Aldi tiba di rumah sakit dan menghela napas besar saat masuk ke kamar perawatan Hana, karena dia melihat Zahra sedang duduk di sofa, sedangkan di samping tempat tidur Hana ada Amira. Aldi menghampiri Zahra, dia mengusap kepala Zahra, dia tahu istrinya pasti barusaja mendapat sebuah tekanan dari ibunya. Zahra memberi salam pada suaminya itu dengan tersenyum, menyembunyikan tekanan hidup dari ibu mertuanya.
"Ma, datang sendirian? dimana papa?" sapa Aldi menghampiri Amira sambil memberi salam, lalu mendekati Hana yang sedang tertidur dan mengecup kening putrinya.
"Mama dan papa sudah datang dari siang tadi, lalu papa ada janji bertemu dengan temannya. Apa Zahra tidak memberitahumu kalau mama dan papa ada disini?" sahut Amira sangat terasa memojokkan menantunya.
"Zahra memberitahuku, tapi aku ada rapat jadi tidak bisa langsung kemari." jawab Aldi membela istrinya.
"Kalian itu kalau tidak bisa menjaga Hana dengan maksimal, biarkan mama yang bantu menjaga Hana! Mama sudah tidak ada kesibukan, jadi lebih bisa maksimal mendampingi Hana kapanpun." protes Amira.
"Terima kasih, ma. Mama itu sudah lelah merawat dan membesarkan aku, jadi sekarang nikmatilah masa tua mama berdua dengan papa. Jangan terus memberi beban pada diri mama dengan merawat Hana sepenuh waktu. Mama itu sekarang harus sering kumpul dengan teman-teman mama, bahagia, bebas menikmati hidup. Biarkan aku dan Zahra yang bertanggung jawab terhadap Hana. Lagipula dibandingkan dengan menantu dari teman-teman mama itu, aku rasa Zahra yang terbaik dalam merawat anak." sahut Aldi memberi respon dengan bijaksana untuk membela istrinya namun tidak menyakiti hati mamanya.
Amira diam dengan jawaban Aldi, tidak ada lagi perdebatan mengenai siapa yang terbaik merawat Hana. Amira juga paham kalau putranya tak akan pernah setuju dengan dirinya mengenai Hana.
Aldi lalu mendekati Zahra dan duduk di sebelahnya. Aldi menoleh pada istrinya yang juga sedang menoleh ke arahnya dengan tersenyum mengangguk, seolah berkata terima kasih pada suaminya itu.
"Kamu sudah ada makan malam?" tanya Aldi pada Zahra.
"Belum, kak. Sebentar aku pesan online saja. Kak Aldi sudah makan belum?" sahut Zahra lanjut bertanya balik.
"Belum, bagaimana kalau kita keluar makan sebentar? kamu butuh menghirup udara segar. Mama bisa menjaga Hana selama kita pergi." ajak Aldi, namun Zahra ragu menjawab dan justru menoleh pada ibu mertuanya.
"Tidak apa. Mama justru senang jika bisa berdua dengan Hana." ucap Aldi seraya berdiri lagi lalu berpamitan dengan Amira, sedangkan Zahra hanya mengekor dan mengikuti Aldi saja berpamitan pada ibu mertuanya lalu meraih tas nya dan berjalan keluar kamar itu.
"Kamu pasti kena ceramah mama lagi ya?" tanya Aldi saat keduanya sudah berada di luar kamar perawatan Hana, dan Zahra hanya memberikan senyuman saja sebagai jawaban.
Aldi menghela napas panjang dan berat, lalu mengusap puncak kepala Zahra.
"Kalau kamu tidak setuju dengan ucapan mama, katakan saja langsung. Mama akan semakin menekanmu jika kamu hanya diam. Kamu boleh mengutarakan pendapatmu ke mama, tegas boleh saja asal dengan sopan dan tidak membentak karena mama lebih tua dari kita. Hana sepenuhnya milik kamu dan aku, jadi kamu berhak membuat keputusan bagi Hana. Aku percaya kamu pasti memberikan yang terbaik untuk Hana. Jangan takut lagi ya?" Aldi memberikan saran dan kekuatan pada istrinya dalam menghadapi Amira.
"Baik, kak. Terima kasih sudah percaya sama aku." jawab Zahra.
Aldi lalu lanjut berjalan dan Zahra kembali mengikutinya, mencoba melangkah sejajar dengan Aldi, meski tanpa bergandengan tangan. Aldi mengajak Zahra makan di sebuah restoran Jepang, makanan kesukaan Zahra.
"Terima kasih, kak." ucap Zahra dan Aldi hanya menganggukkan kepala.
Zahra tak paham dengan sikap Aldi petang ini, karena suaminya itu sejak tadi terus menatap ke arahnya, membuat Zahra salah tingkah.
"Apa setelah sekian tahun lamanya kalian menikah, rasa cinta itu tetap belum ada? Selama tinggal bersama satu atap bahkan satu tempat tidur tiap malam selama bertahun-tahun itu tidak bisa membuatmu sedikit mencintai Zahra?"
Suara Askara kembali terlintas di benak Aldi saat ini, bahkan beberapa kali sejak mereka dalam perjalanan berdua menuju ke restoran.
"Zahra, apa kamu....?" pertanyaan Aldi terhenti tanpa selesai.
"Kenapa kak? aku kenapa?" tanya Zahra bingung.
Aldi sedikit mengubah posisi duduknya, lebih mencondongkan tubuh atasnya ke depan mendekat ke meja.
"Apa kamu memiliki mantan pacar atau pria yang kamu sukai?" tanya Aldi, sungguh membuat Zahra terperanjat.
"Ada, tapi dulu saat remaja." jawab Zahra dengan malu dan ragu.
"Remaja? kalau dekat-dekat sebelum menikah, ada?" tanya Aldi lagi dan Zahra hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu punya teman dekat pria?" tanya Aldi lagi.
"Saat ini sudah tidak ada, kak. Terakhir saat lulus kuliah sarjana, setelah itu aku lebih fokus ke kegiatan praktek dan tugas kuliah pasca sarjanaku." jawab Zahra.
Percakapan keduanya terhenti saat pelayan menyajikan pesanan mereka. Lalu mereka menikmati makanan mereka masing-masing.
"Apa kamu pernah punya keinginan untuk kembali mengurus ijin praktekmu sebagai psikolog?" tanya Aldi lagi.
"Sejak Hana lahir dengan kondisi kesehatan yang lemah, aku hanya ingin fokus menjaga dan merawat Hana saja." jawab Zahra dan Aldi hanya mengangguk dan lanjut menikmati makanannya.
"Kenapa kak? Apa kak Aldi ingin aku untuk bekerja?" tanya Zahra.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya ingin kamu juga bisa melakukan hal yang kamu inginkan, supaya tidak bosan dengan rutinitasmu. Kalau suatu hari kamu ingin pergi berkumpul dengan teman-temanmu atau membuka praktek psikolog, katakan saja padaku. Aku akan membantumu dalam menjaga Hana. Askara bisa membantuku di pekerjaan kantor." jelas Aldi supaya istrinya tidak salah paham.
"Terima kasih, kak." ucap Zahra dengan tersenyum berbinar bahagia, ini pertama kalinya Aldi memikirkan keinginan istrinya.
Keduanya lanjut makan malam hingga selesai dengan obrolan mengenai Hana dan pengobatan selanjutnya.
cup
Sebuah kecupan Zahra lakukan secara spontan pada pipi Aldi saat keduanya sedang berdiri di lobi restoran untuk menunggu mobil mereka diambil petugas Valley.
Aldi menoleh pada istrinya dengan perasaan tak menentu, lalu dia hanya diam dan kembali menatap ke depan, sedangkan istrinya hanya menundukkan kepalanya, merasa malu sekaligus takut.
Ingatan Aldi justru kembali ke masa lalu, saat dia masih bersama Puspa. Kecupan barusan bagai sebuah dejavu di pikiran Aldi. Di sebuah malam minggu, Aldi sedang mengajak Puspa berkencan dengan mengendarai motor, lalu dia dan Puspa terjebak dalam sebuah hujan deras, namun lupa membawa jas hujan. Di tengah kekesalannya yang menyesal karena tidak menggunakan mobil, Puspa mendadak memberikan kecupan pada pipi Aldi. Kecupan Puspa yang lalu berlanjut menjadi first kiss mereka di hujan lebat itu.
Pikiran Aldi saat ini sungguh kembali kacau dengan dejavu barusan, membuatnya memilih diam tidak merespon apapun hingga petugas Valley datang menyerahkan mobil mereka. Aldi dan Zahra masuk ke dalam mobil lalu perjalanan bergerak kembali ke rumah sakit.
"Apa setelah sekian tahun lamanya kalian menikah, rasa cinta itu tetap belum ada?"
suara Askara kembali terlintas di kepala Aldi.
"Maaf, kak." ucap Zahra yang merasa bersalah karena Aldi kembali dingin dan diam sejak kecupan yang dia berikan.
Aldi hanya menghela napas panjang, lalu mendadak menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi sebelum tiba di rumah sakit. Zahra terus menunduk dan kedua tangannya saling meremas karena dia menjadi semakin takut dengan sikap Aldi saat ini.
Aldi melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh pada Zahra sejenak. Aldi kemudian mengubah posisi duduknya menghadap ke Zahra semakin menatapnya dengan lekat, lalu tangan Aldi mencoba meraih dagu Zahra, membawa wajah wanita itu untuk menatapnya. Aldi semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra, membuat istrinya itu semakin takut. Detik berikutnya justru membuat Zahra seketika berhenti bernapas dan tak mampu berkedip, karena suaminya itu sedang mencium bibirnya dalam keadaan tidak mabuk dan sangat lembut untuk pertama kalinya.
Zahra yang memang sudah lama menginginkan sentuhan suaminya, kini mulai memejamkan matanya dan menggerakkan bibirnya juga, membalas ciuman dari suaminya.
Kemesraan itu hanya berlangsung sejenak saja, namun sangat berkesan bagi Zahra bahkan tubuhnya mulai memanas karena hormon wanitanya seolah dibangunkan dari hibernasinya. Jantungnya berdetak cepat, bagai seorang gadis muda yang mendapatkan first kissnya.
Aldi segera kembali ke posisi duduknya semula, menggunakan sabuk pengamannya lagi dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumah sakit. Tak ada pembicaraan atau apapun hingga mereka tiba di rumah sakit.
Zahra kembali ke kamar perawatan Hana dengan wajah berbinar bahagia. Aldi justru dengan kekalutan yang semakin rumit di pikirannya.
"Kenapa? kenapa aku tidak bisa merasakan hal yang sama terhadap bibir Zahra? Dulu aku selalu ingin lebih setelah berciuman dengan Puspa, tapi kenapa aku tidak merasakan apapun terhadap Zahra?"
tanya pikiran Aldi.
"Aldi, mama pulang dulu. Besok mama akan kembali kesini." pamit Amira pada putranya yang berdiri melamun di kaca jendela besar, menatap ke pemandangan luar sekitar rumah sakit.
"Aku antar ke lobi, ma." ucap Aldi lalu keduanya keluar dari kamar perawatan Hana.
"Aldi, coba kamu bicara dengan Zahra. Biarkan mama ikut menjaga Hana setiap hari di rumah." pinta Amira.
"Ma, percayalah pada Zahra! Bukankah mama yang memilih Zahra menjadi menantu mama? Kalau dulu mama selalu menekan Puspa karena tidak menyukai Puspa, aku bisa paham meskipun aku tidak terima dengan perlakuan mama. Sekarang ini jika mama masih terus menekan Zahra, apa mama mau digosipkan sebagai mertua yang selalu menyulitkan siapapun wanita yang menjadi pasanganku?" jawab Aldi dan langsung membuat Amira terdiam dan tak ada lagi perdebatan apapun hingga Amira pergi meninggalkan rumah sakit.
Aldi memutuskan untuk langsung pergi dari rumah sakit itu dan hanya berpamitan pada Zahra melalui chat online.
Aldi tiba di rumah dan segera masuk dalam kamarnya, berbaring dan memejamkan matanya. Ingatannya mencoba kembali pada kejadian tiga puluh menit yang lalu, saat dirinya mencium Zahra. Aldi sungguh kesal karena hormon prianya tidak bereaksi apapun, meski hatinya ingin sekali bereaksi terhadap bibir Zahra.
Akhirnya pikiran Aldi justru melompat ke masa lalu dan mengingat beberapa kali ciuman panas dirinya dengan Puspa di berbagai kesempatan. Tubuhnya segera bereaksi cepat, panas dalam darahnya mulai terasa mengalir ke seluruh tubuh, jantungnya mulai berdetak cepat, napasnya ikut menderu, butuh lebih dari sebuah pelepasan.
Berbagai kesempatan panas dirinya dan Puspa selalu berakhir hanya sampai di leher Puspa saja, karena kekasihnya itu tidak pernah mengijinkan untuk lebih intim.
Aldi membuka matanya, mulai mengatur napasnya dan mengendalikan hormon prianya. Beberapa menit kemudian dia menangis sendiri, menyesali kehidupannya yang justru berlanjut tanpa kehadiran Puspa lagi.
"Kenapa aku harus kembali bangun dari koma, jika Tuhan hanya ingin aku hidup tanpa cintaku? Andaikan aku tidak hidup lagi, aku pasti tidak akan tersakiti seperti ini. Aku juga pasti tidak akan menyakiti Zahra. Zahra pasti sudah hidup bahagia jika tidak menikah denganku."
sesal Aldi terhadap kehidupannya saat ini.
"Ya Tuhan, bolehkah aku meminta padaMU untuk dipertemukan kembali dengan cintaku? supaya aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang tanpa rasa penasaran dan penyesalan. Ijinkanlah aku, Tuhan."
Doa Aldi berharap sang pemilik hidup mau mengabulkan keinginan hatinya.
***
Puspa telah berdoa untuk dipertemukan terakhir kali sebelum dia meninggalkan dunia, Aldi juga telah berdoa untuk dipertemukan supaya dapat melanjutkan hidupnya tanpa rasa penasaran yang penuh benci. Tuhan seakan memberikan belas kasihan pada dua insan yang Dia sayangi. Lalu kapankah waktu itu akan datang?
***