Alex terlihat begitu senang bisa duduk dan bercanda bersama Mita. Setelah kejadian yang terjadi di rumah tadi. Alex terus saja menempel pada Mita. Mereka begitu asik dengan dunia mereka sendiri. Bahkan, membuat Jefry cemburu karena keberadaannya tak pernah dianggap ada oleh mereka berdua.
Mobil pada akhirnya berhenti di arena parkir basement sebuah pusat perbelanjaan. Alex melompat girang bersama Mita. Sedangkan Jefry, berjalan di belakang mengikuti kemana kedua anak manusia beda generasi itu melangkah.
Setelah puas berkeliling dan membeli apa saja yang mereka butuhkan, Jefry mendorong troli tersebut menuju kasir. Disana mereka tanpa sengaja bertemu dengan Kinan.
“Mita…” seru Kinan senang sekali. Ia melambaikan tangannya pada Mita, meminta supaya gadis itu menghampirinya.
“Bang, aku kesana bentar ya?” pamitnya pada Jefry.
“Iya. Jangan lama-lama.” Balasnya.
“Alex disini dulu ya, sama papa, mama mau nyamperin tante Kinan dulu.” Ujarnya. Ada perasaan bangga dalam diri Jefry ketika dulu ia pikir Mita dan Alex tak akan pernah bisa menerima satu sama lain. Dan sekarang, mereka terlihat seperti pasangan ibu dan anak kandung yang tak mau terpisah. Dan yang lebih membahagiakan lagi, Mita menyebut dirinya sendiri dengan panggilan ‘Mama’ untuk Alex. Kebahagiaan yang tak pernah Jefry bayangkan.
Di sela-sela menunggu antrian, Jefry melempar pertanyaan untuk Alex.
“Alex seneng, punya mama seperti mbak Mita?” tanyanya.
“Mama, Pa, bukan Mbak Mita.” protes bocah lima tahun itu tak terima. Jefry tersenyum memandang putranya yang sepertinya sudah bisa menganggap Mita sebagai ibunya.
“Sorry, Papa lupa. Jadi gimana, Alex seneng punya Mama seperti Mama Mita?” bocah lima tahun itu mengangguk antusias.
“Mama, itu hebat, dia jago berkelahi.” Ujarnya.
“Sshhtt…” potong Jefry dengan cepat. “Nggak boleh gitu, inget apa yang Papa bilang tadi siang?”
“Ingat. Tapi Mama memang hebat.” Ujarnya lagi sambil mengacungkan kedua jempolnya. Jefry menghela napas lega. Kali ini, ia tidak ragu lagi dengan perasaannya. Seperti yang pernah Mita katakan, ‘mulutmu harimaumu’. Malu untuk mengakui, tapi sepertinya memang Jefry sudah termakan oleh omongannya sendiri. Yang dulu benci, sekarang jadi benar-benar cinta. Lelaki itu kembali tersenyum seperti orang bodoh.
“Pa, Mama lama banget,” gerutu Alex mulai bosan.
“Emb… Mama lagi ngobrol sama tante Kinan.” Jelasnya. Pandangan lelaki itu tampak tertuju kea rah Mita yang terlihat asik mengobrol entah apa dengan Kinan.
***
“Mit, menurut kamu s**u promil yang bagus yang mana sih, aku jadi bingung,” kata Kinan membandingkan kandungan yang terdapat dalam s**u promil berbeda merek di kedua tangannya.
“Promil?” tanyanya sedikit terkejut. “Kamu udah…” kinan mengangguk senang sebagai bentuk jawaban. “Selamat ya… nggak nyangka banget bisa secepet ini,”
“Iya. Aku juga nggak nyangka bisa secepet ini. Tapi emang ini sih, kemauannya Mas Ari, dia tuh pengen aku cepet-cepet hamil, katanya biar bisa nyaingin laki kamu tuh,” tunjuk Kinan menggunakan dahi.
“Nyaingin Bang Jefry? Nyaingin apanya?” tanya Mita penasaran.
“Dulu tuh, Jefry bangga banget waktu tau istrinya hamil di usia pernikahan mereka yang masih dua mingguan. Dia bilang bibitnya top cer, makanya sekali bikin bisa langsung jadi,” ujarnya.
“Oh…” Mita mengangguk mengerti, meski ada perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul dalam hatinya.
“Eh, kok malah jadi bahas masa lalu sih, maaf ya Mit,” ucapnya menyesal.
“Nggak pa-pa, santai aja.” balas Mita santai.
“Oh iya, ngomong-ngomong, kalian belum ada rencana buat bikin adeknya Alex, apa?” Mita terdiam. Jangankan berencana mau punya momongan, bikinnya saja belum.binar bahagia di kedua mata Mita meredup, sebagai perempuan berstatus istri, tentu yang diharapkan adalah pernikahan yang bahagia, bukan pernikahan seperti halnya main-main ini.
“Woy! Bengong aja, ntar kesambet loh,” gertak Kinan membuyarkan lamunan Mita.
“Kita berdua, memang sengaja menunda kehamilan dulu, karena Alex juga kan masih kecil, aku juga butuh pendekatan lebih lanjut, kalau buru-buru pengen punya momongan sendiri, takutnya, malah nanti Alex yang kurang mendapatkan perhatian.” Alibinya menumbalkan Alex sebagai alasan.
“Bener juga sih,” katanya mengangguk setuju. “Salut sama cara berpikir kamu. Dewasa banget.” Pujinya. Mita hanya tersenyum kaku. “Oh iya, s**u promilnya yang paling bagus yang mana ya?” obrolan mereka kembali ke topik awal.
“Coba aja cari di internet, pasti ada tuh,” usul Mita.
“Iya juga ya, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi,” gerutunya. “Oh iya, besok Mas Ari mau ngadain barbecue-an buat ngerayain kehamilan aku ini, kalian datang ya,” undangnya.
“Iya, nanti aku tanya sama Bang Jefry dulu,”
***
Usai belanja, Jefry mengantar Alex pulang ke rumah Ibu Salamah yang sudah meminta supaya mereka memulangkan Alex.
“Alex biar sama mama dulu, supaya kalian punya waktu berdua,” ucap Ibu Salamah. “Ayo sini, Alex,” panggil wanita itu pada bocah yang rupanya masih menempel seperti ulat bulu pada Mita.
“Alex mau sama mama,” ucapnya.
“Besok main lagi sama mama, dianterin ke sekolah. Sekarang Alex tidur sama Oma.” Bujuknya.
“Nggak mau,” bocah itu masih tidak mau berpisah dengan Mita.
“Nggak pa-pa kok, Ma. Sekali-kali biarin Alex ikut kami pulang.”
“Lagian, mama tega benget misahin aku sama Alex. Mama, kan tau kita berdua itu kaya prangko.” Sambung Jefry.
“Makanya, karena dia itu lengket banget sama kamu, takutnya dia malah gangguin kalian,”
“Kami nggak merasa terganggu kok,” balas Mita kemudian. Ibu Salamah hanya bisa mendengus pasrah.
“Ya udah, kalau dia rewel, anterin kesini aja ya,” putusnya kemudian. Alex melompat senang. Malam ini dia akan dipeluk lagi oleh ibunya.
“Aku tidur sama mama, ya?” ucapnya lucu. Mita tersenyum mengangguk.
***
Setelah berhasil menidurkan Alex, Mita kembali ke dapur, membereskan membereskan belanjaan mereka. Jefry datang membantu, memasukkan frozen food ke dalam freezer. “Kamu nggak ngantuk, kalau ngantuk tidur duluan aja, biar pekerjaan ini aku yang terusin.” Ucap Jefry.
“Ngeledekin nih,” sungut Mita tersindir karena sore tadi ia baru saja bangun tidur.
“Nggak ngeledekin, siapa tau aja kamu capek, tapi nggak mau bilang.”
“Nggak. Aku nggak capek, dan belum ngantuk juga.”
“Ya udah, kalau gitu.” Katanya lanjut membereskan belanjaan yang lainnya.
“Oh iyam ngomong-ngomong tadi ngobrolin apa sih sama Kinan, seru banget kayanya,” tanyanya kepo.
“Oh itu, Kinan minta pendapat dari aku, s**u promil yang bagus tuh yang mana? Gitu,” jawabnya.
“s**u promil, Kinan hamil?” tanyanya.
“Iya, katanya sih, usianya baru semingguan ini,” jelas Mita. Jefry mengangguk.
“Terus, Kamu jawab apa pertanyaan Kinan tadi?” Mita tampak berpikir sejenak.
“Ya aku jawab aja, aku nggak tau, aku suruhlah dia nyari di internet.”
“Kinan nggak nanya-nanya yang lain?”
“Ada sih, dia nanya kapan aku ada rencana buat hamil.” Ucapnya jujur.
“Kamu jawab apa.”
“Aku jawab aja, aku sengaja nunda kehamilan dulu, karena Alex masih kecil. Nggak pa-pa ya, aku numbalin Alex buat jadi alesan. Dari pada ntar malah ketahuan,”
“Ketahuan apanya?” tanya Jefry penasaran.
“Katehuan kalau nikahnya kita cuma main-main. Kita nggak bener-bener menikah, kan?” ucapnya telak. Jefry tampak terdiam.
“Udah selesai nih, aku tinggal ke kamar dulu ya,” pamitnya, dan kemudian Jefry malah menahannya.
“Tunggu,”
“Ada apa lagi?” tanyanya.
Jefry berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di depan Mita. Tatapan matanya terasa lebih lembut dari biasanya. Dan kemudian, tangannya meraih tangan Mita dan menggenggamnya. “Apa kamu masih menganggap pernikahan kita ini main-main, atau memang aku yang terlalu berlebihan menyikapi semua keadaan ini.” Ujarnya.
“Maksud Bang Jefry?”
“Apa aku salah, kalau aku menganggap pernikahan ini benar-benar nyata? Yang jelas, aku jatuh cinta padamu.” Mita merasa sekujur tubuhnya mati rasa, terlebih saat bibir lembut Jefry mendarat di bibirnya. “Aku mencintaimu.” Ungkapnya lagi. “Sangat mencintaimu.”
“Gini ya, Bang. Sebelumnya aku minta maaf. Tapi aku harus ngomong ini sekarang juga ke Abang.” Ucap Mita setelah berhasil menguasai keterkejutannya akibat perlakuan Jefry barusan. Yang seketika membuat kepala Jefry berdenyut, menerka-nerka, apa yang akan dikatakan Mita setelah ini. Gadis itu tampak menarik napas dalam-dalam. Lalu mengacungkan jari telunjuknya ke depan muka Jefry.