Kesulitan

2653 Words
Hari ketiga Puspa berada di Jakarta, Sari sudah berangkat ke kampung halamannya pagi subuh tadi. Pagi ini hanya akan ada Askara, Puspa dan Yoga juga satpam penjaga gerbang, serta mbok Mira yang akan datang untuk membersihkan rumah dan memasak makan siang serta makan malam lalu pulang di sore hari. Askara ingin mencoba bicara lagi dengan Puspa. Rasa penasarannya sungguh telah menguras semua fokus pikirannya sejak Puspa datang ke rumahnya. Selesai sarapan, Askara kembali duduk di sofa ruang keluarga, memperhatikan interaksi Puspa dengan Yoga yang sedang sarapan di baby chair. "Puspa, apa kamu yakin tidak akan berbagi cerita masa lalu denganku? apa kamu sungguh sudah tidak mau bersahabat denganku lagi?" tanya Askara. "Maaf pak Askara, masa lalu saya biarlah saya saja yang mengetahuinya, karena bagi saya masa kini dan masa depan jauh lebih penting daripada masa lalu." respon Puspa sungguh membuat Askara semakin penasaran. "Kenapa?" tanya Askara. "Bukankah kehidupan Aldi dan anda sudah lebih bahagia saat ini? untuk apa mengetahui masa lalu saya? untuk apa mengusik masa lalu yang sudah terkubur bertahun-tahun lamanya? segala sesuatu yang sudah dikubur bertahun-tahun lamanya jika dibongkar lagi, bukankah hanya akan mengeluarkan bau busuk yang mengganggu banyak orang? jadi sebaiknya tetaplah dikubur." sahut Puspa tetap melayani Yoga yang sedang sarapan tanpa menoleh pada Askara sedetikpun. "Apa kamu ingin tahu tentang bagaimana Aldi harus hidup setelah kepergianmu?" tanya Askara. "Tidak. Tidak sepantasnya saya mencari tahu tentang kehidupan suami orang." sahut Puspa. "Bukankah kamu masih mencintai Aldi? apakah kamu tidak ada keinginan atau harapan untuk bisa bertemu Aldi lagi? Apa yang akan kamu katakan pada Aldi jika dia menuntut sebuah penjelasan darimu?" tanya Askara. "Saya sangat yakin, Aldi pasti sudah membenci saya bahkan melupakan saya. Saya juga sangat yakin kalau rasa bencinya tidak akan menuntut penjelasan apapun dari saya." jawab Puspa dengan tenang. Askara kembali menyerah untuk mendapatkan penjelasan dari Puspa. Tapi Askara bukan orang yang bodoh, dia sangat yakin dalam hatinya bahwa Puspa pasti melakukan semua itu karena ada alasan yang sangat kuat, karena tidak mungkin Puspa pergi meninggalkan Aldi begitu saja, Puspa bukanlah wanita yang sanggup untuk menyakiti Aldi. Askara akan mencari cara untuk mengungkap alasan Puspa yang sebenarnya. Siang ini Yunita kembali dari Perjalanan bisnisnya. Yunita tersenyum saat melihat Puspa dengan penuh kasih sayang sedang menidurkan Yoga di kamar. Yunita masuk ke kamar Yoga dan mengecup keningnya. "Puspa, kalau Yoga sudah terlelap tolong temui aku di ruang keluarga ya. Aku akan mandi dulu." ucap Yunita. "Baik Nona." jawab Puspa dengan menganggukkan kepala. Lalu Yunita keluar dari kamar Yoga menuju ke kamar pribadinya sendiri. Setengah jam kemudian, Yunita melangkah menuju ke ruang keluarga. Rupanya Puspa sudah duduk di karpet, menunggunya di sana bahkan sudah menyediakan teh hangat bagi Yunita. Yunita duduk di sofa tidak jauh dari Puspa. "Puspa, bagaimana beberapa hari ini? apa kamu sudah bisa menyesuaikan diri? apa Yoga membuatmu kesulitan?" tanya Yunita. "Saya sudah mulai terbiasa di sini, nona. Yoga juga bukan anak yang merepotkan. Saya senang bisa membantu di sini." jawab Puspa dengan menundukkan kepala. "Puspa, apa suamiku terlalu memberi tekanan padamu? aku perhatikan melalui rekaman CCTV kalau dia bahkan pernah membuatmu sampai bersujud di kakinya." tanya Yunita. "Tidak, nona. Pak Askara hanya bertanya mengenai masa lalu saya tentang cacat pada mata saya. Saya minta maaf, nona." jawab Puspa. "Lalu kenapa kamu sampai bersujud padanya?" tanya Yunita. "Karena saya bukannya menjawab tapi justru menangis. Itu membuat pak Askara menjadi marah hingga mengancam akan mengembalikan saya ke kampung halaman." jawab Puspa memilih menyembunyikan tentang Aldi. "Sebenarnya apa yang terjadi? mungkin kamu bisa terbuka padaku karena kita sesama wanita." tanya Yunita. Namun setelah ditunggu beberapa saat, suasana tetap hening. Tak ada satu katapun keluar dari mulut Puspa tentang kecelakaan yang menyebabkan sebelah matanya menjadi tidak memiliki bola mata lagi. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku tahu pasti berat bagimu mengingat kembali masa pahit waktu kejadian itu. Apa aku boleh tahu apa alasan kamu pindah ke Tirtosari setelah kecelakaan itu?" tanya Yunita lagi. "Setelah kecelakaan yang menyebabkan cacat pada satu mata saya ini, saya diberhentikan dari pekerjaan saya. Biaya hidup di Jakarta tidak sedikit, saya sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan lagi. Tabungan saya harus dipakai untuk biaya hidup sekaligus pengobatan ayah saya. Setelah ayah saya meninggal, maka saya dan ibu saya memutuskan untuk pindah ke Tirtosari, kampung halaman ibu saya saat beliau kecil dulu. Saya bersyukur bertemu dengan bu Kades yang sangat baik, sehingga saya masih bisa bekerja untuk biaya hidup sehari-hari saya dan ibu saya." jelas Puspa tidak berbohong untuk kali ini. Yunita merasa iba dan sangat kasihan pada jalan hidup Puspa. Diapun menghampiri Puspa yang duduk di bawah, lalu memeluknya. "Ibumu adalah teman masa kecil ibuku, jadi sudah seharusnya kita berdua juga menjadi teman." ucap Yunita. "Terima kasih, nona. Anda baik sekali, saya tidak akan melupakan kebaikan nona yang mengijinkan saya disini." sahut Puspa. "Aku yang berterima kasih padamu, karena kamu sudah bersedia mengasuh Yoga dan meninggalkan ibumu di kampung sendirian." ucap Yunita lalu melepaskan pelukannya. Keduanya saling menatap dengan tersenyum, bahkan Yunita menggenggam tangan Puspa. "Puspa, bagaimana jika kamu tetap menjaga Yoga di sini meskipun Sari telah datang kembali bulan depan? Rumah ini sepertinya terlalu besar jika harus diurus sendiri semuanya oleh Sari dan mbok Mira. Bagaimana? apa kamu mau?" tanya Yunita menawarkan sebuah pekerjaan. "Maaf, nona. Saya tidak bisa. Ibu saya sudah tua, saya cemas jika dia sendirian di rumah." jawab Puspa menolak dengan sangat sopan. Padahal dalam hati Puspa, dia tidak ingin lagi berhubungan dengan hal apapun dan siapapun yang ada di dekat Aldi. Dia tidak mau lagi mengalami kesulitan dalam berhadapan dengan Askara Eko Prasetya. ***** @ Kantor Aldi. "Astaga Askara! apa sebenarnya yang terjadi padamu belakangan ini?!" seru Aldi yang sudah sangat marah pada Askara karena kembali tidak fokus pada pekerjaannya. Hari ini Askara melupakan bahan presentasinya untuk kerjasama dengan pihak inverstor luar negeri, sehingga berakibat pada marahnya pihak investor tersebut yang sudah menyediakan waktu bahkan biaya untuk datang ke Indonesia. "Aldi, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja, aku lupa membawa laptopku." sesal Askara sangat menyadari kesalahannya. "Kamu gila, Askara! Sungguh! Aku tidak pernah melihatmu seperti ini! Ada apa sebenarnya denganmu?! katakan! Jujurlah padaku Askara!" desak Aldi. Bayangan Puspa yang sujud memohon padanya untuk tidak mengatakan keberadaannya kepada Aldi, membuat Askara semakin kesulitan menghadapi desakan Aldi. "Tidak ada apa-apa. Aku minta maaf, tapi sepertinya ini karena hormon testosteronku sedang meningkat tinggi. Yunita sudah pergi selama tiga hari, jadi aku sering mengalami gagal fokus." jelas Askara sangat berbohong pada Aldi. Aldi menatap tajam menyelidiki sahabatnya itu, semakin membuat Askara salah tingkah dan gugup. "Pembohong! Yunita bukan sekali ini pergi melakukan perjalanan dinas. Kamu sudah terbiasa dengan semua perjalanan dinas Yunita, dan pekerjaanmu tetap aman lancar. Aku tidak percaya kalau ini karena Yunita dan hormon sialanmu itu!" bantah Aldi pada alasan yang diberikan Askara. "Baiklah, baiklah! Aku memang berbohong padamu! Maafkan aku. Ini semua karena beberapa hari ini ada wanita lain dalam hidupku." ucap Askara semakin membuat alasan gila. "APA?! WANITA LAIN?!" teriak Aldi sangat terkejut, hingga matanya hampir keluar karena melotot tajam pada Askara. "Ada wanita di masa lalu yang kembali hadir saat ini. Aku bingung menghadapinya." ucap Askara lagi dengan menundukkan kepalanya. "Siapa?! bukankah Yunita itu satu-satunya kekasihmu selama kamu hidup?! Selama kita berteman sejak kecil juga kamu tidak pernah punya kekasih lain selain Yunita?! Bukannya kamu sangat memuja Yunita sejak awal?!" serentetan pertanyaan langsung diberikan oleh Aldi pada Askara. Askara sungguh kesulitan menghadapi Aldi yang terus mendesaknya dan juga sangat mengenal dirinya. "Aldi, mana ada sih pria selingkuh yang pengumuman." sahut Askara supaya tidak terus didesak Aldi. "Gila! kamu benar-benar gila! apa kamu lupa dengan janji nikahmu pada Yunita?! wanita itu sudah menjadi masa lalumu, untuk apa kamu mengorbankan rumah tanggamu yang sempurna dan bahagia hanya demi wanita masa lalu yang tiba-tiba datang?!" geram Aldi sangat kesal pada pria di hadapannya itu. Respon Aldi barusan sangat mengejutkan Askara. Dia balik menatap Aldi dengan penuh pertanyaan di dalam kepalanya. "Apa benar dia akan tetap memilih Zahra dan tidak memikirkan Puspa jika mereka bertemu lagi? Apa benar Puspa sudah tidak diingatnya lagi? Benarkah dia tidak tertarik pada Puspa dan penjelasan kenapa Puspa menghilang delapan tahun yang lalu? Apa benar yang Puspa katakan bahwa Aldi memang sudah sangat membenci Puspa?" Otak Askara sungguh gila dengan banyak pertanyaan yang semakin membuatnya penasaran. "Askara, Askara! ASKARA!" panggil Aldi hingga beberapa kali bahkan teriak supaya Askara mendengar suaranya. "Aldi, apa yang akan kamu lakukan jika kamu berada di posisiku saat ini? Bagaimana jika wanita masa lalumu kembali dipertemukan denganmu?" tanya Askara seakan meminta pendapat. "Aku tidak punya wanita masa lalu. Aku hanya punya Zahra sebagai wanita di hidupku." jawab Aldi namun tidak dengan ketegasan seperti tadi. "Tidak ada wanita masa lalu? Bagaimana dengan Puspa?" tanya Askara yang mendadak menjadi cambuk petir bagi ingatan Aldi yang selama bertahun-tahun telah menetapkan untuk amnesia terhadap semua hal tentang Puspa. Kepala Aldi seakan berubah menjadi video yang memutar sebuah film masa lalunya yang bahagia bersama Puspa, hingga ke bagian kecelakaan itu terjadi. Seketika kepalanya sangat sakit luar biasa. "CK! Sssshhh..., euuugghhh... kepalaku sakit sekali!" keluh Aldi sambil menekan bagian kepala yang sakit itu. Askara segera mengambilkan minuman bagi Aldi untuk menolongnya. "Minumlah! lalu berbaringlah sebentar di sofa!" saran Askara memberikan minuman pada Aldi lalu membantunya berbaring di sofa. "Hari ini aku benar-benar ingin memecatmu!" ucap Aldi sambil membenarkan posisi tidurnya di sofa. "Jangan begitu, apa kamu tidak kasihan pada Yoga?" pinta Askara. "Berterimakasihlah pada malaikat kecilmu itu, karena hanya dia satu-satunya alasan yang selalu membatalkan aku memecatmu!" ucap Aldi dengan mata terpejam. "Kenapa kamu harus menarik kembali semua file tentangnya yang telah kuhapus dari memoriku?" tanya Aldi masih dengan mata terpejam. "Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja aku ingin tahu pendapatmu tentang posisiku saat ini." jawab Askara menyesali ucapannya tadi. "Tinggalkan wanita itu! tetaplah bahagia bersama keluargamu sekarang, bersama Yunita yang sempurna untukmu dan juga Yoga yang selalu menjadi malaikat penolongmu." ucap Aldi memberi saran pada sahabatnya. "Ya, kupikir juga sebaiknya seperti itu." sahut Askara dan memutuskan berhenti bicara tentang Puspa. Askara memang sudah berhenti bicara tentang Puspa maupun tentang topik wanita masa lalu. Namun Puspa tetap lewat di ingatan Aldi lagi. Ingatan yang sulit untuk kembali dikubur dalam hati Aldi. Puspa adalah wanita paling sempurna bagi hidup Aldi di waktu itu. Puspa adalah wanita yang selalu menyempurnakan hidup Aldi, mendukung Aldi dan membuat Aldi selalu mampu tertawa menghadapi segala masalah yang dihadapi. Hingga kecelakaan itu menghilangkan Puspa dari hidupnya tanpa jejak bahkan tanpa batu nisan andaikan dia memang meninggal. Kecelakaan yang juga menghilangkan tawa di wajah Aldi selama bertahun-tahun ini. "Apa kamu sudah lebih baik?" tegur Askara karena Aldi hanya diam saja sekian menit lamanya. "Pulanglah! Biarkan aku berpikir sendiri disini tentang bagaimana menghadapi Mr.Reinhard." sahut Aldi. "Aku akan pergi setelah memastikan kamu baik-baik saja." ucap Askara. "Pulanglah! aku sudah lebih baik. Aku tidak akan bisa bekerja baik jika mulutmu masih ada di dekatku." sahut Aldi memaksa Askara pergi dari ruangannya. "Baiklah, sampai jumpa besok." pamit Askara pada akhirnya keluar dari ruangan Aldi dan memilih pulang ke rumah. Askara menghela napas panjang dan berat sedetik setelah berada di dalam mobilnya di parkiran basement gedung itu. "Astaga! hampir saja aku keceplosan mengatakan keberadaan Puspa di rumahku." ucap Askara pada dirinya sendiri. "Sebaiknya aku lupakan saja niatku untuk mempertemukan mereka. Sebesar apapun cinta Puspa, namun kebencian Aldi juga tak kalah besarnya. Benar-benar jodoh itu adalah takdir Tuhan, tidak bisa dipastikan hanya dengan cinta saja." Askara mengucap pada dirinya sendiri dengan helaan napas besar. Sementara Askara melakukan perjalanan pulang, Aldi tetap berada di ruangan kantornya. Aldi berdiri dari rebahan di sofa, berjalan menuju ke sebuah lemari rahasia yang terletak di balik foto pernikahannya. Aldi membuka lemari itu dan menatap isi di dalamnya dengan termenung sesaat. Beberapa saat kemudian tangan Aldi akhirnya terulur meraih sebuah kotak kayu berukiran kuno mengeluarkannya dari lemari besi yang ada di dalam tembok. Ragupun hadir lagi dalam hatinya saat kotak kayu itu sudah di tangannya. Helaan napas besar kembali terdengar dari hidung Aldi. Pria itu membawa kotak kayu di tangannya ke atas meja kerjanya, mulai membukanya dan sekali lagi helaan napas besar terdengar lagi. Aldi meraih foto di kotak kayu itu, wajah manis seorang gadis yang tersenyum itu kembali membuat hatinya merasakan nyeri yang menyakitkan hingga ke uluhati. Kerinduan dan rasa penasaran yang sangat besar juga timbul disaat bersamaan. Aldi mulai meraih sebuah kotak beludru berwarna biru, dia melihat satu set lengkap perhiasan bermata berlian ada di dalamnya. Airmata mendadak meluncur deras tanpa bisa ditampung oleh matanya. Ingatan jelas melintas di kepalanya dimana dia mempersiapkan perhiasan itu untuk melamar Puspa. Namun belum tiba hari itu, mendadak kecelakaan yang terjadi terlebih dahulu. Aldi meremas kuat kepalanya dengan kedua tangan, dia sangat ingin marah dengan jalan hidupnya. Tanda tanya besar kembali mengganjal hatinya. "Mengapa? mengapa seperti ini jadinya? mengapa kamu menghilang tiba-tiba? mengapa kamu melupakan janji untuk berjuang bersamaku? mengapa? katakan padaku Puspa, KATAKAAAN!!!!" tanya Aldi dengan sangat geram pada foto Puspa bahkan sampai berteriak pada foto itu. Napasnya tersengal memburu dengan cepat akibat emosi yang meledak dalam dirinya. Aldi sangat marah, karena dia tidak pernah bisa menemukan alasan mengapa Puspa menghilang secara tiba-tiba. Drrtttt.... Sebuah panggilan masuk ke smartphone miliknya. Zahra memanggil. Aldi membiarkan panggilan itu begitu saja, hingga panggilan itu berhenti. Namun beberapa detik kemudian panggilan itu kembali masuk, dan Aldi tetap tidak menerimanya. Aldi terus membiarkan panggilan Zahra itu bahkan hingga beberapa kali panggilan. "Askara sialan! mengapa dia harus menyebut nama itu lagi setelah sekian tahun aku terus melupakannya." rutuk Aldi kesal pada sahabatnya. "Kak, aku dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Hana mendadak demam lagi sepulang sekolah tadi dan sekarang dia kejang." (Zahra) Sebuah pesan teks akhirnya mampu membuat Aldi menyelesaikan ratapannya petang itu. Dia segera menyimpan semuanya kembali ke dalam lemari besi yang tersembunyi di balik lukisan. Aldi segera menyusul Zahra ke rumah sakit. ***** Askara sangat bahagia saat tiba di rumah. Dia melihat istrinya sedang bermain dengan putra mereka di ruang keluarga. Dia segera memeluk dan mengecup kening istri dan putranya. "Aku senang kamu sudah kembali. Aku benar-benar gila tidak melihatmu beberapa hari. Aku kangen sama kamu." ucap Askara. "Aku juga kangen sama kamu, kak." sahut Yunita tersenyum bahagia. Askara merebahkan tubuhnya ke sofa panjang dan memejamkan matanya. "Kamu kelihatan capek sekali. Apa ada masalah berat di kantor?" tanya Yunita memperhatikan istrinya. "Aku lupa membawa laptopku saat pertemuan dengan investor asing, membuat kami gagal presentasi. Aldi marah besar dan sangat ingin memecatku. Bersyukur Yoga masih diingat oleh Aldi, jadi dia tidak memecatku." jelas Askara masih dengan mata terpejam. Yunita sangat terkejut mendengar hal yang sangat tidak biasa itu. "Seingatku Kak Aska tidak pernah lupa parah seperti itu deh. Untung saja Kak Aska tidak jadi dipecat oleh Kak Aldi. Yoga memang malaikat kecil kita, Kak." respon Yunita tidak pernah semakin menekan suaminya. Askara merubah posisinya menjadi duduk dan bergeser mendekat pada Yunita, memeluknya dan mengendus leher Yunita serta menghisapnya lembut, meninggalkan jejak merah disana. Yunita tertawa geli dengan perlakuan suaminya. "Aku selalu gagal fokus kalau jauh darimu." bisik Askara di telinga Yunita. "Selalu deh begitu! besok aku harus pakai blazer lagi deh supaya tidak kelihatan." keluh Yunita tapi dia juga merasa bahagia merasakan kalau suaminya masih sangat menginginkan dirinya. "Kak, aku tadi sudah bicara dengan Puspa. Aku sudah tahu alasan dia pindah ke Tirtosari setelah kecelakaan, dan aku jadi merasa kasihan padanya. Bagaimana kalau kita tetap membiarkan Puspa di sini menjaga Yoga sekaligus membantu Sari dan mbok Mira? apa kamu akan mengijinkan?" ucap Yunita menceritakan usulnya. Askara seketika kembali merasakan beban yang sulit mendengar ucapan istrinya. "Gila! apa yang harus aku katakan? kalau sebulan masih mungkin aku menghindari Aldi dan Zahra datang ke rumah ini. Tapi kalau seterusnya? bagaimana aku bisa menyembunyikan Puspa saat Aldi dan Zahra datang? astaga istriku! kenapa kebaikanmu justru membuat suamimu ini semakin kesulitan?" keluh batin Askara tidak mampu memberi respon apapun pada istrinya. Askara hanya berdiri dan tanpa kata apapun dia berjalan meninggalkan Yunita dan Yoga tetap bermain di sana. "Kak Aska kenapa ya? tidak biasanya dia tidak respon dengan ucapanku. Apa kak Aska sangat tidak suka dengan Puspa karena kondisi cacat mata ya?" pikiran Yunita mulai berasumsi sendiri. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD