Bab 10

1533 Words
Melihat wajah damai Leviana saat tertidur, Nathan jadi ingin memeluknya saat ini juga—merengkuhnya saat Leviana tidur. Pintu kamar Nathan biarkan terbuka, di depan sana ada Brisila sedang mengerjakan karya ilmiah lewat laptop. Nathan bukan Aldo, yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan orang yang dicintainya. Keluarganya tidak pernah mengajarkan hal seperti itu, wanita itu dijaga bukan dirusak dan Nathan selalu menjaga orang yang dia cintainya. Lama menatap wajah damai Leviana, tangannya terulur mengusap wajahnya pelan, meneliti setiap lekukan keindahan wajah Leviana. Wanita itu melenguh pelan, bergerak gelisah mencari posisi nyaman. Usapan Nathan beralih ke kepala, dia mengusap rambut Leviana halus, menyisirnya menggunakan jari-jari tangannya. “Kamu itu nyaris sempurna, Lev. Bukan berarti aku juga sama denganmu, aku banyak kekurangan tapi setidaknya aku bisa melindungi dan menyayangimu segenap hatiku. Aldo itu, bukan cowok baik. Dia gak pantes jadi suami kamu.” Nathan menghela nafasnya panjang. “Kenapa hati kamu buta, Lev? Kenapa?! Kenapa kamu gak bisa liat seberapa cintanya aku ke kamu!” Nathan menaikkan nada bicaranya. Dia tahu, Leviana tidak akan mudah terbangun hanya karena suara teriakannya. Tidak begitu keras, lembut tapi penuh dengan penekanan. “Aku pastikan, kamu akan memilihku.” Pria itu bangkit lalu mengecup kening Leviana. “Selamat malam, aku mencintaimu. Jangan bermimpi, kalau kamu hanya memimpikan soal Aldo.” Setelah itu, Nathan keluar dari kamar. Dia sedikit meruntuk, betapa suram hidupnya. Hal-hal soal rencana jahat untuk merebut Leviana selalu berkeliaran di otaknya, ini mungkin terjadi pada Aldo dulu. Di ruang tamu, Brisila sedang asyik berkutat dengan laptopnya. Nathan menggeleng-gelengkan kepala, dia duduk di sofa memperhatikan pekerjaan Brisila. Gadis itu belum menyadari kedatangan Nathan, saking seriusnya dengan tugas. “Belum selesai?” tanya Nathan membuat Brisila terlonjak kaget, cepat-cepat Brisila menoleh menatap kakak sepupunya. “Kaget, tiba-tiba muncul kayak setan,” ucap Brisila pelan sambil mengusap-usap dadanya. Nathan mengerutkan dahinya. “kamu ngomong apa?” Nathan bertanya lagi, cepat-cepat Brisila menggeleng cepat. “I-itu, aku belum selesai Kak. Besok aku mau wawancara, mungkin lusa aku pulang,” jawab Brisila gugup, dia kembali menatap layar laptopnya, mencoba untuk fokus. Nathan sudah menganggap Brisila sebagai adik kandungnya sendiri, begitu sebaliknya. Jika gadis itu berbuat salah, Nathan bisa menebaknya dengan cepat. Hanya Nathan yang tahu sifat-sifat keburukan Brisila, bahkan kakak kandung Brisila mungkin tidak tahu apa yang Nathan ketahui tentang Brisila. Gadis itu sangat keras kepala, dan satu-satunya orang yang bisa mengendalikan sifat keras kepalanya itu hanya Nathan. Kedua tangan Nathan terentang ke atas, meluruskan kedua kakinya di sofa. Sementara Brisila kembali hanyut dalam tugasnya. “Tumben cepet, masih liburan juga. Tinggal di sini sampai beberapa hari lagi.” “Gak, aku gak mau dijadiin babu,” jawab Brisila santai, tangannya masih sibuk menari-nari di layar kayboard. “Mulutnya? Mau Kakak geplak ya?” “Bener ‘kan? Kemaren juga Kakak bilang, kalau Kakak gak keberatan aku tinggal lebih lama di sini karena tempat ini jadi bersih.” Nathan tertawa pelan seraya mengacak-ngacak rambut Brisila membuat gadis itu mengeluh kesal. “Kakak gak bisa bohong, emang itu tujuan Kakak. Kalau kamu kerjaannya Cuma nyusahin, sana cari kontrakan.” “Parah.” “Emang.” “Masih suka sama Kak Levi?” “Masih dong,” jawab Nathan antusias. “Kak Levi udah suka juga sama Kak Nathan?” Nathan menggeleng. “Bahkan Levi udah tunangan, menurut kamu Kakak harus gimana? Kakak gak bisa jauh dari Levi.” Brisila berbalik, menatap kakak sepupunya dengan tatapan miris. “Kak Levi udah tunangan? Sama siapa?” “Kayaknya kamu pernah ketemu deh sama tunangan Levi. Aldo Altenza, kamu inget?” Mulut Brisila refleks terbuka, matanya melotot seperti tahu sesuatu. “Oh! Iya! Wah, ganteng juga. Tadi juga aku ketemu sama dia, sebelum aku ke rooftop aku jalan-jalan ke pasar malem yang gak jauh dari sini. Hm ... tapi ...,” kata Brisila menggantung. “Tapi apa?” “Tapi, aku lihat dia lagi kiss sama cewek. Di bianglala, kebetulan aku berseberangan sama Aldo.” Brengsek sekali pria b******n itu. Membatalkan janji untuk bermesraan dengan wanita lain? Wajah Leviana sampai membengkak akibat menangis karena Aldo. Entah bagaimana kondisinya saat tahu, Aldo membatalkan janji untuk—wanita lain. “b******k,” maki Nathan, kedua tangannya mengepal kuat. *** Bangun tidur Leviana sudah dikagetkan dengan kamar asing, tidak! Maksudnya bukan kamar asing karena dia tahu betul siapa pemilik kamar ini. Wanita itu bangkit dari kasur, dia memandang ke segala arah. Benar dugaannya, dia berada di apartemen Nathan. Apa pria itu membawanya ke sini? Lantas bagaimana kondisi orang tuanya, mungkin mereka berdua khawatir. “Gak perlu kaget gitu, aku udah bilang ke Tante Amrita,” kata seseorang di ambang pintu, membuat Leviana sontak kaget. Leviana membalikkan tubuhnya, terlihat Nathan di ambang pintu memakai kaos pendek dan celana training. Leviana menghela nafasnya lega. “Syukurlah, aku khawatir. Tapi kamu gak ngapa-ngapain aku ‘kan?” tanya Leviana, nadanya terdengar seperti bercanda—melihat dirinya sendiri dari ujung kaki sampai lengannya. “Aku bukan Aldo, tapi nanti bisa lebih dari Aldo,” canda Nathan menakut-nakuti Leviana. Wanita itu berdecak kesal, mengambil bantal lalu melemparnya ke wajah Nathan. Namun, Nathan berhasil menangkap bantal itu. “Awas ya, macem-macem aku gorok,” ancam Leviana, berpura-pura menggorok lehernya menggunakan jari telunjuk. “Santai, Mbaknya. Aku Nathan Ferlandes, gak mungkin main kotor. Paling mentok aku culik kamu terus dibawa ke tempat jauh, di mana semua orang gak bisa nemuin.” Leviana bergidik ngeri sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “Kalau itu kamu mirip psikopat yang terobsesi, tau gak? Kayak di novel-novel.” “Kamu pengen ‘kan? Jadi inget pas SMA dulu, kamu ngayal pengen punya pacar yang misterius. Tiba-tiba Dateng ngungkapin cinta, kalau gak mau kamu bakal diculik. Ya, seandainya kamu mau si aku gak keberatan, culik kamu.” “Nathan, lupain itu!” “Mandi sana, terus ikut jogging. Ada Brisila juga.” “Brisila? Adik sepupu kamu yang tinggal di Kalimantan itu?” Nathan mengangguk. “Ya, cepet mandi sana.” *** “Bris!” pekik Leviana memeluk Brisila erat. Karena tidak membawa pakaian ganti, Leviana memakai pakaian milik Brisila. Pas sekali, ukuran tubuh Brisila dan Leviana tidak jauh berbeda. Sudah bertahun-tahun lamanya Leviana tidak bertemu dengan Brisila. Dulu sewaktu kecil, mereka—Leviana, Nathan dan Brisila—sering bermain bersama. Tidak menyangka, Brisila sudah tumbuh sebesar dan secantik ini. Brisila sering memantau Leviana di media sosial jadi tidak kaget melihat Leviana, beda dengan Leviana, saat melihat Brisila terkejut bukan mati. Brisila membalas pelukan Leviana. “Kak Levi!! Bris kangen Kak Levi. Apa kabar Kak?” tanya Brisila, melepaskan pelukannya. “Baik, sangat baik. Kamu gimana? Oh, astaga kamu beda banget!” balas Leviana tidak percaya, menatap Brisila dari bawah sampai atas dengan pandangan kagum. “Aku juga baik. Ngomong-ngomong Kak Levi jahat! Masa iya tunangan gak ngasih tahu aku.” “Maaf Brisila, aku pikir aku bakal ngasih tau kamu nanti beberapa hari sebelum pernikahan.” Brisila melipat kedua tangannya di d**a. “Bener ya. Awas kalau gak dikasi tau, aku bakar resepsi pernikahannya.” Leviana mengangguk sambil tersenyum. “Iya, pasti. Bye the way, ancamannya basi. Dari dulu, ancamannya Cuma bakar, bakar, dan bakar. Kreatif dikit dong.” “Cekcok mulu, baru ketemu sehari,” sindir seseorang membuat Leviana dan Brisila menoleh ke belakang. Di sana sudah ada Nathan sedang berkacak pinggang, memelototi mereka berdua. “Ayo berangkat, keburu siang.” “Eh, a-aku mau langsung ke tempat wawancara Kak. Ka-kalian berdua aja ya ehehehe,” ucap Brisila sambil tertawa kikuk. “Oke, sana pergi,” usir Nathan. “Wawancara?” tanya Leviana, meminta penjelasan lebih dari Brisila. “Untuk tugas kuliah, Kak. Yaudah, aku langsung berangkat ya! Bye!” pamit Brisila berlari meninggalkan Nathan dan Leviana. “Jadi? Kita berangkat?” “Iya, udah lama juga gak jogging bareng.” Nathan tersenyum, dia menggenggam tangan Leviana. “Iya, kamu terlalu sibuk dengan percintaan kamu.” *** Nathan dan Leviana jogging tak jauh dari apartemennya. Terakhir kali mereka jogging bersama, sekitar beberapa bulan lalu. Keduanya sibuk, mereka berdua sama-sama sibuk jadi tidak bisa setiap minggu mereka berdua bertemu ditambah Leviana sudah terpikat dengan Aldo. Banyak orang menganggap mereka sepasang kekasih, bahkan saat SMA dulu. Leviana dan Nathan diberikan penghargaan sebagai pasangan ter-romantis padahal mereka berdua hanya sahabat bukan kekasih. Dijelaskan beberapa kali, teman-temannya dulu tidak percaya. Nathan sungguh merindukan masa-masa itu. “Seharusnya kita pakai sepeda, udah lama gak jalan-jalan kayak gini buat pinggangku encok,” keluh Leviana sambil memegangi pinggangnya. Nathan menepuk pinggang Leviana keras, sengaja menggoda wanita itu. Dari awal keluar sampai sekarang, setengah perjalanan wanita itu tak berhenti-berhenti mengeluh. Pinggang sakit, kaki keram, lutut linu, kepala pusing, ya tentu saja Leviana hanya membual. Biasanya hari libur Leviana gunakan untuk tidur sepanjang hari. Hari libur digunakan untuk beristirahat, dan tidur termasuk istirahat jadi Leviana memilih tidur untuk menghabiskan waktu istirahatnya. “Masih muda padahal, tapi kamu bersikap seolah umur kamu itu udah satu abad,” cibir Nathan, memukul-mukul lengannya. Leviana mencebik, menepis tangan Nathan. “Kalau satu abad aku ada di brankar rumah sakit, menyambut ajal.” “Ajal kok disambut. Kalau masuk surga si gak papa, lah ini masuk neraka. Amal kamu aja berat sebelah.” “Sok banget jadi orang, kayak sendirinya gak berat sebelah aja,” balas Leviana mencibir. “Bukan berat sebelah lagi, timbangannya rusak gara-gara kebanyakan dosa.” “Iya, dosa kamu.” “Ya memang dosa aku. Sebagai manusia aku itu sadar diri, aku banyak dosa ya aku ngakulah,” sahut Nathan nyolot, bersikap sok tampan. Leviana memajukan bibirnya, mengulangi ucapan Nathan tanpa bersuara. Nathan gemas, akhirnya pria itu menepuk mulut Leviana dengan telapak tangannya membuat Leviana mendengkus kesal. “Kamu suka banget geplak mulut aku.” “Kalau gak mau aku geplak, jangan ikutin gaya Vanya apalagi Brisila.” Leviana mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Pantes aja, Brisila takut. Kamu jadi monster Ferlandes ya kalau ada di deket Brisila.” “Gak kok, dasarnya aja Brisila penakut.” “A-Aldo?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD