Kegilaan

1974 Words
Malam ini Yunita dan Askara mengajak Yoga untuk bermain dengan Hana di rumah Aldi. "Kalian tidak membawa pengasuh Yoga?" tanya Aldi heran dengan kedatangan Askara dan Yunita yang membawa Yoga namun tanpa pengasuh. "Tidak perlu, lagipula Yoga hanya akan bermain dengan Hana jadi hanya perlu pengawasan saja, tidak merepotkan bagi kami berdua." sahut Askara. "Masuklah, Hana dan Zahra sedang makan malam, apa kalian sudah makan malam?" Aldi mempersilahkan masuk dan mengajak bergabung makan malam. "Kami sudah makan malam sebelum berangkat kemari. Silahkan kalian menikmati makan malam tanpa terganggu dengan kami. Kami bisa menunggu tanpa terburu-buru." sahut Askara dengan santai sambil berjalan masuk ke ruang keluarga yang ada di tengah rumah itu. Hana segera bergabung dengan Yoga dan Yunita setelah beberapa menit menyelesaikan makan malamnya. Hana terlihat bahagia bermain dengan Yoga yang terpaut hanya dua tahun lebih muda darinya. Yunita dan Zahra duduk di karpet menemani anak-anak, sedangkan Aldi mengajak Askara untuk mengobrol di taman belakang. "Ada apa?" tanya Askara ketika mereka sudah berada jauh dari para istri dan anak-anak. "Tidak apa, aku hanya ingin mengatur jadwal saja denganmu, karena aku berencana mengajak Hana dan Zahra berlibur." Sahut Aldi. "Baiklah, kapan kalian akan berangkat? jadi aku bisa mengatur perjalanan bisnis ke Thailand untuk bulan depan." tanya Askara. "Akhir pekan ini ada long weekend, bagaimana jika kita liburan bersama?" usul Aldi dan Askara segera mengernyitkan kedua alisnya. "Sebaiknya kalian tetap pergi liburan bertiga saja. Itu hal yang bisa membangun keluarga kalian lebih dekat." tanya Askara bingung. "Aku memang berjanji akan berlibur bertiga saja, tapi...." helaan napas berat Aldi menghentikan sesaat kalimatnya karena ragu "Aku sudah mencoba mendekati Zahra, aku juga sudah memikirkan pertanyaanmu tentang adanya kemungkinan aku mulai mencintai Zahra, tapi semuanya tetap sama. Hatiku tidak mengarahkan cinta ataupun gairah kepada Zahra. Aku memang menyayangi Zahra, tapi tidak lebih dari sekedar sayang karena belas kasihan atau karena menganggap dia hanya sebatas keluargaku saja. Jadi mereka pasti akan tetap merasa kesepian jika hanya berlibur bertiga saja. Lihatlah! betapa bahagianya Hana jika ada Yoga." lanjut Aldi sambil menatap ke dalam rumah. "Kalau begitu berikan adik saja." usul Askara dengan cepat dan langsung mendapat tatapan tajam dan kesal dari Aldi. "Hei! aku barusaja mengatakan padamu kalau aku tidak mampu mengarahkan gairahku pada Zahra! Bagaimana bisa kamu tetap menyarankan hal itu padaku?!" kesal Aldi. "Coba saja kamu ajak Zahra mandi bersama, meski gairah dari hati itu tidak ada, setidaknya tubuh bawahmu masih akan bereaksi melihat tubuh Zahra, kecuali kamu sudah bukan pria normal lagi." usul Askara lagi dan semakin membuat kepala Aldi sakit mendengar kegilaan sahabatnya itu. "Sudahlah! jangan gila!" kesal Aldi sedangkan Askara hanya terkekeh. Aldi terus menghela napas berat beberapa kali sambil menatap jauh taman belakang rumahnya itu. "Kenapa?" tanya Askara "Aku pikir aku sudah tidak akan pernah mengingat wanita itu lagi, tapi beberapa waktu belakangan ini, aku terus kembali memikirkan dia. Aku kembali penasaran dengan alasan dia pergi tanpa kabar apapun. Aku mencoba mencium Zahra, tapi semua menjadi dejavu karena aku justru mengingat saat aku mencium masa lalu." keluh Aldi lagi. "Puspa? Kenapa berat sekali lidahmu menyebut namanya?" tanya Askara. "Karena nama itu terlalu menyakitkan, membuat sesak dadaku begitu dalam, hanya mendengarnya saja aku sudah terbawa emosi." sahut Aldi dengan kedua tangan mengepal di samping tubuhnya. "Kalau begitu lupakan saja seluruhnya! isi pikiranmu dengan Zahra, memikirkan Zahra dan kesenangan bersamanya serta kebahagiaan bersamanya, maka itu akan membuatmu bisa menyayangi Zahra, membutuhkan Zahra, bahkan kamu bisa mencintai Zahra. Cobalah memberi sedikit ruang bagi Zahra. Apa perlu aku memberi obat di minuman atau makananmu malam ini?" nasehat Askara dengan tetap diakhiri usulan gila. "Aku pasti akan menyakiti Zahra lagi, karena nama yang kupanggil bukan Zahra di saat gairah itu muncul." sahut Aldi membuat Askara yang bergantian menghela napas berat lagi saat ini. Hari semakin malam, hingga tanpa sadar Yoga sudah tertidur di gendongan Yunita dan Hana mulai mengantuk di sofa samping Yunita. Zahra memanggil Askara dan Aldi untuk mengingatkan jam sudah mulai larut malam. Beruntung percakapan mereka sudah beralih ke urusan pekerjaan, sehingga Zahra tidak tersakiti lagi. Sepulangnya Askara dan Yunita dengan Yoga, Zahra dan Aldi membawa Hana untuk tidur di kamar, lalu keduanya kembali ke kamar mereka sendiri. Zahra memang selalu membersihkan diri sebelum tidur, kali ini Aldi ingin mencoba menguji perkataan Askara tadi. Setelah sepuluh menit Zahra di dalam kamar mandi, akhirnya Aldi membulatkan tekadnya untuk masuk ke dalam kamar mandi itu dan menyusul Zahra untuk membersihkan diri bersama. Zahra awalnya terkejut dengan masuknya Aldi ke dalam kamar mandi, sedangkan dirinya dalam kondisi tanpa sehelai benang ditubuhnya. Zahra yang berada di bawah shower yang mengucurkan air hangat itu kini menjadi bingung, hendak dia tutupi tapi Aldi adalah suaminya, tidak ditutupi tapi Aldi terus menatapnya meski hanya dengan diam. Napas Zahra menjadi cepat saat melihat Aldi mulai melepaskan pakaiannya sendiri satu persatu sambil tetap menatap pada dirinya. Zahra semakin terbakar panas dari dalam tubuhnya ketika Aldi mulai berjalan mendekat padanya juga dalam kondisi tanpa busana. Aldi mulai nenarik pinggang Zahra, tubuh keduanya saling dekat. Napas Zahra memburu cepat, gairahnya mulai bangkit karena hormon panas dalam dirinya. Keduanya terus saling menatap semakin mendalam hingga akhirnya bibir mereka saling mencari, lalu menyatu dan saling menghisap. Lembut, manis, bercampurlah saliva mereka dengan air shower, membuat tangan Zahra mulai memeluk tubuh polos Aldi, dan tangan Aldi mulai bergerak naik turun di punggung hingga gundukan bawah tubuh Zahra yang gempal, mulai meremasnya. Saat Zahra mulai memejamkan matanya, menikmati kedekatan mereka, bahkan mulai menggoyangkan tubuhnya di tubuh Aldi, mendadak pria itu menjadi terkejut dan menarik dirinya mundur menjauh dari tubuh dan bibir Zahra. Aldi terkejut dengan napas memburu cepat, dia melihat ke arah tubuh bawahnya yang ternyata mampu bereaksi terhadap tubuh Zahra. Zahra tentu saja tersenyum bahagia melihat reaksi dari tubuh Aldi yang menyambut dirinya secara nyata. Perlahan Zahra mulai maju mendekat pada Aldi dan hendak menyentuh tubuh Aldi, namun pria itu justru mundur dan berbalik menghadap ke tembok. "Maafkan aku, maaf." ucap Aldi sambil menunduk, tetap membelakangi Zahra. Zahra terus tidak menyerah, dan kini mulai memeluk pinggang Aldi dari belakang. Kedua tangannya perlahan meraba tubuh depan Aldi. "Untuk apa meminta maaf? aku istrimu, kamu berhak melakukan itu padaku, bahkan aku snagat bahagia karena ini pertama kalinya kak Aldi menyentuh aku dalam keadaan sadar, dan mampu menyambut tubuhku dengan kokoh." ucap Zahra sambil satu tangannya terus turun hingga menggenggam tubuh bawah Aldi yang memang semakin kokoh menunjukkan kekuatan dirinya. "Aku tidak mau menyakitimu, aku tidak mau menjadikanmu pelampiasan saja. Bagaimana jika aku terus menyebut wanita lain di saat penyatuan kita?" Aldi bahkan menangis merasa frustasi dengan dirinya sendiri yang ingin melanjutkan tapi tidak mau menyakiti Zahra. "Kalau begitu tetaplah buka matamu, lihatlah Zahra yang ada di depanmu." bisik Zahra masih lembut bergerak di tubuh bawah Aldi. Aldi tetap tidak berbalik badan, namun Zahra kini berusaha menyelip di antara tembok dan tubuh Aldi. "Jangan gila Zahra, jangan korbankan dirimu terus." larang Aldi saat Zahra sudah berada diantara dirinya dan tembok. "Aku tidak mengorbankan diriku, aku sedang memenuhi kebutuhan diriku sebagai istri, jadi tolong jangan tolak aku. Biarkan aku menjadi istri bahagia meski hanya malam ini saja." bisik Zahra lembut, lalu mulai kembali mencium bibir Aldi, sambil mengarahkan tangan Aldi untuk kembali berada di tubuh Zahra. Aldi mulai mengikuti alur gerak tubuh Zahra, mengikuti saran Zahra dengan tetap membuka matanya dan menatap segala pergerakan Zahra pada dirinya, hingga dia mendesah karena Zahra kini berani lebih v****r memperlakukan dirinya. Aldi yang memang masih pria normal, pada akhirnya mampu mendesah keras saat Zahra berhasil menggiringnya ke tingkat tertinggi kepuasan manusia. Aldi dengan napas tersengal kini mengangkat tubuh Zahra, membawanya keluar dan merebahkannya ke atas tempat tidur. Keduanya kembali menjadikan malam itu adalah malam pengantin yang sesungguhnya di pernikahan mereka. Aldi lebih memilih meneriakkan desahan kerasnya daripada menyebut nama siapapun saat mereka kembali meraih kepuasan tertinggi. Gairah Zahra yang lama terpendam seakan terus menuntut lagi dan lagi terhadap Aldi, terus kembali menggoda Aldi tanpa rasa lelah hingga sekitar empat jam kemudian akhirnya keduanya terlelap seketika di dalam selimut hangat hingga matahari telah bersinar terang. Zahra membuka matanya terlebih dahulu dan langsung tersenyum karena mendapati dirinya sedang polos dalam dekapan lengan kokoh Aldi. Zahra bersandar pada d**a Aldi dan menatap tersenyum pada suaminya yang masih terlelap. "Terima kasih karena menjadikanku istrimu seutuhnya. Aku mencintaimu, meski aku tak tahu kapan kamu akan mulai mencintaiku. Aku sangat bahagia malam tadi, dan semoga kamu juga menikmatinya tadi malam." bisik Zahra mesra. Aldi mulai menggeliat penat seluruh tubuhnya, namun dia akhirnya diam menatap Zahra sedang bersandar di dadanya sambil tersenyum padanya. "Kamu sudah bangun, jam berapa sekarang?" tanya Aldi. Lalu Zahra tanpa malu keluar dari selimutnya untuk meraih ponselnya dan melihat waktu saat ini.Aldi menatap kembali tubuh polos istrinya itu dan teringat segala kejadian malam tadi. "Jam 07.05."Ucap Zahra berbalik menghadap Aldi dengan tubuh polosnya. "Apa kamu tidak dingin berdiri tanpa pakaian seperti itu?" tanya Aldi dan membuat Zahra tersenyum lalu kembali masuk ke dalam selimut dan memeluk suaminya lagi. "Apa kamu mau menghangatkan aku?" tanya Zahra sengaja menggesekkan kakinya lembut di kaki Aldi. "Ini sudah siang, Hana pasti mencarimu untuk sarapan." sahut Aldi. "Benar juga, tapi sepertinya Hana juga masih tidur, karena dia tidak mengetuk pintu sejak tadi." ucap Zahra tetap dengan pergerakan menggoda di balik selimut dan di d**a Aldi. Zahra tahu bahwa Aldi sedang melawan dirinya sendiri seperti awal malam tadi, tapi tubuh bawah Aldi tidak akan bisa berbohong bahwa pergerakan Zahra berhasil melakukan sesuatu. "Aku mau lagi, boleh?" pinta Zahra sengaja berbisik lembut di telinga Aldi. "Aku harus tanya Askara dulu, apakah ada pertemuan penting hari ini." sahut Aldi lalu meraih ponselnya di nakas samping. Askara tidak menerima panggilannya meski sudah beberapa kali dicoba. Saat Zahra mulai memeluk Aldi lagi dari belakang, terdengar ketukan pintu dan suara Hana memanggil Zahra. "Mama, Papa..., aku lapar." panggil Hana dan Zahra segera meraih baju tidurnya, dan membuka pintu kamar, namun langsung mengajak Hana berjalan ke ruang makan supaya tidak perlu melihat Aldi yang belum berpakaian. Aldi menghela napas panjang sambil menatap tubuh bawahnya yang mulai bangun. Antara lega dan penyesalan, namun dia memutuskan untuk membersihkan diri dengan dinginnya air shower pagi ini. "Gila, semalam benar-benar gila." ucap Aldi pada dirinya sendiri. "Isilah pikiranmu dengan Zahra dan kesenangan kalian, pasti kamu akan bisa mencintai Zahra." Aldi teringat perkataan Askara semalam, lalu dia mulai memikirkan kesenangan mereka semalam. Aldi yang memang pria normalpun kembali kokoh dengan tegak membayangkan tubuh Zahra, desahan Zahra bahkan pergerakan Zahra terhadap tubuhnya. Tanpa sadar beberapa menit kemudian akhirnya Aldi berhasil memberi kelegaan pada dirinya sendiri. Zahra sedang menemani Hana sarapan saat Aldi sudah rapi berjalan turun dari lantai atas. Zahra memberikan senyuman manisnya pada Aldi, lalu seperti biasa, pria itu mengecup puncak kepala istri dan anaknya lalu duduk di samping Hana. "Kak, sarapan dulu sebelum ke kantor." ucap Zahra. "Terima kasih. Apa kamu sudah sarapan?" sahut Aldi lalu bertanya. "Aku sudah minum milkshake dan sebutir telur rebus." jawab Zahra. "Kamu sudah kuat untuk berangkat sekolah?" tanya Aldi pada putrinya. "Aku mau sekolah, tapi kata mama tidak boleh." sahut Hana. "Dia baru pulang dari rumah sakit kemarin, jadi biarkan dia pulih total dulu." jelas Zahra dan Aldi mengangguk setuju. "Papa, kapan kita akan berlibur?" tanya Hana, lalu Aldi menatap istrinya. "Zahra, kamu cari info saja mengenai tujuan berlibur kita, kalau perlu kamu langsung booking saja. Aku bisa menyerahkan pekerjaan sementara pada Askara." ucap Aldi "Baik, kak. Aku akan cari tempat yang menyenangkan untuk Hana." sahut Zahra. Aldi berhenti sarapan sejenak lalu menatap Zahra dan kembali teringat pada usul Askara, untuk mencari tempat yang juga bisa menyenangkan bagi Zahra. "Carilah tempat yang bisa menyenangkan bagimu juga, tidak perlu memikirkan budgetnya, asalkan kalian berdua senang dan enjoy, aku pasti rela menghabiskan isi rekeningku." ucap Aldi dan Zahra menjadi terkejut semakin bahagia pagi ini karena Aldi juga memikirkan kesenangan bagi istrinya itu. "Terima kasih, kak." sahut Zahra dan Aldi menganggukkan kepalanya. Bunga-bunga bertaburan memenuhi jiwa Zahra pagi ini, dan itu sangat terlihat jelas di mata Aldi, membuat hatinya muncul sebuah rasa lega dan sebagainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD