bc

No Rival

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
system
confident
bxb
bisexual
brilliant
highschool
office lady
like
intro-logo
Blurb

Tahun 2099, di bawah langit neon Neo-Guangzhou, kejeniusan bukan lagi pilihan, melainkan syarat untuk bertahan hidup. Li Chen, yang dijuluki sebagai The Maestro, adalah penguasa mutlak di Neo-Guangzhou Academy of Technocracy. Baginya, hidup adalah sebuah partitur musik yang harus dimainkan dengan presisi sempurna. Tidak ada kesalahan, tidak ada emosi yang sia-sia, dan yang terpenting—tidak ada rival.​Kehidupan Chen tampak sempurna dengan prestasi yang tak terkejar dan kehadiran Meilin, kekasihnya yang merupakan primadona balerina hologram. Namun, simfoni hidup Chen mulai mengalami distorsi saat Yan Xiaoguang muncul.​Xiaoguang adalah antitesis dari semua yang dipercayai Chen. Ia berantakan, impulsif, dan memiliki bakat mentah yang mampu meruntuhkan d******i Chen dalam sekejap. Di balik persaingan sengit memperebutkan posisi puncak di kampus, tumbuh sebuah dinamika bromance yang berbahaya—sebuah ketegangan antara keinginan untuk saling menghancurkan atau saling memiliki.​Saat turnamen teknologi terbesar di China menuntut mereka untuk bekerja sama, Chen terjebak di antara tiga dunia: ambisinya yang dingin, kesetiaannya pada Meilin, dan debar jantung yang tak wajar setiap kali Xiaoguang mengacaukan ritmenya. Di panggung masa depan yang kejam ini, Chen harus menyadari bahwa menjadi yang terbaik berarti tidak memiliki siapa pun di sisinya... ataukah ia bersedia berbagi panggung dengan satu-satunya orang yang ia anggap setara?

chap-preview
Free preview
Simfoni Tanpa Lawan
Langit di atas Neo-Guangzhou tidak pernah mengenal arti kegelapan. Ribuan papan reklame hologram raksasa menari-nari di antara gedung pencakar langit, memancarkan cahaya neon ungu dan biru yang memantul di permukaan mobil-mobil terbang yang meluncur sunyi. Di tengah hiruk-pikuk teknologi itu, berdiri sebuah menara kaca berbentuk pilin yang menjadi simbol supremasi intelektual di seluruh China: Neo-Guangzhou Academy of Technocracy (NGAT). ​Di lantai teratas asrama elit, Li Chen berdiri mematung di depan jendela setinggi langit-langit. Matanya yang tajam tertuju pada aliran data yang mengalir di balik lensa kontak pintarnya. ​Jari-jarinya bergerak halus di udara, membedah partitur digital yang hanya bisa ia lihat sendiri. Bagi dunia luar, ia tampak sedang menari dalam keheningan. Namun bagi Chen, ia sedang memimpin sebuah orkestra siber. Setiap jentikan jarinya adalah perintah; setiap ayunan tangannya adalah algoritma yang menghancurkan sistem pertahanan simulasi kampus. ​Beat musik bertempo cepat berdentum di saraf pendengarannya—sebuah ritme yang sinkron dengan detak jantungnya yang stabil. Ia adalah sang Maestro. Dan di dunianya, tidak boleh ada nada yang sumbang. ​"Sistem berhasil ditembus dalam 42 detik," gumamnya datar. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. "Terlalu mudah." ​Tiba-tiba, sebuah notifikasi merah berkedip di sudut pandangnya. Seseorang mencoba masuk ke ruang pribadinya tanpa izin akses digital. ​Brak! ​Pintu geser otomatis itu terbuka paksa, bukan dengan kode, melainkan dengan paksaan fisik yang kasar. Bau parfum cedarwood yang bercampur dengan aroma sirkuit panas seketika memenuhi ruangan yang steril itu. ​"Kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain meretas sistem keamanan sekolahmu sendiri, hah, Chen?" ​Chen tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara serak dan penuh percaya diri itu. Yan Xiaoguang. Satu-satunya mahasiswa pindahan yang berani masuk ke zona pribadinya tanpa rasa takut. ​"Hanya yang terbaik yang berhak berada di atas panggung ini, Xiaoguang," sahut Chen dingin, akhirnya menurunkan tangannya. Partitur digital di depannya menghilang, menyisakan pantulan dirinya yang rapi di kaca jendela. "Dan panggung ini terlalu sempit untuk orang yang tidak mengerti disiplin sepertimu." ​Xiaoguang tertawa renyah, sebuah suara yang entah mengapa selalu berhasil mengacaukan frekuensi ketenangan Chen. Ia berjalan mendekat, menyandarkan tubuh atletisnya di meja kerja Chen yang penuh dengan perangkat keras transparan. ​"Panggung?" Xiaoguang mencondongkan tubuh, menatap Chen dengan binar menantang di matanya yang berwarna perak metalik. "Ini bukan panggung, Maestro. Ini penjara kaca. Kau terlalu sibuk mengatur ritme sampai kau lupa bagaimana rasanya menikmati musik yang berantakan." ​Xiaoguang mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari sakunya—sebuah chip ilegal yang berkilat tertimpa lampu neon. "Ingin melihat sesuatu yang tidak ada dalam partiturmu?" ​Sebelum Chen sempat memprotes, Xiaoguang menjentikkan chip itu ke arah Neural-Link utama di meja Chen. Seketika, seluruh ruangan yang tadi sunyi dan teratur berubah menjadi medan tempur cahaya yang liar. ​Ritme jantung Chen yang tadinya stabil, tiba-tiba melonjak. Bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kalinya, ia menemukan sesuatu yang tidak bisa ia prediksi. ​"Selamat datang di duniaku, Maestro," bisik Xiaoguang tepat di telinganya. "Di sini, tidak ada aturan. Dan di sini... kau punya rival." Cahaya di dalam ruangan itu kini berubah menjadi kekacauan yang indah. Proyeksi hologram yang tadinya rapi—grafik statistik dan barisan kode—kini pecah menjadi ribuan partikel cahaya yang berputar-putar seperti badai salju digital. ​Chen merasakan napasnya tertahan. Ia mencoba meraih kendali, jemarinya bergerak cepat di udara untuk menangkap kembali akses sistem, namun setiap kali ia menyentuh satu titik data, Xiaoguang dengan sengaja menabrakkan frekuensinya. ​"Hentikan, Xiaoguang! Kau bisa membakar sirkuit pusatnya," desis Chen, suaranya tetap rendah namun penuh penekanan. ​"Bakar saja," sahut Xiaoguang santai. Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Chen bisa merasakan panas tubuh rivalnya itu. "Bukankah api adalah cara terbaik untuk memulai sebuah pertunjukan baru?" ​Tepat saat ketegangan di antara mereka memuncak, sebuah panggilan masuk memecah suasana. Sebuah proyeksi hologram berukuran kecil muncul di udara: sesosok gadis cantik dengan gaun balet berwarna putih mutiara yang berkilau. ​"Chen-ge? Kau masih di sana?" ​Suara lembut Meilin seketika membuat badai digital di ruangan itu meredup. Chen segera menarik diri, merapikan kerah jaket taktisnya yang sedikit miring. ​"Aku di sini, Meilin," jawab Chen, suaranya kembali ke nada datar yang biasa. ​"Kau melewatkan jam makan malam lagi," Meilin cemberut di dalam proyeksi, namun matanya yang besar tetap memancarkan kekaguman. "Aku sudah menunggumu di Teater Hologram. Guru bilang aku akan menjadi penari utama untuk pembukaan turnamen nanti. Kau akan menontonku, kan?" ​Chen melirik Xiaoguang melalui sudut matanya. Xiaoguang kini sedang bersandar di tembok, menyilangkan tangan di depan d**a dengan senyum miring yang provokatif. ​"Tentu saja. Aku akan di sana," jawab Chen pelan. ​"Bagus! Oh, dan siapa itu di belakangmu? Apa itu mahasiswa pindahan yang dibicarakan orang-orang?" tanya Meilin, mencoba mengintip ke balik bahu Chen. ​"Bukan siapa-siapa," potong Chen cepat sebelum Xiaoguang sempat membuka mulut. "Hanya gangguan teknis. Aku akan menemuimu tiga puluh menit lagi." ​Begitu koneksi terputus, Xiaoguang langsung meledak dalam tawa kecil yang mengejek. "'Bukan siapa-siapa'? Menyakitkan sekali, Maestro. Padahal aku baru saja memberikanmu pengalaman paling menarik sepanjang minggu ini." ​"Keluar dari sini," perintah Chen. Ia memunggungi Xiaoguang, mencoba fokus kembali pada layar datanya, meskipun ia tahu konsentrasinya sudah hancur berkeping-keping. ​Xiaoguang berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak. "Satu hal, Chen. Meilin mungkin menyukai simfonimu yang sempurna. Tapi aku? Aku lebih suka saat kau kehilangan kendali seperti tadi." ​Xiaoguang mengedipkan sebelah mata lalu menghilang di balik pintu otomatis yang tertutup rapat. ​Chen berdiri terpaku. Ia menatap telapak tangannya yang masih sedikit gemetar. Di dunianya yang serba terhitung, Yan Xiaoguang adalah kesalahan logika pertama yang tidak ingin ia hapus. Dan itu adalah masalah besar bagi seorang Maestro. Tiga puluh menit kemudian, Chen berdiri di balkon VIP Teater Hologram. Di bawahnya, ribuan mahasiswa NGAT memenuhi kursi, menciptakan lautan cahaya dari perangkat mobile mereka. Di tengah panggung, Meilin sedang menari. Tubuhnya lentur, bergerak mengikuti irama musik klasik yang telah diaransemen ulang dengan sentuhan distorsi siber. ​Meilin tampak seperti bidadari di tengah mesin. Setiap gerakannya memicu partikel cahaya yang membentuk sayap transparan di punggungnya. Cantik, presisi, dan sangat patuh pada ketukan—persis seperti yang disukai Chen selama ini. ​Namun, pikiran Chen tidak berada di atas panggung. ​Ia terus teringat pada sensasi saat Xiaoguang berada di dekatnya tadi. Bagaimana detak jantungnya seolah dipaksa keluar dari ritme yang ia bangun selama bertahun-tahun. Chen mengepalkan tangannya di atas pembatas besi balkon. ​"Pertunjukan yang membosankan, bukan?" ​Chen tidak perlu menoleh. "Kau punya kebiasaan buruk muncul di tempat yang tidak seharusnya, Xiaoguang." ​Xiaoguang muncul dari bayang-bayang balkon, mengenakan jaket hoodie gelap yang kontras dengan lingkungan teater yang berkilauan. Ia berdiri tepat di samping Chen, ikut menatap ke arah Meilin. ​"Dia hebat," aku Xiaoguang, suaranya kali ini tidak bernada ejek. "Tapi dia menari seolah-olah dia takut melakukan kesalahan. Dia menari untukmu, Chen. Bukan untuk musiknya." ​"Itu disebut dedikasi," sahut Chen tajam. ​"Itu disebut obsesi," balas Xiaoguang cepat. Ia menoleh ke arah Chen, cahaya dari panggung menyinari satu sisi wajahnya yang tegas. "Dan kau tahu apa yang paling lucu? Kau melihat dia sebagai mahakaryamu, tapi kau melihatku sebagai gangguan. Padahal, gangguanlah yang membuat kita merasa hidup." ​Tiba-tiba, musik di teater itu berhenti mendadak karena kesalahan teknis—sebuah hal yang sangat langka di NGAT. Penonton mulai berbisik panik. Meilin membeku di tengah panggung, sayap hologramnya berkedip-kedip tidak stabil. ​"Lihat?" Xiaoguang menyeringai. "Sistemmu gagal, Maestro. Apa yang akan kau lakukan?" ​Chen tidak membuang waktu. Ia membuka terminal akses di pergelangan tangannya. "Aku akan memperbaikinya." ​"Jangan perbaiki," potong Xiaoguang, tangannya menahan pergelangan tangan Chen. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan kejutan listrik statis yang membuat Chen tersentak. "Improvisasi. Ikuti aku." ​Tanpa menunggu persetujuan, Xiaoguang menarik kabel transmisi dari sakunya dan menghubungkannya ke terminal Chen. "Gunakan frekuensi seliar mungkin. Biarkan Meilin menari di atas kekacauan, bukan di atas aturan." ​Chen ragu sejenak. Jika ia gagal, reputasinya hancur. Namun, saat ia melihat mata perak Xiaoguang yang penuh keyakinan, sang Maestro memutuskan untuk melempar partiturnya keluar jendela. ​Jari-jari Chen mulai bergerak, kali ini bukan dengan presisi matematis, melainkan dengan emosi yang meledak. Ia menggabungkan beat Maestro yang agresif ke dalam musik balet Meilin. ​Di bawah sana, Meilin terkejut, namun ia mulai bergerak mengikuti ritme baru yang liar itu. Cahaya di teater berubah menjadi badai warna-warni yang belum pernah dilihat siapa pun. Itu bukan lagi sebuah pertunjukan balet; itu adalah revolusi siber. ​Di atas balkon, dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya terminal, Xiaoguang tidak melepaskan tangan Chen. Mereka berdiri begitu dekat, berbagi napas yang sama, memimpin kekacauan itu bersama-sama. ​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Li Chen tidak merasa ingin menang. Ia hanya ingin saat-saat ini—detak jantung yang berantakan ini—tidak pernah berakhir. Gemuruh tepuk tangan yang memekakkan telinga meledak di seluruh teater saat musik berhenti pada nada puncak yang paling tidak terduga. Meilin berdiri di tengah panggung, napasnya terengah, wajahnya menunjukkan campuran antara keterkejutan dan euforia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. ​Di atas balkon, Chen menarik tangannya dari terminal digital. Napasnya sendiri tidak beraturan. Ia menatap layar monitor yang menunjukkan lonjakan data yang hampir membakar server teater. ​"Lihat itu," bisik Xiaoguang, matanya masih terpaku pada Chen, bukan pada kerumunan di bawah. "Itu adalah suara dari sesuatu yang tidak bisa kau program, Chen. Itu namanya kejutan." ​Chen tidak menjawab. Ia merasa seolah-olah baru saja terjun bebas dari gedung tertinggi di Neo-Guangzhou tanpa parasut. "Kau hampir menghancurkan karierku, Xiaoguang. Dan karier Meilin." ​"Atau, aku baru saja memberikan kalian berdua alasan untuk diingat selamanya," Xiaoguang mengangkat bahu, lalu mulai melangkah pergi menuju tangga darurat. "Sampai jumpa di kelas besok, Maestro. Cobalah untuk tidur tanpa memikirkan kode-kode itu sekali saja." ​Setelah pertunjukan berakhir, Chen menemui Meilin di belakang panggung. Ruang ganti itu penuh dengan bunga dan teknisi yang sibuk memperbaiki perangkat hologram yang sempat malfungsi. ​"Chen-ge!" Meilin berlari ke arahnya, masih mengenakan kostum baletnya. Ia langsung memeluk Chen, namun Chen merasa tubuhnya kaku. "Tadi itu... luar biasa! Awalnya aku takut, tapi ritme itu, energinya... aku tidak pernah tahu kau bisa menggubah musik seberani itu." ​Chen terdiam sejenak, tangannya ragu-ragu mengusap pundak Meilin. "Itu... hanya sebuah eksperimen teknis, Meilin." ​Meilin melepaskan pelukannya dan menatap mata Chen. "Ada yang berbeda darimu malam ini. Kau seperti bukan dirimu yang biasanya." ​"Aku hanya lelah," bohong Chen. "Istirahatlah. Kau tampil hebat." ​Setelah mengantar Meilin pulang melalui taksi terbang otomatis, Chen tidak langsung kembali ke asramanya. Ia berjalan menyusuri koridor kampus yang sepi, di mana lampu neon redup menciptakan bayangan panjang di lantai logam. ​Langkahnya terhenti di depan laboratorium Neural-Link yang sudah gelap. Di sana, di balik kaca transparan, ia melihat sosok yang duduk di atas meja dengan kaki berayun santai. Xiaoguang. ​Xiaoguang sedang mengutak-atik sebuah komponen hardware tua, cahaya biru dari alat las kecil menerangi wajahnya. Ia tampak begitu tenang dalam dunianya sendiri yang berantakan. ​Chen masuk ke dalam ruangan itu. "Kenapa kau masih di sini?" ​Xiaoguang tidak mendongak. "Menunggu nada sumbang yang lain datang. Dan benar saja, kau muncul." ​Chen mendekat hingga berdiri tepat di depan meja itu. "Siapa kau sebenarnya, Xiaoguang? Kau pindah ke sini dengan nilai rata-rata, tapi kemampuanmu menembus protokolku... itu tidak masuk akal." ​Xiaoguang mematikan alat lasnya, meletakkannya di samping, lalu menatap Chen dengan tatapan yang dalam dan intens. "Aku adalah orang yang dikirim semesta untuk memastikan hidupmu tidak berakhir sebagai algoritma yang membosankan." ​Ia berdiri dari meja, membuat jarak di antara mereka menghilang. "Kau punya segalanya, Chen. Gadis impian, reputasi, masa depan yang cerah. Tapi kau tidak punya gairah. Kau hanya punya instruksi." ​Tangan Xiaoguang terangkat, ujung jarinya menyentuh sensor Neural-Link di belakang telinga Chen—sebuah area yang sangat sensitif bagi para teknokrat. Chen tersentak, namun ia tidak mundur. ​"Jangan lawan ritmenya, Chen," bisik Xiaoguang. "Biarkan aku menjadi rivalmu. Bukan hanya di sistem ini, tapi di sini..." Xiaoguang meletakkan tangannya di d**a Chen, tepat di atas jantung yang kini berdegup liar. ​Di luar, hujan asam mulai turun membasahi kaca jendela Neo-Guangzhou, namun di dalam laboratorium itu, sang Maestro menyadari bahwa pertunjukan yang paling berbahaya baru saja dimulai. Dan kali ini, ia tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Orang Ketiga

read
36.9K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.4K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
18.5K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Babysitter Canduku

read
20.2K
bc

Ranting Yang Patah

read
40.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook