Keputusan

2262 Words
Aldi tiba di rumah sakit saat Hana telah berhasil melalui masa kejang dan kini sedang beristirahat di ruang ICU untuk pemantauan lebih lengkap lagi. "Bagaimana kondisinya?" tanya Aldi cemas. "Hana sudah terkendali dan normal, namun masih harus dipantau lebih lengkap lagi, jadi masih belum bisa dipindahkan ke kamar perawatan." jawab Zahra. "Syukurlah, maaf aku terlambat pulang, jadi kamu harus menghadapi semuanya sendirian. Andai tadi aku pulang tepat waktu, pasti aku bisa mendampingi Hana juga." ucap Aldi dalam penyesalan, sambil memeluk istrinya. "Tidak apa, kak. Aku senang kak Aldi langsung menyusul kesini, jadi ada yang menemani aku berjaga malam ini." sahut Zahra. "Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat di rumah, biar aku yang menjaga Hana malam ini." ucap Aldi tidak ingin istrinya kelelahan. "Kak, seharusnya kak Aldi yang beristirahat di rumah, karena sudah bekerja seharian penuh dan besok harus ke kantor lagi. Aku lebih santai, kak. Jadi aku saja yang berjaga disini." sahut Zahra. "Kalau begitu kita berjaga bersama saja, supaya Hana senang saat bangun nanti ada aku dan kamu yang menjaganya bersama." ucap Aldi dan Zahra tentu saja bahagia mendengar usulan tersebut. Aldi dan Zahra menoleh ke arah lorong saat mendengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat ke arah mereka. Orangtua Aldi, Pak Hartawan dan istrinya terlihat berjalan dengan sangat cemas. "Dimana Hana? Bagaimana kondisinya? Mengapa dia kembali kejang? Bukankah dia sudah sembuh kemarin?" serentetan pertanyaan langsung ditujukan oleh ibunya Aldi pada Zahra. "Ma, jangan terlalu menekan Zahra! Mana ada ibu yang mau anaknya sakit?" sahut Aldi membela istrinya. "Ma, maaf." ucap Zahra menunduk bersalah di depan mertuanya. Emosi ibunya Aldi sedikit menurun melihat sikap menantunya. "Ma, Hana sudah lebih baik, tapi masih perlu observasi lanjutan yang lebih detail sehingga masih harus berada di ICU." ucap Aldi memberi info yang melegakan ibunya. Ibunya Aldi itu baru bisa bernapas lega lalu ikut duduk di antara suami dan putra tunggalnya itu. "Aldi, bagaimana jika kalian tinggal bersama kami? Mama bisa membantu Zahra menjaga dan mengasuh Hana." Amira, ibunya Aldi itu mengajukan sebuah usulan. Aldi menoleh pada Zahra yang sangat menunjukkan raut wajah terkejutnya. Keinginan ibunya itu memang sudah beberapa kali disampaikan pada Aldi, namun pria itu selalu menolaknya bahkan tidak mengatakannya pada sang istri. "Ma, Zahra sudah sangat baik mengasuh dan menjaga Hana. Dia bahkan mengorbankan karirnya demi menjadi ibu seutuhnya. Aku rasa kami tidak perlu pindah dan tinggal bersama kalian. Kami mampu untuk mandiri." tolak Aldi dengan tetap tenang menghadapi ibunya. "Mama bukan menyalahkan atau menyudutkan Zahra. Mama hanya ingin membantu kalian. Zahra memang pasti akan menjadi ibu yang terbaik kalau Hana juga dalam kondisi baik. Tapi kondisi Hana saat ini bukanlah kondisi anak normal seperti wajarnya. Mama tidak mau terlambat atau teledor sehingga efeknya akan buruk bagi masa depan cucu kesayangan mama." jelas Amira. "Ma, Aldi sudah katakan berulang kali. Kami berdua sangat mampu mengasuh dan menjaga Hana berdua.Jadi, tolong jangan terus memaksa kami untuk tinggal bersama kalian. Kalau mama mau, silahkan datang ke rumah kami kapanpun." sahut Aldi. Amira menatap ke arah Zahra yang sedari tadi hanya diam, tidak ikut memberi respon apapun, sebuah helaan napas panjang dan berat akhirnya keluar dari Amira. Sebesar apapun dia kesal dan kecewa pada Zahra, menantunya itu adalah wanita pilihannya bagi putra tunggalnya. "Amira, sebaiknya kita pulang dulu. Hari sudah malam dan Hana belum bisa dijenguk. Jangan terlalu lelah, jadi besok kita bisa datang lagi." bujuk pak Hartawan pada istrinya. Amira hanya mengangguk, menurut dengan ajakan suaminya. Kedua orangtua yang sudah lanjut usia itu melangkah pergi, meninggalkan anak dan menantunya. "Kak...." panggil Zahra saat sudah berdua dengan suaminya. "Zahra, aku sudah membuat keputusan untuk kita tetap tinggal terpisah dari mama dan papa. Lagipula kamu pasti akan kesulitan menghadapi mama sendirian setiap harinya jika kita tinggal bersama mereka. Sudahlah, bukankah kita sudah nyaman berkeluarga di rumah sendiri?" sahut Aldi tidak ingin memperpanjang topik tentang tinggal bersama kedua orangtuanya. Zahra hanya mengangguk dan setuju dengan pemikiran suaminya. Zahra memilih untuk menghargai keputusan suaminya, lagipula Aldi hanya ingin mereka nyaman berada di rumah sendiri. ***** Malam sudah mulai larut, Askara masih berdiri di balkon kamarnya dan menatap kosong ke arah luar. Yunita masuk kamar dan menghela napas panjang saat melihat suaminya sedang melamun dengan ditemani sebatang rokok terselip aktif di antara kedua jarinya. "Kak, ada apa sebenarnya?" tanya Yunita dengan lembut sambil mengusap punggung suaminya. Askara segera mematikan api rokoknya dan membuang batang rokok yang masih tiga perempat itu ke tong sampah di dekatnya. "Apa Yoga sudah tidur?" Askara memberi respon pada istrinya dengan pertanyaan lain. "Sudah. Apa kamu baik-baik saja, kak?" Yunita benar-benar mencemaskan suaminya. Askara menatap ke dalam mata istrinya dan menangkap kecemasan disana. Askara tidak pernah bisa membiarkan istri kesayangannya itu cemas karena hal itu bisa membuatnya kehilangan senyum di wajah cantik itu. "Kita bicara di dalam saja, malam ini udaranya terlalu dingin di luar sini." ajak Askara lalu mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon dan duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya. "Sayang, kamu tahu kan? aku dan Aldi sudah menjadi sahabat sejak lama." tanya Askara membuka percakapan mereka, Yunita Mengangguk. "Kalian sudah bersahabat sejak SD kan? kemanapun selalu berdua, kerja kelompok juga harus berdua." sahut Yunita tersenyum. "Ya, tapi sebenarnya kami bukan hanya berdua kemanapun. Kami bersahabat tiga orang. Satu lagi adalah seorang wanita." ucap Askara dan Yunita terkejut, pikirannya mulai berasumsi. "Wanita??? apa dia...??? wanita itu bukan kekasih kak Aska kan?! Kalian berdua tidak berebut wanita itu kan?!" tanya Yunita langsung menyela cerita aldi. "Tidak, tidak seperti itu. Jadi, awalnya aku dan wanita itu selalu saja diminta oleh orangtua kami untuk menemani Aldi. Orangtuaku dan juga orangtua wanita itu termasuk pegawai level atas di perusahaan milik orangtua Aldi. Jadi, kami berdua dipercaya bisa menjadi teman baik bagi Aldi." jawab Askara berhenti sejenak untuk menghela napas. "Kami selalu bertiga sejak awal perusahaan itu berjaya dalam bisnisnya. Kami sudah sangat dekat juga disayangi oleh semua orangtua kami. Banyak orang berpendapat bahwa persahabatan antara wanita dan pria tidak akan pernah murni hanya bersahabat saja. Hal itu juga akhirnya terjadi secara nyata dalam persahabatan kami." lanjut Askara menjelaskan lagi. "Siapa diantara kalian bertiga yang akhirnya tidak murni bersahabat?" tanya Yunita. "Entah sejak kapan Aldi dan wanita itu telah jatuh cinta? Aku baru menyadari saat mereka berdua mendadak bertengkar karena saling berusaha membuat cemburu satu sama lain." jawab Askara. "Kak Aldi?! kenapa aku sedikit aneh mendengar Kak Aldi jatuh cinta ya?" Yunita menatap curiga suaminya. Askara hanya terkekeh melihat tatapan dan pertanyaan curiga dari istrinya. Askara langsung memeluk istrinya dan mengecup puncak kepala wanita itu dengan mesra. "Aldi yang sekarang kamu kenal sudah sangat berubah. Jadi, singkat cerita Aldi dan wanita itu akhirnya berpacaran, menjadi sepasang kekasih yang membuat iri banyak orang tapi membuat aku justru muak. Mereka sangat tidak terpisahkan sehingga aku berasa kadang menjadi nyamuk, kadang menjadi iblis, kadang juga bisa menjadi penasehat diantara mereka." jelas Askara sambil tetap memeluk istrinya. "Kak Aska, apa benar tidak jatuh cinta juga dengan wanita itu?" tanya Yunita meyakinkan lebih lagi. "Tidak, sedikitpun tidak pernah. Entahlah, mungkin dia memang bukan tipeku." jawab Askara. "Lalu, bagaimana mereka bisa terpisah dan Kak Aldi menikah dengan Zahra?" tanya Yunita lagi. "Orangtua Aldi memang sangat menyayangi wanita itu sebagai putri mereka, tapi rupanya mereka tetap tidak merestui jika keduanya menjalin hubungan sebagai kekasih apalagi menikah. Om Hartawan dan tante Amira menginginkan Aldi menikahi wanita yang memiliki status sebagai ahli waris perusahaan dari koleganya, supaya perusahaan mereka bisa bergabung dan semakin besar bisnisnya." jelas Askara. "Ya, sangat terlihat di wajah tante Amira. Dia memang baik, tapi tetap terlihat kalau dia memandang orang dari level ekonominya." ucap Yunita memberikan komentar. "Aku sangat salut pada kedua sahabatku itu, karena mereka sungguh sangat berjuang demi cinta mereka. Tante Amira memanglah tidak pernah mengusir atau menolak kedatangan Aldi dan wanita itu, tapi tante Amira selalu memerintah wanita itu untuk melakukan segala pekerjaan baginya. sahabatku itu sungguh polos dan terlalu baik, karena dia selalu menuruti semua permintaan gila tante Amira. Dia memasak untuk makan siang atau kadang untuk makan malam. Dia juga melakukan pijat kaki bagi tante Amira, bahkan mencuci piring dan membersihkan dapur juga ditugaskan padanya, padahal pelayan di rumah Aldi sangat berlimpah jumlahnya. Aku kadang kesal melihatnya saat menuruti semua permintaan gila tante Amira, tapi Aldi sekalipun tidak pernah mampu menghalangi niat buruk ibunya itu, jadi aku juga tidak ada gunanya disana." lanjut Askara pada ceritanya. "Tante Amira benar-benar sangat ingin menunjukkan bahwa level Aldi dan wanita itu sangat berbeda, tidak akan mampu bisa hidup bersama dalam pernikahan. Hal itu terjadi terus selama bertahun-tahun, tanpa ada kemajuan bagi hubungan mereka di mata tante Amira dan om Hartawan. Ayah wanita itu juga mengalami sakit gagal ginjal dan jantung yang parah, sehingga harus diberhentikan bekerja dari perusahaan oleh om Hartawan. Om Hartawan masih berbaik hati menolong sebagian biaya pengobatan bagi ayah dari wanita itu, namun penindasan yang dilakukan oleh tante Amira juga semakin menggila, dia benar-benar memperlakukan kekasih Aldi itu selayaknya pembantu. Tepat pada tahun ke sepuluh hubungan mereka, Aldi berniat untuk melamarnya tapi kecelakaan malang itu akhirnya memisahkan kedua insan yang saling mencintai. Aldi dan dia mengalami kecelakaan saat hendak menuju ke sebuah restoran mewah untuk kejutan lamaran yang sudah dipersiapkan Aldi. Kondisi Aldi sangat parah, karena dia mengorbankan sisi mobil pada dirinya yang terbentur demi melindungi wanita itu. Tante Amira semakin membenci wanita itu karena tak ada luka serius yang dialami olehnya. Aku tidak tahu semua kejadian kecelakaan itu dari awal sampai akhir, karena aku sedang bekerja membawa sebuah rombongan untuk perjalanan tour ke Malaysia dan Singapura. Aku kembali ke Indonesia saat semuanya sudah tidak sama seperti keadaan sewaktu aku berangkat tour. Hanya dalam waktu satu minggu tapi semuanya sudah berubah. Aldi belum sadarkan diri, sedangkan wanita itu mendadak hilang bagai ditelan bumi bersama semua keluarganya. Rumah mereka juga mendadak kosong tanpa ada tetangga yang tahu kemana perginya mereka." penjelasan Askara terus didengarkan oleh Yunita dengan tenang dan penuh perhatian. "Kenapa dia menghilang? apa kak Aldi divonis sangat parah? sehingga wanita itu tidak mau lagi menjadi pendamping kak Aldi?" tanya Yunita. "Aku tidak tahu, tapi sepengetahuanku cintanya pada Aldi sangatlah tulus dan setia, tapi semua orang pasti berpikir hal yang sama denganmu. Kondisi Aldi saat itu memang parah, sangat parah. Matanya rusak sebelah, tapi orangtuanya dan pihak rumah sakit telah berhasil mendapatkan donor mata baginya. Kakinya juga terancam lumpuh sebelah, namun semua itu baru bisa dipastikan saat Aldi sudah sadar. Pada kenyataannya tidak ada masalah apapun yang dialami oleh Aldi, kondisinya kembali pulih dan normal seperti semula sesaat setelah dia sadar. Hanya saja dia menjadi gila karena tidak dapat menemukan kekasihnya." jawab Askara dengan telaten menjawab semua pertanyaan istrinya. "Sangat aneh ya, kak. Apa sampai sekarang wanita itu masih tidak bisa ditemukan? Apa dia tidak hadir saat kak Aldi menikah dengan Zahra?" tanya Yunita lagi. "Tidak. Aldi juga berharap bahwa wanita itu akan muncul di acara pernikahannya bahkan membatalkan pernikahannya. Tapi hingga akhir resepsi sekalipun wanita itu tidak hadir, Aldi akhirnya tetap resmi menikahi Zahra, wanita pilihan tante Amira." sahut Askara dan Yunita menatap dalam pada mata Askara. "Kak, kenapa kak Aska tiba-tiba cerita tentang masa lalu kak Aska dan kedua sahabat kak Aska? Apa ada hubungannya dengan masalah yang membuat kak Aska pusing?" tanya Yunita. Askara menatap istrinya dengan berpikir sejenak, namun akhirnya dia membuat keputusan untuk mengatakan kebenaran pada Yunita, karena Yunita telah berpikir untuk memperpanjang kerja Puspa di rumahnya. "Sayang, apa kamu ingin tahu siapa wanita itu?" tanya Askara. "Ya mungkin saja aku bisa bantu menemukannya, karena aku sering melakukan perjalanan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia ini." jawab Yunita. "Kamu memang sudah berhasil menemukannya, sayang." ucap Askara dan membuat Yunita terkejut sekaligus berpikir siapa orang yang baru dia temukan. "Wanita itu bernama Puspa Keshwari." ucap Askara lagi dan membuat Yunita seketika berdiri dari tempat tidur dan menatap suaminya dengan mata melotot. "Kak! jangan ngawur! Puspa, Puspa, Puspa yang dibawa oleh ibu ke rumah ini?" Yunita bertanya gugup membutuhkan kepastian. "Iya. Itulah kenapa aku butuh bicara dengannya. Tapi aku tetap tidak mendapat jawaban apapun darinya, bahkan aku sudah menggunakan ancaman akan memberitahukan pada Aldi tentang keberadaannya di sini, namun dia tetap tidak ingin memberitahu alasan mengapa dia menghilang." Askara akhirnya memutuskan terbuka seluruhnya pada istrinya. Yunita kembali naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Askara, kembali masuk pada rengkuhan lengan kokoh suaminya sekaligus bersandar pada d**a bidang kekar itu. Sekian menit keduanya hanya hening, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Kak, apa mungkin donor mata kak Aldi itu adalah Puspa? bukankah kak Aska tadi cerita kalau wanita itu tidak mengalami luka serius apapun? tapi sekarang Puspa ada di rumah kita dengan kondisi cacat sebelah mata." Yunita mendadak bersuara dan kini giliran Askara yang sangat terkejut. "Benar! kenapa aku sangat bodoh sehingga tidak bisa berpikir seperti itu?! Astaga! aku benar-benar tidak bisa berpikir baik, karena sangat sibuk dan cemas jika Aldi suatu hari datang kemari lalu mereka berdua bertemu lagi." sahut Askara merutuk dirinya sendiri. "Kak, apa kak Aska akan mengijinkan aku untuk bertanya pada Puspa tentang hal ini? siapa tahu sesama wanita bisa terbuka, sedangkan sama mas Aska mungkin takut bocor ke kak Aldi." Usul Yunita. "Sayang, apa kamu tidak merasa repot? karena sangat tidak mudah membuat Puspa terbuka tentang masalahnya. Sejak dulu dia selalu menyimpan semua dalam hatinya sendiri." sahut Askara. "Tidak, karena aku juga penasaran dengan alasannya." ucap Yunita. "Terima kasih, sayang. Kamu selalu bisa aku andalkan. Kalau kamu sibuk, mungkin sementara kita tunda dulu mencari tahu alasan Puspa." sahut Askara lalu mengangkat dagu istrinya dan menghisap bibirnya lembut. "Aku merindukanmu, aku gila beberapa malam tidur tanpa memelukmu." bisik Askara lembut di telinga istrinya, membuat Yunita merasa meleleh karena sangat diinginkan oleh suaminya, terlebih Askara kini mulai menghisap ceruk leher Yunita. "Sepertinya malam ini akan menjadi panjang." sahut Yunita tersenyum penuh arti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD