakukan apapun.
Feli merasa kalau selama ini Farel juga sangat mencintai Feli. Sayangnya.. pria itu adalah salah satu orang yang menghancurkan Feli saat ini.
“Ketika dia mulai remaja, aku sering marah padanya karena dia melanggar peraturanku. Dia mulai suka berpesta bersama dengan kekasihnya, dia mulai suka mabuk-mabukkan tanpa memikirkan dirinya sendiri. Hingga yang terakhir, aku menemukan kalau dia mengkonsumsi narkoba..”
Feli sama sekali tidak bisa menutupi rasa terkejut yang menyelimuti dirinya. Ini sangat tidak tidak mungkin..
Kisah ini bahkan jauh lebih parah dibandingkan dengan apa yang selama ini Feli dengarkan dari beberapa orang.
“Itu bukan puncak dari semua ini, Feli. Setelah aku menemukan ada n*****a di dalam tas adikku, hal pertama yang langsung aku lakukan adalah mengirimnya ke pusat rehabilitas karena aku tahu, itulah yang terbaik untuknya..”
Feli tidak bisa membayangkan betapa hancur perasaan Tristan saat itu. Pria itu sangat mencintai adiknya, Tristan selalu menjaga adiknya dengan cara yang terbaik, tapi kenapa adiknya malah menghancurkan dirinya sendiri? Itu sangat tidak adil untuk Tristan.
“Beberapa bulan kemudian, ketika dia akhirnya bisa pulang, aku menemukan kalau adikku sudah semakin baik. Dia terlihat jauh lebih bahagia hingga akhirnya aku menemukan dia tergeletak di lantai kamarnya dengan banyak darah yang memenuhi tubuhnya..”
Feli menggenggam tangan Tristan dengan pelan. Pria itu menceritakan satu kisah yang paling menyedihkan di dalam hidupnya hanya karena dia ingin Feli belajar banyak hal dari kisah itu.
Feli sangat menghargai usaha Tristan untuk membuatnya jadi lebih baik.
“Ada satu hal yang membuat aku hancur. Di sana, di dalam kamarnya.. ada sebuah surat yang dia tulis untukku karena memang selama ini kami tidak terlalu dekat dengan orang tua. Aku memilikinya dan dia memilikiku. Sudah, memang hanya begitu saja kehidupan kami selama ini. Aku selalu mengusahakan yang terbaik untuknya karena aku tahu, orang tua kami tidak pernah bisa memberikan semua kasih sayang yang sebenarnya sangat kami butuhkan. Kamu tahu apa yang dia tulis?”
Feli menghapus air matanya yang secara tiba-tiba menetes ketika melihat kesedihan di mata Tristan. Pria itu hancur bersama dengan kematian adiknya. Iya, Feli tahu akan hal itu, tapi sampai sekarang Tristan masih mencoba untuk tetap hidup dan bertahan di tengah kesedihan hatinya.
“Dia meminta maaf padaku, Feli. Dia menuliskan permohonan maaf karena dia tidak bisa membahagiakan aku padahal dia salah besar. Dengan kebahagiaannya, dengan keadaannya yang masih hidup, dengan semua itu saja aku sudah sangat bahagia. Dia juga mengatakan kalau sekarang aku harus hidup untuk kebahagiaanku sendiri. Dia memintaku berhenti untuk terus mengorbankan diriku hanya agar dia terus bahagia. Tanpa dia tahu, aku sangat bahagia ketika harus mengorbankan diriku untuk kebahagiaan adikku..”
Feli kembali mengusap air matanya. Iya, memang terlihat dengan sangat jelas kalau Tristan begitu sangat menyayangi adiknya. Bagaimana mungkin Tristan bisa melewati semua kepedihan ini? Bagaimana mungkin Tristan bisa bangkit dari semua rasa sakit yang harus dia tanggung selama ini?
Iya, Tristan memang seorang pria yang sangat kuat. Dia begitu luar biasa kuat sekalipun sebenarnya dia juga sangat hancur ketika melihat kematian adiknya sendiri.
“Satu hal lagi yang membuat aku semakin gila. Adikku sedang hamil, Feli. Adikku sedang hamil dan dia mati karena mencoba membunuh anaknya sendiri..”
Feli mendekatkan dirinya pada Tristan lalu memeluk pria itu dengan pelan. Tristan menyimpan satu luka yang tidak akan pernah bisa sembuh sampai kapanpun. Tristan menyimpan semua rasa sakit ini sendirian sekalipun dia tahu jika rasa sakitnya akan semakin menghancurkan dirinya..
“Seharusnya dia tahu kalau aku akan selalu ada di sampingnya. Aku tidak akan meninggalkan dia. Seburuk apapun keadaan ini, dia masih memiliki seorang Kakak yang akan selalu mencintainya dengan cara yang sama. Tidak, bukan hanya aku saja, dia sebenarnya memiliki banyak orang yang akan selalu menyayanginya. Tapi dia memilih mati dengan cara yang sangat tidak benar..”
Feli menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ini memang suatu kesalahan yang sangat besar. Tristan rela melakukan segalanya, bahkan kalau memang diperlukan, Tristan akan berdiri untuk melindungi adiknya agar tidak ada satupun orang yang bisa menyakitinya.
“Dengarkan aku, Feli. Aku tahu kalau kamu sedang menghadapi masalah besar. Selama 6 tahun aku mengenalmu, aku tidak pernah melihat kamu sekacau sekarang. Tapi Feli, ingat baik-baik.. apapun yang terjadi, jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang kamu lihat. Jangan mengambil keputusan apapun ketika otakmu tidak bisa berpikir. Jangan lupa, kamu memiliki seorang Kakak. Farel akan selalu bersamamu apapun yang terjadi. Begitu juga dengan Ken, denganku, Sagara, atau semua orang yang ada di sekitarmu. Kapanpun kamu membutuhkan bantuan, kami akan selalu siap untukmu. Tapi yang paling utama, Farel akan selalu ada untukmu..”
Feli sama sekali tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Tristan mengatakan kalau Kakaknya akan selalu ada untuk Feli?
Bagaimana jika Farel adalah salah satu orang yang sudah menghancurkan hati Feli? Apakah Farel juga akan tetap ada di pihaknya?
“Jangan khawatir, apapun masalahmu, sebenarnya semua orang akan selalu mengusahakan kebahagiaanmu. Kamu wanita yang baik, kamu akan mendapatkan semua hal yang terbaik..” Kata Tristan sambil memeluk Feli sekali lagi.
Feli mengeratkan pelukan mereka. Sekalipun bukan Ken, tapi pelukan Tristan juga terasa sangat menyenangkan. Tristan membuat Feli sadar kalau apapun yang terjadi, masih ada orang-orang yang akan tetap mencintainya, yang akan tetap memberikan dukungan terbaik untuk Feli.
Feli memang sudah mempersiapkan dirinya sejak kemarin, Feli sudah menabahkan hatinya agar ketika dia harus mendapatkan satu masalah lagi, Feli sudah tidak perlu merasa khawatir lagi. Feli mungkin akan hancur karena masalah yang terjadi saat ini, tapi Feli akan tetap menguatkan hatinya.
Bagaimanapun juga, orang-orang yang telah menyakiti Feli adalah keluarganya sendiri. Feli tidak akan sanggup menghukum mereka untuk kesalahan yang telah mereka lakukan. Meskipun begitu, Feli juga tidak akan memaafkan mereka dengan mudah.
“Kamu akan menemui Ken? Apakah butuh bantuanku? Aku bisa mengantarkan kamu lebih dulu sebelum aku pulang..” Kata Tristan dengan pelan.
Feli memang akan menemui Ken, tapi dia tidak akan mengatakan apapun. Iya, Feli ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Ken sebelum pria itu tahu kalau mereka akan mendapatkan satu masalah besar yang tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah.
“Aku akan mengemudikan mobilku sendiri. Terima kasih, Tristan.. kamu sangat membantuku..” Kata Feli sambil tersenyum.