Bab 9

1178 Words
“Jef, Jefry?” lelaki itu tersadar dari lamunannya setelah beberapa kali mendapatkan teguran dari Ibu Salamah. “Kamu ini, ngelamunin apa sih?” tanya beliau heran. “Ee…” Jefry tampak mengusap belakang lehernya salah tingkah. Namun, sorot matanya tak bisa berbohong, mereka seolah tak mau mendengar perintah yang diberikan Jefry untuk tidak menoleh pada Mita yang berdiri di samping Ibu Salamah. “Nggak ngelamun kok, Ma.” Sangkalnya. “Eh, tante.” Sahut Alvin. “Ngomong-ngomong, yang di samping tante itu siapa ya? Mau dong tan, dikenalin.” Ibu Salamah tampak berdecak. Sedangkan Jefry, sudah memperingatkannya dengan sorot tajamnya yang mengerikan. “Kalau kalian mau kenalan, nih, tanya sama yang punya.” Jawab Ibu Salamah menepuk bahu Jefry dengan lembut. “Oh… pantesan…” lirih Kinan, menatap jahil. “Iya nih, pantesan diumpetin mulu, orangnya cantik bingit gini,” sambung Alvin memuji. Mita terlihat malu-malu. “Ya udah, tante pamit dulu mau nyari Alex.” Pamitnya pada rekan-rekan Jefry. “Kamu disini ya Mit, temenin Jefry.” tambahnya pada Mita. “Emb…” gadis itu tampak melirik sekilas ke arah Jefry seolah meminta persetujuan dari lelaki itu. Jefry pun mengangguk sekilas. “Ya udah deh, ma. Aku disini, nemenin Bang Jefry.” sambungnya malu-malu. Sepeninggalan Ibu Salamah, Jefry berdeham, menormalkan suasana hatinya yang meletup-letup bagai kembang api. Lelaki itu bergeser selangkah, mendekatkan dirinya dengan Mita. Suasana canggung melingkupi. Untuk pertama kali, Mita merasa seperti kehilangan kata-kata, dan harus berpikir ulang untuk menggoreskan sebuah tinta dalam lembaran baru. Gadis itu menoleh ke arah Jefry, dan yang tak pernah di sangkanya, lelaki itu juga tengah memperhatikannya. Tatapan keduanya saling beradu tanpa sengaja. Mita tersenyum merutuki kebodohannya. Begitu pula dengan Jefry, ia tidak mengerti harus memulai interaksinya ini dari mana. Yang jelas, semua ini terasa sangat berbeda. “Udah dong, lirik-lirikannya, ntar deh puas-puasin lihatin istrinya di rumah. Iri deh, aku yang jadi ratu disini malah semua fokus ke kalan berdua,” Celetuk Kinan yang seketika membuat Mita semakin salah tingkah. “Apa-apaan sih,” balas Jefry tak enak hati. “Lagian sih, kamu punya istri secantik ini, diumpetin mulu sekalinya keluar, jadi pusat perhatian, kan?” sewot Kinan. Mita hanya tersenyum menanggapi. Sedangkana Jefry, tidak tau kenapa, hatinya merasa begitu bangga bisa memiliki Mita di sampingnya. “Kenalin, nama aku Kinan.” Kata Kinan, menyodorkan tangannya pada Mita. Gadis itu tersenyum dan menjabat tangan Kinan seraya berkata. “Mita.” Balasnya singkat. Perkenalan itu berlanjut hingga Alvin, dengan mata keranjangnya yang tak bisa lepas dari wajah Mita. “Aku Alvin, kalau kamu ada masalah sama Jefry silahkan hubungi aku. Aku mah bebas.” Ujarnya dan lantas ingin mencium punggung tangan Mita, namun dengan cepat di tangkis oleh Jefry. “Enak aja, mau cium-cium tangan istriku.” Katanya, dan segera menyimpan tangan Mita dalam genggamannya. Mita tertegun, hatinya bergetar seperti drum yang dipukul. Terlebih saat Jefry mengusap punggung tangannya itu dengan lembut, seketika menciptakan sensasi aneh yang tak mampu Mita jelaskan dalam dirinya. Gadis itu mencoba bersikap setenang mungkin, ia tak ingin perasaannya ini terbaca dengan mudah oleh Jefry. Bisa jadi dihujat habis-habisan oleh lelaki itu. “Yah… sekarang kalian udah tau, kan, kalau Mita ini…” Jefry menoleh ke arah Mita, menatap sepasang mata bening di depannya ini dari hatinya yang terdalam. “Adalah istriku.” Ungkapnya kemudian. Ada perasaan yang sungguh luar biasa setelah mengungkapkannya. Seluruh beban rasanya terangkat begitu saja dari pundaknya. Melegakan. “Kalau gitu, kita pergi dulu ya, mau nyari Alex.” Pamit Jefry yang malah mendapatkan sorakan dari teman-temannya itu. “Cih, alesan. Nih, aku kasih deh kunci pintu kamar hotel aku. Rela.” Seru Ari. *** Setelah cukup lama berputar-putar mencari keberadaan Alex, akhirnya Mita dan Jefry menemukan bocah itu sedang disuapi oleh Ibu Salamah. Mereka pun turut bergabung bersama kerabat yang lainnya. “Jef, ajak Mita makan dong.” Ucapnya. Beberapa detik setelahnya, perhatian Ibu Salamah justru terpusat pada kedua tangan mereka yang saling bergandengan. Ibu Salamah tersenyum melirik Jefry. Jefry yang paham dengan isyarat mata ibunya itu malas untuk menjelaskan. Ia juga tidak mengerti kenapa ia tidak mau melepas gandengannya. Yang ia sadari, memang senyaman itu menggenggam tangan Mita. “Ya udah, aku kesana dulu, ma.” Pamitnya. “Baik-baik ya, sama nenek, jangan nakal.” Ucapnya pada Alex yang kemudian diacungi kedua jempol mungilnya oleh bocah berusia lima tahun itu. “Kamu mau makan apa?” itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Jefry dengan nada suara yang lembut. Terdengar sangat menggelikan. Namun Mita sangat menyukainya. Andai saja saat itu, Mita membawa perekam suara, ia ingin sekali merekamnya. Agar ia bisa mendengar suara merdu Jefry seumur hidupnya. “Apa aja, aku mau.” Jawab Mita tersenyum senang. “Ya udah, kalau gitu kita cobain makanannya satu-satu.” Mita mengangguk penuh semangat. Mereka pun mengantri untuk mendapatkan piring, dari kejauhan, seorang perempuan cantik berjalan menghampiri. “Jefry… ya ampun… aku kangen banget sama kamu,” ucap gadis itu heboh sambil berusaha memeluk Jefry yang justru menjauh. “Iih… Jefry, kok malah ngejauh sih, aku tuh kangen, aku mau meluk,” kata gadis itu lagi dengan suara yang terdengar dimanja-manjain. “Kamu tau, kan, kalau aku tuh nggak suka di peluk-peluk.” Ketus Jefry. “Ini nih, yang bikin aku makin bersemangat buat ngejar kamu. Kamu tuh sok cool.” Katanya sambil bergelayutan di lengan Jefry. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Mita. Gadis itu berdeham dua kali, membuat gadis cantik bernama Syerli itu terganggu karenanya. Syerli pun menoleh ke arah Mita dengan kening mengernyit. Sedangkan Mita sendiri, justru memasang senyum terbaiknya untuk Jefry seraya berkata: “Mas, sepertinya antriannya udah selesai. Mas mau tunggu disini aja biar aku yang ambil makanannya atau kita ambil sama-sama?” kening Jefry mengernyit mendengar nada suara Mita tak biasa itu. Nadanya hampir menyerupai nada bicara Syerli. Dimanja-manjakan. Detik berikutnya, Jefry bisa memahami situasi yang tengah berlangsung itu, ia pun membalas tawaran Mita tadi dengan sangat mesra. “Nggak perlu sayang, aku kan udah janji, mau ambilin kamu makan. Jadi sebaiknya, kamu aja yang nungguin aku disini.” Ujarnya. “Nggak pa-pa nih? Tapi kayanya kamu masih harus ngobrol sama temen kamu.” tunjuknya pada Syerli menggunakan dagu. “Oh, nggak ada yang perlu diomongin kok. Kamu duduk aja disana, biar aku yang ambilin makananya.” Katanya kemudian berlalu meninggalkan Mita, dan juga Syerli yang tampak kesal sekali. Mita pun meninggalkan Syerli setelah melirik gadis itu sepintas. “Gila ya, siapa sih tuh cewek. Berani-beraninya dia,” gumamnya. Syerli yang tak bisa mengontrol emosinya itu pun berjalan mengikuti Mita, kemudian mengambil posisi duduk di samping gadis itu. “Heh! Kamu tuh siapa sih?!” gertaknya, dengan harapan bisa membuat Mita gentar. Namun sayang sekali, Mita tak merasa takut sama sekali. “Kamu ngomong sama aku?” Mita balas melempar pertanyaan yang semakin menyulut emosi Syerli. “Nggak. Aku ngomong sama kursi.” Raungnya. “Oh, ya udah, kalau gitu silahkan dilanjutkan.” Balas Mita dengan sopan. “Iiih… nyebelin banget sih,” kesal Syerli, yang kemudian memilih pergi meninggalkan Mita. “Sok-sokan mau ngelawan Mita. Mental sendiri kan, lu.” Ujarnya menyombongkan diri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD