Bab 11

1638 Words
“A-Aldo?!” panggil Leviana menatap Aldo dari kejauhan. Di sana ada Aldo sedang menegak air mineral sampai habis kemudian membuang botolnya ke tempat sampah. Kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman indah. Nathan memperhatikan ke mana Leviana menatap, sekarang dia mengerti sekarang kenapa Leviana tersenyum. Dia tersenyum kecut, sakit sekali dihadapkan pada situasi ini. Leviana berlari menghampiri Aldo tanpa memedulikan dirinya yang sejak kemarin terus ada di samping wanita itu. Jika Aldo sudah ada di depan mata Leviana, maka dunia wanita itu tidak lagi penting, yang wanita itu pentingkan hanya Aldo, Aldo dan Aldo. Walau tak dipedulikan Leviana, Nathan masih tetap memedulikan Leviana. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan terima melihat Leviana disakiti. Nathan mengikuti Leviana dari belakang, tentu saja tanpa sepengetahuannya. Wanita itu tampak menyapa tunangannya dengan nada ceria. Namun, teramat disayangkan Aldo tidak memedulikan keberadaan Leviana. Dari jauh, Nathan memperhatikan setiap gerakan mereka berdua. Nathan seperti menjadi mata-mata, tidak apa, Nathan lakukan ini demi Leviana. Aldo tidak punya hati, pria itu tidak berpikir dua kali melukai hati Leviana. Maka Nathan harus mengawasi Aldo, jangan sampai pria itu bertindak lancang. “Aldo, kamu jogging juga? Kenapa gak ngajak aku?” tanya Leviana, senyuman indah dan menawan tak dia hilangkan dari wajahnya. “Aku minta maaf soal semalam,” ucap Aldo membicarakan hal lain. Dia tidak menatap Leviana, tatapannya tertuju ke hal lain. Leviana menggelengkan kepalanya cepat, menepis permintaan Aldo. Dia mengerti Aldo sedang ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Masalah dinner bisa kapan saja, dan dia sangat mengerti itu. Semalam dia menangis karena suasana hatinya sedang memburuk dan Nathan yang menekankan suasana hatinya. “Aku gak papa, Al. Kita bisa kapan aja, urusan kamu lebih penting. Hm, karena kita ada di sini, gimana kita jogging bareng. Tiba-tiba aku semangat liat kamu hehehe,” balas Leviana semangat diiringi dengan suara tawa kecil. Wanita itu menggenggam tangan Aldo, mengajaknya berjalan. Namun siapa sangka, Aldo malah menepisnya kuat. “Maaf, Ana. Jangan sekarang, aku lagi ada urusan,” pungkas Aldo, berjalan cepat meninggalkan Leviana. Tidak ingin hilang harapan, Leviana mengejar Aldo begitu pun dengan Nathan yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, ikut mengejar Leviana. Aldo tiba-tiba berhenti, menatap ke arah lain. Pria itu bersembunyi di balik pepohonan, tatapannya tertuju pada sebuah keluarga kecil yang bahagia. Hati Aldo sakit seperti ditusuk-tusuk. Tidak hanya Aldo yang merasakan demikian, Leviana pun ikut merasakan sakit sama seperti apa yang Aldo rasakan. Pria itu datang ke sini untuk membuntuti keluarga kecil Raira. Keluarga kecil Raira sedang bermain, duduk di atas karpet sambil tertawa bahagia. Raira, suami dan anaknya—mereka bertiga bahagia. Tontonan ini sama sekali tidak membuat Aldo senang. Dadanya semakin sakit, saking sakitnya dia tidak bisa menahan kesesakannya lagi. Leviana hanya diam, air matanya berjatuhan menyusuri pipinya. Mati-matian dia menahan suara Isak tangis, mati-matian dia tidak berteriak memaki di depan Aldo dan—mati-matian dia tidak menahan segala kesesakan ini. Bolehkan kali ini dia marah di depan Aldo, sekarang dia mempunyai hak sebagai calon istrinya. Sama halnya seperti Nathan, pria itu melihat satu persatu adegan penuh dramatis ini. Nathan menahan segala penderitaan yang dikeluarkan Leviana. Penderitaan wanita itu dia tanggung semuanya. Hanya Raira yang bahagia di sini, semuanya—Aldo, Leviana bahkan dirinya sendiri tidak bahagia. Ini bukan salah Raira, akar masalah sebenarnya ada di Aldo dan Aldo pantas disalahkan atas perasaan rumit ini. Raira mempunyai satu putra, lihatlah keluarga kecil nan bahagia itu bahkan Tuhan pun enggan merebut kebahagiaan keluarga kecil itu. Bukankah seharusnya Aldo dibunuh oleh keempat kakak Raira? Kenapa Aldo masih hidup? Katakan saja Nathan jahat, karena di dunia ini tidak ada yang baik. Semua orang akan berubah menjadi jahat, pada keadaan tertentu. Bukan berarti Nathan ingin membunuh Aldo, tapi Nathan ingin melihat Aldo mati ditangan orang lain, lebih bagus lagi Tuhan langsung. Tidak tahan melihat air mata Leviana, Nathan berlari ke arah Leviana lalu menarik tangan wanita itu kuat. Baru beberapa langkah, Leviana menepis tangan Nathan kasar. Bahu wanita itu naik turun, nafasnya tak beraturan. “Jangan ikut campur masalahku, Nathan! Ini hidupku, bukan hidupmu! Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri, tanpa campur tangan darimu!” teriak Leviana keras. Untunglah di sini sepi, jadi hanya Nathan dan Aldo yang mendengar teriakan Leviana. “Aku tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti ini! Aldo tidak pantas untukmu! Tinggalkan Aldo Leviana Abraham!” Nathan balik berteriak. Plak Leviana menampar Nathan keras. Seketika semuanya hening, hanya angin berembus yang terdengar. Untuk pertama kalinya Leviana menampar Nathan. Jantungnya berdegup kencang, Leviana menatap kedua telapak tangannya tak percaya. Nathan mengusap pipinya kemudian tersenyum miring. “Hadiah pagi ini sangat luar biasa, Leviana. Bahkan orang tuaku pun tidak pernah memberikan hadiah seluar biasa ini.” Nathan mengecup kening Leviana singkat. “Terima kasih.” Setelah mengatakan itu, Nathan langsung pergi meninggalkan Leviana. Leviana merasa bersalah, tapi tak kunjung lama dia langsung menghampiri Aldo. Dia memeluk Aldo dari belakang, memeluknya dengan sangat erat. Aldo hanya diam, tidak bereaksi apa pun. “Aku akan lupakan soal ini, Aldo. Maka itu kamu juga harus melupakan Raira, kamu itu tunanganku,” ucap Leviana mengeratkan pelukannya. Aldo melepaskan pelukan Leviana dalam sekali tarikan. “Melupakan tidak semudah mengucapkan kalimat perintah, Ana. Kamu sudah masuk ke dalam kehidupanmu, untuk itu nikmatilah. Apa aku harus menyambutmu kembali?” tanya Aldo menatap Leviana datar, “baiklah, aku akan menyambutmu kembali ‘selamat datang di kehidupan suramku, Leviana Abraham’ ingat ini, ingat selalu kata-kata penyambutan ini.” Aldo pergi meninggalkan Leviana, pria itu berlari kencang menjauhi Leviana. Air mata Leviana masih saja mengalir, kali ini air matanya mengalir dengan sangat deras. Pandangannya masih tertuju pada punggung Aldo yang semakin lama semakin menjauh. Langkahnya terasa berat, dia paksakan untuk berjalan. Dia duduk di kursi tepatnya di bawah pohon, langsung berhadapan dengan keluarga Raira. Hari yang sangat menyakitkan bagi Leviana. Tubuhnya tak sanggup untuk berdiri, semua bagian tubuhnya terasa hancur. Tangannya ini sudah berani menampar orang dan yang lebih parahnya orang itu adalah Nathan, orang yang sangat dia sayangi. Nathan adalah sahabatnya, dia hidup bersama Nathan dari jabang bayi sampai sekarang. Betapa bodohnya dia. “Ah, kakak sepupu Reisa?” Tiba-tiba suara seseorang memecahkan lamunannya. Leviana mengalihkan tatapannya, mengusap air mata yang tidak bisa diberhentikan. Dia menarik dan mengembuskan nafasnya pelan, kemudian menatap orang itu. “I-iya.” Raira, orang itu Raira. Untuk kedua kalinya Leviana bisa berhadapan langsung dengan orang yang selama ini Aldo cintai. Di perhatikan dari sudut mana pun, Raira tidak ada celah. Terlihat sempurna di matanya. “Derren, air mineral,” pinta Raira lembut kepada seorang pria tampan bertubuh jangkung. Pria bernama Darren itu menyodorkan air mineral kepada Raira. “Ini sayang.” Lembut dan halus, tapi terdengar tegas di telinga Leviana. Pria itu adalah pria yang Leviana temui saat pembagian raport Reisa—suami Raira, tampak sangat memukau dengan seorang anak berada di gendongan pria itu. “Ini minum, pasti kamu banyak masalah ‘kan? Tenanglah, anggap aku kakakmu,” kata Raira sambil menyodorkan air mineral ke hadapan Leviana. Leviana mengambil air mineral itu, pandangannya tertuju pada wajah Raira. Cantik, manis dan berwibawa, Aldo tidak salah mencintai wanita ini. Dibandingkan dengan Raira, dia tidak ada apa-apanya. “Makasih,” ucap Leviana serak. Raira tersenyum. “Sama-sama, ayo, diminum dan tenangkan dirimu. Mau kami hantar pulang?” “Sayang, kita harus segara pergi. Kak Deva sudah menghubungimu beberapa kali,” ucap Darren—suami Raira sambil menunjukkan layar handphone-nya. “A-aku gak papa, Bu—“ “Panggil Raira saja, kita teman.” Teman? “Bo-boleh panggil ‘kak’?” Raira tersenyum, lalu mengangguk. “Boleh aku memelukmu? A-aku janji, tidak akan lama.” Lagi-lagi Raira tersenyum, wanita itu memeluk Leviana erat. “Jangan menangis, tenang saja seberapa besar masalahmu pasti akan terselesaikan. Kalau kamu ingin berbicara denganku lagi, ini.” Raira melepaskan pelukan, mengambil sesuatu di dalam tasnya. “Ini nomorku, kamu bisa meneleponku kapan pun kamu mau.” “Sayang,” panggil Darren mendesak Raira untuk pulang. “Baiklah, aku pergi ya hm ...?” “Levi, panggil aku Levi.” Raira mengangguk. “Sampai jumpa Levi.” *** Perasaan Nathan hari ini campur aduk, setelah dia dikecup dengan kebahagiaan beberapa saat kemudian dia ditimpa kekecewaan yang begitu mendalam. Tamparan ini tidaklah seberapa untuknya tapi, melihat siapa yang menampar hatinya langsung tidak bisa menerima. Leviana menamparnya, meluapkan emosi yang terpendam kepadanya. Baru kali ini, Leviana berani menamparnya. Kepeduliannya terhadap wanita itu tidak dipedulikan. Padahal dia hanya tidak ingin wanita itu merasakan sakit, karena sakitnya wanita itu juga menjadi sakit untuknya. Berapa kali pun dia mengungkapkan perasaannya, wanita itu tidak akan peduli. Setelah meninggalkan Leviana, Nathan pergi ke rumah lamanya. Sebuah rumah milik keluarga Nathan, letaknya lumayan jauh dari apartemennya. Nathan tidak tinggal di sana, rumah itu terlalu besar untuknya. Orang tua Nathan membiarkan rumah itu, mereka melarang siapa pun menjual rumah itu termasuk dirinya sendiri seolah mereka akan kembali menetap di negara ini. Dua asisten rumah tangga dan satu satpam masih setia menjaga rumah itu, walau pemilik rumah jarang menginjakkan kaki ke rumah ini. Bersih dan rapi, sama seperti dua bulan lalu sewaktu dia berkunjung ke rumah ini bersama Leviana. Satpam dan kedua asisten rumah tangga di rumah ini kaget melihat Nathan tiba-tiba datang tanpa mengabari mereka terlebih dahulu. “Tuan, mau makan apa? Biar saya masakin.” Nathan menatap seorang asisten rumah tangga dengan tatapan datar. “Buatkan saya kopi hitam, langsung bawakan ke lapangan indoor.” Setelah mengatakan itu Nathan pergi, dia membuka kaos dan melemparnya ke sembarang arah. “Kaget saya, Tuan Nathan tiba-tiba dateng,” ucap Ayu kepada asisten rumah tangga lain. “Sama atuh, saya juga kaget. Untung saya gak lagi tidur di sofa,” timpal Mia. Ayu menatap Mia khawatir, pasalnya dia tadi kepergok sedang bersantai di ruang keluarga sedang menonton televisi. Lebih mengkhawatirkannya lagi, kaki Ayu terangkat di sofa dengan tangan memegang camilan. “Saya tadi lagi nonton TV terus tiba-tiba saya denger suara deheman. Gimana nih, Mbak Mia.” “Nanti kamu minta maaf aja sama Tuan Nathan, dia baik kok.” “Takut, liat mukanya aja saya udah bisa tahu kalau Tuan Nathan galak.” “Baik.” Ayu memutar bola matanya malas. “Awas ya, kalau bohong.” “Saya udah kerja di sini puluhan tahun, pas Tuan Nathan masih kecil saya udah ada di sini.” “Jadi bener Tuan Nathan baik?” “Iya, baik. Tapi tegas, kadang kasar kalau lagi marah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD