Bab 9

1656 Words
Raut wajah Leviana yang tiba-tiba berubah langsung dirasakan oleh Nathan. Dari arah belakang saja Nathan sudah bisa tahu siapa yang menelepon wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Aldo, hanya pria itu saja yang bisa menjadi alasan kenapa Leviana bisa tersenyum selebar itu. Bersamaan dengan itu, raut wajah senang berubah menjadi sedih—tanpa mengatakannya pun Nathan sudah tahu apa yang terjadi. Di telapak tangan Nathan seperti ada ulat bulu, gatal, sangat-sangat gatal, rasanya dia ingin sekali membuat Aldo babak belur dengan tangan gatalnya. Pelan, Leviana membalikkan tubuhnya. Matanya berkaca-kaca, bersiap untuk menumpahkan buliran air bening yang berasal dari matanya. Melihat keadaan Leviana membuat d**a Nathan sesak. Kakinya melenggang ringan, mendekati Leviana. Wanita itu kuat memikul banyak hal tapi tidak dengan cinta, Leviana sangat lemah menyangkut soal itu. Dalam satu tarikan Nathan menarik Leviana ke dalam dekapannya. Saat berada di dalam dekapannya, Nathan bisa merasakan Leviana menangis tersedu-sedu. Air matanya merembes ke kemeja Nathan. Kesedihan Leviana adalah kesedihannya juga, begitu pun sebaliknya. Seakan Nathan bisa merasakan sakitnya Leviana. Nathan mengusap rambut Leviana, menepuk-nepuknya pelan berusaha menenangkan wanita itu. Dia melepaskan pelukan Leviana kemudian menghapus air mata wanita itu. Wajahnya sembab, air mata itu tak berhenti-berhenti mengalir. “Soal Aldo?” tanya Nathan dibalas anggukkan oleh Leviana. Nathan mengembuskan nafasnya kasar lalu kembali mendekap Leviana. “Gak jadi kencan?” Lagi, Leviana mengangguk lemah. “Sebentar,” ucap Nathan melepaskan pelukan Leviana. Pria itu berlari, naik ke atas rumah pohon mengambil sesuatu—sebuah karpet berbulu yang masih bersih. Leviana memperhatikan Nathan, pria itu menggelar karpet di jarak beberapa meter dari rumah pohon. Setelah menggelar karpet, Nathan mengumpulkan ranting-ranting kayu lalu membakarnya di depan Nathan menggelar karpet. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, di sini hanya ada beberapa lampu redup berwarna jingga. Kali ini, Leviana tidak memedulikan apa pun lagi. Soal rencana yang wanita itu susun matang-matang mulai dari memakai pakaian apa, alas kaki apa, parfume apa, dan segalanya tentang malam ini. “Sini,” panggil Nathan, menepuk-nepuk karpet berbulu di sampingnya. Leviana mengangguk patuh, dia berjalan pelan mendekati Nathan. “Sini, nangis sepuasnya.” Nathan menarik lengan Leviana, menyuruh wanita itu untuk tiduran di pahanya. Leviana sama sekali tidak menolak, dia seperti kehilangan arah. “Nangis aja sepuasnya, Cuma ada aku di sini.” “Maaf ...,” lirih Leviana, air matanya kembali mengalir ke celana Nathan. “Kamu minta maaf ke siapa Leviana? Kamu mau minta maaf sama tempat ini? Yang gak keurus lagi?” tanya Nathan melirik rumah pohon yang ada di belakangnya. “Aku malu, Nath. Aku malu banget sama kamu dan karyawan lain di kantor. Sikapku lebay, dan sekarang malah gak jadi. Aku udah ngebayangin ngedate sama Aldo, aku juga bahkan udah siapin apa yang harus aku pakai di kepala aku tapi kenapa dia tiba-tiba bilang gak jadi?” Tangan Nathan terulur, mengusap rambut Leviana. “Kamu udah kenal aku belasan tahun lho, Lev. Ngapain malu biasanya juga malu-maluin ‘kan?” “Gak usah bercanda, Nath. Lagi sedih nih.” Nathan tersenyum kecil, tangannya tak berhenti-berhenti mengelus rambut Levania. “Kalau ada yang nanya, gimana ngedate kamu sama Aldo bilang aja terharu.” “Terharu?” Leviana bangkit dari posisi tidurnya. Namun langsung dicegah oleh Nathan. “Gak usah bangun, aku gak suka liat muka sembab kamu.” Leviana mendengkus kesal. “Yaudah, jelasin kenapa bisa terharu?” “Ya, terharu. Kamu tiba-tiba di telepon Aldo, dan tiba-tiba juga dia batalin janji dan ... kamu nangis, menangis terharu. Ada hikmahnya juga ‘kan? Kita bisa bernostalgia di sini,” balas Nathan sambil tertawa renyah, “rupanya Cuma aku yang seneng, kalau kita bisa ada di sini berdua.” “Aku juga seneng, tapi ...,” ucapnya menggantung, Leviana mengangkat sebelah tangannya dan menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya, “aku udah tunangan, gak baik kalau kita masih berduaan kayak gini. Apalagi ... kamu suka sama aku. Nanti apa kata orang.” “Orang tahu kita sahabatan ‘kan? Kayaknya gak masalah, toh Aldo juga gak peduli bahkan kamu aku culik sekalipun.” Leviana ingin bangkit, tapi Nathan mencegahnya lagi. “Tapi niat kamu apa? Aku kok mencium bau-bau gak enak?” “Bau keringet? Jelas ‘kan abis pulang kerja,” tebak Nathan dibalas pukulan keras dari Levania, wanita itu memukul bagian lutut membuat Nathan mengaduh kesakitan. “Bukan! Maksud aku, kamu ada niat mau rebut aku dari Aldo.” Nathan diam, seperti sedang memikirkan sesuatu—sebuah teka-teki tak terpecahkan. “Gimana ya, Aldo gak suka kamu jadi seharusnya kata ‘merebut’ gak berguna buat aku. Gimana mau merebut, orang yang mau direbut aja gak masalah kalau direbut.” “Kalau ternyata Aldo suka sama aku, kamu masih ada niat?” “Tadi aku ketemu seseorang, katanya kalau orang yang kita sukai bisa bahagia kenapa kita harus menghancurkan kebahagiaan itu?” cerita Nathan sambil tersenyum kecut, “tapi dirasa kamu tidak akan bisa bahagia kalau Aldo yang jadi pendamping kamu. Melupakan itu harus ada usaha, dan kamu bisa lihat Aldo gak ada usaha sama sekali.” “Kamu gak tahu apa-apa soal Aldo, Nath.” “Foto masa lalu yang masih dipajang indah itu bukan usaha melupakan, Lev. Tapi usaha untuk memperdalam cinta yang sudah ada.” Leviana terdiam, begitu pula Nathan. Keheningan menyelimuti mereka, suara jangkrik dan angin bertiup yang terdengar di telinga mereka. Tangan Nathan yang semula bergerak, mengelus rambut Leviana kini terhenti. Nathan juga manusia yang pantas mendapatkan cinta. Saat ini dia hanya merasa kalau dirinya sedang mengemis-mengemis cinta. Sama halnya cerita masa lalu Aldo, hanya saja wanita yang dicintai Aldo juga mencintainya balik—keluarga yang menjadi pemisah cinta mereka berdua. Raira—wanita yang dicintai Aldo—bisa melanjutkan hidupnya sedangkan Aldo terpuruk. Nathan tidak mau menjadi seperti Aldo, Nathan juga tidak mau membuat hidup Leviana sengsara gegara masuk ke dalam kehidupan Aldo. Jika sampai Leviana masuk ke dalam kehidupan Aldo, ketiganya akan terpuruk—dirinya, Aldo dan juga Leviana, ketiganya tidak bisa bahagia. “Leviana,” panggil Nathan, tangannya kembali terulur mengusap rambut Leviana. Lama tidak ada sahutan, Nathan memajukan kepalanya agar bisa melihat wajah Leviana. Ternyata wanita itu sedang tertidur. Nathan membiarkan Leviana tertidur di pangkuannya. Dia tidak beruntung, sama seperti Leviana. Mencintai orang yang tidak mencintai balik, rasanya menyakitkan. Selama dia ada di dekat Leviana, mungkin dia akan sedikit menetralisir rasa sakit hati entah yang terjadi pada dirinya sendiri atau pada Leviana. “Leviana, kita manusia paling tidak beruntung. Aku mencintaimu, tapi kamu mencintai Aldo, dan ... Aldo juga mencintai orang lain bukan mencintaimu. Saat Aldo mencintaimu, aku janji aku akan melepaskanmu. Di saat itu, aku akan pergi jauh dari hidupmu,” kata Nathan pilu, dadanya sesak. Kenapa Tuhan tidak membiarkan Leviana mencintainya, kenapa wanita itu harus mencintai Aldo yang hanya akan membuat wanita itu sakit. Aldo menggendong tubuh Leviana, kemudian memasukkannya ke dalam mobil. “Aku tidak tega membangunkanmu. Keluargamu pasti akan bertanya-tanya hal apa yang sudah aku lakukan sampai anak bungsunya menangis.” *** Nathan membawa Leviana ke apartemennya. Kondisi Leviana yang seperti ini, tidak memungkinkan membawa wanita itu pulang ke rumah. Lagi pula adik sepupunya sedang berlibur dan menginap di sini, jadi ada keluarga Leviana tidak salah paham padanya. Mereka sudah percaya padanya, mungkin walau tak ada adik sepupunya pun keluarga Leviana akan mengizinkan Leviana menginap di sini. Sesampai di apartemen, Nathan membawa Leviana ke dalam kamar yang diisi oleh sepupunya. Di apartemennya terdapat dua kamar, saat adik sepupunya pulang maka kamar ini akan kosong. Nathan tinggal sendiri di sini, kedua orang tuanya tinggal di luar negeri, beberapa bulan sekali mereka pulang menjenguknya. Nathan melirik arlojinya, Brisila Rinjani—adik sepupunya—berlibur ke kota ini, sekalian mengerjakan tugas karya ilmiah dengan mewawancarai beberapa warga kota ini yang berada di lingkungan kumuh. Sudah tiga hari gadis itu tinggal di sini, entah pergi ke mana gadis itu tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Kesal, tidak kunjung datang, Nathan menelepon Brisila. “Halo, kamu di mana? Pergi tanpa mengabari Kakak dulu. Kamu mau Kakak lapor mamamu huh?” “Eh, Kakak sudah pulang? Aku pikir Kakak—“ “Pulang kau anak nakal!” potong Nathan sedikit menggertak, dia keluar dari kamar sesekali melirik Leviana. “Santai bro, aku lagi di rooftop.” “Kembali dalam 5 menit, kalau tidak Kakak akan menguncimu dari luar!” ancam Nathan, mematikan sambungan teleponnya. Sambil menunggu Brisila pulang, Nathan membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Adik sepupunya itu sangat keras kepala, tidak bisa memakai kata-kata lembut. Digertak baru bergerak, tidak ada inisiatif apa pun jika tidak diperintah. Sudah lebih dari lima menit, barulah terdengar suara grasak-grusuk. Gadis berambut panjang bergelombang itu berlari ke arahnya. Dia melirik arlojinya, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Nathan bangkit dari duduknya, ikut melirik arloji. “Lebih dua menit.” Brisila memutar bola matanya malas. “Cuma dua menit.” “Sopankah begitu?” “Apa?” “Matamu berputar? Sopan?” “Apaan sih, Kak, lebay amat.” Nathan mencengkeram dagu Brisila, membuat Brisila menutup matanya ketakutan. “Ma-maaf, iya Kak, gak sopan. Sakit ih, Kak, lepas.” “Minta maaf yang bener, baru Kakak lepas.” “Brisila Rinjani minta maaf karena Sudah bersikap tidak sopan di hadapan Anda,” ucap Brisila sungguh-sungguh, cengkeraman Nathan mengendur dan terlepas dari dagu gadis itu. “Atasannya Lucifer,” sambungnya berbisik. Brisila kembali menutup mata, dikala Nathan ingin berancang-ancang untuk memukulnya. “A-ampun, Kak.” Nathan seketika tertawa keras, kenapa gadis itu berteriak saat dia menyodorkan handphone-nya? Pelan-pelan, kelopak mata gadis itu terbuka. “Kenapa kamu takut, sekarang cepet telepon Tante Amrita.” “Le-Leviana? Kak Levi? Mau ngapain?” “Levi menginap di sini, sekarang kamu bilang ke Tante Amrita kalau Levi menginap di sini. Bilang kalau kamu juga ada di sini.” Brisila mengangguk, dia mengambil handphone Nathan lalu menelepon ibunya Leviana. “Halo Nathan? Baru Tante mau nelepon kamu, Levi ada sama kamu?” “Hai Tante ini Brisila Rinjani, adik sepupu Kak Nathan. Semoga Tante inget ya hehe.” Brisila tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya. “Sebentar ... oh! Iya Tante ingat, kamu yang rambutnya ikal ‘kan? Kamu di Jakarta?” “Iya, Tan, Brisila ada di Jakarta dan nginep di apartemen Kak Nathan. Oh iya, Tan, Kak Levi izin nginap di sini ya? Kak Levi ketiduran, dan Kak Nathan gak enak bangunin. Tenang Tan, ada aku kok. Aku tidur sama Kak Levi nanti.” “Oh syukurlah, Levi ada sama Nathan. Tante khawatir sama Levi karena beberapa kali telepon tapi gak diangkat. Iya Bris, gak papa. Jaga Levi ya, kapan-kapan kamu main ya ke rumah Tante.” Brisila mengangguk sambil tertawa ringan. “Iya, Tan pasti. Makasih ya, Tan. Selamat malam." "Malam juga, sayang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD