Usai dari pesta, Alex sudah dalam keadaan tertidur pulas dalam gendongan Jefry. Ibu Salamah memintanya supaya membawanya ke mobil milik Pak Malik.
“Sekali aja deh, ma, biar Alex tidur di rumah.” Bujuk Jefry supaya wanita itu mau membiarkan putranya bermalam bersamanya di rumah.
“Nanti kalau dia nangis, kamu juga yang repot.” Balas Ibu Salamah. “Biar untuk sementara waktu ini Alex sama mama.” Jefry hanya mendengus pasrah. Selama ini, memang Ibu Salamah yang merawat dan mengurusi segala keperluan Alex. Jadi, tidak ada yang bisa Jefry lakukan selain menunggu bocah berusia lima tahun itu datang sendiri padanya. Lagi-lagi, Jefry harus memendam kerinduannya itu.
Sepeninggalan Ibu Salamah dan Pak Malik. Suasana canggung kembali menlingkupi perasaan Jefry dan Mita. Apalagi jika mengingat panggilan ‘sayang’ yang diberikan Jefry, meski Mita tau itu hanya sebuah bualan saja untuk mengerjai Syerli, tetap saja, kejadian itu sanggup membuat jantung Mita nyaris mencelos, belum lagi, genggaman tangan lelaki itu yang terasa begitu lembut, hangat, dan nyaman. Tak heran, kenapa banyak kaum wanita yang tergila-gila padanya, selain tampan, sikap manis yang dilakukannya sanggup melelehkan hati siapapun.
‘Duh, rayuannya maut banget. Untung aku orangnya tangguh.’ Gerutu Mita dalam hati.
Angin sepoi-sepoi malam ini, mengantarkan rasa dingin yang begitu menusuk ke dalam tulang. Mita hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri untuk mengurangi rasa dingin tersebut.
“Nih, pake’ biar kamu nggak kedinginan.” Sesuatu yang tidak biasa, Jefry tiba-tiba menyerahkan jas miliknya yang sudah dilepas pada Mita, membuat sang gadis mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali.
“Nggak usah Bang, makasih.” Gadis itu menolak, memilih kedinginan dari pada harus berurusan dengan lelaki menyebaklan ini.
“Kamu kira aku ini abang-abang tukang ojek apa?” benar kan, lelaki ini sangat menyebalkan, baru beberapa jam ia bersikap begitu manis pada Mita, kali ini, tanduknya sudah muncul lagi.
“Nggak. Emang aku pernah bilang ya, Bang Jefry mirip tukang ojek.” Sahut Mita tak paham dengan maksud Jefry yang membuatnya berdecak, kesal. “Kenapa sewot gitu sih, Bang?” tanya Mita melihat perubahan raut wajah Jefry yang terlihat kesal.
“Bang lagi, Bang lagi,” sewot lelaki itu. Mita menggaruk kepalanya tidak mengerti. “Harus banget ya, aku jelasin detailnya, biar kamu paham?”
“Ya nggak pa-pa. Emang kudu begitu kan, harusnya. Bang Jefry jelasin apa maksud Bang Jefry, biar aku paham.” Tutur Mita.
“Au ah, gelap.” putus Jefry kesal.
***
Karena semalam Mita tidak bisa mengerti maksud Jefry, imbasnya pagi ini lelaki itu uring-uringan sendiri dibuatnya. Sarapan yang dibuatnya juga terasa hambar. Lanjut beres-beres rumah juga sambil dibanting-banting.
“Udah deh Bang, nggak usah beres-beres kalau cuma buat ngebanting-bantingin barang. Yang ada malah pecah semua lagi tuh barang.” Seru Mita membuat Jefry semakin bete’. “Siniin, biar aku aja yang nyuci piring.” Kata Mita menyerobot pekerjaan yang sedang dilakukan Jefry.
“Bang, Bang, Bang teroooss…” semburnya tepat di telinga Mita.
“Dih, kenapa sih, ngreog mulu dari semalem. Nggak jelas banget.” Gumam Mita sambil lalu. Jefry berganti menyapu dan mengepel lantai. Itu pun juga dilakukannya dengan sangat tidak senang. Kaleng berisi air, dintendang-tendang menggunakan kain pel sampai tumpah.
“Bang!” seru Mita. “Abang tuh kenapa sih? Jadi basah kan, lantainya?” sungut Mita yang juga mulai terpancing emosi.
“Bodo amat.” Ketusnya.
“Bang! Kalau ada apa-apa tuh ngomong, jangan marah-marah mulu.” Tutur Mita kembali mengambil alih pekerjaan yang harusnya dilakukan Jefry. Lelaki itu justru memasang muka cemberutnya. Hingga sampai Ibu Salamah datang berkunjung, keduanya masih terlihat meributkan sesuatu yang masih ambigu.
“Ada apa sih ini ribut-ribut, masih pagi tau nggak.” Ucap Ibu Salamah yang tadi sempat mendengar perdebatan keduanya.
“Nggak tau tuh, ma, Bang Jefry uring-uringan nggak jelas dari tadi,” jawab Mita yang juga memasang wajah bete-nya.
“Kamu tuh kenapa sih, Jef, kalau ada apa-apa itu ngomong baik-baik, jangan marah-marah gini?” kata Ibu Salamah lagi. “Ini kenapa lagi lantainya basah?” tanyanya.
“Gara-gara Bang Jefry tuh, ma, ngepel sambil nendang-nendang. Udah kayak bayik minta nenen tau nggak.” Celetuk Mita yang justru membuat tawa Ibu Salamah pecah. Wanita itu jadi teringat sesuatu. Dulu, sewaktu Jefry masih kecil, teman-temannya mengolok-oloknya gara-gara di satu kelas cuma Jefry yang belum sunat. Alhasil, Jefry uring-uringan sampai berhari-hari. Ibu Salamah baru bisa paham sewaktu Jefry terus saja membicarakan teman-temannya yang sudah di sunat. Itulah Jefry, ia tidak akan mengatakan keinginannya itu secara gambling, melainkan dengan memberikan kode-kode yang harus dipahami oleh orang-orang di sekelilingnya.
“Ya udah, yang sabar. Sebagai istrinya Jefry, kamu harus bisa memahami kode nggak jelas yang Jefry berikan, ya contohnya ini,” Ibu Salamah menuturkan dengan lembut. “Oh iya, nih barang-barang yang kamu beli kemarin. Semalem mama lupa, nggak mama kasih ke kamu,” katanya menyerahkan beberapa paperbag di tangannya pada Mita. Pun gadis itu menerimanya dengan senang. “Yang satu setel lagi, sengaja mama simpan di rumah. Nanti sore di rumah mama mau ada arisan, kamu datang ya. Nanti kita makan malam sama-sama.” Mita mengangguk penuh semangat.
“Iya, ma. Kalau soal makan, Mita pasti datang.” Katanya.
“Ya udah, mama pulang ya, oh iya. Tolong kembalikan ini ke Jefry.” Mita menerima sebuah kartu seukuran ktp yang kemarin digunakan Ibu Salamah untuk membayar semua tagihan belanjaan Mita.
‘Oh, ternyata Bang Jefry yang beliin semua ini?’ sejenak, Mita tampak memperhatikan kartu yang masih berada di tangan ibu mertuanya. “Iya, makasih ma,” ucapnya sungguh-sungguh.
Setelah Ibu Salamah berpamitan pulang, Mita berjalan menghampiri Jefry yang terlihat duduk di depan televisi. Masih dengan wajah menyerupai kanebo kering. Kusut.
“Bang,” panggilnya yang hanya dibalas dengan lirikan sengit oleh lelaki itu. Mita duduk di lantai di hadapan Jefry sambil kedua tangannya memegang paperbag yang tadi diberikan Ibu Salamah. “Aku minta maaf ya, Bang. Aku nggak ada maksud buat hambur-hamburin semua uangnya Bang Jefry. Aku juga nggak minta dibelanjain sebanyak ini,” kata Mita menatap sedih paperbag di tangannya. “Nggak pa-pa kok Bang, kalau semua baju-bajunya ini di jual lagi. Lagian ya, aku ngerasa nggak cocok sama modelnya.”
Kening Jefry mengernyit mendengar penuturan Mita. ‘Kenapa Mita malah salah paham begini sih?’ gerutu Jefry dalam hati. Lelaki itu kemudian berdiri.
“Maksud aku bukan gitu, aku nggak pa-pa kamu beli baju-baju ini,” raung Jefry.
“Ya terus apa? Kalau bukan gara-gara aku belanja banyak, kenapa Bang Jefry marah-marah terus dari semalem.” Sungut Mita tak mau kalah.
“Kenapa sih, kamu nggak peka juga.” Bentaknya dan kemudian berlalu.
***
Sikap Jefry yang masih saja uring-uringan itu membuat Mita merasa jenuh berada di rumah. Apapun yang dikerjakannya selalu salah di mata Jefry. Karena terlalu jenuh, akhirnya Mita memutuskan untuk pergi ke rumah ibu mertuanya saja, mungkin disana ia bisa lebih terhibur. Apalagi, ini hari minggu, Alex pasti di rumah, kan?
Pergilah Mita ke rumah Ibu Salamah yang letaknya hanya beberapa blok rumah saja dari rumah Jefry. Sampai disana, rupanya Ibu Salamah tengah masak-masak banyak untuk acara arisan nanti sore. Mita mencoba membantu sebisanya. Kadang kalau jenuh dia memilih bermain bersama Alex. Bocah itu merasa terhibur dan banyak tawanya semenjak kedatangan Mita. Meski kadang-kadang dibuat nangis juga oleh Mita, yang tiba-tiba menggigit lengan Alex saking gemasnya. Atau mengolok-olok Alex yang suka ketakutan kalau tiba-tiba tidak ada orang yang menemaninya.
“Cemen banget jadi cowok, ditinggal gitu doang nangees…” cibirnya yang membuat tangis Alex semakin keras. Ibu Salamah hanya geleng-geleng kepala melihat interaksi keduanya yang semakin hari semakin akrab saja.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Teman-teman arisan Ibu Salamah sudah mulai berdatangan memenuhi ruang tamu. Karena notabene yang mengikuti arisan tersebut wanita berusia 40an tahun, maka isinya pun juga bukan sekedar kumpul, makan-makan, mengghibah atau pamer kekayaan semata. Isinya, mereka gunakan sebaik-baiknya dengan membaca tahlil, istighosah, dan siraman rohami dari Ustadzah Nur.
Usai pembacaan tahlil dan istighosah, Ustadzah Nur menyampaikan tausiyah yang isinya membahas tentang bagaimana perlilaku seorang istri terhadap suami. Dari penuturan Ustadzah Nur, ada salah satu tema yang membuat Mita merasa geli sendiri, yakni tentang panggilan sayang terhadap suami atau istri.
Sejak mendengar ceramah Ustadzah Nur, Mita memikirkan beberapa nama yang tepat untuk Jefry. Bahkan, Mita sampai scroll social media guna mencari nama islami yang pas untuk lelaki itu.
“Kalau Abi gimana ya?” tanya Mita pada dirinya sendiri. “Nggak deh, udah pasaran.” Jawabnya sendiri. Gadis itu terlihat begitu sabuk sampai tidak menyadari panggilan Ibu Salamah yang memintanya untuk segera mandi.
“Oh, maaf Ma, aku terlalu asik scroll sosmed jadi nggak denger teriakan mama,” sesalnya sambil mengusap belakang lehernya.
“Nggak pa-pa, sekarang kamu mandi gih sekalian ganti baju, udah mau malem, bentar lagi Jefry kesini, tadi mama telpon katanya baru aja bangun tidur.” Tutur Ibu Salamah.
“Mandi ya,” Mita tampak memikirkan sesuatu. “Nggak mandi nggak pa-pa deh ma, bajunya juga masih bersih kok, nggak bau keringat juga.” Tambahnya sambil mengendus bau badannya sendiri.
“Eh, nggak boleh gitu. Kamu nggak denger tadi yang dibilang Ustadzah Nur, istri itu harus selalu bersih, dan wangi di depan suami.” Tutur Ibu Salamah mengutip kalimat yang tadi diucapkan Ustadzah Nur. “Jaga kebersihan. Sebagai perempuan, kita itu perlu merawat diri. Kalau kita bersih dan terawat, sudah pasti look-nya juga oke. Kalau soal putih dan cantik itu nomer sekian. Percuma juga, kan, muka kita putih tapi kakinya item.” Tambahnya.
“Mama juga sering perawatan ya?” tanya Mita penasaran, mengapa ibu mertuanya itu terlihat begitu segar meski usianya bisa dibilang sudah tak muda lagi.
“Iya dong.” Jawabnya mantap.
“Pantesan ya, mama tuh asih kelihatan awet muda, cantik, terus selalu wangi lagi.” komentarnya dan membuat Ibu Salamah tersenyum. “Iya udah, kalau gitu Mita permisi mandi dulu,” pamitnya, dan lantas bergegas menuju kamar lama Jefry di lantai dua.
***
“Mita lagi mandi, di kamar lama kamu,” itulah yang dikatakan Ibu Salamah begitu melihat kemunculan Jefry yang juga tampak celingukan padahal Alex, yang selalu menjadi pusat perhatiannya kini telah berada di hadapannya.
“Siapa yang nyariin,” ketusnya berbohong, padahal Jefry memang sedang mencari sosok tersebut. Sehari saja tidak melihat wajah Mita rasanya begitu aneh. Jefry juga tidak mengerti kenapa. Namun, wajah gadis itu sudah menjadi sebagian dari napasnya.
“Udah sono samperin nggak pa-pa, takutnya kamu nggak kuat nahan rindu.” Lanjut Ibu Salamah meroasting.
“Apaan sih mama ini, nggak jelas banget. Siapa juga yang rindu sama Mita.” Ibu Salamah tampak mencebikkan bibir mendengar pembelaan putranya.
“Di iyain aja deh, dari pada ntar malah gelut.” Katanya lalu kembali ke dapur, meninggalkan Jefry dan Alex berdua di ruang tengah.
“Alex, papa ke atas dulu ya, mau nyari barang papa yang ketinggalan.” Ucap lelaki itu pada Alex.
“Alex mau ikut,” rengeknya.
“Nanti kalau Alex ikut, Oma nyariin gimana, Alex nggak kasihan sama Oma?” bocah lelaki itu tampak mengangguk meski wajahnya tampak cemberut.
Sebelum beranjak dari posisinya, lelaki itu mengusap puncak kepala Alex dengan lembut, setelah itu kedua matanya tertuju ke arah dapur, disana Ibu Salamah terlihat sibuk mempersiapkan segala macam masakan untuk makan malam mereka setelah ini. Sedangkan Pak Malik tampak fokus dengan berita di tv.
Lelaki itu dengan cepat melompat dan berlari menuju lantai dua rumah tersebut. Sesekali, matanya memperhatikan keadaan di bawah, siapa tau saja, ibu atau ayahnya mengintip apa yang ingin dilakukannya. Lelaki itu menyelinap ke dalam kamarnya sendiri dengan sangat hati-hati bak seorang ninja. Langkahnya bahkan tak terdengar oleh Mita.
Dan setelah ia berhasil memasuki ruangan tersebut, aroma harum bercampur segar seketika menguar memenuhi seluruh penciumannya. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Ini adalah wangi yang akan menjadi favoritnya.
Jefry melangkah masuk ke dalam ruangan. Matanya sontak mengedar, mencari keberadaan si pembuat wangi dalam kamarnya ini. Dan ketika pikirannya fokus dengan pintu kamar mandi di kamarnya, ia justru dikejutkan dengan bunyi berderit karena pintu tersebut terbuka dari dalam.
Mita berjingkit saking terkejutnya gara-gara kemunculan Jefry yang begitu mendadak, telapak kakinya yang masih basah, terasa licin saat menyentuh keramik. Akhirnya, Mita pun terpeleset, dan nyaris jatuh ke belakang jika saja Jefry tidak dengan cepat menariknya lagi. Akibat tarikan yang kuat itu, Mita bukannya jatuh ke belakang, justru jatuh ke dalam pelukan Jefry. Dengan posisi bibir lelaki itu menempel di kening Mita.