Bab 7

1954 Words
Mita baru saja selesai mandi, dan Jefry bermain ponsel sambil rebahan di atas kasur dengan posisi menyamping. Dengan begitu, Mita merasa sedikit lega, karena ia hanya memakai handuk. Ia berjalan perlahan melewati Jefry, bahkan kakinya tampak berjinjit takut terdengar oleh lelaki itu. Pada saat Mita tengah fokus dengan apa yang dilakukannya, terdengar Ibu Salamah berteriak memanggil mereka. “Jefry… Mita…” Mita yang tengah berdiri dengan kaki berjinjit itu harus kehilangan keseimbangan sehingga membuatnya terjatuh membentur lantai. “Aduh…” Jefry sontak melompat dari posisinya. Mita tampak telentang dengan handuk yang menutupi tubuhnya. Pada saat yang sama, Ibu Salamah justru masuk, dan semakin memperkeruh keadaan. “Jefry… Mita… apa-apaan ini?!” serunya tak terima dengan keputusan pengantin baru ini untuk tidur di kamar terpisah. “Bisa-bisanya kamu, Jef. Menempatkan Mita di kamar pembantu.” Ibu Salamah mengomel, sedangkan Jefry tampak berdiri bodoh, menoleh pada ibunya, lalu kembali menoleh pada Mita yang tengah membutuhkan pertolongan. “Ya Tuhan… Mita kenapa tiduran di lantai.” Mita tampak meringis menahan sakit. “Jefry, bantuin dong.” Semburnya meraung. Dengan malas, Jefry duduk berjongkok di samping Mita. “Bangun, jangan manja kaya anak kecil.” “Sakit banget Bang, tulang ekornya aku, rasanya sekujur tubuh aku remuk.” adunya. Jefry tampak memutar kedua bola matanya jengah. “Jefry jangan gitu, ayo cepetan angkat.” Desak Ibu Salamah tak sabar. Jefry pun menyelipkan tangannya di antara tulang punggung dan bagian belakang betis Mita. “Pegangan, cepet.” Mita pun melakukan sesuai dengan apa yang diiterupsikan oleh Jefry. Gadis itu mengulurkan tangannya ke leher Jefry, yang secara otomatis, membuat bagian atas tubuhnya tertarik, sehingga handuk yang terselip diantara lipatan handuk yang dililitkan di tubuh Mita itu terlepas, begitu menunduk, Jefry dapat melihat sebagian dari aset berharga Mita terpampang nyata. Tak disangka, Mita memiliki kulit yang sangat putih dan juga… Jefry spontan menelan ludah. Dan sebelum Mita menyadari ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya, Jefry dengan cepat membuang pandangannya ke sembarang arah. Asal tidak tertuju ke bagian sana saja. Jefry dengan cepat mendaratkan tubuh Mita ke atas kasur. Tak mau berlama-lama melakukan kontak fisik dengan gadis itu. *** Interogasi yang dilakukan Ibu Salamah tengah berlangsung di ruang tengah. “Mama, tidak mau mendengar alasan apapun lagi dari kalian. Tidak baik, suami-istri tidur terpisah. Mulai detik ini samapi seterusnya, Mita harus kembali ke kamar Jefry.” Tuturnya yang hanya diangguki kepala oleh keduanya. “Jangan hanya mengangguk, cepet, pindahin barang-barang Mita ke kamar kamu.” kata Ibu Salamah pada Jefry. Satu hal yang Jefry sadari setelah resmi menjadi suami Mita Ayu Maheswari, hidupnya jadi semakin menderita. Lelaki itu harus mengembalikan semua barang-barang Mita yang baru saja selesai di tatanya di kamar pembantu, dan malam ini, ia harus memindahkannya lagi ke kamarnya, seorang diri. Ibu Salamah sengaja menghukum Jefry, supaya lelaki itu tidak akan mengulangi hal yang sama. Sedangkan Mita, menemani Ibu Salamah menonton tv sambil mengawasi Alex bermain lego. Tak hanya itu, pekerjaan lain yang harus dilakukan Jefry yakni; membantu Mita bersih-bersih rumah, membantu Mita memasang, dan lain sebagainya. “Kenapa nggak sekalian aja, mama minta aku bacain dongeng sebelum tidur buat dia.” Jefry memprotes keputusan Ibu Salamah yang terlalu banyak itu. Dimana peran Mita sebagai suami jika segala pekerjaan rumah, ia juga turut serta di dalamnya? “Jef, kodratnya perempuan itu hanya ada empat; haid, hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya, laki-laki juga harus ikut berperan dalam hal mengurusi rumah dan anak.” Jelasnya. Mita tertawa puas. “Mulai besok, ajari Mita masak.” Jefry tampak menghela napas panjang. Semenjak kedatangan Mita, keberadaannya mulai tersisih. Ibunya lebih mempedulikan Mita dari pada anak kandungnya sendiri. “Oh iya, Mita.” Kata Ibu Salamah. “Besok, kamu iku mama nganterin Alex sekolah mau ya?” pintanya. Kelopak Mita tampak mengerjap. “Mama akan bantu kamu memulai pendekatan dengan Alex.” Mita hanya tersenyum kaku, sebagai bentuk respon. Disisi lain, Jefry menjulurkan lidahnya pada Mita. “Rasain!” ucapnya tanpa suara. *** Pagi-pagi sekali, Mita sudah dibangunkan oleh Jefry. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Salamah, ia harus belajar memasak bersama lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya. Berkali-kali Mita terlihat menguap lebar. Dan, Jefry selalu menegurnya, supaya Mita menutup mulut. “Bau tau nggak!” bentaknya pada Mita. Gads itu menatap sewot, dan justru membaui Jefry dengan bau mulutnya. “Haaah…” “Jorok banget sih, jadi cewek. Pantes nggak ada yang mau kamu.” cibirnya. “Ada kok,” bantah Mita dengan cepat. “Mana? Cuma cowok bego yang mau sama kamu.” sembur Jefry. “Iya. Dan cowok bego itu adalah Bang Jefry.” balasnya telak. “Udah tau aku bego, masih aja dikawinin.” Jefry hanya mendengus, lalu kembali memotong daging yang sudah ia siapkan. Pagi ini, ia akan mengajari Mita masak tumis daging dan sayur asem. Mita diperintah membersihkan sayurnya, dan yang gadis itu lakukan justru langsung menceburkannya dalam panci. “Potong dulu sayurnya, baru di cuci, lalu masukin ke panci.” Komentarnya. “Maaf,” sesalnya. “Nih, sekarang kupas wortelnya.” Jefry menyerahkan sebuah wortel pada Mita. “Kok pake wortel?” tanyanya. “Mau dibikin bakwan.” Jawab lelaki itu. Dan masih fokus menumis daging dalam pan. Mita mengangguk paham, lalu memulai pekerjaannya. Gadis itu tampak kaku, dan tegang melakukan pekerjaannya. Jelas menunjukkan bahwa Mita tak punya pengalaman sedikit pun di bidang tersebut. “Kamu jangan tegang gitu dong, santai aja, biar enak dilihatnya.” Gerutu Jefry yang merasa tidak nyaman dengan eksprsi Mita. “Kaki kamu dibuka dikit, jangan dirapetin gitu, biar enak.” Tambahnya. Mita mengangguk, dan melakukan perintah Jefry. “Nah, sekarang, kamu tinggal dorong pisaunya ke bawah. Pelan-pelan,” Mita kali ini melakukannya dengan baik. “Bagus, seperti itu, sampai kulitnya kekupas semua.” Mita tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya. “Waah… lega sekali, Bang rasanya.” Katanya sambil menatap wortel yang sudah berhasil dikupasnya itu. Disisi lain, Ibu Salamah yang hendak memeriksa keadaan rumah Jefry itu tampak mengurungkan niatnya sambil tersenyum-senyum sendiri. “Kayanya mereka kudu liburan deh,” gumamnya. Usai memasak, kini Jefry dan Mita tampak duduk berhadapan menikmati sarapan pagi mereka. Mita menyuapkan makanan itu ke mulutnya dengan rakus. Ya, seperti yang sudah diceritakan, Mita memang tak bisa menolak yang namanya makanan. Apalagi, makanan yang dibuat Jefry sangat enak. Sekalipun bumbunya sangat sedehana. “Enak,” pujinya dengan mulut penuh. Jefry tersenyum. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun lamanya tak ada yang mampu membuat perasaannya bahagia. Pagi ini, hanya dengan melihat Mita dengan mulut penuh. Rasa hangat itu mengaliri seluruh perasaannya. *** Mita sedang mencuci piring, dan Jefry sedang mengelap meja makan waktu Ibu Salamah datang bersama Alex lengkap dengan baju seragam dan juga bekal makan siangnya. Jefry sontak menyambut putranya dan meninggalkan pekerjaannya. “Gimana? Jadi ikut mama, kan, nganterin Alex sekolah?” tanya wanita itu memastikan. “Emb… iya, tapi, aku masih agak malu.” Jawabnya jujur sambil memilin jemarinya. Mita memang belum siap mengumumkan pada seluruh dunia bahwa Alex adalah anak tirinya. “Tidak apa-apa, segala sesuatu memang butuh proses. Mama tidak memaksa kamu untuk langsung menyukai Alex. Mama bisa mengerti kok perasaan kamu.” tuturnya membuat Mita merasa lebih lega. “Ya udah, kamu ganti baju, mama tungguin.” Tambahnya. Mita yang sudah selesai dengan pekerjaannya itu pun segera berlari menuju kamar, mengganti baju rumahannya dengan celana jeans oblong selutut dan juga kaos oversize kesayangannya. Gadis itu kemudian turun dengan perasaan riang. Sedangkan di bawah, Ibu Salamah dan Jefry terlihat saling melempar pandangan. “Kamu yakin, mau pake baju ini?” tanya Jefry. “Iya. Memangnya kenapa? Ini nyaman sekali tau,” jawabnya dengan bibir mengerucut. Ibu Salamah hanya tersenyum geli melihat tingkah absurd menantunya yang masih begitu kekanak-kanakan. Lelaki itu kemudian menoleh kepada ibunya, seolah meminta persetujuan. Dan Ibu Salamah yang sangat peka itu pun mengangguk. “Yuk, berangkat.” Ajak Mita. Gadis itu berjalan mendahului Ibu Salamah dan juga Jefry. “Kalau kamu mau istri kamu tampil cantik dan feminim, siapin aja dana secukupnya.” Bisik Ibu Salamah pada Jefry. Lelaki itu terlihat menggerutu sambil membuang napas kasar. *** Begitu tiba di lokasi Taman Kanak-kanak Kasih Bunda, Jefry sontak menjadi pusat perhatian. Ketampanan dan juga status duda yang tersemat dalam dirinya membuatnya dikenal lebih cepat oleh ibu-ibu yang juga mengantar anak mereka. Desas-desus terdengar saling bersahutan sepanjang Jefry dan keluarganya melangkahkan kaki. Tak jarang pula, ibu-ibu muda genit itu menggoda Jefry dan meminta bertukar nomor wa. Pemandangan itu membuat Mita merasa risih. Terlebih saat, Jefry melemparkan senyumnya pada mereka. Tidak tau kenapa, hal itu membuat wajah Mita terasa panas. Gadis itu mencibir beberapa kali. “Cih, dasar genit. Nggak pernah lihat orang ganteng apa?” gumamnya lirih namun masih terdengar oleh Ibu Salamah dan juga Jefry. “Nora’ banget.” Ketusnya. Disini, Ibu Salamah bisa menangkap kecemburuan yang dirasakan Mita tanpa gadis itu sadari. Maka, dengan sengaja, wanita itu menarik lengan Mita, dan mengarahkan supaya posisi Mita tepat berada di samping Jefry. “Eh, tante, dia siapa?” tanya seorang wanita muda begitu menyadari keberadaan Mita. “Oh, dia Mita. Mama, barunya Alex.” Jawab Ibu Salamah memperkenalkan. Sontak, apa yang dilakukan Ibu Salamah membuat Mita salah tingkah. Wajahnya terasa semakin panas saja. Begitu pula dengan Jefry, ia mencoba tersenyum seramah mungkin membalas tatapan para Ibu-ibu muda itu yang seolah menuntut penjelasan. “Mas, Jefry udah nikah?” tanya mereka kompak. “Iya.” Jawab Ibu Salamah singkat. Ibu-ibu tadi kembali memfokuskan pandangan pada Mita. “Nggak mungkin banget deh,” komentar salah satu dari mereka begitu melihat penampilan keduanya yang terlihat kontras sekali. “Memangnya kenapa Mbak? Ada yang salah?” tanya Mita merasa harga dirinya tersentil mendengar komentar tersebut. “Nggak salah juga sih, kurang pantas aja gitu dilihatnya.” jawabnya menatap rendah ke arah Mita. “Soalnya kamu kelihatan kaya pembantu.” Tambahnya lalu terkikik sambil berbisik-bisik lagi dengan ibu-ibu muda di sampingnya. Ibu Salamah dan Jefry mulai khawatir, Mita akan melakukan penyerangan secara langsung para ibu-ibu itu karena sudah berani menghinanya. Namun, pada menit-menit selanjutnya, gadis itu masih belum menunjukkan tanda-tanda apapun. Ia hanya diam, menatap tajam ke arah perempuan itu. “Nggak pa-pa sih, Mbak, berpenampilan kaya pembantu. Dari pada cantik tapi dimodalin suami orang.” Balasnya sengit, yang membuat ibu muda itu seketika menarik rambut panjang Mita yang dikuncir kuda. “Aawwhh…” Mita menjerit menahan rambutnya. “Dasar cewek sialan!” maki ibu muda itu pada Mita. “Kamu yang sialan. Emangnya aku nggak tau borok yang kamu tutupi selama ini.” Mita balas menyerang dengan kata-katanya. Ibu muda itu tidak hanya menjambak rambut panjang Mita. Kali ini, ia memulai mencakar dan juga memukul wajah Mita dengan tangannya. Ibu Salamah tampak kebingungan, sedangkan Jefry mencoba memisahkan pergulatan Mita dan juga ibu muda tadi. Mita sendiri, tentu saja ia tak akan mau kalah dari ibu muda dati, karena apa yang dikatakan benar adanya. Ibu muda tadi, merupakan selingkuhan dari sahabat ibunya. Mita juga sempat memergoki ibu muda tadi dan suami sahabat ibunya itu bermesraan. Mita sekuat tenaga mencoba melindungi wajahnya dari serangan ibu muda yang sudah seperti orang kesetanan. “Dasar pelakor! Nggak tau malu!” kata Mita. “Mita, cukup!” setelah berjuang keras, akhirnya Jefry berhasil memisah Mita dan ibu muda tadi. Lelaki itu menyeret Mita supaya menjauh. Sedangkan ibu muda tadi tampak terengah-engah, dan berbalik menjadi perbincangan teman-temannya di belakangnya. Itu membuat ibu muda tadi merasa tidak senang, ia kemudian mencari-cari sesuatu untuk membalas rasa malunya pada Mita. Akhirnya, tatapan matanya tertuju pada sebuah batu berukuran sedang yang tergeletak di bawah pohon. Ibu muda itu segera mengambilnya, dan bermaksud mencelakai Mita dengan batu di tangannya. Beruntung, Jefry melihat apa yang ingin dilakukan ibu muda itu, sehingga ia pun segera menarik tubuh Mita mendekat padanya, sedangkan ibu muda tadi yang sudah tersulut emoasi justru jatuh terjengkan karena objek sasarannya telah diamankan dalam pelukan Jefry terlebih dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD