Setelah beberapa menit terjebak dalam suasana yang menegangkan, Kinan mencoba mencairkan suasana dengan memutar lagu. “Guys-guys, gimana kalau kita karaokean. Seru deh kayanya.” Usulnya yang segera disambut dengan sangat baik oleh Ari, Alan, dan Alvin. Ketiganya kompak berlari, berebut mic.
Begitu lagu di putar, mereka kompak berjoget sambil bernyanyi. Mita ditarik oleh Kinan untuk bergabung, sedangkan Syerli sudah sibuk dengan nge-dance ala-ala girlband Korea. Mereka semua tampak larut dalam kebahagiaan sederhana yang mereka ciptakan. Kecuali, Jefry. Semenjak mendengar nama ‘Rania’ hidupnya bagai naik di atas roller coaster. Perasaannya yang tadi berbunga-bunga kini mendadak gelap gulita. Sedih, sekaligus ingin marah. Namun perasaan itu tak ingin ia tunjukkan di depan teman-temannya, terutama Mita. Jefry kemudian memilih duduk menyendiri di sudut ruang. Berusaha keras melupakan kesedihannya yang tiba-tiba datang. Hingga kemudian Mita menghampirinya dan mengajaknya pulang gara-gara Alex yang lagi rewel.
“Kinan, kami pamit pulang duluan ya, kata mama tadi Alex rewel.” Pamitnya kemudian. Kinan hanya bisa menghela napas pasrah.
“Makanya, buruan dong, bikinin adik, biar Alex ada temennya kalau di tinggal.” Ujarnya.
“Iya, nanti deh. Aku bikinin Alex adek bayi yang buuuanyak. Ya udah. Aku pulang ya,”
***
“Segitu doang Bang, usaha kamu buat ngedapetin aku. Aku pikir, kamu bakal berusaha lebih keras lagi. Ternyata aku salah.” Ucap Mita tiba-tiba memecah keheningan yang sempat tercipta diantara keduanya.
“Aku malas berdebat.” Balasnya singkat, sambil matanya fokus ke jalanan.
“Nah, karena itu Bang, aku nggak mau liat Bang Jefry diem. Aku mau ngajak Bang Jefry ngobrol.” Ucapnya yakin.
“Yah tapi pembahasan kamu ini salah. Bukannya kita ngobrol, yang ada nanti kita malah berantem.”
“Nggak pa-pa kalau itu memang keputusan finalnya, sebelum semuanya terlanjur, karena ada beberapa hal yang harus aku pastiin.” Tambahnya.
“Mita, tolong dong, kamu jangan mancing-mancing emosi,” ujatnya.
“Kenapa memangnya, Bang Jefry sedih, karena ada yang nyentil soal masa lalu Bang Jefry?” katanya lagi. “Itu artinya, Bang Jefry belum selesai dengan masa lalu.”
“Mita tolong. Jangan bahas masalah itu lagi. Kepalaku pusing tau nggak?”
“Aku lebih pusing lagi Bang, aku ada di samping kamu tapi yang ada dalam pikiran kamu justru orang lain. Maksudnya apa?”
“Itu semua cuma kenangan.”
“Dan nggak semua kenangan harus dikenang, ada beberapa yang harus diluruskan sebelum pada akhirnya diabadikan.” Mita kembali menyela dengan cepat. Jefry membanting setir kekiri, dan menepikanmobilnya di tempat yang sepi.
“Cukup, Mita. Jangan mengajari orang yang lebih tua dari kamu. Kamu tau apa soal masa lalu aku. Kamu cuma orang asing yang kebetulan singgah, dan nggak tau apa-apa.” bentaknya dengan suara tinggi. Mita terdiam dengan napas terengah. Obrolan mereka tidak hanya menjadi perdebatan, tapi juga pertengkaran yang hebat. Mita terdiam selama beberapa saat dengan napas terengah-engah. Ada setitik kecewa dalam hatinya yang kemudian menyebar ke seluruh jiwa.
“Ya, aku memang nggak tau apa-apa soal masa lalu kamu. Aku cuma orang asing yang kebetulan singgah.” Lirihnya dan kemudian keluar dari mobil Jefry. Lelaki itu menggeram marah.
“Sial!”
***
Mita tidak mungkin pulang dengan keadaan basah oleh air mata seperti ini. Maka dari itu, ia mengasingkan diri di sebuah taman yang cukup sepi dan temaram. Menumpahkan seluruh emosi yang bergejolak dalam hatinya saat ini.
“Kenapa nggak mau berhenti sih,” kesalnya pada air matanya yang terus saja menetes. “Kalau dilihat orang kan, bisa malu,” tambahnya mengusap air mata itu dengan ujung lengan bajunya. “Kalian nyebelin tau nggak.”
Saat Mita tengah sibuk berdialog dengan dirinya sendiri itu, dua orang pemabuk tiba-tiba melintas menghampiri Mita dengan langkah sempoyongannya.
“Ngapain nagis neng? Diputusin sama pacarnya?” ucap lelaki berewokan.
“Cup-cup-cup. Sini, abang temenin, biar nggak sedih lagi,” sahut si tubuh gendut.
Bibir Mita semakin gemetar duduk diapit oleh kedua lelaki pemabuk itu, hingga pada titik dimana ia tak bisa menahan dirinya lagi, emosinya pecah menjadi sebuah tangis yang sangat kencang. Membuat kedua preman tadi terlonjak kaget hingga terpental ke kiri dan kanan. Kedua preman tadi bersujud dan meminta maaf di bawah kaki Mita.
“Maaf Neng, kita nggak bermaksud nyakitin kamu kok, kita cuma mau nemenin doang. Ampun…” kata si brewok.
“Iya, kita orang baik, cuma lagi banyak masalah aja di rumah, makanya kita keluar menghibur diri.” Jelas si gendut.
“Kalian pikir, kalian doang yang punya masalah. Masalah aku lebih besar tau nggak!” serunya membuat kedua preman tadi lari terbirit-b***t. Mita merasa cukup puas setelah berhasil meluapkan emosinya. Kini sudah kembali merasa tenang, dan setelahnya meninggalkan taman tersebut sebelum preman-preman sungguhan muncul dan mengusuk ketenangannya.
Malam ini, Mita terlalu gengsi untuk pulang ke rumah Jefry, yang ada lelaki itu akan merasa besar kepala. Mita pergi ke rumah Mak Anggi dan bermalam disana. Lucunya, gadis itu masuk dari pintu belakang, lalu menyelinap ke kamarnya secara diam-diam. Dan barulah Mak Anggi menyadari keberadaan Mita keesokan paginya.
“Mita!” seru Mak Anggi terkejut melihat Mita berjalan lesu ke arahnya. Penampilannya sungguh berantakan, dan di matanya terdapat lingkar hitam bak panda, yang menjelaskan bahwa ia tidak tidur semalam. “Kok kamu disini? Bukannya kemarin malem kamu pergi sama Jefry?” tanyanya bingung.
“Semalem kita berantem Mak, aku turun di jalan. Makanya, aku pulang kesini.” Jelasnya. Mak Anggi menghela napas panjang, dan kemudian mengambil posisi duduk di depan Mita.
“Itu tandanya, kalian udah mulai suka.” kata Mak Anggi membuat Mita terkejut.
“Bang Jefry noh, yang suka sama aku, aku mah belum.” Sangkalnya dengan cepat.
“Belum apa belum? Kalau orang memang nggak suka, nggak mungkin betah tinggal berlama-lama, apalagi sampai meributkan Sesuatu yang nggak jelas keberadaannya.” Kata Mak Anggi setengah menyindir.
“Jelas ada lah, Mak. Mak mau tau nggak, siapa yang kita ributin semalem?” tanyanya meminta pendapat Mak Anggi.
“Memang siapa?”
“Masa lalunya Bang Jefry, Mak.” Jawabnya yakin.
“Rania maksud kamu?” Mak Anggi memastikan. Mita mengangguk yakin. Dan kemudian menceritakan peristiwa yang terjadi semalam. “Itu namanya kamu cemburu,” ujarnya.
“Masak iya cemburu. Kayanya nggak mungkin deh, Mak.”
“Nggak pa-pa. Wajar saja cemburu sama pasangan, itu alamiah. Yang perlu kamu lakukan, cobalah untuk terbuka, ungkapnya apa yang membuatmu tidak nyaman. Komunikasikan secara baik-baik.”
“Udah, Mak. Tapi Bang Jefry yang nggak mau diajak ngobrol, dia justru marah-marah ke aku,” jelasnya.
“Bukannya Jefry tidak mau mengobrol, mungkin dia lagi banyak pikiran, makanya dia butuh ruang dan waktu. Kamu yang harus bisa mengerti keadaan dia, kasih dia ruang, kasih dia waktu. Kalau mood-nya udah balik lagi. Mak yakin, dia pasti mau dengerin kata-kata kamu.” Mita tampak mendengarkan nasehat ibunya dengan seksama.
“Jadi, ini semua salahku, ya, Mak?” tanyanya meminta pendapat.
“Mak nggak nyalahin siapa-siapa, ini salah satu proses pendewasaan diri.”
“Sekarang, Mita harus gimana?”
“Saran dari Emak, sebaiknya kamu pulang, minta maaf ke Jefry. Jangan biarkan suami yang minta maaf lebih dulu ke kamu.” tambahnya. Mita mengangguk paham.
“Tapi nanti aja deh, Mak, aku pulangnya. Aku pengen dijemput, sekalian aku mau tau seberapa jauh perasaan Bang Jefry ke aku.” Mita terkekeh sendiri.
“Gitu kok bilangnya masih nggak suka.” Mita mengerucutkan bibir.
Di tempat lain. Jefry rupanya sedang merenung. Memikirkan pertengkarannya dengan Mita tadi malam, sekaligus memikirkan seseorang yang sama sekali tak ingin dipikirkannya lagi. Rania.
Nama itu seperti pemantik, yang seketika membakar habis perasaan Jefry. Kemarahan itu selalu muncul tiap kali mengingatnya, juga nyeri yang begitu kuat di dadanya. Kali ini, dimana lagi luka harus ditorehkan untuk menyalurkan rasa sakit itu. Jemari tangannya sudah terluka dan meneteskan darah akibat berbenturan dengan beton yang jelas bukan tandingan. Rasanya masih belum puas. Matanya tertuju pada sebilah pisau. Di telinganya berbisik suara untuk mengakhiri segalanya. Haruskan, rasa sakit itu dibayar dengan nyawa?
***
Mita tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Jefry belum datang menjemputnya. Mita bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dan membersihkan tubuh. Kemudian ia berlari keluar menuruni tiap-tiap anak tangga.
“Mau kemana, Mit?” tanya Mak Anggi.
“Aku mau pulang aja deh, Mak, perasaan aku tiba-tiba nggak enak.” Ujarnya.
“Nggak mau makan dulu?” tawarnya, namun tak mendapatkan respon. “Dasar bocah.”
Sampai di rumah, Mita mengerutkan dahinya melihat masih terttutup kelambu, rapat. Jefry memang pendiam, dan penyendiri, tapi ia tidak suka dengan suasana tertutup rapat seperti itu. Jadi, tidak heran jika Mita berpikiran negatif tentang lelaki itu.
Begitu masuk ke dalam rumah, Mita dikagetkan dengan pemandangan yang membuatnya nyaris pingsan. Jefry duduk dengan posisi tertelungkup. Tangannya terluka dan terus meneteskan darah. Gadis itu menjerit histeris, lalu meminta pada seorang pedangan cilok untuk membantu membawa Jefry masuk ke mobil. Mita lekas membawa lelaki itu menuju rumah sakit terdekat.
Semenit saja Mita terlambat, bisa jadi nyawa Jefry yang menjadi taruhan. Dokter masih bisa menyelamatkan lelaki itu. Saat ini, lelaki itu masih berada di bawah pengaruh obat tidur pasca operasi.
Pak Malik, Ibu Salamah, Pak Surya, Mak Anggi, sekaligus Alex yang baru saja mendengar kabar tersebut dari Mita segera menhampiri Mita di rumah sakit.
“Mita, gimana keadaan Jefry?” tanya Ibu Salamah panik. Mita tak menjawab, hanya air matanya yang sejak tadi menunjukkan ketakutan yang jelas.
“Ini semua salahku, ma. Harusnya aku nggak menekan Bang Jefry keras-keras, harusnya aku ada nemenin dia saat dia kesepian. Harusnya aku ada disampingnya menghiburnya saat dia lagi susah. Tapi aku malah pergi ninggalin dia gitu aja, ma. Aku minta maaf.” ujarnya menyesal. Mita lantas di tarik oleh Ibu Salamah ke dalam pelukannya.
“Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Kita berdoa saja ya, buat keselamatan Jefry, semoga dia baik-baik aja,” ucap Ibu Salamah lembut. Mak Anggi turut menepuk pundak gadis itu, menenangkan. Sedangkan Alex, bocah yang masih sangat polos itu tampak menatap orang-orang dewasa plus wajah penuh ketakutan di sekitarnya satu-satu.
“Mama,” panggil bocah polo situ dengan suara lirih. Mita lekas melepas pelukan Ibu Salamah, dan berganti memeluk Alex dengan erat.
“Maafin, mama, Alex. Ini salah mama.” Mohonnya. Bocah itu mengangguk.
Suasana sedih bercampur ketakutan itu pada akhirnya harus terpecahkan oleh suara erangan yang keluar dari bibir Jefry. Sontak ke lima orang dewasa itu menoleh ke sumber suara. Jefry sedang berusaha membuka matanya.
Anugerah terbesar yang pernah Tuhan berikan pada mereka semua. Melihat Jefry yang siuman jauh kebih cepat dari perkiraan dokter. Mita menggenggam tangan yang terasa dingin itu lalu mengusapnya perlahan. Dokter datang setelah menerima sinyal. Setelah diperiksa, dokter menyatakan; “Keinginan pasien untuk sembuh sangat kuat. Ini adalah kabar baik yang sangat luar biasa. Selamat ya,”
Mereka semua saling berpelukan dan menangis bahagia.
***
Ketika malam datang, Mita tak sekalipun ingin memejamkan kelopak matanya. Ia dengan begitu setia menemani Jefry. Menghangatkan telapak tangan lelaki itu yang terasa dingin sekali.
“Bang, maafin aku, ya?” ucapnya parau, karena harus berebut dengan tangis yang juga ingin ia teriakkan. “Harusnya aku nggak egois kaya kemarin. Harusnya aku dengerin omongan Abang, dan harusnya aku nggak ninggalin Abang.” Ucapnya sesenggukan. Lalu mencium punggung tangan Jefry sangat lama.
“Kamu belum tidur?” Mita sontak menghapus air matanya menlihat Jefry terjaga dari tidur.
“Belum,” jawabnya.
“Kenapa nggak tidur? Nanti kalau kamu capek gimana?” tanyanya.
“Aku nggak mau tidur, aku mau jagain Abang.” Jawabnya. Jefry tampak menghela napas panjang.
“Kenapa?” lirih Jefry yang kembali membuat tangis Mita pecah.
“Maafin aku. Semua ini nggak akan terjadi kalau aku mau dengerin omongan Abang waktu itu.” terangnya. “Aku sangat ketakutan waktu melihat Bang Jefry udah nggak sadarkan diri.” Lelaki itu tersenyum tipis.
“Aku yang harusnya minta maaf ke kamu.”
“Nggak, Bang.”
“Aku tadi denger semua yang kamu bicarakan sama dokter. Aku penderita Broken heart syndrome (BHS). Yang itu artinya, aku memang belum selesai dengan masa laluku. Semua yang kamu bilang kemarin benar.” Ujarnya.
“Masih belum, kamu pasti bisa sembuh.” Sahut Mita.
“Dan kita tidak itu kapan ini akan berakhir,” lirihnya sedih.
“Bang Jefry pasti bisa melewati semua ini, aku sangat yakin itu.” Mita mendukung penuh semangat. Jefry tersenyum getir.
“Memang benar, setelah kupikir-pikir lagi, perasaanku terhadapmu hanya ilusi yang kuciptakan sendiri karena aku terlalu kesepian. Aku selalu menarik diri dari orang-orang. Jadi, saat kamu hadir dalam hidupku, obsesi itu muncul.” Jefry mengatakan sesuatu yang sanggup menghentikan detak jantung Mita. Gadis itu memilih diam, menunggu dan mendengarkan apa saja yang ingin dikatakan Jefry.
“Sekarang, kuserahkan semua keputusan ini kepadamu.”
Adalah sesuatu yang sangat menyakitkan bagi perempuan. Ketika yang tersayang, ternyata ingin melepaskan keberadaan kita. Padahal, dari awal menikah dengan Jefry kalimat ini, adalah kalimat yang paling ditunggu-tunggu oleh Mita. Namun sekarang, rasanya begitu menyesakkan. Rasanya seperti tersumbat oleh sesuatu yang tak terlihat oleh mata.
Mungkin ini yang dijelakan oleh dokter tadi, mengenai penurunan kadar dopamin dan oksitosin, yang memproduksi hormon bahagia dalam otak. Sehingga otak meningkatkan produksi hormon stress kortisol dan adrenalin, yang menciptakan nyeri fisik nyata pada tubuh.
Mita tak menyalahkan Jefry atas keputusan yang diserahkan Jefry padanya untuk menentukan pilihan terbaiknya. Mita juga sadar, banyak sekali kekurangan dalam dirinya yang harus ia perbaiki. Termasuk Broken heart syndrome (BHS) yang baru saja ia rasakan tanpa sadar. Dan setelah memikirkannya dengan baik, Mita akhirnya mengangguk.
“Aku memilih untuk bertahan, Bang.” Jawabnya tegas dan sangat yakin. Sangat yakin sekali. Mita akan bertahan, dan membantu penyembuhan mental Jefry yang hancur. Sekalipun, dirinya nanti akan semakin dihancurkan oleh orang yang memberinya luka.