Masa Lalu

2255 Words
Zahra perlahan membuka mata saat tangannya merasa kehilangan Aldi dari sampingnya. Wanita itu melihat suaminya berdiri dekat kaca besar sedang menatap pemandangan kota malam ini dari kamar perawatan Hana. Hana memang belum dipindahkan ke kamar perawatan, tapi Aldi telah menyiapkan kamar VVIP untuk perawatan Hana selanjutnya. Zahra berdiri dan menghampiri Aldi, memeluk suaminya itu dari belakang dengan lembut. "Kenapa tidak tidur, kak?" tegur Zahra dengan mengecup punggung suaminya. "Banyak hal yang sedang mengganggu pikiranku." jawab Aldi namun tetap dalam posisinya. "Apa ada yang bisa aku bantu, kak?" tanya Zahra dan kali ini membuat Aldi membalikkan badannya jadi menghadap ke istrinya. Tangan Zahra tetap melingkar di pinggang Aldi, pria itupun ikut melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. "Kamu sudah sangat membantuku di persoalan Hana. Maaf, aku masih belum bisa maksimal mendampingi dirimu dalam merawat Hana. Saat Hana sudah sehat, aku ingin mengajak kalian berlibur. Bagaimana?" sahut Aldi dengan mengusulkan sebuah ide liburan. "Setuju!" Zahra langsung berbinar mendengar usulan suaminya. Aldi memanglah suami yang sangat baik, tapi seorang istri tidaklah sekedar membutuhkan suami yang baik, kebersamaan yang berkualitas dan perhatian yang penuh cinta juga sangat dibutuhkan oleh seorang istri, namun Aldi seakan tidak pernah ingin melakukannya bersama Zahra, itulah mengapa dia langsung setuju dengan usulan suaminya yang mungkin saja terjadi lagi di seratus tahun kemudian. Zahra mencoba berjinjit untuk mencium bibir suaminya, namun pria itu segera memalingkan wajahnya dan hanya berhasil dikecup di pipi saja. Aldi segera melepaskan tangannya dari pinggang Zahra bahkan kembali berbalik, menghadap ke jendela kaca itu, menatap suasana tengah malam kota Jakarta. Zahra hanya menghela napas panjang, bersabar menghadapi suaminya. Wanita itu hanya memeluk kembali pinggang suaminya dari belakang sambil mengecup lembut punggung kokoh pria itu dengan mendalam, berharap pria itu dapat merasakan kebutuhan batin istrinya. Setelah sekian banyak kecupan pada punggung kokoh dan belaian lembut tangan Zahra pada perut Aldi, tetap saja pria itu tidak membalas dengan positif. Aldi hanya tetap diam, membuat Zahra akhirnya sadar diri lalu memutuskan untuk menjauh dan kembali ke tempat tidurnya, meninggalkan suaminya itu tetap berdiri diam disana. "Ya Tuhan, apa salahku? sehingga aku mendapatkan suami yang sangat dingin seperti dia. Kapan kebekuan hatinya bisa meleleh dan menjadikannya hangat kepadaku?" Batin Zahra mengeluh pada Sang Kuasa. Zahra kembali mengingat bagaimana nafkah batinnya pertama kali dia dapatkan dari Aldi. Malam itu adalah tiga bulan setelah pernikahan mereka, entah apa yang terjadi dengan Aldi yang malam itu mendadak pulang dalam kondisi mabuk dan berantakan sekali. Zahra melayani suaminya itu dengan sangat baik sebagai seorang istri, hatinya sangat berbunga dengan sentuhan suaminya malam itu. Namun sesaat kemudian setelah mahkota sucinya dia serahkan pada suaminya, justru bukan namanya yang disebut oleh suaminya, tetapi nama wanita lain yang dia sendiri tidak paham siapa wanita itu. Di tengah malam itu Zahra menangis, merasa nyeri di hatinya lebih nyeri dibandingkan rasa sakit di bagian kewanitaannya. Zahra tidak tahu harus bertanya pada siapa tentang nama wanita yang disebut oleh Aldi, sekaligus tidak memiliki keberanian dalam dirinya. Keesokan paginya Aldi bukan bersikap hangat sebagai suami, tetapi dia justru meminta maaf pada Zahra atas kejadian semalam. Suami mana yang meminta maaf pada istrinya di pagi hari setelah percintaan semalam sebagai suami istri yang sah? Zahra kembali merindukan sentuhan Aldi yang terjadi pada malam yang menyakitkan itu, namun dia tidak pernah mendapatkannya lagi hingga enam minggu kemudian Zahra mendapatkan hasil tes kehamilannya. Aldi tidak lagi sedingin dulu, ketika mendampingi Zahra yang hamil anaknya. Aldi mulai lebih lembut terhadap Zahra, tapi tetap nafkah batin itu tidak pernah dia dapatkan selama kehamilan dengan alasan Aldi tak ingin menyakiti anak mereka yang sedang dalam kandungan Zahra, hanya sekedar kecupan dan pelukan saja yang mulai Aldi berikan. Setelah Hana lahir dan lewat masa nifas bagi Zahra, Aldi tetap belum menyentuh Zahra lagi. Kewajibannya sebagai suami dan ayah dilakukan sangat baik oleh Aldi, kecuali nafkah batin bagi istrinya. Zahra tidak tahu entah bagaimana Aldi memenuhi nafkah batin bagi dirinya sendiri, bukankah seorang pria juga membutuhkan nafkah batin? karena Aldi bukan pria tidak normal, bukan juga pria lemah. Sejak setahun kelahiran Hana, telah beberapa kali Zahra mencoba menggoda Aldi. Namun dari puluhan kali menggoda dan memohon pada Aldi, pria itu hanya bersedia melakukan hubungan suami istri satu kali. Zahra terkadang lelah untuk menggoda suaminya, hingga dia secara tersembunyi memilih untuk bermain sendiri saat Aldi sudah berangkat ke kantor, demi menjaga kestabilan hormonnya. Berbagai kesempatan berlibur bersama keluarga juga seringkali atas inisiatif dari orangtua Aldi atau keluarga Zahra. Itulah mengapa malam ini tanpa berpikir, Zahra langsung saja setuju dengan ide berlibur yang ditawarkan oleh Aldi. Zahra kembali ke dunia nyata, setelah pikirannya melayang ke sikap suaminya selama ini. Zahra memilih menghela napas panjang, bersabar dan memejamkan matanya, memilih tidur sebelum hormon wanitanya semakin menuntut untuk dipenuhi oleh suaminya. Aldi tetap memandang kota dengan banyaknya lampu malam itu, pikirannya kembali menghadirkan pertanyaan yang selama ini sudah dia abaikan. "Kenapa kamu pergi tanpa jejak? apa salahku? kemana sebenarnya kamu pergi? bagaimana keadaanmu saat ini? apa kamu masih mengingatku? dimana kamu saat ini? apa malam ini kamu sudah tertidur nyenyak?" batin Aldi terlalu banyak rasa penasaran kepada wanita masa lalunya. Airmata mengalir di pipi Aldi tanpa permisi, hatinya sangat merindukan wanita masa lalunya. Dirinya sangat butuh melihat wanita itu, tapi dia tidak tahu harus mencari kemana. Aldi seakan tidak merasakan lelah berdiri sepanjang malam di sana, hingga sinar matahari mulai merubah kegelapan langit malam, barulah Aldi berjalan ke sofa panjang untuk membaringkan dirinya sejenak, karena ranjang yang dipakai oleh istrinya itu hanya berukuran single bed saja. Saat menjelang siang hari, Hana mulai dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan. Putri kecil itu tersenyum dengan mata sayu pada kedua orangtuanya. Dia senang melihat Aldi berdiri di samping tempat tidur dengan merangkul Zahra. "Hai princessnya papa, bagaimana hari ini? masih ada yang sakit?" tanya Aldi pada Hana dan dijawab dengan gelengan kepala yang lemah. "Semangat terus ya, nak. Kalau sudah sembuh, papa mau mengajak kita berlibur. Kita akan berlibur hanya bertiga saja, kamu mau kan?" kali ini Zahra ikut memberi semangat pada putrinya, dan direspon dengan senyuman dan anggukan kepala oleh Hana. "Papa akan segera mencari tiket, begitu kamu sembuh dan diperbolehkan pulang." janji Aldi pada putrinya dan membuat senyum di wajah balita itu semakin lebar juga berbinar bahagia matanya. *** Puspa sedang menemani Yoga saat siang menjelang sore ini di taman belakang rumah Askara. Putra kecil itu terlihat berlari kesana kemari sambil tertawa saling berlomba mengejar bola dengan Puspa. Yunita sengaja pulang awal dari kantornya sebelum Askara tiba di rumah. Dia ingin mengobrol dengan Puspa lebih leluasa. "Hai sayangku...." sapa Yunita pada putra kecilnya itu. Anak itu langsung berlari menghambur ke arah Yunita dan langsung memeluk kakinya. Yunita segera menggendong putranya dan mencium pipinya dengan gemas. "Selamat siang nona Yunita, anda pulang cepat hari ini. Apakah anda sedang tidak enak badan?" sapa Puspa. "Aku baik-baik saja, kak Puspa." sahut Yunita sedikit membuat Puspa tersentak dengan panggilan dari Yunita padanya, karena sejak awal Yunita biasa memanggilnya hanya dengan nama saja, sama seperti kepada Sari. "Bisakah kita mengobrol di dalam?" sahut Yunita mengajak Puspa masuk kembali ke ruang tengah. Puspa hanya mengangguk lalu mengekor berjalan di belakang Yunita. Yunita duduk di sofa dengan tetap memegang Yoga di pangkuannya, sedangkan Puspa duduk di karpet bawah. "Kak, duduk di atas saja." pinta Yunita pada Puspa, sambil menepuk sofa di sampingnya. "Disini saja nona, tidak apa." sahut Puspa sadar diri dengan posisinya di rumah ini. Yunita hanya menghela napas panjang. "Kak Puspa, semalam Kak Askara sudah cerita padaku semuanya tentang persahabatan kalian bertiga." ucap Yunita dan kembali membuat Puspa membeku, dan panik. "Mmmm.... itu.... itu kami...." Puspa bingung menjelaskan tentang masa lalunya. "Kak Puspa, jangan takut! aku senang mendengar cerita persahabatan kalian, tapi... menurut kak Aska kalau kak Puspa sudah tidak mau lagi menganggapnya sahabat, kenapa?" tanya Yunita. "Masa lalu dan masa sekarang semuanya sudah banyak berubah, nona." jawab Puspa masih saja selalu menundukkan kepalanya. "Menurut kak Puspa, apa saja yang sudah berubah?" tanya Yunita lagi. "Pak Askara adalah majikan saya saat ini, tidak baik untuk bersahabat lagi seperti dulu." jawab Puspa. "Apa lagi yang berubah, kak?" tanya Yunita. "Saya sudah tidak sempurna, dan pastinya hanya akan membawa rasa malu pada pak Askara jika berteman dengan saya." jawab Puspa. "Bagaimana dengan kak Aldi?" pertanyaan yang diajukan Yunita kali ini sangat tidak bisa dijawab oleh Puspa dengan mudah seperti pertanyaan sebelumnya. "Nona, biarlah masa sekarang berjalan seperti yang sudah berjalan, semuanya sudah bahagia dan baik di tempatnya masing-masing. Apapun yang menjadi resiko dari keputusan saya di masa lalu, biarlah menjadi resiko saya sendiri." akhirnya jawaban itu keluar setelah sekian menit hening dan Yunita tetap sabar menunggu respon Puspa. "Keputusan apa? keputusan memberikan satu bola mata kak Puspa kepada kak Aldi?" pertanyaan Yunita yang akhirnya mampu mengangkat wajah Puspa karena sangat terkejut, bahkan hingga berwarna pucat ketakutan. Respon yang Puspa berikan langsung memberikan jawaban pasti pada Yunita meski tanpa kata-kata apapun. "Kenapa? Kenapa sampai berkorban sebesar itu lalu pergi menghilang? Kenapa kak Puspa tidak menuntut apapun pada kak Aldi? Kenapa kak Puspa hanya diam bahkan menghilang dan membiarkan kak Aldi membenci kak Puspa?" tanya Yunita dengan nada tenang namun sangat membuat hati Puspa tidak tenang, bahkan hancur dan hanya bisa menangis di hadapan Yunita. Yunita turun ke karpet, tetap memeluk Yoga, pindah ke samping Puspa lalu merangkul wanita muda itu yang status sebenarnya adalah ART di rumah itu. Namun Yunita sudah menganggapnya tak lagi ART tetapi sahabat masa kecil dari suaminya. Yunita tak lagi mempertanyakan apapun pada Puspa, membiarkan wanita muda itu terus menangis, menumpahkan segala kesesakan hatinya selama ini. Setengah jam berlalu, Puspa memohon maaf karena tangisannya yang tidak seharusnya pada pundak Yunita. "Maaf nona, maafkan saya." ucap Puspa berulang kali sambil mengusap airmata di pipinya sendiri. "Tidak apa. Kak Puspa adalah sahabat kak Aska, sekaligus anak dari sahabat ibuku. Jadi sudah sewajarnya kita berdua juga bersahabat dekat." ucap Yunita dengan tersenyum. "Saya bersyukur akhirnya pak Askara mendapatkan pasangan yang terbaik. Ternyata ada baiknya kalau dia sangat pemilih sekali sejak dulu, bahkan terkesan sombong pada banyak gadis karena selalu menolak dengan beralasan ingin mencari yang terbaik." puji Puspa pada Yunita. "Kak Puspa, kalau di rumah ini janganlah memanggil pak dan nona pada kami berdua. panggil saja Aska dan Yunita." pinta Yunita namun Puspa hanya tersenyum. "Nona, sudah waktunya Yoga mandi. Biar saya mandikan Yoga dulu." ucap Puspa ingin mengakhiri segala pembicaraan mereka. Yunita pun memberikan Yoga pada Puspa, lalu bersama naik ke lantai atas, namun masuk ke kamar yang bersebelahan. *** Askara sudah bersiap untuk meninggalkan ruang kerjanya saat Aldi mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam. "Apa kamu sudah berhasil membujuk Mr.Reinhard?" tanya Aldi. "Aku sudah menghubunginya dan berusaha membujuknya bahkan aku mengirimkan file proposal kita langsung pada emailnya. Namun barusaja asistennya memberi kabar bahwa Mr.Reinhard akan menghubungi dirimu langsung setelah selesai mempelajari proposal kita." jawab Askara. "Baguslah, setidaknya dia mau menerima panggilanmu dan mempelajari proposal kita. Apa Yunita sudah kembali dari perjalanan dinasnya?" tanya Aldi lagi. "Sudah, dia sudah kembali kemarin siang. Bagaimana dengan kondisi Hana? maafkan aku belum sempat menengoknya di rumah sakit." jawab Askara. "Tidak apa, bukankah kamu sibuk karena menggantikan aku?" ucap Aldi dengan tersenyum. "Hana sudah membaik dan sudah di kamar perawatan. Namun penyakit Hana bukanlah penyakit yang biasa dialami oleh anak-anak pada umumnya, jadi tetap saja kami harus selalu waspada menjaganya." lanjut Aldi menjelaskan kondisi putrinya. "Bukankah dokter sudah memberikan solusi padamu?" tanya Askara. "Aku sudah mencoba, tapi nyatanya memang Tuhan belum memberikan adik pada Hana. Lagipula transplantasi sumsum tulang belakang belum tentu dapat berhasil. Kelainan sistem kekebalan tubuh pada Hana hanya bisa dirawat saja tidak bisa disembuhkan." jawab Aldi. "Mencoba? seberapa sering? manusia sedingin es seperti dirimu itu belum tentu seminggu sekali menyentuh istrimu! Sudahlah! jangan membodohiku! aku tahu kenapa Hana susah sekali mendapatkan adik." tuding Askara pada sahabat sekaligus atasannya itu. "Aku bukan pria m***m sepertimu! kasihan sekali Yunita memiliki suami hyper sepertimu! Beruntung dia sering perjalanan dinas, kalau tidak begitu, sudah bisa dipastikan Yoga pasti akan punya adik baru setiap kali merayakan ulangtahunnya!" balas Aldi menyerang Askara. "Makanya kalau tidak cinta itu, jangan dinikahi! jadinya sulit untuk berhubungan! beruntung Tuhan baik pada Zahra sehingga masih memberikan anugerah pada pernikahan kalian!" serang Askara lagi dan kali ini Aldi hanya diam tak mampu membalasnya. "Aku berencana mengajak Zahra dan Hana berlibur setelah kondisi kesehatan Hana stabil. Apa kamu ada rekomendasi tempat berlibur yang menyenangkan bagi Hana?" tanya Aldi. "Anak usia 4 tahun hanya bisa diajak ke playground, ke kebun binatang, ke waterpark atau ke pantai, belum bisa diajak ke themepark semacamnya. Lebih baik kamu mencari hotel yang ada playground luasnya atau waterparknya. Jangan hanya memikirkan Hana saja, Zahra juga perlu healing jadi carilah hotel yang nyaman untuk kalian berdua berbulan madu juga." jawab Askara memberikan saran pada sahabatnya. "Kenapa diam saja? Apa setelah sekian tahun lamanya kalian menikah, rasa cinta itu tetap belum ada? Selama tinggal bersama satu atap bahkan satu tempat tidur tiap malam selama bertahun-tahun itu tidak bisa membuatmu sedikit mencintai Zahra?" tanya Askara karena Aldi hanya diam saja atas usulannya. "Semua ini gara-gara dirimu! aku sudah susah payah melupakan semua masa lalu itu, kenapa kamu harus mengingatkanku lagi kemarin?! sekarang aku jadi kembali penasaran dengan keberadaannya dan alasan dia pergi begitu saja. Aku bahkan tidak fokus memikirkan Hana." keluh Aldi menyalahkan Askara. Askara tersenyum tipis, merasa senang untuk Puspa namun hati kecilnya merasa bersalah pada Zahra. "Bukankah katamu harus melepaskan masa lalu? Kemarin kamu memberiku saran untuk tetap dengan Yunita dan Yoga dibandingkan memikirkan wanita masa lalu, kenapa sekarang kamu yang ingat masa lalu?" protes Askara. "Sudahlah! memang lebih baik kalau aku selalu jauh dari mulutmu yang pedas itu! Aku akan ke rumah sakit, sampai jumpa besok." Aldi memilih berpamitan dan pergi dari ruangan Askara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD