Bab15

1922 Words
Setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari di rumah sakit, akhirnya siang ini Jefry diperbolehkan pulang. Dalam tiga hari itu, Jefry telah melewatkan beberapa hal. Salah satunya, tentang kepulangan Rania ke tanah air. “Sudah selesai?” tanya Jefry pada Mita yang sedang mengemasi barang-barangnya. “Sudah, yuk kita pulang sekarang.” Jawabnya penuh semangat. Gadis itu mengapit lengan Jefry lalu membawanya keluar. “Sini, biar aku yang bawa tasnya,” ucapnya, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Mita. “Lukanya Bang Jefry belum sembuh, jadi nggak boleh bawa barang berat-berat dulu. Biar aku aja yang bawa.” Katanya. Lelaki itu tampak menghela napas panjang. “Hah! Jadi ngerepotin kamu dong,” ucapnya sambil melirik sebatas bahu. “Makanya, kalau Bang Jefry nggak mau ngerepotin aku, Bang Jefry harus sembuh.” Lelaki itu terkekeh geli. Tanpa terasa, mereka sudah sampai di parkiran. “Bang Jefry yakin, mau nyetir sendiri, biar aku aja yang nyetir, aku bisa kok.” “Udah biar aku aja,” “Nggak percaya banget kalau aku bisa bawa mobil,” ujarnya dengan bibir mengerucut. “Bukannya nggak percaya, tapi aku nggak mau kamu kecapekan.” Terangnya. “Tuh, lihat mata kamu udah kaya panda.” Tunjuknya pada sekitaran lingkar mata Mita yang memang menghitam. “Tapi, kan, tangan Bang Jefry gimana?” tanya Mita bernada khawatir. “Percaya deh, aku pasti baik-baik aja kok,” ujarnya tanpa bisa di bantah lagi. Mita hanya bisa menghela napas pasrah. Begitu sampai di rumah, Ibu Salamah dan juga Mak Anggi sudah berada disana menunggu kehadiran Jefry dan Mita. Keduanya terlihat begitu senang. Mereka juga sudah mempersiapkan makanan yang banyak. “Mama seneng banget, akhirnya kamu pulang juga,” kata Ibu Salamah terharu. Jefry berpindah menyalami Mak Anggi. “Selamat datang kembali, Jef.” Ucapnya. “Terima kasih,” balasnya tersenyum senang. Lelaki itu kemudian memilih duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Mita pergi ke laundry room untuk mencuci baju-baju kotor yang tersisa. Mak Anggi dan Ibu Salamah, kembali melanjutkan pekerjaan mereka, menyiapkan makan siang untuk mereka semua. Dari arah pintu depan, bel tiba-tiba berdenting, dan karena semua sibuk, maka Jefry sendiri yang membuka pintu. Ia sontak terkejut, melihat siapa yang datang siang ini. “Rania?!” ujarnya. Perempuan cantik yang berprofesi sebagai model itu tersenyum senang, dan kemudian menghamburkan diri memeluk Jefry. “Aku seneng banget. Ternyata kamu masih ingat sama aku,” lirihnya. Jefry tampak membeku. Pikirannya berusaha mencerna kejadian yang super cepat itu dengan baik. “Aku kembali untukmu, untuk anak kita,” tambahnya. Di dapur. Begitu semua hidangan sudah beres mereka sajikan di atas meja, Mak Anggi dan Ibu Salamah segera memanggil Mita dan Jefry. Dan betapa terkejutnya Ibu Salamah, waktu melihat Jefry tengah berpelukan dengan seorang perempuan yang sudah membuat putranya mengalami ganguan mental selama bertahun-tahun tanpa ia sadari. Ibu Salamah pun juga tak bisa berbuat apapun. Otaknya serasa mati, dan tak bisa berpikir saking terkejutnya. Di belakangnya, Mak Anggi turut menyaksikan apa yang dilihat oleh Ibu Salamah. Beberapa menit setelahnya, Mita menyusul, penasaran dengan apa yang dilihat oleh dua ibunya itu. PRAANK!!! Gelas di tangan Mita meluncur bebas. Bunyinya membuat perhatian mereka semua pecah dan teralihkan sepenuhnya. Mita bergegas jongkok agar tak terlihat oleh Jefry yang juga ikut menoleh. “Mita, kok bisa jatuh sih, kamu kurang hati-hati pasti,” omel Mak Anggi. Duduk menyejajari Mita. “Iya, Mak. Tadi Mita kepleset.” Tentu, jawaban yang diberikan Mita adalah kebohongan semata. Dengan panik, Mita memunguti satu persatu serpihan tajam yang berserakan di lantai. “Udah, jangan diomelin,” Ibu Salamah membela. Setelah semua serpihan kaca itu terkumpul di ke dua telapak tangan Mita, gadis itu bergegas pergi ke belakang untuk membuangnya. ‘Aku sudah siap dengan segala kemungkian yang terjadi, seperti pecahan kaca di tanganku ini. Aku pun telah siap menerima segala luka yang mungkin saja menggores kulitku. Hanya saja beri aku kekuatan.’ Mita merapalkan kalimat tersebut dalam hatinya. Memotivasi dirinya sendiri supaya bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar menghadapi takdir hidup yang akan dilaluinya. Usai membuang pecahan gelas tadi ke tong sampah, Mita menghela napas lega, tangannya tidak terluka. Bibirnya mengukir sebuah senyum, dan berharap, hatinya kelak bisa seperti telapak tangannya yang selalu baik-baik saja meski harus menampung banyaknya serpihan-serpihan tajam yang bisa saja menusuk kulitnya. Sebelum kembali ke dalam rumah, Mita kembali memikirkan kejadian yang baru saja dilihatnya. Rasa nyeri itu muncul lagi. Mita mencoba menenangkan diri, tak ingin syndrom yang sama juga menyerangnya. Gadis itu menatap telapak tangannya lagi. “Bagus,” gumamnya menatap telapak tangannya sendiri. “Kalian memang hebat, kalian bahkan tidak terluka.” Ucapnya pada kedua telapak tangannya sendiri. Tanpa Mita sadari, Jefry sejak tadi telah mengikutinya, dan kini sedang berdiri di belakangnya, memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Mita. Hingga pada saat Mita membalikkan tubuhnya, gadis itu nyaris berteriak. “Ish… Bang Jefry ngagetin tau nggak!” ucap Mita kesal sambil lalu. Namun, tangan Jefry dengan cepat menahan lengannya. “Sini, biar kuperiksa dulu tanganmu,” katanya meraih kedua tangan Mita lalu meniupnya perlahan. Membuat aliran darah Mita mendesir. “Tanganku ini terbuat dari baja, Bang. Jadi nggak mungkin terluka cuma gara-gara pecahan kaca.” Kata Mita menyombongkan diri. Namun, Jefry justru dapat menemukan sisi lain Mita yang terluka. Yaitu… “Kalau perasaan kamu?” tanyanya. Mita terdiam. Sorot mata Jefry yang penuh tuntutan itu membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu segera mengalihkan pandangannya. Memutus kontak matanya dengan Jefry. Menyembunyikan sesuatu yang tak ingin dilihat oleh lelaki itu. “Emb… perasaanku baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Katanya disertai senyum palsu. “Kalau begitu, coba kamu lihat mataku,” pintanya. Mita hanya meliriknya sepintas. Lalu kembali membuang pandangannya ke sembarang arah. “Lihat mataku, Mita.” Bujuknya dengan suara lembut. Mita kemudian melakukan apa yang diperintahkan Jefry. Ia menatap sepasang manik hitam di hadapannya itu selama beberapa saat. Hanya dengan bertatapan seperti itu, air mata yang berusaha di tahannya sekuat tenaga itu muncul ke permukaan. Tanpa perlu ditanya, dan tanpa perlu Mita repot-repot menjelaskan. “Ini kenapa mataku jadi pedes banget ya, orang-orang lagi masak apa sih?” kelit Mita seraya mengusap air matanya dengan kasar. Jefry menoleh ke arah dapur yang kosong. “Mereka sudah selesai masak, di dapur ngak ada siapapun.” Jelasnya. “Terus ini pedes banget asalnya dari mana?” tanyanya sambil mengipasi wajah. Sambil menarik dagu Mita supaya kembali fokus menatap matanya, Jefry menjawab dengan tegas. “Dari sini.” Mita menatap mata lelaki itu. Menunjukkan perasaan sedihnya yang sesungguhnya. Biar. Biar saja terlihat oleh Jefry. Toh memang itu yang saat ini dirasakan Mita. Ia pun kemudian menunduk dengan kedua bahu yang tampak naik turun. Jefry lekas menenangkan gadis itu dalam pelukannya. Kemudian merendahkan kepalanya supaya bibirnya bisa menggapai bibir Mita. “Maaf, sudah membuatmu menangis,” bisiknya lirih di telinga Mita. Mita menarik kepalanya menjauh untuk menghirup napas dalam-dalam. Perasaannya saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Air matanya berhenti, dan pipinya tampak merona. Gadis itu tak berani menatap Jefry yang masih menatapnya intens. “Em… a-aku masih harus nyuci,” katanya beralasan. Namun, Jefry bukannya melepas pelukannya, yang ada justru semakin mengeratkan pelukannya. “Jangan pergi kemana-mana, tetaplah seperti ini sebentar saja. Aku butuh kamu saat ini.” Mita merasa terpaku mendengar penuturan Jefry. *** Di ruang tamu sendiri, rasa canggung melingkupi perasaan dua perempuan beda generasi lingkaran. Dulu, hubungan mereka berdua begitu dekat, kini serasa bagai dua manusia asing yang tak pernah saling mengenal. Keheningan menguasai penuh. Hingga kemudian, sapaan model cantik itu memecah keheningan. “Apa kabar, ma?” Ibu Salamah tersenyum ramah. “Seperti yang kamu lihat. Segalanya sangat baik,” jawabnya santai. Rania mengangguk. “Bagaimana kabar Alex, ma?” “Kamu tidak perlu khawatir, Jefry dan Mita merawat Alex dengan sangat baik.” Jelasnya. “Mita?” tanya Rania begitu mendengar nama asing itu terucap dari bibir mantan ibu mertuanya. “Siapa dia?” ada semacam perasaan mendebarkan dalam hati Rania saat ini. Apakah mungkin? “Ya. Seperti yang sudah kamu perkirakan,” jelasnya. “Jefry sudah menikah.” *** Mita muncul bersama Jefry di ruang tamu setelah dengan susah payah lelaki itu membujuknya. Dengan kondisinya saat ini, Mita benar-benar malu. Dilihat dari sudut pandang manapun, ia dan Jefry bagai bumi dan langit. Perbedaan mereka begitu kontras. Dan siapapun, pasti mengira Mita hanyalah pembantu. Seperti yang sudah Mita perkirakan, Rania tengah menertawakannya dalam diam. Mita menunduk, memilin jemarinya. “Oh, jadi ini, istri baru kamu?” tanya Rania pada Jefry. “Iya.” Jawab lelaki itu yakin. “Selamat atas pernikahan kalian.” Ucap Rania seraya mengulurkan tangannya pada Jefry. Lelaki itu menyahutnya. Dan begitu tiba giliran Mita ingin menerima uluran tangan Rania, Rania dengan cepat menariknya. Kening Mita mengernyit, kepala mendongak menatap Rania dengan tatapan kesalnya. Sisi bringas Mita telah muncul lagi ke permukaan. Gadis itu bersiap dengan kuku-kuku panjangnya mencakar muka cantik Rania yang sungguh menyebalkan itu. Yang kemudian di tahan dengan cepat oleh Jefry. Mita menoleh ke arah Jefry dengan tatapan marahnya. “Ingat apa yang pernah kukatakan padamu. Jaga sikap.” Tegasnya. Mita hanya bisa mendengus. Menahan kekesalannya seperti magma yang meletup-letup. Setelah kepergian Rania. Suasana hati Mita benar-benar kacau. Makan jadi tak berselera, dan tidur pun juga tidak nyenyak. Berkali-kali, gadis itu mengubah posisi tidurnya. Namun, belum juga menemukan posisi tidur ternyamannya. Hingga kemudian, membuat Jefry terbangun. “Belum tidur?” tanyanya parau. “Nggak ngatuk.” Jawab Mita ketus. “Kok tumben, biasanya juga sekali tuh pipi nempel di bantal langsung molor.” Celetuknya. “Tau. Pikir aja sendiri.” Jefry menghela napas panjang, ia kemudian mengubah posisinya menghadap Mita yang tengah membelakanginya. Mita pikir, Jefry sudah kembali tertidur karena tak mengeluarkan sepatah kata lagi. Mita kembali mengubah posisinya, dan terkejut melihat Jefry sedang memperhatikannya dari tadi. Lelaki itu tersenyum. Senyum menawan, yang mampu memikat hati perempuan. Jika dulu Mita tak sekali pun percaya dengan pepatah tersebut. Maka mulai malam ini, Mita setuju dengan pendapat itu. Gadis itu menatap kagum dengan kelopak mata tak berkedip sekalipun. Perasaan sukacita yang luar biasa muncul menyelimuti hatinya. Rasanya sangat bahagia bisa saling bertatapan seperti ini. Cukup lama mereka terdiam, berbicara melalui sorot mata, dan mendalami rasa yang belum sempat teruraikan oleh kata. “Ngapain lihat-lihat, nggak pernah lihat orang jelek.” Sungut Mita kesal memutus kontak matanya seketika. Jefry terkekeh geli. Gadis di depannya ini memang bukan gadis sembarangan. Selain memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Ia lucu, manis, dan cantik. Cantiknya pun juga unik. Tak perlu banyak polesan make-up. Mita terlihat cantik dengan segala keunikan yang dimilikinya. Jefry merapatkan dirinya memeluk Mita dari belakang. “Kamu sudah berjanji mau membantuku sembuh, kan?” Mita membalas pertanyaan itu dengan anggukan kepala. “Jadi boleh, aku meminta bantuan itu sekarang?” tanyanya lagi. “Sekarang? Tapi ini kan udah malem, memang apa yang bisa aku bantu?” gadis itu balas bertanya. Jefry kian merapatkan diri dan kemudian mencium mesra ceruk leher Mita, yang seketika menciptakan gelenyar aneh dalam diri gadis itu. Ciuman itu berubah menjadi gigitan. Mita mulai resah dan tidak nyaman, ia mengeliat dan mengubah posisinya. Kelopak matanya berkedip-kedip, seolah melambai-lambai. “Bang, aku boleh nanya sesuatu?” tanyanya. “Apa? Tanyakan saja, aku akan menjawab sebisanya.” Jawab Jefry. “Apa bantuan yang Bang Jefry maksud, adalah…” Mita tak sempat melanjutkan pertanyaannya karena bibirnya telah lebih dulu dilahap oleh Jefry. “Baiklah, kalau memang dengan cara seperti ini bisa mengalihkan perasaan Abang. Aku bersedia, lakukan apa saja yang bisa membuat hati Abang bahagia,” tambahnya lagi, “tapi tolong, lakukan dengan pelan ya, ini pengalaman pertama bagiku.” Pintanya malu-malu. Jefry kembali tersenyum lalu mengecup puncak kepala gadis itu lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD