Bab 12

1501 Words
Bermain bola basket adalah cara terbaik untuk melampiaskan emosi. Sekencang apa pun Nathan melempar dan membanting, bola itu tidak akan hancur begitu saja. Seperti orang kesetanan Nathan menggiring bola sesekali memantul-mantulkannya dengan keras. Semua emosi Nathan lampiaskan, membiarkannya lepas agar tidak berkerumun di dalam jiwanya. Bayangkan, sehabis lari pagi Nathan bermain basket. Tentu saja bermain bola basket dalam melampiaskan emosi berbeda dengan bermain bola basket seperti biasanya. Bukan Nathan yang mengendalikan bola basket itu tapi emosi. Ingatan bagaimana Leviana membentak dan menamparnya membuat emosinya semakin melonjak tinggi. Tidak ada yang bisa menahan emosinya selain Nathan sendiri yang menghentikannya. “b******k!” maki Nathan melempar bola basket itu ke dalam ring. Namun tampaknya bola itu merajuk, berkali-kali Nathan mencoba memasukkannya tapi selalu saja meleset. Nathan mengambil bola lainnya, bersiap memosisikan dirinya beberapa meter dari ring dan— Gagal, lagi-lagi meleset. Nathan tersenyum miring, berjalan ke arah kursi di pinggir lapangan indoor. Sedari tadi ternyata Ayu—salah satu asisten rumah tangga—memperhatikannya dari sudut lapangan, di tangannya sudah ada secangkir kopi. Ragu, Ayu mendekati majikannya. Cangkir yang ada di tangannya bergetar hebat sampai percikan kopi panas menyentuh kulit tangannya. “Letakan saja,” titah Nathan tanpa menatap Ayu. Dia menundukkan kepalanya, mengontrol pernafasan serta emosi. Sudah cukup untuk hari ini, bergulat dan memaki diri sendiri. Ayu meletakan cangkir kopi itu di samping Nathan. “Ini Tuan.” “Pergilah,” usir Nathan, tapi Ayu masih setia berdiri di depannya. Nathan mendongkak, menatap asisten rumah tangga itu dengan tatapan kesal. “Tadi saya menyuruhmu apa?” Ayu menunduk ketakutan. “I-itu Tuan, sa-saya tadi ... maaf.” “Apa?! Saya tidak mengerti, ucapkan dengan jelas!” bentak Nathan, membuat wanita itu semakin ketakutan. “Ta-tadi saya bersikap seolah saya ini nyonya di rumah ini. Maaf ... saya janji saya tidak akan mengulanginya, jangan pecat saya.” “Bukankah setiap hari kau bersikap seperti ini?” tanya Nathan menyindir, lebih tepatnya menebak. Saat datang ke rumah ini, Nathan melihat wanita ini sedang bersantai di ruang keluarga. Jika Nathan sedang tidak emosi saat ini, mungkin dia akan membiarkannya tapi sayang sekali, kali ini dia sedang emosi. Segala sesuatu, hal kecil sekalipun akan mengundang kemarahan Nathan. Lagi pula, siapa yang tidak melewatkan kesempatan seperti ini. Pemilik rumah sedang ada di luar negeri, mereka paling berkunjung ke rumah ini beberapa bulan sekali. Rumah sebesar ini, jika dipakai hanya untuk bekerja sayang bukan? Sejujurnya Nathan tidak memedulikan ini. Ayu menggeleng keras. “Ti-tidak Tuan, saya merasa—“ “Saya suka orang yang jujur dalam keadaan apa pun. Kalian bisa gunakan fasilitas di sini sesuka kalian, tapi selalu ingat batasan. Tidak ada yang boleh masuk ke kamar kami dan ruang kerja ayahku. Oh, satu lagi jangan mencuri, saya tidak akan pernah mengampuni pencuri walau barang curiannya hanya sebuah sandal sekali pun. Mengerti?” “Mengerti, terima kasih Tuan, terima kasih,” ucap Ayu sambil menundukkan kepalanya. “Sekarang, pergilah,” usir Nathan lagi seraya mengangkat cangkir berisikan kopi ke atas, lalu menyesapnya pelan. Asisten rumah tangga itu tersenyum, lantas pergi keluar dari lapangan indoor. “Leviana Abraham, menamparku?” Nathan bertanya kepada dirinya sendiri. Pria itu bangkit beberapa saat kemudian dia tertawa kencang, menertawakan dirinya sendiri. “Hanya karena ingin menghilangkan rasa sakit yang dialami wanita itu, dia menamparku? Demi orang yang baru beberapa tahun dikenalnya? Bagaimana denganku? Yang sudah berpuluh tahun mengenalnya.” “b******k,” maki Nathan lagi, melempar cangkir itu ke dinding. Menyisakan pecahan-pecahan beling di lantai dengan kopi mengalir di antara pecahan-pecahan itu. *** Aldo menenggelamkan diri di kolam, membiarkan hati dan otaknya dingin. Raira bahagia di atas penderitaan, tapi Aldo percaya kalau kebahagiaan Raira hanya sebuah tipu muslihat untuk mengelabui keempat kakaknya. Dia yakin sekali Raira masih mencintainya seperti dia mencintai wanita itu. Tidak bisa dipungkiri, Raira begitu lihai memainkan drama. Seharusnya wanita itu masuk ke dalam dunia perfilman. Mungkin wanita itu akan mendapatkan gelar sebagai aktris terhebat menipu orang dengan perannya. Aldo menginginkan saat-saat di mana Raira akan berlari memeluknya sambil mengatakan kalau wanita itu masih mencintainya. Apa mungkin Raira trauma melihat wajahnya? “Cih, tunangan,” desis Aldo sambil menatap cincin yang tersemat di jari manisnya. Aldo sangat membenci keadaan ini, dia sangat membenci alur hidupnya. Dia dan Raira adalah pasangan serasi sejak masa SMA dulu, tapi semuanya hancur. Bukan salahnya tapi salah kakak tertua Raira. Andai saja kakak Raira membiarkan dia dan Raira berpacaran mungkin dia tidak akan berbuat konyol. Dulu Raira sering bercerita kepadanya, wanita itu bercerita tentang kakak tertuanya. Dulunya Raira Hidup bersama keluarga angkat, saat kelas 11 tiba-tiba sebuah keluarga mengakui Raira dan membawa Raira paksa. Batin dan fisik Raira tersiksa, itulah yang Raira ceritakan. Raira dipaksa menjadi seorang adik yang patuh, menerima segala perintah dari kakaknya terutama kakak tertuanya jika Raira membantah maka kakak Raira tidak segan-segan melukai Raira. Karena itulah, sampai saat ini Aldo tidak bisa percaya Raira bahagia dan baik-baik saja. “Aku masih menunggumu, Rara. Sampai kapan pun, aku selalu menunggumu. Di sini, aku masih ada di sini, menunggu kedatanganmu,” ucap Aldo pilu. Matanya terpejam, merelakskan pikirannya di bawah air kolam yang dingin. *** Dari pagi sampai sore, Leviana masih duduk di kursi taman. Pandangannya kosong, memandang lurus ke depan. Waktu terus berjalan tapi Leviana merasa waktunya sudah berhenti. Orang-orang di sana beberapa kali menyapa Leviana. Namun Leviana tak membalas sapaan itu, jangankan sapaan kembali menatap saja tidak. Leviana hanya diam, diam dan diam, merenungi setiap kesalahan yang telah dia perbuat. Bokongnya terasa keram, seluruh tubuhnya seakan hancur. Dua kesakitan sekaligus menyerangnya tanpa ampun. Pertama soal Aldo yang memata-matai mantannya, dan kedua, tanpa sengaja dia menampar Nathan. Pria itu tidak bersalah sama sekali, semua kesalahan ada pada dirinya sendiri. Nathan peduli padanya, karena itu pria itu ingin dia menjauh dari Aldo, setidaknya untuk beberapa saat. Bodoh memang, tidak tahu rasa terima kasih. Entah bagaimana kondisi Nathan sekarang. Pria itu pasti marah karena telah dibentak dan ditampar olehnya. Bagaimana cara dia meminta maaf pada Nathan? Sungguh, dirinya gelisah. Sebelum mendapat maaf dari Nathan, dirinya tidak akan tenang. Leviana mengambil handphone-nya lalu mengetikkan sebuah pesan. To : Nathan I’m sorry? *** Pagi hari, Leviana datang ke kantor lebih cepat. Dia berencana untuk meminta maaf pada Nathan sebelum jam kerja dimulai. Biasanya Nathan akan marah jika dia meminta bicara saat pria itu menjadi monster Ferlandes. Leviana sangat yakin, Nathan akan mudah memaafkannya. Sejak dulu, Nathan tidak tahan berlama-lama marah padanya. Dia berharap, semoga Nathan memaafkannya. Jam kerja di mulai, tapi Leviana tidak melihat tanda-tanda kedatangan Nathan. Masih setia menunggu, sesekali dia melirik di pintu kaca ruangan Nathan. Kosong, tidak ada Nathan di sana. Para karyawan di sini sibuk, mereka fokus mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak seperti biasanya, jika Nathan tidak masuk mereka akan heboh sendiri. Ada apa ini? Sampai jam istirahat tiba, Nathan tak kunjung datang juga. Leviana menghela nafasnya gusar, dia lelah menunggu. Perasaannya gelisah tak menentu, dia sudah mempersiapkan kata-kata permintaan maaf untuk Nathan tapi pria itu tidak masuk. Penasaran kenapa Nathan tidak datang ke kantor, Leviana menghampiri resepsionis. “Nad,” panggil Leviana pelan. Nadya—receptionis Ferlandes group—mendongkak, menatap Leviana. “Kenapa, Bu? Ada yang bisa saya bantu?” “Panggil biasa aja, Nad.” “Tapi ini di kantor.” Leviana melirik ke kanan dan kirinya, memastikan tidak ada orang yang mendengar ini sementara Nadya mengerutkan dahinya bingung. Leviana sedikit mendekati Nadya, dia meletakan jari telunjuknya di hidung meminta Nadya tidak berisik. “Pak Nathan gak masuk?” “Lho, Ibu gak tau?” Apa kata Nadya tadi? “A-apa? Gak tau apa, Nad?” “Pak Nathan lagi sakit, jadi dia gak masuk sekarang. Ibu ‘kan sekretarisnya masa gak tau si,” jawab Nadya santai, sambil membereskan berkas-berkas yang berantakan di mejanya. Leviana diam, menyerap jawaban Nadya. Nathan hanya beralasan, pria itu tidak sakit. Dia sangat mengenal Nathan, jika pria itu sedang marah, pria itu tidak akan mau bertemu siapa pun apalagi bertemu dengan sumber yang membuat pria itu marah. Seandainya dia ada di posisi Nathan, dia akan melakukan hal yang sama mungkin lebih buruk. Leviana tak bisa dibentak, apalagi ditampar oleh orang-orang yang dia sayang. Membayangkannya sakit, jangan sampai menjadi kenyataan. “Oke deh, Nad. Terima kasih,” ucap Leviana lantas pergi ke tempatnya lagi. “Kenapa Lev, murung terus?” Vanya tiba-tiba bertanya, di tangannya sudah ada segelas jus dan makanan ringan. Leviana diam, tidak menjawab pertanyaan Vanya. Kesal tidak dijawab, Vanya menghalangi jalan Leviana. “Kenapa? Gak jadi dinner ya?” Tebakan Vanya tepat sasaran, tapi masalahnya bukan hanya itu. Lebih parah dari itu. Leviana ingin mengungkapkan apa yang terjadi, ingin mengeluarkan segala unek-unek yang terpendam di hati. Vanya masih belum mampu mengerti dirinya. Hanya Nathan satu-satunya orang yang bisa mengerti dirinya, tidak ada orang lain lagi. Saat Nathan marah padanya, dia tidak bisa berbuat apa pun selain memendam masalah. “Kenapa bener ‘kan?” Leviana menggeleng. “Jadi, tapi gak sama Aldo tapi sama Pak Nathan.” Vanya tertawa keras. “Bener kata Bi Eni, kamu tuh cocoknya sama Pak Nathan. Udahlah Lev, sikat aja dua-duanya.” “Sikat-sikat, mata kamu disikat,” sentak Leviana marah. Dia mendorong tubuh Vanya agar wanita itu menyingkir dari jalannya. Leviana pergi, meninggalkan Vanya dengan perasaan jengkel. “Woi, kalau kamu gak mau sama Pak Nathan, buat aku aja ya!” teriak Vanya menggoda Leviana. “Ambil sana, aku gak peduli!” balas Leviana berteriak, tanpa menoleh ke arah Vanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD