Didalam mobil hanya ada keheningan. Aku yang sudah capek pun akhirnya tertidur. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 25menit, kami akhirnya sampai di apartmen. Kami berdua turun dari mobil dan berjalan menuju lift yang ada di loby. Aku berjalan di belakang Jackson, karena aku tidak ingin akan ada gosip tentangnya. Aku sungguh ingin menjaga citra Jackson di publik dengan baik. Aku berhenti di depan lift sambil memainkan handphone. Setelah beberapa menit lift pun terbuka.
TINGGG...
Aku dan Jackson masuk kedalam lift bersama,hanya berdua didalam lift. Aku segera menekan tombol nomor dimana aku tinggal, dan nomor lantai yang berbeda dengan Jackson.
"Apa kau tak mampir dulu ke rumahku Dev ?" Tanya Jackson menoleh karahku.
"Tidak perlu Jack,aku ingin cepat cepat istirahat. Badanku terasa berat sekali." Keluhku
"Baiklah. Istirahatlah yang cukup, kau jangan sampai sakit. Kalau perlu minum obat juga. nanti kalau ada apa apa jangan lupa hubungi aku." Khawatir Jackson
"Tenang saja, kalau aku butuh bantuanmu pasti aku akan mencarimu. Aku hanya perlu istrirahat sebentar."
Setelah sampai di lantai tempatku tinggal aku berpamitan kepada Jackson, aku keluar lift dan menuju apartment dimana aku tinggal. Setelah sampai aku langung masuk kedalam kamar dan tak kupa untuk membersihkan badanku dulu yang terasa lengket akibat keringat keringat yang bercucuran hari ini. Setelah selesai aku langsung membaringkan tubuhku ke ranjang dan menarik selimut. Entah kenapa hari ini badanku rasanya sakit semua.
Sudah 2 jam aku tidur hingga suara ketukan pintu membangunkanku,tetapi aku tidak kuat untuk bangun dari ranjang.
TOKK...TOKKK..TOOOOKK..
"Dev makan malam yukk. Gue udah beli makanan kesukaan lo." Ucap Sasa dibalik pintu.
Aku yang hanya menyahut dengan suara lirih. "Masukk aja Sa. Gue nggak kuat bangun."
Kudengar samar samar suara pergerakan pintu terbuka. Tak lama Sasa sudah ada didepanku. Kulihat Sasa mengkhawatirkanku dengn wajah yang cemas. Tangannya terulur menyentuh keningku.
"Astaga Dev panas banget badan lo." Ucap Sasa khwatir
"Gue kecapek an aja kali Sa." Jawabku lirih
"Udah lo istirahat aja dulu, gue mau kebawah ambil kompresan sekalian makanan lo. Lo harus makan biar sehat." Ucap Sasa lalu pergi meninggalkanku.
Aku yang lemah tidak bisa berbuat apa apa. Aku hanya menurut saja kepaa Sasa. Badanku juga terasa kemas sekali. Aku menutupkan mataku sejenak,tak lama Sasa membangunkanku dengan pelan.
"Dev bangun dulu yukk. Gue suapin lo makan biar lo bisa minum obat." Ucap Saa.
Aku membuka mataku dan dibantu sasa untuk bangun,aku yang sudah duduk dengan bersender kemudian Ssa menyuapiku bubur yang dia buat.
"Kok bubur Sa? Bukannya lo tadi bilang beli makanan kesukaan gue?Sejak kapan gue suka bubur?" Tanyaku heran
"Lo sakit Dev. Nggk mungkin gue kasih lo nasi padang elah. Ini bru aja gue bikin. Mau nggak mau lo harus habisin nih bubur biar perut lo ke isi." Jelas Sasa
"Thanks ya Sa. gue selalu ngrepotin lo." Ucapku
"Apaan sih. Lo kan udah gue anggep sodara gue sendiri. Lagian kalo gue sakit juga pasti lo yang rawat gue,mau siapa lagi coba." Ucap Sasa sambil menyuapiku dengan bubur yang ia bawa.
Setelah selesai makan, aku langsung meminum obat dan berbaring kembali, tak lupa juga Sasa menempelkan pereda panas di keningku. Sasa pun keluar dari kamarku. Aku langsung tidur dan tidak mendengar kalau ada suara telfon.
Ke esokan harinya Sasa bangun lebih awal dan sebelum berangkat kerja, ia menyiapkan sarapan dan obat di meja samping ranjangu. Aku yang masih lemas masih tidur dalam gelungan selimut. Samar smar kudengar Sasa berpamitan untuk bekerja.
"Sarapan lo gue taruh sini jangan lupa minum obat. Lo istirahat aja hari ini jangan masuk kerja. Gue berangkat kerja dulu Dev. Get well soon." Ucap Sasa dengan melangkahkan kaki keluar kamarku.
Dilain sisi, Sasa yang akan berangkat kerja berpapasan di lift dengan Jackson dan managerny, Kevin. Mereka mausk kedalam lift yang sama.
"Lo teman serumah Devina nggak sih?" Tanya Jackson dengan sedikit mengerutkan dahinya saat melihat Sasa.
Sasa yang mendengar nama Devina disebut sontak menoleh ke sumber suara.
"Lo ngomong sama gue?" Tanya Sasa dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Ck elah ya lo lah siapa lagi yang ada disini kecuali lo nona." Bukan Jackson tetapi kevin yang menjawab dengan sewot.
"Ohh gue. Iya gue temen Devina. Kenapa tanya tanya dia?"
"Devina mana kok nggak keluar bareng lo. Dari kemaren juga gue telfon nggak di angkat angkat. Tadi pagi juga sama nggak diangkat." Tanya Jackson
"Dia ada dirumah lagi istirahat. Kemaren gue pulang kerja gue lihat dia sakit badannya panas. Sekarang masih tidur, badannya juga masih agak anget." Terang Sasa
"Apa sakit? Kemaren pulang sama gue katanya cuma capek capek aja. Kenapa sekarang sakit gitu?" Tanya Jackson khawatir
"Gue juga nggak tahu. gue pulang kerja anakya udah gitu. Biasanya sih karen dia suka telat makan, dia paling suka banget kalo udah kerja sampe lupa makan. Sebenarnya hari ini gue juga nggak tega ninggalin dia sendiri tapi gie juga gabisa izin."
"Yaudah gue aja yang kesana jagain dia. Dia sakit juga karen gue lupa ngajak makan siang kemaren karena jadwal gue sibuk." Jawab Jackson cepat.
"Gue nggak ngreptin lo kan? Takutnya malah ganggu kerjaan lo." Sasa merasa tak enak.
"Tenang aja dia hari ini free kok. Lo kasih tau aja sandi apart lo berapa?" Jawab Kevin
"250305. Tapi jangan macem macem lo sama sahabat gue." Tunjuk sasa kearah wajah Jackson
"Elah lo juga tau gue kalo kenapa napa lo gampang kali cari tahu gue." Jawab Jackson enteng.
"okey gue percaya sama lo awas aja lo macem macem."
Tak lama kami saling diam tak ada percakapan. Kift pun terbuka. Sasa segera keluar dari lift menuju tempat parkir mobil yang tersedia di apartment. Sedangkan Jackson kembali keatas untuk menemui Devina.
"Nanti masalah kerjaan lo telfon aja gue. Gue mauke Devina dulu." Pamit Jackson
"Gampang. Nanti kalo ada apa apa lo kabarin gue. Gue ke kantor dulu." Ucap Kevin sambil melangkah pergi.
Setelah itu kevin mengambil langkah lebar untuk menjajarkan jalannya dengan Sasa. Sasa yang sudah ada di dekat mobilnya tiba tiba melihat ban nya kempes.
"Gue anter yuk. Sekalian gue juga mau kekantor." Ajak Kevin ke Sasa.
"Boleh deh lagian mobil gue kayanya ban nya kempes." Jawab Sasa
"Yaudah yokk itu mobil gue." Ucap kevin dengan menunjuk keara mobilnya terparkir.
Setelah dalam mobil, kevin melajukan mobilnya meninggalkan apartment membelah jalanan pagi.
"Oh ya nama lo siapa? Gue kevin." Tanya kevin dengan menoleh sekilas
"Gue Sasa. Thank ya gue boleh numpang hari ini."
"Lo kerja dimana?" Tanya Kevin
"Gue kerja di Gunawan Entertainment." Jawabku dengan masih menyebunyikan identitas ku.
"Lah sama dong. Gue juga kerja disitu, tapi kenapa gue nggak pernah kiat lo?" Tanya Kevin heran
"Iya soalnya gue anak baru,kerjaan gue juga di sekretariatan. Jadi gue nggak kelayapan, hhahahaha." Ucapku tertawa sedikit.
Setelah sampai di Kantor aku tak lupa mengucapkan terimakasih dan segera masuk kedalam.
"Menarik juga Sasa. Gue suka nih sama cewek satu inii." Gumam Kevin pelan kemudian memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam kantor.
Dilain sisi, kevin yang sudah didepan apartment Devina dengan cepat menekan tombol sandi. Setelah terbuka langsung melesat masuk kedalam kamar Devina. Jackson melihat Devina yang badanya terbungkus selimut dan segera ia dekati. Disentuh pelan keningnya dan Jackson dapat merasakan suhu tubuh Devina yang masih hangat. Devina yang merasakan pipinyandisentuh membuka matanya perlahan.
"Jack kenapa kau ada disini? Apa aku sedang bermimpi?" Tanyaku heran dengan mengucek mataku.
Jackson yang masih mengelus ngelus pipiku bersuara. "Tidak Dev,kau tidak bermimpi. Ini memang nyata."
"Bagaimana kau bisa masuk?" Tanyaku
"Temanmu memberikan akses masuk."
Aku pun berusaha bangun duduk karena merasa tidak enak jika harus berbaring. Aku dibantu Jackson untuk memposisikan dudukku agar nyaman.
"Ayo sarapan dan setelah itu minum obat, nanti tidur lagi." Ucap Jackson lembut dengan memegang bubur yang siap untuk kumakan.
Jackson segera menyuapiku sampai buburnya habis,dan aku tidak menolak itu.
Setelah habis, Jackson membantuku meminum obat dan mengganti pereda panas yang ada dikeningku dengan yang baru. Setelah semunya selesai Jackson naik keatas ranjangku dan menarikku agar berbaring disampingnya. Jackson mendekapku tak lupa juga mencium pelipisku sebentar.
"Apa kau demam rindu Dev karena selalu merindukanku?" Tanya jackson
Aku yang mendengar itu tertawa dan langsung mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya. "Hahahah bagaimana kau tahu Jack?" Candaku
"Karena aku juga selalu merindukanmu Dev, tidurlah nanti jika bangun badanmu akan terasa lebih segar." Ucap Jackson. Setelah itu aku memejamkan mataku dan tidur dalam pelukan Jackson.