“Ma-maaf,” ucap Jefry dengan suara lirih. Lelaki itu melepas pelukannya perlahan. Peristiwa tadi benar-benar di luar prediksinya. Kali ini, ia dibuat resah dan gelisah. Ia takut, Mita akan berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
Disisi lain, Mita bahkan tak terpikir kejadian itu akan menimpanya. Ia masih terlihat syok. Matanya yang bulat melirik ke atas, disusul kemudian, tangannya ikut menyentuh jejak bibir lelaki itu yang masih terasa melekat disana. Ekspresinya tak bisa ditebak kali ini oleh Jefry. Yang jelas, bulir-bulir air mata mulai memenuhi kelopak matanya.
“Bang Jefry nyium aku?” Mita ingin memastikan sekali lagi. Jefry menelan ludah, ia sudah bersiap dengan sehala kemungkinan yang akan ditlakukan Mita padanya. Bahkan kalau Mita ingin memukulnya, ia tak keberatan.
Di menit-menit pertama, Mita belum juga enunjukkan reaksi apapun. Barulah di menit-menit berikutnya, Jefry melihat bibir gadis itu mulai bergetar dan kedua ujungnya tertarik ke bawah. Pertanda buruk. Jefry dengan cepat mengamankan mulut Mita yang mulai terbuka ingin menangis. Jangan sampai teriakannya di dengar oleh ibu dan ayahnya. Bisa habis harga diri Jefry diroasting mereka berdua.
“Jangan nangis, nanti aku beliin es krim yang banyak.” Katanya merayu. Namun kali ini, rayuan itu justru tak mampu melelehkan perasaan sedih Mita.
“Serendah itu, aku di mata kamu, Bang, kamu menghargaiku senilai harga makanan?” ucap Mita setelah berhasil melepas tangan Jefry yang membungkam mulutnya.
“Ma-maaf, aku beneran nggak sengaja. Sumpah.” Ungkapnya menyesal seraya mengangkat kedua tangannya. Pasrah. Apapun hukuman yang akan Mita berikan akan ia terima dengan lapang d**a.
“Bang Jefry keterlaluan. Jangan mentang-mentang Bang Jefry punya segalanya, Bang Jefry jadi bisa seenaknya memperlakukan orang lain.” Sungut Mita berapi-api. “Asal Bang Jefry tau, tadi itu,” Mita terdiam selama beberapa saat, mengumpulkan keberanian sekaligus rasa malu. “Tadi itu ciuman pertamaku.” Akunya kemudian.
Jefry terpaku mendengarnya. Ada semacam sensasi seperti aliras listrik yang mengalir dari tulang lehernya turun, dan kemudian menukik tajam di perut. Rasanya menggelikan, dan juga Bangga, karena ia menjadi yang pertama yang akan dikenang dalam hidup Mita.
***
Jefry, dan Mita sudah bergabung di meja makan bersama Ibu Salamah, dan juga Pak Malik. Mita duduk di samping Ibu Salamah dan berhadapan langsung dengan Jefry. Mungkin sudah menjadi tradisi di keluarga Ibu Salamah, mereka makan dalam suasana hening. Setidaknya, itulah yang Mita simpulkan setelah beberapa minggu ini tinggal bersama Jefry. Dan mungkin ini untuk pertama kalinya, Jefry bersuara disaat makan.
“Mau tambah lagi udang gorengnya?” tanya lelaki itu melancarkan aksinya.
Sesuatu yang tak bisa Mita tolak, adalah saat melihat makanan lezat. Meski mulutnya masih penuh, Mita tak mau menyia-nyiakan rezeki pemberian Tuhan. Masih menatap Jefry penuh permusuhan, namun Mita tetap mengambil satu buah udang goreng dari piring saji yang diberikan Jefry. Lelaki itu tersenyum tipis. Sedangkan di samping mereka, Pak Malik dan Ibu Salamah tampak saling melempar lirikan. Setelahnya, mereka hanya terdiam tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga Jefry dan Mita.
Sebelum pulang, Ibu Salamah sudah mempersiapkan makanan yang tadi ia sisihkan untuk dibawa Mita pulang. “Besok tinggal diangetin, biar kamu juga nggak riweh kalau mau ngaterin Alex sekolah.” Terang Ibu Salamah.
“Iya, ma. Makasih. Kalau gitu, aku langsung pamit pulang ya,” ucapnya.
“Iya.”
Jefry sontak berdiri dari posisi duduknya begitu melihat kemunculan Mita dan juga ibunya dari dapur. “Mau langsung pulang?” tanya Jefry hati-hati.
“Iya.” Jawab Mita masih dengan nada ketusnya. Lelaki itu mengangguk, dan mempersilahkan Mita berjalan terlebih dulu.
“Aku pulang ya, ma.” Pamitnya pada Ibu Salamah. “Mau dibawain?” Jefry menawarkan diri membawakan kantong kresek berisis makanan di tangan Mita.
“Nih,” Mita langsung menyerahkan kresek di tangannya pada Jefry. Dan kemudian berjalan mendahului Jefry.
“Mita,” panggil Jefry memecah keheningan.
“Hem,” jawabnya.
“Sekali lagi aku minta maaf, soal tadi,” pintanya memelas.
“Maaf ya, aku masih marah, jadi aku belum bisa maafin Bang Jefry.” Lelaki itu hanya bisa menghela napas pasrah.
***
Keesokan pagi, Mita terbangun rumah sudah dalam keadaan bersih, dan makanan pemberian Ibu Salamah juga sudah dihangatkan dan tersaji di atas meja. Kening Mita mengernyit. Ia kemudian mencari keberadaan Jefry. Yang kemudian lelaki itu muncul dari ruang laundry.
“Udah bangun, yuk kita sarapan.” Ajaknya penuh semangat. Matanya memperhatikan penampilan Jefry yang sudah rapi dan wangi. “Sepertinya nanti sore aku pulang lebih awal, kita belanja kebutuhan dapur, stok makanan di kulkas sepertinya sudah mulai habis.” Ujarnya membuka percakapan.
Mita hanya mengedikkan bahu lalu mengucap sepatah kata. “Terserah.” Jefry mengangguk. Ia tak tau harus dengan cara apa lagi menghandapi Mita. Rupanya kalau sedang diam seperti ini Mita lebih menakutkan. Jefry lebih suka dimarah-marahi kalau begini caranya. Jefry kemudian berpamitan pergi ke kantor dulu. Sedangkan Mita, bersiap-siap mau mengantar Alex ke sekolah.
***
Pukul 10:00. Mita sudah standby di sekolah Alex untuk menjemput bocah itu. Mita melambaikan tangannya tinggi-tinggi begitu melihat kemunculan Alex dari gerbang sekolah. Si pelakor yang kemarin sempat bertengkar dengan Mita, tiba-tiba berdiri di samping gadis itu.
“Anak perawan kok mau dinikahin duda?” sindir si pelakor itu tiba-tiba. “Ketahuan banget nggak lakunya.” Tambahnya mencibir.
Mita tampak menarik napas dalam-dalam. Kemudian memasang senyum terbaiknya dan membalas cibiran si pelakor dengan berkata: “Masih mending, perawan dinikahin duda. Dari pada ente, perawan kok hamil diluar nikah,” balas Mita telak. “Kelihatan banget murahannya. Atau jangan-jangan, dikasihin tuh cuma-cuma.”
“Kamu ini bener-bener ya?!” ucapnya tidak terima.
“Emang yang aku bilang bener.” Sahut Mita cuek.
Si pelakor yang tak terima tadi langsung mendorong tubuh Mita sampai gadis itu jatuh tersungkur, lalu menduduki kaki Mita sehingga gadis itu tak bisa bergerak. Mita di tampar oleh si pelakor. Kemudian Mita balas menjambak rambut blonde si pelakor. Adegan adu jambak itu pun tak terelakkan lagi. Mereka saling serang dan balas.
Disisi lain, Alex berteriak heboh mendukung Mita. Hal itu membuat Ivan, anak si pelakor tak terima. Ivan mendorong Alex. Dan bocah itu membalasnya serupa. Kedua bocah itu pun juga terlibat perkelahian. Saling menendang, memukul dan mendorong.
Adegan itu seketika menarik perhatian ibu-ibu dan pengguna jalan yang kebetulan melintas, termasuk Jefry yang saat itu tengah melintasi jalan tersebut setelah kembali dari meeting bersama klient. Jefry sempat melihat wajah Mita. Sontak Jefry menginjak rem, dan menghampiri kerumunan itu. Jefry bertambah terkejut, ketika melihat Alex juga ikut-ikutan dalam pertarungan itu.
“Mita… Alex…” serunya. “Apa-apaan kalian ini?” gumamnya, dan kemudian melerai perkelahian itu dibantu satpam sekolah. “Mita… Alex… udah stop!” maki Jefry.
“Pelakor itu yang cari gara-gara. Dia yang duluan mukul,”
“Dia yang duluan nyerang Alex, pa. Alex di dorong. Alex nggak salah, Alex mau belain Mbk Mita.”
Suara Mita dan Alex terdengar saling bersahutan, mengadu pada Jefry. Lelaki itu menunduk sambil memijit kepalanya yang terasa berdenyut. “Sebaiknya kita pulang, kita bicarakan lagi di rumah.” Putusnya kemudian, menarik Mita dan Alex mundur.
Jefry mengusap wajahnya dengan kasar, melihat penampilan Mita dan Alex yang begitu kotor dan berantakan. Kemeja yang dipakai Mita sampai robek gara-gara ditarik sama di pelakor tadi. Di sudut bibirnya pun terdapat luka memar akibat tamparan yang diberikan si pelakor. Mengenaskan.
“Harusnya kamu bisa tahan emosi dong, jangan kala. Lihat kan, Alex sampai niru kelakuan kamu.” cercanya.
“Kok Bang Jefry nyalahin aku?” tanya Mita tak terima. “Pelakor itu yang dorong aku duluan, dia yang mukul aku, dia yang menghina aku, wajar dong, kalau aku membalas perbuatannya.”
“Betul itu pa,” sambung Alex membela Mita. “Ivan juga gitu, pa. Dia yang mulai dorong Alex sampai jatuh, waktu Alex dukung mbak Mita.” Terangnya. Mita mengangguk setuju, begitu pun dengan Alex.
“Udah cukup. Yang namanya kekerasan itu salah, papa tidak akan membenarkan perbuatan kalian tadi, dan papa juga tidak mau kalian terlibat perkelahian lagi. Apapun alasannya. Kalian harus bisa control emosi kalian. Jangan bar-bara kaya tadi.” tambahnya. “Masih banyak, cara lain yang bisa kalian lakukan untuk membalas perbuatan kasar mereka.” Mita dan Alex tampak mendengarkan nasehat yang diberikan Jefry dengan seksama. “Paham?”
“Paham.” Jawab Mita dan Alex kompak.
“Oke, kalau gitu sini, papa obatin luka kalian.” Keduanya berjalan mendekat. Jefry kemudian dengan sangat telaten merawat luka-luka mereka. Alex sudah selesai lebih dulu, kini, Jefry harus mengobati luka memar di wajah Mita. Gadis itu otomatis mendekatkan wajahnya, menyisakan beberapa centi jarak diantara keduanya. Jefry menelan ludah, posisinya terancam. Apa lagi saat jemari tangannya menyentuh tepian bibir Mita. Kenyal dan lembut.
***
Seperti yang sudah Jefry janjikan, ia pulang lebih awal dari kantor. Setelah membersihkan tubuhnya, Jefry membangunkan Mita dan juga Alex yang masih terlelap. Dua anak manusia beda generasi itu kini kompak sekali, tidak akan tinggal diam jika salah satu dari mereka ada yang ditindas. Jefry tersenyum, rasanya bahagia sekali melihat pemandangan itu. Pemandangan yang hanya bisa ia wujudkan dalam impian. Kini nyata di depan mata.
“Mit, Mita.” Pangilnya. Mita hanya melenguh, lalu memutar posisi tubuhnya, diikuti Alex yang juga mengubah posisinya menghadap Mita yang membelakanginya, lalu memeluk tubuh Mita dari belakang. Manis. Mungkin jika Ibu Salamah atau Mak Anggi melihat pemandanga itu saat ini, keduanya pasti sudah meneteskan air mata. Sayang sekali, mereka tidak disini.
Jefry bergegas mengambil ponsel dari atas nakas, mengabadikan moment langka itu dalam beberapa foto dan video.
Bunyi ‘cekrak’ diikuti lampu flash yang menyala membuat Mita memicingkan mata. Jefry yang begitu gugup nyaris melempar ponselnya ke lantai. Ia kemudian melompat dari posisi duduknya, hendak bersembunyi. Namun, gadis itu rupanya sudah menyadari keberadaan Jefry lebih dulu.
“Bang Jefry?” panggil Mita dengan suara parau khas orang mengantuk. “Bang Jefry mau kemana, kok buru-buru?”
“Eeh, kamu udah bangun ya rupanya,” balasnya mengalihkan pertanyaan Mita.
“Bang Jefry belum jawab pertanyaan aku.”
“Emb…” lelaki itu tampak berpikir keras, mencari jawaban yang tepat. “Tadi aku habis dari kamar mandi, mau keluar. Takut genggu waktu istirahat kamu juga, makanya aku lari tadi.” kilahnya. Mita mengangguk saja.
Sejurus kemudian, Alex ikut terbangun, matanya masih mengantuk dan kemudian meminta Jefry juga ikut berbaring di sampingnya. “Papa sini, Alex mau dipeluk papa.” Pintanya. Jefry pun mengambil posisi di samping Alex, lalu melakukan apa yang diminta oleh putranya. Bocah itu tertawa senang. Kemudian menoleh kepada Mita yang sudah menurunkan kedua kakinya. “Mbak Mita mau kemana?”
“Mbak mau mandi,” jawabnya.
“Enggak boleh.” Kening Mita mengernyit.
“Kenapa nggak boleh?” Mita balas bertanya. Bocah itu pun bangun dan berdiri. Lalu menarik tangan Mita supaya ikut memeluknya seperti yang dilakukan Jefry.
“Oma bilang, Mbak Mita, mamanya Alex. Alex juga pengen di peluk Mama.” Mita membeku mendengar kata-kata bocah berusia empat tahun itu. Begitu pun dengan Jefry. Perasaan bersalah seketika menghantam dadanya. “Mama lama, Alex jadi rindu,” ucapnya memeluk Mita erat.