Bab 13

1734 Words
Mita nyaris tak bisa bernapas akibat ulah Jefry. Kedua kakinya pun terasa lumpuh seperti agar-agar. Jantungnya, jangan ditanya lagi. Selama beberapa saat mendebarkan itu, Mita merasa seperti bukan dirinya lagi. Aneh. Dan, ia mulai menikmati apa yang dilakukan Jefry. Semenit setelah Jefry menarik dirinya menjauh. Mita merasa kehilangan. Namun ia tak boleh menunjukkan perasaannya itu di depan Jefry. Mita harus bisa membuat lelaki itu menerima hukuman atas apa yang sudah di perbuatnya. Mita menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menguasai dirinya kembali. Ia kemudian mengacungkan telunjuknya di depan muka Jefry sambil berkata: “Kasiaan… deh, kena kan, siap suruh dulu Bang Jefry ngejelek-jelekin aku. Rasain tuh, makan tuh cinta!” cercanya kemudian berlalu. Jefry hanya tersenyum, mengingat betapa dulu ia begitu membenci Mita, bahkan sampai melakukan body shaming terhadap gadis itu. Dan sekarang… Jefry berlari mengejar Mita, “tunggu.” “Apa lagi?” balas Mita ketus. “Jadi bagaimana?” tanyanya. “Bagaimana apanya?” Mita balas bertanya. “Kamu mau, kan, jadi istri aku yang sesungguhnya. Kita bangun lagi rumah tangga kita dari awal?” pintanya. “Nggak mau!” tolaknya tegas. “Tolong jangan seperti ini, kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bener-bener cinta sama kamu,” rengeknya penuh permohonan. “Silahkan saja, tapi aku nggak yakin, aku bisa merealisasikan keinginan Bang Jefry.” “Tidak masalah. Dengan kamu sudah ngasih aku kesempatan ini, aku bakal buktiin kalau aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku.” Ucapnya yakin. “Waktu dimulai, dari sekarang.” Kata Mita membuka peluang itu untuk Jefry yang saat ini tersenyum lebar. Dan dengan begitu cepat, lelaki itu kembali mencuri-curi kesempatan mencium bibir Mita, kali ini dengan sedikit gigitan kecil yang membuat Mita menjerit. “Awh...sakit tau, kurang ajar baget sih, dasar duda kusen.” Makinya kesal. “Makanya cepetan terima aku dan sentuh-sentuh aku. Biar aku nggak kekurangan sentuhan lagi,” cetusnya membuat wajah Mita memerah seketika. “Emb… dasar m***m…” raungnya.jefry hanya terkekeh dan segera melarikan diri. *** Keesokan paginya, jefry membangunkan Mita dengan cara yang tak biasa, jika biasanya dia meraung-raung memuat telinga Mita berdengung, kali ini lelaki itu membangunkan Mita dengan sangat lembut, lelaki itu berbisik lirih di telinga Mita, “Mita sayang… bangun yuk, kalau nggak mau bangun, aku cium loh,” katanya. Mita masih belum juga terbangun. Ia hanya mengeliat lalu menarik selimut menutupi telinganya. Cup. Satu kecupan mendarat di bibir Mita, sontak membuat sang empu membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. “Ngapain?!” serunya terkejut. “Mau tau, sini aku kasih tau,” ujarnya dan kembali mendekatkan wajahnya ke depan wajah Mita yang seketika membuat gadis itu melambai-lambaikan tangannya. “Iih… Bang Jefry apa-apaan sih? Jorok tau nggak?” lelaki itu tertawa puas. “Tapi aku suka,” “Iish… dasar nggak jelas.” Mita kemudian beringsut dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi. Jefry terlihat sibuk memotong-motong sayur saat Mita menghampirinya ke dapur. Lelaki itu menoleh sambil tersenyum. Mita memutar kedua bola matanya, jengah. Lalu bergerak menuju sudut ruangan tempat mereka menyimpan alat-alat kebersihan. Gadis itu mengambil sapu dan kemoceng lalu membersihkan rumah. Begitu selesai, masakan Jefry rupanya telah siap menunggunya di atas meja. Cacing-cacing dalam perut Mita sudah tak sabar lagi. Mita mendongak, melirik ke arah kamarnya. Setelah memastikan beberapa menit dan ada pergerakan disana, Mita dengan cepat mengambil sepotong ayam goreng lalu memakannya dengan cepat. Tak berhenti disitu, Mita juga tertarik dengan gorengan buatan lelaki itu yang memang sangat lezat. Dan saat menikmati gorengan tersebut, Jefry muncul dengan cara yang sangat ajaib dari dapur. Mita yang begitu terkejut seketika terbatu-batuk. “Minum-minum,” ujarnya panik dan langusung memberi Mita segelas air putih. Gadis itu meneguknya hingga tandas. “Nggak bisa ya, makan tuh pelan-pelan. Nggak ada yang mau ngerebut kok,” “Nggak. Nggak ada. Siapa yang makan?” ujarnya tak mau mengaku. Jefry manggut-maggut sambil ber-oh ria. “Nggak ada ya,” lirihnya sambil menatap Mita dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apaan sih,” Mita menatap Jefry gelisah, lalu segera berlari menuju kamar. “Aku mau mandi dulu,” Usai sarapan, Jefry berangkat ke kantor sekalian mengantar Alex pergi sekolah. Turun dari mobil, Jefry menggandeng tangan Mita sambil menggendong Alex sampai gerbang, disana, mereka kembali bertemu dengan si pelakor. Mita otomatis memasang wajah garangnya. Yang kemudian mendapat peringatan dari Jefry. “Udah, kamu disini aja.” katanya. Setelah menurunkan Alex, Jefry melangkah menghampiri si pelakor. “Sebelumnya saya ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya, dan terima kasih karena anda sudah sangat perhatian terhadap keluarga saya. Tapi, sekali lagi saya mendengar anda menghina istri saya atau melakukan tindak kekerasan seperti kemarin, saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke polisi.” Tegasnya. Si pelakor tadi tampak ketakutan. “Anda mengerti?” tanyanya memastikan. “I-iya, saya mengerti,” ucapnya gugup. “Sekarang, minta maaf secara baik-baik pada aistri saya.” Si pelakor tadi segera lari terbirit-b***t menghampiri Mita. “Mita, aku minta maaf, atas semua yang udah aku lakukan ke kamu. Tolong maafin aku, dan tolong bilang ke suami kamu, jangan laporin aku ke polis, kalau aku di penjara, siapa yang mau ngasih makan anak dan ibuku yang lagi sakit,” ujarnya sedih. “Aku udah maafin kamu kok, mbak. Tapi, kamu juga harus janji, kamu nggak akan melakukan hal seperti kemarin lagi, kalau nggak, mbak tau sendiri konsekuensinya.” Kata Mita lagi sambil berbisik. “Soalnya, suamiku itu orangnya nggak pernah main-main dengan ucapannya.” “I-iya. Sekali lagi aku minta maaaf, ya.” pintanya lagi. “Ya udah, sana pergi.” Usirnya. Pelakor itu pun pergi. *** “Bang, Bang Jefry tadi ngomong apa sih, ke pelakor itu, kok dia bisa minta maaf?” tanya Mita penasaran. “Aku Cuma bilang, kalau dia masih berani gangguin kamu, bakal aku laporin ke polisi.” Jawabnya. Mita mengangguk paham. “Oh…” lirihnya. “Oh iya, tadi pagi Ari ngehubungin aku, katanya nanti malam dia mau ngadain barbecue-an, dia ngundang kita berdua buat dateng.” Ujarnya. “Kinan juga ngomong gitu kemarin,” “Kok kamu nggak bilang?” tanya Jefry agak terkejut. “Aku pikir, nggak penting juga.” Jawabnya asal. “Nanti sepulang kerja, kamu siap-siap. Kita pergi berdua,” tegasnya. Bibir Mita berdecak sebal. “Tidak ada penolakan.” “Iya…” katanya. “Oh iya Bang, hari ini aku mau ke rumah Mak dulu boleh?” tanyanya. “Boleh.” Jawabnya. “Ya udah, kalau gitu, anterin aku kesana aja. Nanti kalau waktunya jemput Alex, aku pinjem motornya bapak.” “Iya. Asal tetap hati-hati.” tuturnya. Yang dibalas senyum terbaik oleh Mita. “Aduh… aduh…” Jefry tiba-tiba mengaduh sambil memegangi jantungnya. “Kenapa Bang, Bang Jefry sakit?” tanya Mita panic. “Jantung aku nggak kuat kalau harus lihat senyum manis kamu tiap hari.” Jawabnya menggombal. “Iih… dasar! Kirain sakit beneran.” Sungutnya. Jefry terkekeh geli. “Kalau gitu, aku nggak usah senyum kali ya, biar Bang Jefry nggak sakit lagi.” gertaknya. “Eeh… jangan gitu dong,” bujuknya gelisah. “Kalau kamu nggak mau senyum bisa-bisa aku terkena serangan jantung beneran ini.” “Biarin, aku nggak peduli.” “Mana bisa begitu, hei,” bujuknya sambil sesekali menggoyang-nggoyangkan lengan Mita. Begitu sampai di depan rumah Mak Anggi, Jefry segera menepikan mobilnya. “Mita, sayang… tolong jangan ngambek dong, aku cuma bercanda tadi,” gadis itu masih pura-pura marah. “Aku cium nih,” ancamnya. Dua bola Mita seketika melotot. “Enak aja, nggak ada.” Protes Mita dan mencoba membuka pintu mobil namun rupanya di kunci oleh Jefry. “Loh, kok dikunci sih?” ujarnya mengpanik. “Janji nggak marah lagi, baru aku bukain. Kalau nggak mau, mungkin bukan sekedar ciuman yang kamu dapetin. Gimana?” tawarnya. “Iya-iya, aku udah nggak marah. Sekarang buka pintunya.” “Janji dulu.” “Iya, janji aku nggak marah lagi.” katanya gugup. “Senyum dulu dong,” Mita tersenyum lebar. “Nah, gitu dong,” katanya tersenyum, kuni pun terbuka. Sebelum masuk, Jefry kembali memanggil Mita. “Ada apa lagi?” tanyanya. “Coba lihat sini di pipi kamu kayak ada…” ucapnya. Mita seketika menggusapnya dengan tangan. “Nggak ada apa-apa kok,” katanya menunjukkan telapak tangannya yang tampak putih bersih. “Itu ada,” kata Jefry lagi. “Sini, biar aku tunjukin.” Katanya meminta Mita supaya mendekat. Dan begitu Jefry mendapatkan jarak yang cukup, Jefry segera mencium bibir Mita lagi. “Bang Jefry.” Mita memekik seraya menutupi bibirnya dengan tangan. Lelaki itu hanya mengedip genit. *** Rasanya waktu berjalan dengan begitu cepat. Malam ini, Jefry dan Mita mengunjungi kediaman Ari dan Tania. Disana sudah ada Alvin, Alan, dan Syerli. Si genit Syerli sontak berdiri menyambut kehadiran Jefry. “Kamu makin hari bukannya makin tua malah makin cakep.” Ujarnya memeluk Jefry. Mita mendeham keras. Membuat Syerli menoleh dengan tatapn tidak sukanya. “Eh, ada manusia toh. Kirain cuma bayang-bayang.” Celetuknya membuat Mita menatap bengis perempuan itu. Jefry mengkode, supaya Mita tidak terpancing emosi. Kinan dari belakang segera menyambut keduanya dan membawa mereka masuk ke dalam. “Selamat ya,” kata Jefry menepuk bahu Ari dua kali. “Thank’s bro,” balasnya. “Nggak nyangka, top cer juga punya kamu,” candanya. “Sialan. Kamu kira, punya kamu doang yang top cer. Gerutunya, kemudian terkekeh bersama. “Eh, udah-udah. Yuk kita mulai aja acara bakar-bakarnya.” Kata Alan yang mulai bosan menunggu. Acara bakar-bakar itu berlangsung sambil mengobrol banyak hal, salah satu yang tak lupa mereka bahas adalah masa lalu Jefry. Mereka meledek Alan yang masih jomblo itu habis-habisan. “Mending coba deh, Lan, kamu tanya Syerli, dia udah punya pacar belom, sipa tau kalian berdua jodoh.” Usulan Alvin disambut sorakan tawa oleh yang lain. “Sekate-kate ye. Kamu aja sono coba daftar. Kamu juga jomblo kan,” balasnya. “Enak aja, biarpun jomblo, udah pernah ngersai tau nggak.” Kata Alvin membanggakan diri. Alan tampak mendengus kesal. “Sialan kalian semua.” “Noh, si jepri. Udah dua kali malahan.” Sambung Ari yang seketika membuat lelaki itu tersedak minumannya. “Eh guys, kalian semua tau nggak sih, kalau Rania bakal balik ke indo bulan ini?” celetuk Syerli membuat semua mata tertuju ke arah Jefry. Sebagai rekan kerja sekaligus teman akrabnya, tentu mereka tau, Jefry tidak suka jika ada yang membahas tentang perempuan itu di depannya. “Kok semua pada diem sih? Kamu pasti tau, kan, Jef?” “Aku nggak tau. dan nggak pernah mau tau.” jawabnya penuh penekanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD