Adara mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu. Matanya menatap ke arah mug berisi s**u coklat hangat dengan asap tipisnya yang tampak mengepul di atas meja. Kendati sofa yang didudukinya begitu empuk, namun Adara tidak merasa tenang. Di kafe itu, ia hanya duduk sendirian di sofa panjang yang sebenarnya muat untuk diduduki beberapa orang. Posisi wanita itu dekat dengan jendela, sehingga memudahkan Adara untuk melihat suasana luar kafe di mana banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Langit tampak mendung, musim penghujan seperti ini langit memang jarang menampilkan warna biru cerahnya, bahkan mentari pun senang bersembunyi di balik awan gelap, tidak memedulikan jemuran para manusia yang harus segera ia keringkan. Mata Adara melayang pada jam dinding yang didesain berbentuk hat

