Aldi memutuskan kembali ke rumah sakit untuk menghindari bayangan Puspa. Dia masuk ke kamar perawatan Hana, dan mendapati Zahra sedang tertidur di pinggir tempar tidur Hana dengan posisi duduk. Aldi mendekati Zahra lalu perlahan menepuk pundaknya, membangunkan wanita itu.
"Pulang dan beristirahatlah, biar aku yang berjaga malam ini." ucap Aldi yang tidak tega melihat istrinya kini terlihat sudah kelelahan menjaga putri mereka.
"Tidak apa-apa, kak. Di rumah justru aku tidak bisa tidur, karena sendirian dan pasti cemas memikirkan Hana." sahut Zahra menolak pulang.
"Kalau begitu tidurlah di tempat tidur, kamu juga harus menjaga kesehatanmu sendiri. Aku akan ikut berjaga disini." ucap Aldi dan kali ini Zahra menuruti perkataan suaminya itu.
Zahra berbaring di atas tempat tidur yang khusus disediakan untuk penunggu pasien di kamar VVIP. Zahra menatap suaminya sesaat, lalu kembali menutup matanya dan terlelap. Dalam hati dia merindukan kecupan selamat malam dari suaminya, tapi dia tidak mampu bersikap manja dan menuntut keromantisan pada suaminya.
Aldi lalu duduk di sofa dan mulai membuka laptopnya, memeriksa segala laporan yang dikirim oleh para kepala bagian yang ada di perusahaannya. Meski mata dan tangannya seolah bekerja di depan laptop, namun pikirannya masih terus ingin menemukan wanita masa lalunya.
Pikiran itulah yang akhirnya membuat jari-jari Aldi mengetik nama Puspa Keshwari di salah satu sosial media. Layar laptop menampilkan foto-foto Puspa dan dirinya di masa lalu. Aldi melihat foto terakhir yang diposting oleh Puspa adalah peristiwa delapan tahun yang lalu, dan tidak pernah ada postingan apapun disana selama 8 tahun terakhir hingga saat ini.
"Kemana aku harus mencarimu? Astaga! aku hanya ingin tahu apa kesalahanku sehingga kamu menghilang tanpa jejak dan tanpa pesan apapun?!" Batin Aldi sangat kesal dengan rasa penasarannya selama bertahun-tahun ini.
Aldi mengusap kasar wajahnya sendiri dan dengan kesal menutup laptopnya. Dia hanya bisa menghela napas berat lalu meletakkan laptop ke atas meja. Aldi berbaring di sofa panjang dan mencoba beristirahat. Bayangan wajah Puspa muncul dan tersenyum padanya. Aldi segera membuka matanya lagi dengan napas yang menderu cepat karena emosi di dadanya.
"Sial! semua karena Askara menyebut kembali namanya! Aku jadi kembali hanyut pada harapan untuk menemukannya lagi!"
Kesal Aldi dalam batinnya.
Aldi melihat ke arah Hana dan Zahra, lalu mulai menata kembali emosi dirinya untuk tenang. Beberapa kali helaan napas panjang dia lakukan untuk menjadi lebih tenang.
"Mereka adalah masa depanku, aku harus segera membuang semua masa laluku, meninggalkannya seperti dia yang meninggalkanku tanpa jejak."
Pikiran Aldi mencoba untuk menjadi sehat.
Sementara Aldi sedang kesal dengan dirinya dan bayangan Puspa yang kembali mengganggunya, beda dengan kondisi di rumah Askara yang semakin menemukan titik pasti alasan Puspa menghilang selama ini.
Yunita telah menceritakan pada Askara tentang percakapan siang tadi antara dirinya dan Puspa.
"Akhirnya semua menjadi masuk akal dan kita dapat menarik benang merah dari semua ini. Puspa pasti pergi karena tidak ingin hidup Aldi menjadi kesulitan karena hubungan mereka pasti akan semakin ditentang oleh tante Amira. Puspa dalam kondisi sempurna saja sudah ditolak, apalagi dengan cacat mata." respon Askara berkesimpulan terhadap cerita Yunita.
"Menurut kak Aska, apakah mereka perlu dipertemukan? supaya keduanya bisa lebih ikhlas menjalani kehidupan masing-masing selanjutnya." tanya Yunita.
"Tidak, aku juga tidak tahu, entahlah! di satu sisi aku ingin sekali mempertemukan mereka, tapi di lain sisi aku tidak tega menyakiti Zahra dan Hana. Aku takut jika Aldi memutuskan kembali pada Puspa karena merasa berhutang pada kebaikan cinta Puspa. Semuanya pasti tidak akan ada yang baik, jika menjalani hubungan karena rasa bersalah atau berhutang budi baik." sahut Askara.
"Benar juga. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? aku kasihan dengan kak Puspa yang sudah berkorban terlalu besar tapi justru hidupnya menjadi yang paling terbuang. Tidak mudah pastinya menjadi wanita cantik yang harus berubah nasib menjadi wanita cacat." ucap Yunita.
"Sayangku, berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan mengatakan atau menyinggung apapun tentang keberadaan Puspa di rumah ini kepada siapapun. Kumohon padamu...." pinta Askara dan Yunita menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana jika kak Aldi mendadak datang ke rumah kita?" tanya Yunita.
"Aku akan semaksimal mungkin menghindarkan Aldi dari rumah kita. Sementara ini Hana sedang dirawat di rumah sakit, Aldi pasti tidak akan kemari." sahut Askara.
***
Seminggu sudah Hana dirawat di rumah sakit, dan kini dia telah diperbolehkan pulang namun tetap dengan jadwal konsultasi dokter setiap satu minggu sekali. Hana sangat senang karena dia dijemput oleh Aldi saat pulang dari rumah sakit.
"Papa, gendong aku." pinta Hana ingin bermanja dengan Aldi. Aldi segera mengangkat tubuh gadis berusia empat tahun itu lalu mengecup pipinya.
Zahra senang melihat pemandangan di hadapannya, meski Aldi tidak memanjakan dirinya, setidaknya Aldi tetap menjadi ayah terbaik dan sangat menyayangi Hana, putri mereka.
"Papa, aku mau es krim di mall." pinta Hana, lalu Aldi menatap ke arah Zahra, seakan bertanya apakah diperbolehkan atau tidak, Zahra mengangguk dengan senyuman.
"Baiklah, karena mama sudah mengijinkan, ayo kita ke mall." ucap Aldi dan membuat putrinya semakin bahagia memeluk leher Aldi.
Saat keluarga kecil itu sedang menikmati kebersamaan mereka di sebuah tempat es krim, tanpa sengaja Yunita yang sedang berada di mall itu juga, kini berjalan melewati mereka bertiga tanpa sadar.
"Papa, itu tante Yunita." tunjuk Hana yang ternyata melihat sosok Yunita.
"Iya benar, itu Yunita." sahut Aldi yang mengikuti telunjuk Hana.
"YUNITA!" panggil Aldi berseru pada wanita yang berjalan mulai menjauh darinya.
Yunita rupanya masih mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dan segera menoleh mencari sumber suara. Akhirnya dia menemukan Aldi dan keluarga kecilnya sedang melambaikan tangan padanya. Yunita melangkah mendekati keluarga Aldi untuk menyapa mereka.
"Hai, kak Aldi. Halo Zahra." sapa Yunita pada Aldi dan Zahra sambil menyalami keduanya. Lalu dia sedikit membungkuk untuk menyapa Hana.
"Hai Hana, maaf ya tante tidak sempat menjenguk di rumah sakit. Syukurlah kamu sekarang sudah sehat. Tante senang sekali melihatmu." sapa Yunita pada Hana dan anak kecil itu hanya mengangguk tersenyum.
"Tante, adik Yoga tidak ikut?" tanya Hana teringat pada putra Yunita dan Askara.
"Tidak..., karena tante masih sibuk mencari beberapa kado untuk ulang tahun perusahaan." sahut Yunita.
"Aku jadi merindukan adik Yoga. Papa, bolehkah kita kesana setelah ini?" tanya Hana dan membuat Yunita seketika ketakutan sekaligus bingung.
"Tidak!" spontanitas Yunita segera membuat Aldi dan keluarganya terkejut, terlebih Hana yang langsung sedih karena merasa dilarang oleh Yunita.
"Yunita, ada apa? kenapa kamu melarang Hana bermain ke rumahmu?" tanya Zahra.
"Eh... ma...maaf... maaf, aku tidak bermaksud melarang Hana, ta...ta...tapi... tapi... tapi aku kan sedang tidak di rumah saat ini, jadi sebaiknya jangan sekarang ya.... Hana, main dengan adik Yoganya tunggu kalau tante tidak sibuk ya, jadi ada yang buatin cemilan buat Hana juga." jelas Yunita tidak ingin mereka salah paham terutama pada Hana.
Hana yang terlanjur takut bercampur kecewa sekaligus sedih, kini hanya mengangguk saja tanpa berkata apapun. Hati Yunita semakin merasa bersalah melihat raut wajah sedih dari Hana.
"Hana cantik, bagaimana kalau nanti malam tante yang ajak adik Yoga bermain ke rumah Hana?" tanya Yunita ingin menghibur Hana.
"Sungguh?! janji ya?! Hana tunggu lho." sahut Hana dengan berbinar ceria kembali, dan Yunita menjadi lega lalu menganggukkan kepalanya.
Yunita lalu berpamitan pada semuanya untuk lanjut berbelanja kebutuhan pesta kantornya.
"Huuuuffftt.... Hampir saja...." ucap Yunita pada dirinya sendiri saat sudah berjalan menjauh dari keluarga Aldi.
***
Aldi yang kembali ke kantor setelah mengantar Hana dan Zahra ke rumah, langsung memasuki ruang kerja Askara.
"Hai, aku pikir kamu akan menemani Hana di rumah." sapa Askara melihat bos sekaligus sahabatnya itu masuk ke ruangannya.
"Tadi aku bertemu dengan Yunita di mall. Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Aldi.
"Bertengkar??? tidak. Kenapa?" tanya Askara bingung.
"Tadi Hana ingin bertemu Yoga di rumah kalian, tapi Yunita langsung berkata tidak dengan sangat tegas. Aku pikir kalian sedang bertengkar sehingga tidak ingin menerima tamu siapapun." ucap Aldi menceritakan kejadian di mall tadi.
"Ou itu pasti karena dia sedang sibuk, jadi takut tidak bisa menyiapkan apapun untuk kedatangan kalian." sahut Askara dan Aldi pun bisa menerima alasan itu dengan logikanya.
"Iya, tadi dia juga berkata demikian. Tapi dia berjanji nanti malam akan mengajak Yoga bermain ke rumahku. Jadi, jangan kecewakan putriku, paham?!" ucap Aldi dan Askara langsung mengacungkan kedua jempolnya setuju.
Aldi segera keluar dari ruangan Askara dan kembali ke ruangannya sendiri. Askara segera menghela napas lega.
"Beruntung Yunita segera menghubungiku tadi, jadi jawaban kami bisa cocok." ucap Askara pada dirinya sendiri dengan lirih, sangat merasa lega.