Bab 4

1881 Words
Bukan menjadi rahasia baru lagi jika memang Mita tidak menyetujui pernikahannya dengan Jefry. namun, yang menjadi pertanyaan para orangtua adalah: kenapa gadis itu bisa bersama dengan Jefry? Mau bertanya, takut akan menyinggung perasaan Mita. Mau diam saja, namun begitu penasaran, bagaimana ceritanya Mita bisa sampai bertemu Jefry lalu keduanya datang sama-sama. Ibu Salamah yang sejak tadi hanya berdiam diri itu tampak mendeham, dan seketika membuat semua mata yang ada disana menoleh padanya. Wanita itu berjalan menghampiri Mak Anggi, lalu berkata: “Sehat-sehata ya Bu Anggi,” katanya membuka obrolan. “Bu Anggi nggak perlu khawatir lagi, yang namanya jodoh, mau lari kemanpun pasti bakal ketangkep sama pemiliknya.” Ujarnya membuat wajah Jefry dan Mita tampak merona. Entah itu menahan malu atau kesal. “Buktinya, tadi pas aku ngabarin Jefry saat tau kamu masuk rumah sakit. Mita ada di mobil loh, bareng Jefry,” tambahnya tersenyum jahil. Sumpah ya, jika bukan calon Ibu mertua, Mita sudah pasti mengeluarkan jurus seribu bayangannya untuk menghajar Ibu Salamah ramai- ramai. Bisa-bisanya, wanita itu ngelawak dalam kondisi seperti ini. “Maksud Bu Salamah, Mita tadi sama Jefry?” tanya Mak Anggi. Tak bisa menahan rasa penasarannya. Lalu Ibu Salamah tampak mengangguk sambil menaik turunkan alisnya. “Penasaran kan?” ujarnya memancing. “Mit, benar yang dibilang,” tanya Mak Anggi yang dengan cepat di sahut oleh Ibu Salamah dengan berkata: “Mama.” Katanya menunjuk diri sendiri. “Mulai sekarang panggilnya, Mama aja.” tambahnya memperjelas. Mita tampak memandang wajah dua perempuan itu satu-satu. Kemudian melirik kea rah Jefry yang berdiri di depannya. Berharap lelaki itu mau menolongnya dari situasi yang cukup menyulitkannya ini. Tidak mungkin kan, Mita akan menjawab jika Jefry tadi menemukannya saat ia bertengkar dengan Kama di jalan? Akan sangat memalukan sekali rasanya. “Kami nggak sengaja ketemu di jalan.” Itu adalah suara Jefry. Lelaki itu bahkan menjawabnya lebih cepat sebelum Mita membuka suaranya. “Hanya itu?” sahut Bi Azizah yang juga sama penasarannya dengan yang lain. Akan terasa lebih aneh lagi, jika tiba-tiba Mita mau begitu saja ikut pulang bersama Jefry. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Keduanya kini mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari orang-orang yang ada di ruangan tersebut. “Itu tidak penting, yang terpenting bagi kalian sekarang adalah kesehatan Bu Anggi dan pernikahan kami, kan?” Jefry membalas tatapan itu dengan sangat baik, sehingga perhatian mereka semua pun teralihkan. “Aah… benar sekali.” Kata Ibu Salamah. “Kalau gitu, apa sebaiknya penyerahan talinya kita lakukan disini saja.” katanya tak mau jika sampai ditunda-tunda lagi, Jefry atau pun Mita justru berubah pikiran lagi. “Iya, benar. Lebih cepat lebih bagus.” Sahut Mak Anggi yang tiba-tiba saja merasa lebih baik dari sebelumnya. “Jadi gimana?” tanya Ibu Salamah lagi meminta persetujuan dari Mita atau pun Jefry. Keduanya tampak saling menatap. “Baiklah.” Jawab Jefry dengan cepat. Mita hanya bisa menghela napas pasrah. *** Mita menatap cincin bertahtakan berlian yang kini telah melingkar di jari manisnya. Acara pertunanngan paling miris yang pernah terjadi karena dilaksanakan di rumah sakit. Apakah ini justru pertanda buruk? Secara, dari lokasinya saja sudah kurang strategis. Menghela napas panjang. “Biarin aja, kalau pun nanti kejadian buruk yang bakal terjadi. Bukan aku juga yang nyesel. Pasti Mak sama Bapak karena udah salah milih calon menantu buat anaknnya.” Ujarnya lalu kembali menarik selimut, membungkus tubuhnya di dalam sana. *** Hari-hari telah berlalu dengan begitu cepat. Tanpa terasa, kesehatan Mak Anggi sudah pulih seratus persen. Acara pertunangan yang kemarin sempat berantakan, sebagai gantinya, malam ini keluarga Jefry akan kembali berkunjung ke rumah Mak Anggi untuk makan malam bersama. Habis isya’ mereka tiba di rumah Mak Anggi. Jefry terlihat duduk diantara Pak Malik dan Ibu Salamah sambil memangku Alex, bocah berusia lima tahun itu juga sudah sembuh dari sakitnya. Dia sekarang terlihat sibuk dengan mobil mainan yang dibawa dari rumah. Mereka saat ini tengah mengobrol di temani Pak Surya di ruang tamu. Semenit kemudian, Mak Anggi muncul membawa nampan berisi minuman dan toples berisi cemilan bayi. Sengaja di persiapkan secara khusus. Karena tidak mungkin, kan, Alex harus memakan gorengan berisi cabe? “Ayo silahkan diminum,” ucap Mak Anggi tersenyum senang. Wanita berusia 40-an tahun itu turut bergabung, duduk di sebelah Pak Surya. “Ngomong-ngomong, Mita kemana?” tanya Ibu Salamah kemudian, pandangannya mengedar mencari-cari keberadaan Mita yang belum juga muncul di tengah-tengah mereka. “Oh, Mita ya,” ucap Mak Anggi sedikit gugup. “Masih di kamar kayanya,” tambahnya sambil menunjuk kesembarang arah. “Saya panggilin, sebentar.” “Boleh.” Ibu Salamah tersenyum menatap punggung Mak Anggi yang kian menjauh. Kini Mak Anggi telah sampai di depan kamar tidur Mita, di lantai dua rumahnya. Dengan gemetar, tangannya mengetuk pintu kamar tidur Mita sambil mendesis. “Mit, buka pintunya.” Katanya panik. Pintu kamar Mita dikunci dari dalam, dan itu bukan kebiasaan Mita. “Mita, jangan bikin Mak, sama Bapak malu, ayo buruan bukain pintunya.” Desaknya. Setelah lima menit tak ada jawaban, akhirnya Mita membuka pintu kamarnya di menit ke enam. Gadis itu muncul dengan handuk yang masih dililitkan di kepala. “Astagfirullahal’adzim…” Mak Anggi memekik sembari mengusap d**a. Memperbanyak sabar dan menekan emosinya agar tidak meledak. “Katanya tadi di suruh mandi, biar wangi, nggak malu-maluin. Kenapa sekarang Mak, malah nyebut. Nggak suka, lihat aku mandi?” Mita menceletuk dengan suara yang sengaja di keraskan, supaya keluarga Jefry tau. Dan memang itulah tujuannya. “Ya sudah, kalau gitu buruan ganti baju. Pake baju yang udah Mak, beliin tadi pagi.” Katanya memaksa. *** Setelah hampir setengah jam merias diri, Mita pun kini sudah turut bergabung di meja makan. Gadis itu terlihat tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya saat ini. Dress lengan panjang model retro v-neck A-line berwarna baby blue, yang diberi pemanis berupa garis putih dari potongan kain brokat di bagian perut, dan renda di ujung dress-nya, melingkar. Kemudian, untuk alas kakinya, Mak Anggi membelikan flat shoes berwarna putih gading senada dengan warna brokat dan renda, sehingga membuat penampilan Mita berubah 180 derajat. Mak Anggi, dan Pak Surya tersenyum lega. Setidaknya, Mita tidak membiarkan rambutnya acak-acakan seperti biasanya, kali ini. Rambutnya yang panjang di kuncir setengah dan di beri pita di belakang. Setengahnya lagi, dibiarkan tergerai begitu saja. Tidak disangka, gadis buruk rupanya Mak Anggi bisa berpenampilan begitu feminim. Malam ini. “Ayo, tambah yang banyak, jangan malu-malu.” Kata Mak Anggi penuh semangat, menambahkan sepotong daging rendang ke dalam piring Jefry. Membuat wajah lelaki itu memerah. Ia duduk berhadapan dengan Mita. Sesekali, mereka terlihat mencuri pandang. Bukan untuk saling mengagumi satu sama lain, melainkan untuk mencari sesuatu yang lain dari diri mereka masing-masing. ‘Cih, dasar duda kusen, nggak pernah apa, lihat orang cakepan dikit.’ Cibir Mita dalam hati sambil menatap tajam wajah Jefry yang juga menatapnya tajam. Seolah mereka tengah berbicara melalui sorot mata. ‘Dasar perempuan tidak tau malu. Muka dua. Sok manis, dia kira, aku bakal suka, dengan penampilan barunya ini?’ Jefry pun juga bermonolog dalam hatinya. ‘Tidak semudah itu.’ tambahnya yakin. ‘Mana anaknya ngeselin banget dari tadi,’ sorot mata Mita berpindah ke Alex yang duduk di samping Jefry. Sedangkan, tangannya tampak meremas sendok ditangan kanan dengan kuat, seolah-olah ia sedang meremas Alex dalam genggaman tangannya. Jefry yang melihat sorot mata Mita terarah lurus ke arah putranya segera melakukan sesuatu, sehingga kontak mata Mita terputus seketika. “Oh iya, tanpa perlu kuberi tau, kamu seharusnya tau kalau Alex adalah putraku,” ucap Jefry tiba-tiba yang membuat Mita merasa sedikit tercengang. Gadis itu terlihat gelisah melihat sorot mata Jefry yang terlihat lebih mematikan dari sebelumnya. Namun, bukan Mita namanya jika ia bisa tunduk dengan tatapan mata itu. Mita hanya tersenyum, sebagai bentuk jawaban. “Jika kamu bersedia menjadi istriku, maka kamu juga harus bersedia menjadi ibu dari anakku.” Cetusnya lagi dan membuat kening Mita mengernyit, tidak mengerti. “Maksudmu?” tanyanya. “Tolong suapi dia.” Jawabnya singkat. Wajah Mita yang tadi ramah berubah jutek seketika. Ditambah lagi, ia kini menjadi pusat perhatian dari dua pihak keluarga. Permintaan Jefry adalah permintaan yang tidak bisa dibantah. Apalagi, ia saat ini juga mendapatkan dukungan penuh dari para orangtua. “Nah, bagus itu, kenapa nggak kepikiran dari tadi, ya,” ucap Pak Surya. “Iya, Mit, sebagai calon mamanya Alex, mulai sekarang, kamu harus bisa menarik perhatiannya. Soalnya, Alex bukan anak yang mudah akrab sama orang lain.” Sambung Ibu Salamah menuturkan. Rasanya Mita juga sudah tau tentang satu hal itu mengingat betapa rewel, dan cengengnya Alex. Bahkan, hanya dengan mengamati kesehariannya saja, Mita jadi kesal sendiri saat melihat bocah berusia lima tahun itu menangis saat merindukan Jefry yang tak kunjung pulang dari kantor. Menarik napas dalam-dalam, Mita mengumpulkan lembaran demi lembaran kesabarannya yang hanya setipis tisu. Ia kemudian menyodorkan nasi seujung sendok pada Alex, dengan gigi saling bergemeletuk. ‘Dasar duda nyebelin. Awas saja nanti.’ Batinnya. Yang membuat Jefry tak habis pikir, kok mau Alex disuapi oleh Mita? Gadis itu itu tersenyum mencibir, menunjukkan kemenangannya di depan mata Jefry. “Lihat, kan, si Alex-nya nurut. Lagian, di dunia ini, siapa gitu yang nggak bisa luluh oleh Mita.” Ucapnya membanggakan diri. “Mita gitu loh…” tambahnya lebai. Jefry terlihat sangat kesal. Sedangkan, para orangtua tampak terharu melihat sikap manis yang baru saja dilakukan Mita pada Alex. Ibu Salamah sampai menitikan air mata. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tepat ketika Mita berbangga diri, merasa paling tinggi. Alex justru memangkas kepercayaan diri Mita dalam sekejap mata. Alex menyemburkan makanan yang tadi disuapi oleh Mita tepat ketika bocah itu selesai mengunyah, lalu, nasi yang sudah bercampur air liur itu mengenai wajah Mita. Jefry tertawa puas. *** Kemarin malam itu, bukanlah pertemuan keluarga biasa. Para orangtua telah memutuskan kapan tepatnya tanggal dan hari baik untuk pernikahan Jefry dan Mita, yang rupanya jatuh dua minggu lagi. Keputusan untuk menjodohkan Jefry dengan Mita benar-benar sudah matang, tak bisa di bantah lagi. Keluarga terdekat juga telah menerima undangan langsung dari kedua orangtua mereka. Selama dua minggu kedepan, hari-hari Jefry dan Mita benar-benar disibukkan untuk mempersiapkan segala macam keperluan seperti berkas-berkas yang harus mereka lengkapi, sampai pernak pernik yang mereka butuhkan untuk acara pernikahan mendadak ini. Dua minggu yang sibuk itu rupanya berlangsung lebih cepat dari biasanya. Kini tiba dimana hari yang paling ingin mereka berdua hindari, yakni hari pernikahan. Mita duduk melamun menatap pantulannya sendiri di cermin. Sampai Mak Anggi muncul dan otomatis membuyarkan lamunannya. Wanita itu mengajak Mita untuk segera turun, bergabung dengan Jefry yang sudah menunggunya dari setengah jam yang lalu. Pak penghulu sudah datang, dan menempati posisi duduknya di hadapan kursi mempelai pengantin. Jefry duduk dengan resah. Pikirannya berandai-andai. Andai Mita tiba-tiba saja kabur dari acara pernikahannya ini. Atau, andai saja mantan kekasih Mita muncul dan menggagalkan pernikahan ini, dan kemungkinan-kemungkinan yang lain yang bisa merusak pernikahannya ini. Dan karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Jefry tidak menyadari kehadiran Mita di sampingnya. Lelaki itu spontan menoleh, begitu merasakan ada pergerakan. Mita juga menoleh. Tatapan mereka sempat beradu selama beberapa saat. Satu hal yang Jefry akui, Mita terlihat begitu cantik. Resepsi pernikahan sederhana yang di gelar di rumah Mak Anggi sesuai permintaan Mita itu berlangsung khidmat dan penuh haru. Seluruh keluarga yang diundang mengucapkan selamat kepada mempelai berdua. Disambung dengan acara makan-makan bersama. Kecuali, Mita dan Jefry yang terlihat masih duduk, tenggelam dengan pemikiran masing-masing. “Aku masih tidak percaya. Suamiku, duda?” gumam Mita memunggungi Jefry.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD