Tepat sehari sebelum acara pertunangan, Leviana datang ke kantor Aldo tanpa memberitahukan pria itu terlebih dahulu. Sengaja, Leviana ingin mengejutkan Aldo. Dia memasakkan makanan kesukaan Aldo, bahkan dia sendiri yang berbelanja dan memilih-milih bahan makanan. Seperti calon tunangan lainnya, Aldo membantu Leviana memilih gaun dan segala persiapan pertunangan nanti. Dalam keteguhan hatinya, dia sangat yakin Aldo akan membuka hati untuknya.
"Kamu itu nyaris sempurna, cuma cowok b**o yang gak bisa cinta kamu. Sekeras apa pun hati seseorang pasti akan cair, kalau ada di deket kamu."
Itu adalah ucapan andalan Nathan. Leviana bahkan sudah muak mendengar Nathan mengucapkan kalimat itu berkali-kali. Jika saja di dalam hatinya masih kosong, bisa saja Nathan masuk ke dalam hatinya. Apa mungkin ucapan Nathan benar? Apa Aldo bisa mencintainya?
Leviana masuk ke dalam kantor Aldo dengan wajah semringah. Kakinya seperti terangkat, melayang di udara saking senangnya. Tanpa diinterogasi oleh resepsionis, Leviana langsung di arahkan ke ruangan Aldo. Pria itu sedang rapat, jadi dirinya disuruh menunggu di ruangan. Tidak terlalu kecil dan besar, tapi ruangan ini sangat nyaman. Dua lukisan antik terpajang indah di dinding, selera Aldo cukup unik. Aroma parfum khas Aldo tersebar di sini, dan Leviana sangat menyukainya.
Langkah kaki Leviana terhenti sejenak saat matanya terpaku pada sebuah foto yang terpajang di meja. Dadanya seketika bergemuruh kencang, tanpa sadar air matanya turun. Di sana ada foto Aldo dan Raira, mantan kekasih Aldo. Di dalam foto itu, mereka berdua – Aldo dan Raira—berpelukan erat di sela-sela pelukannya Aldo mengecup Raira.
Besok hari pertunangannya, dan Aldo masih saja memajangnya dengan indah. Wanita mana yang tidak sakit saat melihat calon suaminya masih memajang foto mantan. Dia mengerti, Aldo masih tidak bisa melupakan Raira tapi seharusnya pria itu berusaha bukan? Seharusnya Aldo berusaha melupakan Raira.
"Levi, kapan kamu datang?"
Leviana tersentak kaget, cepat-cepat dia menghapus air matanya kemudian berbalik menatap Aldo sambil tersenyum. "Enggak, Al. Aku baru aja dateng."
Aldo berjalan mendekati Leviana, dia melirik ke arah mejanya sekilas. "Kamu bisa mundur, Ana. Mundurlah sebelum terlambat," kata Aldo seraya duduk di kursinya. Pria itu menatap bingkai foto yang terpanjang di meja, diam dan hanyut dalam kenangan lama. Sementara Leviana berusaha mati-matian agar tidak menangis lagi.
Senyuman indah itu masih terbentuk di wajah Aldo. Sebelumnya, Leviana tidak pernah melihat Aldo tersenyum seperti itu. Hanya menatap foto itu, dunia nyata Aldo seakan hilang dan dirinya seperti sampah yang tak diinginkan.
"Aku tidak akan mundur, Al."
"Oke, aku sudah memperingatkanmu tapi kamu masih nekat. Dengar Leviana." Aldo menghela nafasnya gusar lalu bangkit dari duduknya. "Aku sayang kamu, aku sayang kamu sebagai sahabat. Aku gak mau kamu sakit .... Aku peduli sama kamu, Lev. Kamu tau 'kan betapa suramnya hidup aku?"
Leviana tersenyum tipis, dia mengambil sebelah tangan Aldo kemudian menggenggamnya erat. "Aku juga peduli sama kamu, Al. Aku gak mau kamu terus-terusan kayak gini, beberapa hari lalu aku ketemu sama Raira."
"A-apa?"
"Dia udah bahagia sama suaminya, dan kamu ... kamu terus kayak gini?"
"Kamu ngapain ketemu sama Rara?" tanya Aldo dingin.
"Sepupuku sekolah di tempat Raira mengajar dan aku bertemu dengannya di sana ...," jawab Leviana tak melepaskan tangannya, "dia dan suaminya, bahagia."
Aldo tersenyum kecut. "Oh, ya, Ana. Apa yang kamu bawa? Makanan?" Aldo mengalihkan pembicaraan, dia membuka paper bag yang dibawa oleh Leviana. "Kamu yang masak?"
Leviana diam.
"Mari kita lupakan soal pembahasan tadi. Ayo makan bersamaku."
***
Hari pertunangan Leviana dan Aldo telah tiba. Semuanya telah dipersiapkan dengan sangat detail. Mulai dari dekorasi, gaun, makanan dan para sanak saudara. Pertunangan ini dilakukan secara tertutup, hanya ada anggota keluarga. Dari keluarga Leviana dan juga keluarga Aldo. Semuanya sudah dipersiapkan secara matang.
Ketampanan Aldo bertambah menjadi dua kali lipat dari biasanya. Biasa pria itu berpakaian rapi, maka hari ini pria itu makin tampil menawan. Tidak hanya Aldo, Leviana pun tampil memukau malam ini. Hanya dengan dua keluarga yang hadir, pesta pertunangan ini berjalan meriah. Ririn—kakak Leviana— memaksa Aldo dan Leviana berdansa, tidak ada pilihan lain Aldo menurutinya.
Suara iringan lagu menggema merdu, semua tatapan tertuju pada Leviana dan Aldo. Bagai pemeran utama di dalam sebuah buku novel, malam ini mereka berdua mendapatkan sorot utama dari orang-orang. Leviana bahagia, senyuman indahnya tak pernah surut dari wajahnya.
"Aku tidak ingin kamu berkata menyesal setelah menikah, aku tidak suka ada orang yang menyesal ketika semuanya sudah tak bisa diubah," kata Aldo masih bergerak, sesuai iringan musik. Aldo berbisik di dekat telinganya, nafas hangat pria itu menyapu kulit leher Leviana. Sungguh jantungnya memberontak, darahnya seketika berdesir.
"Aku tidak salah mengambil keputusan, Al. Aku menerima perjodohan ini dengan sangat hati-hati, aku juga tahu kamu masih sangat mencintai Raira," balas Leviana, menyuingkan senyuman tipis.
"Terbuat dari apa hati kamu, Ana?"
Leviana diam sejenak, tidak sengaja dia menginjak kaki Aldo. "Sorry, sorry, Al. Aku tidak sengaja."
Tampaknya yang diinjak biasa saja, malahan pria itu bersikap tenang.
"Seharusnya kamu mendapatkan pria yang baik, Ana. Kenapa harus aku yang kamu mau, kenapa Ana?" tanya Aldo datar, tanpa ekspresi apa pun. Leviana diam, tiba-tiba tangannya di tarik menjauhi kerumunan.
Leviana tidak berkomentar apa pun, dia hanya diam mengikuti ke mana Aldo akan membawanya. Di sinilah mereka berada, balkon rumah Aldo. Susah memang jika sudah mencintai seseorang. Jika mencintai seseorang bisa dalam satu kedipan mata, maka seharusnya Aldo bisa mencintainya dalam waktu cepat bukan?
"Kenapa?"
"A-apa Al?"
"Kenapa Leviana, kenapa? Aku bertanya padamu, kenapa? Nathan, cowok itu suka sama kamu 'kan? Kenapa kamu gak pilih dia aja, Na?"
"Kamu tahu?"
Aldo mengembuskan nafasnya panjang, dia memegang bahu Leviana, menatap wanita itu dalam-dalam. "Kemarin, dia datang dan mengobrol denganku. Dia mengatakan kalau dia suka sama kamu. Hei, kamu buta?" Leviana mengalihkan pandangannya ke arah lain tetapi tangan Aldo menahannya, meminta Leviana agar menatap matanya. "Kurang apa Nathan? Aku ini apa dibanding dia? Ibarat seperti ini, di depan kamu ada pilihan surga dan neraka tapi kamu malah memilih neraka? Padahal satu langkah lagi kamu bisa masuk surga?"
"Kamu ngomong apa, Al?" Leviana berusaha melepaskan tangan Aldo dari bahunya, tapi lagi-lagi Aldo menahannya.
"Aku kasih kamu satu kesempatan lagi untuk meninggalkan duniaku."
Leviana bungkam, hatinya berdenyut nyeri.
"Aku hitung sampai tiga, kalau kamu gak berhentiin aku gak akan biarin kamu pergi. Biarkan saja sifat keras kepalamu itu menyadarkanmu, betapa buruknya pilihanmu ini."
"Al...," panggil Leviana lirih. Ucapan Aldo membuat keputusannya goyah, kenapa Aldo membuatnya goyah? Seharusnya pria itu mempertahankannya.
"Satu."
"Dua ...."
"Tiga." Di hitungan terakhir, Aldo menatap Leviana tak percaya. "Sayang sekali, ke depannya aku tidak akan memberikan kesempatan seperti ini lagi. Selamat datang, di kehidupanku, Leviana." Aldo merentangkan tangannya, seolah menyambut kedatangan Leviana.
"Berapa kali pun kamu ngasih kesempatan untukku pergi, aku tidak akan pergi."
Aldo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jika suatu hari kamu menyesal, menyesal saja di dalam diri dan otakmu jangan pernah sesekali mengungkapkan penyesalanmu di depanku, maka aku tidak akan bisa membiarkan hal ini."
"Baiklah, aku berjanji."
"Kita kembali melanjutkan acara?"
Leviana mengangguk. "Baiklah."
***
Acara pertunangan telah usai, kini Leviana resmi menjadi tunangan seorang pengusaha muda, Aldo Altenza. Seharian berdiri, membuat kaki Leviana keram. Sampai saat ini, kakinya masih terus berdiri. Dia menahannya dengan senyuman manis, di depan calon keluarganya harus menjaga image bukan?
"Lepas high heels-mu, pakai ini," perintah Aldo, meletakan sandal berbulu berwarna abu-abu di lantai tepat di samping kaku Leviana.
"Aku gak papa, makasih."
"Kakimu terluka, lepas dan pakailah," desak Aldo membuat Leviana tak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya. Apa Aldo khawatir padanya?
"Baiklah." Akhirnya Leviana menurut, melepaskan high heels lalu memakai Sandal berbulu nan lembut itu.
"Lain kali jangan keras kepala, aku tidak suka wanita keras kepala," bisik Aldo.
"Jadi ... jika aku tidak keras kepala, kamu akan mencoba suka padaku?"
Aldo terkekeh singkat. "Siapa yang tidak menyukaimu, Ana. Bahkan bunda saja menyukaimu."
"Bukan! Maksudku, membuka hatimu untukku dan melupakan Raira."
Aldo mengedikkan bahunya tak acuh. "Melupakan tidak semudah membuang permen karet dari mulut. Pulanglah, aku tidak akan mengantarmu pulang."
"Aku berharap kamu mengantarku, tapi tidak masalah. Keluargaku sudah menunggu di depan, terima kasih atas penawarannya Tuan Altenza."
"Penawaran apa?"
"Penawaran untuk pergi dari hidupmu, tapi aku memilih bertahan di sampingmu. Tolong hargai, aku."