Bab 8

1200 Words
Cukup lama Mita menatap pantulan dirinya sendiri dalam cermin. Setelah peristiwa yang menimpanya beberapa waktu lalu di Taman Kanak-kanak Kasih Bunda. Mita mulai memikirkan satu hal. Penampilannya dan Jefry bagai langit dan bumi. Sebenarnya, hal seperti itu juga sempat menjadi pertimbangan bagi Mita sebelum melangkah pada jenjang pernikahan. Hanya saja, Mak Anggi selalu saja membesarkan hatinya, mengatakan jika keluarga Pak Malik tidak serendah itu, mereka tidak akan menilai seseorang hanya dari penampilannya semata. Dan sebelum memilih Mita menjadi calon istri Jefry, mereka sudah pasti telah memperhitungkan segalanya. Inilah yang sekarang menjadi pertanyaan besar bagi Mita. Kenapa harus dirinya yang dipilih? Jelas-jelas, ia tidaklah secantik, dan semodis perempuan-perempuan di luaran sana yang selalu bisa mengimbangi gaya hidup Jefry. Mita hanya seorang gadis pecinta kartun, suka makan, dan hobi tidur. Tidak mengerti fashion, dan tidak bisa memakai lipstick. Malam nanti, keluarga Pak Malik di undang ke acara pernikahan anak kerabatnya. Dan yang pasti, dalam acara seperti itu, tamu-tamu yang hadir berpenampilan cantik. Puas menatap dirinya sendiri, Mita beralih menatap tumpukan bajunya dalam lemari. Tidak ada gaun cantik yang bisa ia kenakan ke pesta. Hampir semua pakaiannya adalah kaos dan celana jeans. Tidak mungkin, kan, ia datang ke acara seperti itu memakai kaos dan celana jeans sobek-sobek? Mita membuang napas kasar, menutup pintu lemarinya, lalu menghampiri Jefry dan kedua orangtuanya yang sudah menunggu Mita berdandan. “Aku nggak ikut deh, ma.” Ucapnya mengejutkan Ibu Salamah seketika. “Kenapa?” tanya wanita itu. Sorot mata Mita yang menatap penampilannya sendiri sudah menjelaskan segalanya. Ibu Salamah mengerti. “Tenang, serahkan semuanya sama mama.” Ujarnya dan langsung menggandeng lengan putrinya. “Eh, ma, kita mau kemana?” tanyanya. “Kamu nanti juga tau sendiri.” jawabnya. “Kalau mau pergi ke acara pernikahan anak kerabatnya mama, lebih baik aku nggak ikut deh, dari pada disana justru malu-maluin,” cerocosnya panjang lebar, dan tak mendapat tanggapan apapun dari Ibu Salamah. Wanita itu terlihat fokus, dengan jalanan, meminta suaminya berbolok ke kanan, lalu ke kiiri, ke kanan lagi, lurus terus, hingga pada akhirnya tibalah mereka di sebuah butik terkenal langganannya. “Kenapa kita kesini?” tanya Mita penasaran. “Nyari kostum yang pas buat kamu.” jawabnya tersenyum ramah. “Tapi, ma,” “Tidak ada tapi, ayo masuk.” Ajaknya tanpa bisa dibantah lagi. Mita hanya menurut saja, mengikuti langkah kaki Ibu Salamah, dan kedua tangannya saat ini penuh dengan berbagai baju bagus dan juga gaun cantik pilihan terbaik Ibu Salamah. “Sekarang, kamu coba satu-satu.” Ujarnya. Baju pertama yang di coba oleh Mita yakni, dress berlengan kutung motif kotak-kotak, dan untuk outernya, ia mengenakan crop rajut warna putih gading. Mita menunjukkannya pada Ibu Salamah. Wanita itu menggeleng. “Tidak. Ganti yang lain.” Katanya. Kali ini, Mita mencoba mengenakan celana jenas kulot, dan juga blouse. Sangat pas. Mita terlihat cantik. “Tidak. Ganti yang lain.” Terus seperti itu komentar yang diberikan Ibu Salamah, sampai-sampai membuat gadis itu uring-uringan sendiri. Hingga pada akhirnya, jatuh pada sebuah gaun berwarna pink yang dihiasi mutiara-mutiara dibagian kerahnya. Ibu Salamah memperhatikan dengan seksama penampilan Mita kali ini, setelah penuh pertimbangan, akhirnya, wanita itu mengangguk. Mita pada akhirnya bisa menghela napas lega. Dan pada saat ia ingin kembali ke dalam ruang ganti, Ibu Salamah justru menahannya. “Mau kemana?” “Mau ganti baju.” Jawabnya. “Nggak usah, kamu pake itu aja.” kening Mita mengernyit. Setelah membayar semua baju-baju yang tadi dicoba oleh Mita, Mak Anggi membawa gadis itu masuk kesebuah salon kecantikan yang letaknya tak jauh dari butik langganannya tadi. “Ma, kenapa dibeli semua? Yang cocok kan, cuma ini?” tanya Mita penasaran, kenapa ibu mertuanya itu memborong banyak baju untuknya. “Nggak pa-pa, buat kolesi, kalau-kalau kamu mau tampil feminim pas nganterin Alex.” Jawabnya. Mita mengangguk paham. Saat ini, Mita sedang di make-up. Ibu Salamah tetap menemaninya, sambil melihat-lihat katalok. Rasa penasaran Mita tentang kenapa Ibu Salamah memilihnya menjadi pasangan Jefry muncul. Hal itu pula yang mendorong keinginan Mita untuk bertanya secara langsung pada wanita tersebut. “Ma,” panggilnya lirih. “Kenapa mama milih aku buat jadi pasangan hidup Bang Jefry, padahal, di luaran sana masih banyak perempuan-perempuan yang se-level dengan Bang Jefry, yang jauh lebih cantik, dan lebih menarik dari pada aku,” “Mama milih kamu, karena kamu itu apa adanya.” Jawab Ibu Salamah singkat. “Tapi mama juga tau, kan, kalau aku sama Bang Jefry nggak saling suka?” Ibu Salamah tampak menghela napas panjang. “Mama tau, dan mama selalu berdoa, perasaan untuk saling menyukai diantara kalian akan tumbuh sebentar lagi.” ujarnya. Mita tampak tersenyum masam. “Kayanya nggak mungkin banget itu bakal terjadi.” Ucapnya. “Tidak ada yang tidak mungkin.” Bantah Ibu Salamah. “Aku ngomong kaya gini, karena aku sendiri ma, yang nggak pernah suka sama Bang Jefry.” Aku Mita. Ibu Salamah tampak terdiam selama beberapa saat. “Nanti juga suka.” balasnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mita terlihat menghela napas panjang. “Buktinya, selama lebih dari satu minggu ini kamu deket sama Alex, dia udah mulai suka tuh, sama kamu.” “Kalau ternyata nggak bisa?” tanya Mita lagi. “Serahkan semua sama yang maha membolak-balikkan perasaan.” pungkasnya. “Nah… selesai…” kata si banci yang tadi merias wajah Mita dengan sangat baik. Si banci tampak puas dengan hasil karyanya. “So beuatifull.” Pujinya yang berhasil membuat Mita sedikit salah tingkah. “Ah, yang bener. Se-beautiful apa sih?” tanyanya Mita menggoda. “Lihat aja di kaca.” Jawabnya memutar tubuh Mita menghadap cermin. Mita sungguh terkesan, ia hampir tidak mengenali, sosok yang ada dalam cermin itu adalah dirinya. “Syantik, kan?” “Luar biasa.” Balas Mita lirih. *** Pak Malik, Ibu Salamah, dan juga Mita baru saja sampai di lokasi tempat acara pernikahan anak kerabatnya itu digelar. Ibu Salamah lekas mengapit lengan Mita dan bergegas membawanya masuk. Sedang, di dalam, Jefry terlihat mengobrol bersama mempelai pria. “Selamat, bro.” ucapnya. “Thank’s ya. Selamat juga buat kamu, katanya udah dapat nih penggantinya Rania,” balasnya. Jefry hanya tertawa menanggapinya. “Ngomong-ngomong, kenalin dong, jangan sok misterius gini, pake di umpetin segala,” tambahnya. “Dia sakit, makanya nggak ikut.” Balas Jefry berbohong. Dalam hatinya, ia mengucap syukur sebanyak-banyaknya karena Mita tak jadi ikut ke acara tersebut. Bisa-bisa, ia menjadi bahan tertawaan teman-temannya kalau tau penampilan Mita seperti apa. “Guys-guys, lihat deh, itu cewek cantik banget,” ucap salah satu teman-teman Jefry, sebut saja namanya Alan, yang secara otomatis membuat rekan-rekannya itu menoleh ke arah yang ditunjuknya. “Widih… cakep bener… tuh orang apa biadadari sih?” sambung Alvin. “Iya,” sambung Ari, mempelai pria. “Ngomong-ngomong, dia teman kamu ya, sayang?” tanyanya pada perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya, Kinan. “Bukan, aku pikir itu teman kamu atau saudara kamu.” jawabnya. “Tapi bentar deh, itu bukannya tante Samalah, mamanya Jefry, kan?” tambahnya bertanya. “Iya,” jawab para lelaki itu serempak kecuali Jefry. Lelaki itu tampaknya harus segera mengamankan jantungnya, debaran jantungnya begitu hebat, dan ia terlihat seperti orang linglung. Berkali-kali pertanyaan dilontarkan oleh rekan-rekannya, namun tak satupun ada yang masuk ke pendengarannya. Dalam penglihatannya, dalam semesta kecilnya, yang terlihat saat ini hanyalah… Mita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD