Bab 5

1764 Words
Meski acara pernikahan Jefry dan Mita yang digelar sangat sederhana, namun tetap saja membuat keduanya kelelahan. Mita sudah tak sabar lagi ingin merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Dua minggu yang sangat sibuk ini membuatnya kehilangan waktu tidurnya. Sebelum beranjak ke kamar, Mak Anggi memberikan sebuah kado pada Mita. Katanya, itu adalah kado special dari Ibu Salamah yang tidak sempat diberikannya langsung. Selain itu, kado tersebut harus Mita pakai malam ini juga. Mita menerimanya dengan cuek, tak peduli dengan isinya, dan tak mau repot-repot menebaknya. Yang ada dalam isi kepalanya, hanyalah tempat tidur super nyaman dan bantal kesayangannya yang sudah menanti untuk ditiduri. Selesai mandi, Mita berjalan menuju lemari. Pada saat ia ingin menarik satu setel piyama, ia teringat dengan kado pemberian Ibu Salamah yang harus ia pakai malam ini. Didukung rasa penasarannya yang begitu tinggi, Mita mengembalikan setelan tersebut ke dalam lemari, ia kemudian berjalan menuju tempat tidur, dimana kado tersebut tergeletak begitu saja disana. Kening Mita mengernyit, melihat pakaian berenda terlipat rapi di dalamnya setelah tutup kado terbuka. “Bajunya kok aneh banget?” katanya sambil melakukan pengamatan terhadap salah satu kain berbentuk segitiga yang memiliki lubang. Mita memang bodoh, tapi juga bukan yang bodoh-bodoh banget, ia tau baju apa yang diberikan ibu mertuanya sebagai kado pernikahan mereka, merupakan baju yang didesain sexy, dan mampu menarik pasangan. Sontak Mita membelalakkan mata, mulutnya pun terlihat mengaga lebar. Ekspresi wajahnya cukup untuk menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan sekarang. “Gila!” umpatnya. “Apa nanti kata orang kalau aku sampai pake baju ini? Bisa-bisa aku diterkam hidup-hidup sama si duda kusen.” Ujarnya. Dan tanpa Mita sadari, si duda yang disebutkannya itu tampak berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak mengeras, sebutan yang diberikan oleh Mita pasti hinaan untuknya. “Apa yang kamu bilang barusan? Duda kusen? Apa artinya?” tanyanya dengan tatapan mematikannya. Ekspresi terkejut Mita berubah ngeri. Gadis itu perlahan menurunkan tangannya dan menggulung baju berbahan satin berenda itu di tangannya. “Mau tau banget.” Ketus Mita. “Katakan!” desak Jefry. “Apa sih, Bang.” Ucapnya mencoba menghindari kontak mata dengan lelaki itu. “Jangan menghindar, sebutan itu pasti hinaan untukku, kan?” “Bukan. Abang, jangan sok tau.” keukeuhnya sibuk menyimpan baju tadi ke dalam kotak. Jefry melangkah mendekati Mita, lalu membisikkan sesuatu di telinga gadis itu dengan lembut. “Jangankan kamu memakai baju ini, kamu telanjang di depanku pun, aku tidak peduli.” Tegasnya. Setelah mengatakan itu, Jefry beranjak menuju kamar mandi, mengabaikan teriakan kesal Mita. “Dasar sialan! Duda kusen! Kurang sentuhan! Dia pikir, aku mau apa di sentuh sama dia.” Jefry tersenyum miring sambil melepas satu persatu kancing kemejanya, lalu mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air dingin. *** Usai mandi, jefry menemukan Mita sudah terlelap dalam gulungan selimut hangatnya. Jarum jam di dinding menunjuk ke antara angka dua belas dan satu dini hari. Rasa lelah dan mengantuk mengundang Jefry untuk segera bergabung ke atas tempat tidur yang terlihat sangat nyaman itu. Tanpa pikir panjang lagi, lelaki itu turut merebahkan tubbuhnya di samping Mita. Lima menit berikutnya, ruangan berukuran 4x6 meter terasa begitu sepi, hanya dengkur halus yang terdengar saling bersahutan memenuhi ruangan. Keesokan paginya. Jefry terbangun dengan cara yang tidak biasa. Ia harus terbangun setelah mendapat tendangan bebas dari Mita, dan tubuhnya membentur lantai dengan keras. Lelaki itu bangkit dengan wajah penuh amarah. Tatapan tajamnya bagaikan laser yang siap memenggal jantung Mita menjadi dua. “Maaf, Bang, aku nggak sengaja, sumpah. Tadi itu aku spontan aja nendang Bang Jefry, gara-gara aku kaget pas bangun ada cowok di samping aku.” Mita menjelaskan sejujur-jujurnya. Karena memang itulah yang terjadi pagi ini. Tanpa teriakan, seperti kebanyakan perempuan-perempuan yang merasa terancam. Mita justru menggunakan tenaganya. Jefry tampak menarik napas dalam-dalam. Menyikapi apa yang baru saja dilakukan Mita padanya dengan sabar. Namun, jika tidak ingat jika saat ini ia sedang berada di rumah keluarga Pak Surya, Jefry pasti sudah membalas perbuatan Mita, tanpa ragu. Sarapan pagi di rumah Mak Anggi pagi ini terlihat begitu meriah. Air liur Mita rasanya mau tumpah melihat makanan lezat tersaji di atas meja. Mita berniat menyapu bersih semua makanan tersebut, namun, saat gadis itu hendak menyendok nasi dari tempatnya, tangan Mak Anggi dengan cepat menampalnya. “Mak?!” Mita memekik terkejut. “Layani dulu suami kamu, baru kamu boleh makan.” tuturnya. Mita cemberut, sedangkan Jefry terlihat tersenyum puas. Tak perlu repot-repot membalas apa yang sudah Mita lakukan padanya, karena Mak Anggi sudah mewakilinya. Dengan senyum mencibir, Jefry menyodorkan piring kosongnya pada Mita sambil menunjuk menggunakan dagu, meminta supaya Mita mengambilkan nasi dan juga lauk pauknya. Meski kesal, Mita melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik. Bisa dibilang itu hanya sebuah pencitraan, karena setelah ini, peperangan yang sebenarnya baru akan terjadi. Selesai sarapan pagi. Seperti biasa, Mita menonton tv sambil nyemil keripik favoritnya. Mengabaikan bunyi ‘gedebak-gedebuk’ dari arah kamar tidurnya yang dihasilkan oleh Mak Anggi yang sedang mengemasi barang-barang Mita. “Astagfirullahhal’adzim… mbok ya ini bantuin Mak beresin barang-barangmu, dari pada nonton tv mulu,” ucap Mak Anggi pada Mita. “Lagian, mak ngapain sih, nyari pekerjaan tau,” keluhnya, tak berpaling dari layar tv. “Ee… kamu nggak tau ya, mulai sekarang, kamu harus pindah dari rumah ini.” Cetusnya. Mita sontak memutar tubuhnya. “Apa, Mak?!” tanyanya memastikan. “Mak mau ngusir aku?” tambahnya. “Nggak. Mak nggak mau ngusir kamu, tapi memang sudah seharusnya kamu pindah, ikut ke rumah suami kamu,” tuturnya. “Sama aja, Mak, itu namanya Mak ngusir aku.” Mita bersikukuh dengan argumentnya. “Mak, kok tega sih,” tambahnya sedih. Merasa ibunya sudah tak menyayanginya lagi. “Mit,” panggil Mak Anggi dengan suara lembut, lalu mengambil posisi duduk di samping Mita. “Akan lebih tega lagi kalau Mak, ngebiarin kamu tinggal di rumah ini. Ini juga bagian dari tugas sebagai orangtua mengantar anaknya menempuh hidup baru. Kamu harus bisa memahami itu,” jelasnya. “Emang nggak bisa ya Mak, aku tinggal disini aja?” mohonnya memelas. “Bisa.” Jawab Mak Anggi mantap, “jika suami kamu mengizinkan.” “Aku harus ngomong sama Bang Jefry.” ujarnya dan kemudian melompat dari posisi duduknya menemui Jefry yang saat ini sedang bermain game favoritnya di ruang tengah. “Bang! Pokonya aku nggak mau pindah dari sini.” Teriak Mita tiba-tiba. Gadis itu kini sudah berdiri di hadapan lelaki itu. “Tinggal saja, aku juga tidak memaksa.” Jawabnya cuek. “Tapi aku tetap akan pulang ke rumahku.” “Pulang aja sono, silahkan.” Balas Mita penuh penekanan di akhir kalimatnya. Jefry berdiri lalu menyimpan ponselnya dalam saku celana. “Jangan harap aku mau ikut sama kamu.” tambahnya, memutar tubuh membelakangi Jefry sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Aku rasa, kamu harus mempertanggung jawabkan ucapanmu barusan.” bisik Jefry dengan suara lirih sambil menatap kearah tangga, yang rupanya Mak Anggi tengah berdiri sambil membawa koper besar milik Mita yang sudah dipersiapkan. “Mita. Nggak baik bicara seperti itu. Itu namanya ngusir. Dosa besar bagi seorang istri berani berkata kasar pada suami.” Kata Mak Anggi lagi. “Maaf ya, Jef. Mita memang anaknya agak kasar. Kamu banyak-banyak sabar.” Kata Mak Anggi pada Jefry yang tampaknya tak keberatan sama sekali. “Kemanapun suami kamu tinggal, kamu harus menemaninya. Mak nggak suka LDR-LDRan. Nih, barang-barang kamu sudah mak siapin. Tinggal berangkat aja.” putusnya tanpa bisa di bantah. Lagi-lagi, Jefry tersenyum puas. Merasa selangkah lebih unggul dari Mita. *** “Selamat datang di istinahku. Semoga kamu betah tinggal disini.” Jefry menoleh pada Mita begitu mobil sudah berhenti dengan sempurna di depan rumahnya. Senyum yang terkembang di bibir lelaki itu mengisyaratkan penderitaan Mita akan segera di mulai. Gadis itu membalas tatapan lelaki itu sama tajamnya. Dari dalam rumah, Ibu Salamah muncul bersama Alex, disusul kemudian Pak Malik, menyambut kedatangan pengantin baru itu dengan senyum bahagia. “Hai jagoan, bagaimana kabarmu?” Jefry menghampiri putranya, lalu menggendongnya penuh rindu. Alex tertawa geli, mendapat serbuan ciuman dari ayahnya. Sedangkan Mita, terlihat berdiri kikuk di belakang Jefry, lalu menyalami ayah, dan ibu mertuanya. “Selamat datang di rumah, mama harap kamu betah tinggal disini,” kata Ibu Salamah senang. Mita hanya mengulas senyum sebagai bentuk respon. Ibu Salamah mengajak Mita masuk sambil menceritakan banyak hal, salah satunya; tentang masa kecil Jefry dulu yang mirip sekali dengan Alex, kenakalannya, sifatnya yang begitu pemalu, dan tak pernah mau berada jauh dari ibunya. Mita sempat tak percaya, mendengar jika Jefry dulu sangat pemalu. Julukan itu rasanya tidak pantas, mengingat betapa menyebalkannya sikap lelaki itu terhadap Mita. Setidaknya, itulah penilaian Mita untuk Jefry. “Sampai sekarang pun juga masih begitu, suka malu-malu kalau deket sama perempuan.” Bisik Ibu Salamah lirih. “Jadi, mama harap kamu bisa sabar, ya.” tambahnya. Perjalanan Mita mengelilingi rumah Jefry berakhir di ruang tamu, gadis itu sedikit terkejut, melihat mainan Alex yang berserakan di lantai. “Aduh, ini pasti ulah Alex,” gumam Mak Anggi memunguti satu persatu mobil mainan Alex, dan memasukkannya ke dalam container. Mita hendak duduk dan membantu membereskan kekacauan tersebut, namun segera dicegah oleh Ibu Salamah. “Eh, kamu mau ngapain?” tanya wanita itu. “Mau, bantuin,” jawabnya. “Udah nggak perlu. Sebaiknya kamu istirahat aja di kamar. Biar ini mama yang urus.” Jelasnya. “Tapi,” “Nggak pa-pa. Alex itu anaknya hiperaktif, suka berantakin rumah. Mama harap, kamu bisa sabar ya ngadepin Alex. Kalau misal kamu capek, nggak usah diberesin, biar Jefry yang beresin.” Terangnya. Mita mengangguk patuh. “Buat apa juga mama nikahin aku kalau ujung-ujungnya aku juga yang harus beresin rumah. Bukannya beberes rumah sudah menjadi tugas seorang istri?” Jefry menyela sembari melempar tatapan sengitnya pada Mita. Dan satu hal yang baru saja Mita sadari, ia tidak mungkin sanggup membersihkan rumah Jefry yang besar ini. Mita tiba-tiba saja merasa tenggorokannya kering. ‘Ini orang, sengaja mau nyiksa aku, apa gimana?’ kesalnya dalam hati. Baru beberapa jam tinggal di rumah Jefry, rasanya sudah seperti puluhan tahun. Sebagai orang baru di tengah keluarga barunya, tidak mungkin kan jika Mita langsung molor di kamar tidur Jefry, seperti kebiasaannya saat di rumah? Maka dari itu, dengan segan, Mita memaksa dirinya sendiri untuk mencoba sesuatu yang baru, yakni membantu Ibu Salamah memasak untuk makan malam mereka. Mita merasa tangannya mulai perih, akibat cipratan minyak panas yang mengenai kulitnya. Namun, ia juga tidak mungkin mengadu pada Ibu Salamah, atau pun Jefry yang sudah pasti akan menertawakannya. Gadis itu lebih banyak diamnya dari pada mengoceh. Menata ulang hati dan pikirannya. Pernikahan ini sudah terlanjur dilakukan. Apakah ada kesempatan untuk mundur? Atau ia harus melawan, memberi pelajaran yang tak akan pernah terlupakan pada si duda?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD