Bab 3

1364 Words
Berita pertunangan Leviana dengan Aldo sudah tersebar di seluruh area kantor Farlandes Group, kantor milik keluarga Nathan. Leviana sesosok wanita terpuji, baik dan ramah kepada semua orang tanpa ketercuali. Berita kecil tentangnya saja sudah bisa membuat gempar, apalagi berita seperti ini. Lihatlah sekarang, ucapan selamat membanjiri Leviana. Tiada henti ukiran indah menghiasi wajahnya. Senyumannya merekah saat keluarga Aldo menyatakan besok adalah hari pertunangannya. Gaun, dekorasi dan undangan sudah dipersiapkan. Untuk acara pertunangan ini, tidak mengundang banyak orang. Hanya kerabat dekat saja, bahkan teman-temannya pun tidak diundang. Mungkin nanti, setelah acara resepsi ia bisa mengundang orang sesuka hati. Kabar ini telah masuk ke telinga Nathan. Pria itu tidak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaannya. Nathan seperti cacing kepanasan, berjalan ke sana kemari. Melihat Leviana bekerja dari arah kejauhan. Leviana akan menikah dengan Aldo. Pria itu tidak waras, Aldo masih mengilai mantannya. Nathan sama sekali tidak bisa menjamin, Leviana akan bahagia bersama Aldo. Cukup! Nathan tidak bisa diam saja, dia harus menghentikan semua ini sebelum semuanya semakin rumit. Nathan menghampiri Leviana tepat saat detik-detik jam istirahat. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Nathan mengajak Leviana makan di luar. Leviana tidak menolak ajakan Nathan, tanpa berkata sepatah kata pun pada Nathan. Di sinilah mereka sekarang. Sebuah restoran yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kantor. Restoran ini tak pernah sepi pengunjung. Nathan ingin memilih restoran yang lebih sepi, tapi jam istirahat tidak lama. Lagi, lagi, dia harus bersikap profesional. "Rame banget, ya, Pak." Leviana memulai pembicaraan. Senyuman di bibirnya tak pernah padam. Nathan memang senang melihat wanita yang dicintainya tersenyum, tetapi bukan tersenyum karena pria lain. "Panggil kayak biasa aja, sih. Kan ini di luar kantor," omel Nathan kesal. Leviana tidak pantas memanggilnya dengan sebutan 'Pak' terdengar cringe di telinganya. "Ya gak papa, Pak. Suka-suka saya lah." Nathan berdecak sebal. "Jijik juga ya kalau kamu manggil aku 'pak' apalagi dibecandain kayak gitu," kata Nathan berpura-pura muntah. Leviana memutar bola matanya malas, merasa lelah dengan sikap Nathan. Kata orang-orang Nathan dingin, cuek dan berwibawa, seketika Leviana ingin berdecih. Berwibawa konon. Leviana tertawa lepas, sangat-sangat lepas. Tawanya itu telah membuat Nathan kesakitan. Wanita itu tertawa bukan karena lawakannya, atau suaranya yang lucu tetapi karena Aldo. Ya, pria itu adalah alasan kenapa Leviana bisa selepas ini. "Kamu mau tunangan, Lev?" tanya Nathan. Leviana mengangguk antusias. "Iya. Emangnya kamu, yang betah banget ngebujang. Padahal banyak cewek yang ngejar-ngejar kamu," balas Leviana sambil meneguk jus sampai setengah gelas. "Padahal, aku cinta kamu," ucap Nathan blak-blakan. Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Leviana tertawa lagi. "Kamu? Kamu cinta aku. Astaga Nathan, jangan bercanda. Aku—" "Aku serius. Aku cinta kamu, Leviana. Batalkan pertunangan ini, aku mohon ...." Seketika Leviana terdiam. Merenungi kata demi kata yang terlontar dari mulut Nathan. "Kamu bohong?" Nathan menggeleng. "Tapi aku cinta Aldo, dan sebentar lagi kami akan bertunangan." Nathan menghela nafasnya panjang. "Okay. Beri aku kesempatan. Aldo tidak mencintaimu, dan aku mencintaimu. Aku takut kamu tersakiti. Jadi, beri aku kesempatan.” "Tapi kesempatan apa, Nathan! Kamu itu sahabat aku, sahabat yang paaaling mengerti aku. Aku gak mau kamu—" "Aku gak akan jauhin kamu! Seharusnya aku yang bilang ke kamu. Setelah aku ngungkapin perasaanku, kamu jangan mengubah sikap kamu." Leviana menggeleng. "Maafkan aku Nathan. Aku menolak cinta kamu. Dari dulu sampai saat ini, aku tidak pernah menolak apapun yang kamu minta tapi ... sekarang." "Tidak apa-apa," balas Nathan mengambil tisu kemudian mengelap sedikit noda di sudut bibir Leviana," cukup jadi Leviana seperti biasanya. Bahagia selalu ya, aku gak mau lihat kamu sedih." "Nathan! Jijik, ih. Udah aku gak mau denger lagi." Nathan terkekeh kecil. "Hahaha, Leviana cantik kesayangan Nathan sudah besar ternyata." "NATHAN! JIJIK!" *** "Lev!" Mendengar panggilan itu, Leviana langsung menoleh ke belakang. Di sana ada seorang wanita paruh dengan rambut dicepol. Wanita itu berjalan ke arahnya. "Tante? Ada apa Tan? Tante dateng ke sini?" tanya Leviana pada Disa—tantenya. "Kamu hari ini sibuk, Lev? Hari ini pembagian rapor Reisa. Kemarin, Reisa bilang harus ada wali yang ngambil. Kamu bisa ngambilin? Soalnya Tante tiba-tiba ada urusan mendadak." Leviana diam sejenak. "Bisa-bisa, Tan. Kebetulan kantor hari ini libur." "Wah, makasih banyak Lev. Tante gak tahu harus apa lagi, untung kamu mau." "Iya, kembali kasih, Tan. Sekalian mau ngobrol-ngobrol sama Reisa. Udah lama juga hehehe," balas Leviana sambil tersenyum, "oh iya, Tan. Ngomong-ngomong, nama sekolah Reisa apa ya? Aku lupa." "Masa kamu gak tau! Sepupu macam apa kamu?!" ketus Disa diiringi gelak tawa. "Oh ayolah, Tante. Sepupuku itu banyak, tidak mungkin aku hafal nama sekolahnya satu persatu." "Baiklah, baiklah. Nama sekolahnya Bhatia High School. Udah, jam 8 nanti kamu langsung ke sana. Jangan terlambat, karena sekolahnya disiplin banget." Apa katanya? Bhatia High School? Sekolah itu milik keluarga Raira—mantan Aldo. *** Sekolah Reisa sangat besar, sangat-sangat besar jauh dari dugaannya. Begitu luas dan megah, dia tak mengerti sebagus apa sekolah ini. Untung saja Reisa pintar, gadis itu bisa masuk ke sekolah ini karena beasiswa kalau tidak mungkin orang tuanya sudah bangkrut. Sesuai petunjuk dari Reisa, Levina masuk ke dalam ruang kelas. Berkali-kali, Leviana ternganga. Kelas apa ini, kenapa bisa semewah ini. Sekolah ini hampir 4 kali lipat dengan sekolahnya dulu. Gila! "Makasih Kak Levi! Reisa pasti malu banget kalau gak ada wali yang dateng!" seru Reisa sambil memeluk tubuh Leviana. "Sama-sama. Tante bangga banget sama kamu, Sa. Prestasi kamu bisa bawa kamu ke sini," balas Leviana yang masih saja terkagum-kagum melihat ruang kelas Reisa. Tak lama seorang guru masuk ke dalam ruang kelas. Seketika perasaannya bergejolak. Guru itu—guru itu adalah Raira. Sebelumnya Leviana tak pernah melihat Raira secara langsung, hanya melihat wanita itu lewat foto. Betapa cantiknya dia. Jika dibandingkan, dirinya tidak ada apa-apanya. "Selamat pagi semuanya. Para murid beserta orang tua dan wali. Terima kasih telah menyempatkan waktunya, untuk datang ke sini," kata Raira—guru itu dengan gaya bicara santai namun elegan. Lihatlah, Raira sangat berwibawa. Pantas saja Aldo mengilai wanita itu. "Ini adalah kelas utama, kelas unggulan, kelas idaman murid di sini. Kalian sudah berhasil menapaki kelas ini, jangan sampai kalian tergeser dari sini. Terus tingkatkan nilai dan semangat kalian!" Semuanya diam menyimak, tak ada suara gaduh sedikitpun. Sekolah ini memang mewah tetapi sangat seram. Peraturan di sini sangat ketat. "Saya sangat bangga pada 2 orang yang 2 tahun berturut-turut menduduki posisi teratas." Raira tertawa pelan, melihat ke arah berkas. "Jundrew Arestara dan Mika Ambella." Seketika suara gema tepuk tangan terdengar. Dua orang siswa dan siswi berdiri, menundukkan kepalanya kepada semua orang yang ada di sana. Leviana berdecak kagum melihat itu. Murid-murid di sini sangat sopan. "Dan ada satu murid yang naik posisi. Dari kelas tingkat 3 tiba-tiba meloncat dan menggeser murid di kelas utama. Itu semua karena prestasi. Kami, pihak sekolah sangat bangga akan prestasi yang dia miliki." Raira melirik ke arah Leviana, tidak! Lebih tepatnya ke arah Reisa. "Reisa Atmaja Putri. Mendapatkan peringkat 3 teratas!" Sontak mata Leviana membulat kaget. Sangat-sangat kaget, sepupunya bisa sehebat itu? Woaw! Reisa berdiri dari duduknya, dia menundukkan kepalanya dan memberikan salam jauh untuk Raira. Ada kebanggaan dari hati Leviana. Sungguh, perasaannya senang. Setelah pengumuman 3 besar. Raira memanggil murid beserta wali ke depan untuk penyerahan piala, medali, sertifikat dan rapor. Dira akan sangat menyesal tidak datang ke sini. Ini benar-benar suatu kebanggaan. Begitu senang dengan Reisa, Leviana sampai lupa dengan Raira. Diam-diam, dia memperhatikan Raira. Begitu anggun, dan ramah, tanpa mengenal pun Leviana sudah tahu sifat Raira. Raira mengalungkan medali pada Reisa, mengecup singkat kening Reisa. "Selamat, kebanggaan BHS. Tingkatkan selalu Reisa." Reisa tersenyum lalu mengangguk. "Saya akan selalu meningkatkan prestasi, Bu. Terima kasih." Selanjutnya, Raira menyerahkan piala dan piagam ke Reisa kemudian berjabat tangan dengan Leviana. Sungguh, perasaan Leviana tak bisa dideskripsikan sekarang. "Kamu— tantenya Reisa?" Leviana menggeleng. "Bukan, saya sepupu Leviana." "Selamat. Sepupumu sangat berprestasi. Saya sangat bangga kepada sepupumu, semoga anakku nanti secerdas dan sepintar sepupumu," ucap Raira. Leviana terdiam sejenak. Tidak sedikitpun dia melihat raut wajah sedih. Pantas saja, Aldo telah bertindak semena-mena. Raira mungkin sudah melupakan. "Ara sayang! Aku menjemputmu!" teriak seseorang membuat pandangan tertuju pada orang itu. Seorang pria tinggi dan tampan masuk ke dalam kelas tanpa ada rasa malu sedikitpun. Itu? Apakah itu suami Raira? "Daren! Di sini banyak orang. Dasar!" Dan Leviana melihat kebahagiaan di mata mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD