“Jadi maksudnya, apa yang Bang Jefry lakukan tadi hanya sebuah pencitraan di depan mama sama papa?” tanya Mita tak habis pikir melihat Jefry yang kembali mengeluarkan barang-barang milik Mita dari dalam kamarnya setelah kedua orangtuanya pergi. “Bang Jefry mau ngusir aku, gitu?” tanyanya memastikan. Detik berikutnya, Mita justru tertawa senang, jika memang itu yang diinginkan Jefry. Dengan begitu, ia tak perlu repot-repot menjelaskan pada kedua orangtuanya kenapa ia kembali lagi ke rumahnya.
“Aku bukannya mau mengusirmu, hanya saja, kamu lebih pantas tidur di kamar pembantu dari pada disini.” Jawabnya yang seketika membuat Mita membulatkan matanya.
“Apa?!” katanya terkejut. “Kamar pembantu?”
“Tentu saja. Memangnya mau dimana lagi. Udah bagus aku kasih kamu ruang untuk beristirahat, dari pada kamu, aku suruh tidur di luar.” balas Jefry dingin. “Atau jangan-jangan, kamu sudah membayangkan mau tidur seranjang denganku?” tambahnya menyudutkan posisi Mita. Mita tak melakukan apapun selain menatap tajam lelaki itu. Gadis itu tampak membuang napasnya kasar.
“Enak aja. Asal Bang Jefry tau ya, kamar pembantu terdengar lebih menjanjikan dari pada aku harus tidur sekamar dengan Bang Jefry.” balas Mita telak. “Yang ada, ntar malem, Bang Jefry lagi yang apa-apain aku.” Tukasnya membuat harga diri Jefry sedikit tergores. Lelaki itu tampak menaikkan sebelah sudut bibirnya.
“Jangan sok cantik deh. Secara fisik, kamu udah nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Jadi, jangan pernah bermimpi aku bakal ngapa-ngapain kamu. Aku udah pernah bilang, kan, sekalipun kamu telanjang di depan mataku, aku nggak bakal tertarik.”
Wajah Mita tampak mengeras. Kedua tangannya membentuk kepalan yang siap menghajar wajah Jefry. Kalimat yang dilontarkan lelaki itu jelas, adalah hinaan.
“Inget ya Bang. Mulutmu harimaumu. Jangan salahin aku, kalau suatu hari nanti Abang jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya sama aku.” Kata Mita penuh kilatan kemarahan dalam sorot matanya.
“Itu nggak mungkin terjadi.” Bantah Jefry sangat yakin.
“Kita lihat saja nanti.” Pungkasnya. Jefry dengan angkuh membiarkan Mita menyeret kopernya keluar dari kamarnya, menuju sebuah ruangan kecil dekat dapur. Ruangan yang lebih pantas disebut gudang.
***
Keesokan pagi, Mita masih dengan posisi meringkuhnya di atas sebuah kasur yang sudah usang termakan usia sambil memeluk kemoceng yang semalam ia gunakan untuk membersihkan sudut ruangan yang ia gunakan sebagai lokasi tidurnya saat ini. Tidur nyenyaknya itu harus hancur berantakan karena Jefry tiba-tiba saja menggedor pintu dengan kasar.
“Bangun!” teriaknya. Mita yang mulai terusik tampak mengeliat, lalu menarik selimutnya menutupi sekujur tubuhnya. “Dalam hitungan ke tiga, kalau kamu tidak mau bangun juga, aku bakal siram kamu pake air.” Ancamnya. Mita sama sekali tak peduli, sudah ribuan kali gadis itu mendengar ancaman serupa dari ibunya, faktanya, tak pernah terjadi apa-apa, ia masih bisa tidur leluasa sampai siang. Namun Mita lupa, ancaman itu tidak mungkin berlaku jika ia masih tinggal dengan kedua orangtuanya. Bukankah sekarang ia tinggal di rumah Jefry?
Saking mengantuknya, Mita melupakan dimana ia berada saat ini. Hal itu membuat Jefry murka, ditambah kebencian tanpa sebab terhadap gadis itu membuat lelaki itu benar-benar melakukan apa yang baru saja diucapkannya. Seember penuh air mengguyur tepat di kepala Mita. Gadis itu terbangun dengan mulut gelagapan.
“Apaan sih Bang!” kesalnya.
“Cepat bikin sarapan, udah siang.” Ucapnya memerintah.
“Bikin aja sendiri. Katanya Bang Jefry pintar masak, masak buat sarapan aja masak nggak bisa?” balas Mita bernada emosi. Gadis itu mengeringkan wajahnya dengan ujung lengan baju yang dipakainya. Jefry tampak tersenyum miring.
“Aku tidak sudak dibantah.” Kata Jefry menegaskan.
“Dan aku tidak suka dipaksa.” Balas Mita tak mau kalah.
“Kamu berani sama aku?” tanyanya.
“Sejak kapan aku takut.” jawab Mita sengit. Membuat wajah Jefry tampak mengeras.
“Kamu mau, jadi istri durhaka?”
“Ini bukan durhaka, ini pembelaan.” Mita menegaskan.
“Kamu ini, bener-bener ya,” Jefry seakan kehilangan kata-kata.
“Apa?!” ucap Mita penuh tantangan. Di kedua bola matanya memancarkan kilatan kemarahan. Jefry memilih pergi dari kamar Mita, dari pada meladeni gadis itu yang bisa saja membuat moodnya menjadi berantakan. Mita dengan napas memburunya nasih terpaku, barulah ia menghela napas lega setelah Jefry benar-benar menghilang dari pandangannya. Pada saat berjalan menuju kamar mandi, sebuah ide tiba-tiba terlintas. Gadis itu memeriksa isi kulkas, tidak ada bahan-bahan yang bisa dimasak, lalu matanya mengedar, mencari sesuatu. Bertemulan dengan beras. Mita sudah memutuskan, dia akan membuatkan sarapan pagi special untuk suaminya.
Selama kurang lebih 30 menit, gadis itu berkutat dengan perabotan rumah tangga, akhirnya masakan sederhana, praktis, dan sangat mudah sekali membuatnya itu berhasil dibuat oleh Mita. Gadis itu kemudian menyajikan nasi goreng buatannya ke atas meja. Pada saat itu, Jefry turun dari kamarnya, aroma harum membawanya ke dalam dapur.
“Tidak buruk,” komentarnya pada nasi goreng yang berhasil dibuat oleh Mita. Dari penampilannya juga terlihat menarik. Lelaki itu kemudian duduk, dan mulai menikmati sarapan paginya. Namun, pasa suapan pertama, lelaki itu merasa lidahnya seperti bergetar. Asin.
Jefry memuntahkan makanan yang tadi sempat masuk ke dalam mulutnya. Pada saat itu, Mita keluar dari dalam kamar mandi.
“Ada apa Bang?” tanyanya pura-pura tidak mengerti.
“Kamu mau ngeracunin aku. Asin banget makanannya.” Cerocos lelaki itu.
“Masak sih, Bang.” Sahut Mita masih dengan ekspresi pura-puranya. “Duh, maaf ya Bang,” ucap Mita dengan tampang berdosanya. “Emang tadi itu aku sengaja bumbuinnya cuma pake garem. Emang enak. Rasain tuh, makan garem.” Setelah mengatakan itu, Mita segera menghindar dari Jefry, melesat menuju kamar, lalau mengunci pintunya dengan rapat.
“Mita… buka pintunya. Awas aja kamu! Lihat pembalasanku nanti.” Kata Jefry marah. Mita tertawa puas dari balik pintu kamarnya setelah berhasil mengerjai suaminya.
Sebelum keluar, Mita mengintip keadaan di luar kamarnya terlebih dulu, memastikan apakah Jefry masih berada di rumah. Sepi. Gadis itu mulai melangkah perlahan. Begitu kakinya ingin menyebrang ke ruang tengah, rupanya Jefry sudah menunggunya di sana. Lelaki itu duduk dengan kedua tangan terlipat di depan d**a.
“Mau kabur?” tanyanya.
“Enggak.” Jawab Mita singkat. Jefry kemudian berdiri, lalu menyerahkan tongkat pel beserta teman-temannya pada gadis itu. “Kamu tidak boleh pergi kemana-mana sebelum rumah ini bersih.” Ujarnya.
Mita mendengus. Lalu menerima tongkat pel beserta kawan-kawannya. “Bang Jefry nggak berangkat kerja?” Tanya gadis itu dengan nada sura yang sudah diturunkan.
“Nggak, aku cuti selama tiga hari ke depan.” Jawabnya yang kemudian dianguki kepala oleh Mita. “Dan hari ini aku bakal natuin kamu beresin kamar kamu. Maaf, udah bikin kamar kamu basah.” Sesalnya, yang justru membuat Mita menaruh kecurigaan penuh. Musuh tidak mungkin menyerah begitu saja, kan?
***
Pekerjaan rumah ini tentu saja sangat melelahkan, sejak pagi hingga sore, mereka baru beres bersih-bersih kamar baru untuk Mita yang tadi dibuat basah oleh Jefry. Biar bagaimana pun, pertengkaran pagi tadi murni karena Jefry yang memulainya.
Saat ini keduanya tampak duduk di sofa ruang tengah, merebahkan otot-otot tubuhnya yang rasanya mau pecah. Mita berselonjor sambil menaikan kedua tangannya tinggi-tinggi. Pada saat itu, Ibu Salamah muncul bersama Alex, membawa sebuah undangan.
Yang Ibu Salamah pikir pertama kali waktu melihat kondisi Jefry dan Mita yang penuh keringat, pastilah, anak dan menantunya baru saja melakukan sesuatu yang istimewa. Wanita itu kemudian turut bergabung dengan anak dan menantunya dengan senyum terkembang sempurna.
“Kalian udah makan?” tanya Ibu Salamah berbasa basi.
“Udah, Ma. Tadi kita makannya pesen.” Jawab Mita. “Itu, belum Mita beresin.” Tambhanya menunjuk ke arah meja makan menggunakan dagu. Dalam hati, Ibu Salmah menghela napas lega. Setidaknya, Jefry tidak membiarkan Mita kelaparan. Di menit berikutnya, Jefry mulai mengendus tubuhnya sendiri, penciumannya menangkap sesuatu yang terasa tidak enak, dan bahkan membuatnya ingin muntah. Saat mencium tubuhnya sendiri, ia tidak bereaksi apapun, dan begitu hidungnya mengendus aroma tubuh Mita, lelaki itu spontan menutup hidungnya rapat-rapat.
“Ya Tuhan… keringet kamu bau banget. Buruan mandi.” Perintahnya.
“Mana sih, enggak ada baunya kok.” Katanya sambil mencium aroma tubuhnya sendiri.
“Bau banget kaya gini, kamu bilang nggak ada bau?” Jefry menatap Mita tak percaya. “Kamu tuh perempuan? Apa manusia rawa-rawa sih?” Jefry menarik kerah baju belakang Mita, menyeret gadis itu ke kamar. “Mandi cepet. Nih, taro sini baju kotornya.” Tambahnya seraya menyerahkan keranjang baju kotor pada Mita.
Rupanya, Jefry sangat cerewet jika sudah menyangkut kebersihan badan. Lelaki itu bahkan rela menunggui di depan pintu kamar, meminta supaya Mita menyabun tubuhnya dengan benar, sikat gigi, dan tak lupa membersihkan rambutnya pakai shampoo.
“Iya… cerewet banget sih?” teriak Mita dari dalam. Ibu Salamah hanya terkekeh geli, melihat interaksi anak-anaknya, wanita itu kemudian berjalan menuju dapur, membereskan sisa makanan yang tadi katanya di beli oleh Jefry lewat aplikasi. Saat membuang bungkusan-bungkusan itu ke dalam tong sampah, Ibu Salamah justru tertarik melihat kamar tempat penyimpanan barang-barang bekas itu tampak terang dan bersih. Karena penasaran, Ibu Salmah pergi untuk memeriksa ruangan tersebut. Menarik napas dalam-dalam, Ibu Salamah harus menginterogasi anak dan menantunya.
“JEFRY… MITA…”